
"Hmmmm! Apa yang seharusnya suami istri lakukan." Jelas Bara dengan mata yang terus menatap kedua mata Bening Ira tanpa berkedip sama sekali.
"Kak! Kak Ira!" Panggil Bara karena tidak mendapat respon apapun dari Ira.
Ira terlihat mematung dalam lamunan yang entah terbang kemana. Diam Ira langsung diartikan sebagai jawaban 'Iya' atas pertanyaan yang ia ajukan barusan. Perlahan Bara semakin mendekat, keduanya tangannya menyentuh pipi Ira, semakin mengikis jarak lalu.
"Plakkk" Tangan Ira menyentil dahi milik Bara.
"Auwwwww!" Seru Bara kesakitan dengan tangan yang spontan mengusap bekas sentil di dahinya.
"Dasar bocah mesum!" Gumam Ira.
"Bocah mesum? Waaaah, kak Ira lupa kalau cowok yang kak Ira sebut mesum ini adalah suami tercinta kakak, tau!" Jelas Bara masih dengan mengusap-usap dahinya.
"Belajar yang rajin, pastikan kamu lulus dengan nilai tinggi, juara satu di kelas." Jelas Ira.
"Kakak masih waras kan? Jangan ngada-ngada, nggak ada hubungannya antara permintaan aku sebagaimana seorang suami dengan permintaan kakak barusan. Apa dapat nilai tinggi? Juara satu? Jangan becanda kak." Jelas Bara.
"Kenapa? Kamu nggak sanggup? Maka......!" Jelas Ira.
"Nggak sanggup? Haaaah kakak nggak lupakan kalau sekarang kakak sedang bicara dengan siapa? Aku Bara kak, juara satu se-sekolah, jangankan satu kelas satu sekolah aku paling unggul dalam segala bidang. Paham! Fine, bersiaplah, kakak hanya punya waktu tiga bulan lagi, setelah aku lulus maka kakak harus menuruti semua permintaan ku. Okay, Selamat malam my Sunshine, hmmmmmmuach!' Jelas Bara dengan begitu bangga, dan diakhiri ciuman yang mengudara dan langsung kembali tidur.
"Apa aku menggali lobang untuk ku sendiri? Apa masih ada yang tidak aku tau tentang dia? Waaaaah tatapannya seketika membuat aku merinding, sekarang apa yang harus aku lakukan coba?" Gumam Ira yang begitu kesal dengan keputusan yang baru saja ia buat barusan.
Dengan perasaan yang tak menentu, pikiran yang bercampur aduk, akhirnya ia memutuskan untuk kembali tidur namun kali ini dengan menghadap kearah punggung Bara yang lebih dulu tidur dengan membelakangi dirinya.
_____________
Dibawah pohon cemara sana, Samudra duduk santai dengan mata yang tidak beranjak dari memandangi sosok gadis yang sedang duduk tidak terlalu jauh darinya, Samudra bahkan diam-diam mengambil foto gadis tersebut tanpa izin.
"Bidadari kah dia? Kenapa begitu cantik? Jadi di bumi ini benar-benar ada bidadari? Atau malah putri kayangan yang turun hendak mandi di laut? Apa ini legenda Jaka Tarub?" Jelas Samudra dengan penuh kekaguman dengan terus memotret sosok Ira yang terus menatap kearah laut.
Samudra perlahan bangun dan mulai berjalan hendak mendekati sosok gadis cantik nan manis tersebut, namun langkahnya langsung terhenti saat gadis tersebut malah berlari kencang menuju kearah laut.
Kenangan yang perlahan memudar dari ingatannya bersamaan dengan ia yang terbangun dari lamunan indahnya. Samudra yang duduk di balkon kamarnya terlihat duduk dengan tatapan kosong yang terus menatap langit pagi yang perlahan menyambut mentari datang.
Samudra meneguk kopi panas yang ada diatas meja di hadapannya.
"Gimana caranya supaya aku bisa mengambil mu kembali darinya. Ra, sejak saat itu, sejak pertama kita bertemu aku tidak lagi bisa jatuh cinta pada gadis manapun, hati aku seutuhnya menjadi milik mu, jika saja kamu tau aku menolak perjodohan yang bunda rancang karena aku tidak bisa menikah dengan gadis selain kamu, kenapa tidak sejak awal aku tau kalau kamu adalah wanita yang bunda maksud, ingin rasanya aku putar kembali waktu lalu menarik mu ke sisi ku. Ra, tunggulah sebentar lagi, aku akan segera menjemput mu untuk tinggal dalam istana kita." Jelas Samudra dengan mata yang berkaca-kaca dan kembali meneguk sisa kopinya hingga habis.
Bara bangkit dari kursinya, kembali ke kamar untuk memakaikan dasi dan segera turun untuk berangkat ke kantor.
__ADS_1
Langkah Samudra terhenti saat matanya mendapati Ira yang sedang menuruni tangga.
"Mau ke kantor?" Tanya Samudra.
"Iya, kamu udah sarapan? Mau barengan? Ayo!" Ajak Ira.
"Ayy!" Jawaban Samudra langsung terhenti saat suara teriakan Bara seakan menggema di seluruh penjuru rumah.
"My Sunshine..." Teriak Bara sambil terus menuruni tangga.
"Bara..." Gumam Ira pelan, ia benar-benar dibuat syok dengan nama panggilan yang Bara gunakan tanpa dulu berunding dengan dirinya.
"Kak hari ini aku buru-buru banget, kak Ira ke kantor bawa mobil aja ya, sorry soalnya ada pertandingan dadakan." Jelas Bara.
"Pertandingan lagi?" Tanya Ira khawatir.
"Udah tenang aja, bye my sunshine, sampai jumpa nanti sore!" Seru Bara dan buru-buru berlari.
"Ayo sarapan!" Ajak Samudra.
"Ayyo!" Ujar Ira mencoba memasang wajah ramah dan senyuman.
"Loh, Bara mana Ra?" Tanya Dewi.
"Ada pertandingan katanya ma, jadi langsung berangkat!" Jelas Ira dan mengambil sepotong roti.
"Kalian berangkat bareng?" Tanya Dewi sambil menatap Samudra dan dewi secara bergantian.
"Nggak bunda, aku ada rapat di luar kantor hari ini." Jelas Samudra.
"Terus kamu gimana Ra? Mau bareng sama papa atau gimana?" Tanya Bima.
"Pakek mobil sendiri aja pa." Jawab Ira.
"Ya udah aku duluan, pa, bunda, selamat pagi!" Jelas Samudra dan langsung pergi.
"Aku juga duluan pa, bunda, assalamualaikum!" Ujar Ira dan lekas mengikuti langkah Samudra keluar dari rumah.
"Masuk!" Pinta Samudra setelah membukakan pintu mobilnya.
"Katanya ada rapat?"
__ADS_1
"Masuklah, ada hal yang ingin aku tanyakan."
Ira menurut, ia masuk ke dalam mobil Samudra lalu keduanya lekas pergi menuju kantor.
Ira yang baru sampai di ruangannya langsung meletakkan tas keatas meja, perlahan duduk di kursinya dengan menghela nafas kasar, tangan kanannya memijit-mijit keningnya.
"Ra, ayo kita kabur dari sini!" Ajak Samudra.
"Kabur??" Ulang Ira.
"Iya, kita tinggal di luar negeri, hanya kita berdua." Jelas Samudra.
"Sam, aku adalah istrinya Bara, lalu bagaimana bisa aku kabur sama kamu!" Jelas Ira.
"Pernikahan kalian hanya diatas kertas, aku tau kalian tidak saling mencintai, aku tau kalau kamu mencintai aku kan?" Jelas Samudra.
"Sam! Sudahlah, anggap saja aku tidak pernah mendengar apa-apa dari mu, lupakan apapun itu." Jelas Ira.
"Lupakan? Ra, bagaimana bisa aku melupakan mu, aku sudah mencintai mu sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan satu lagi, kamu tinggal bersama ku, setiap hari bertemu, lalu bagaimana bisa aku menghapus kamu dari hati ku!" Jelas Samudra.
"Apa sebaiknya aku pindah dari rumah papa?" Tanya Ira.
"Bukan itu maksud aku..." Sanggah Samudra.
"Cukup Sam, turunkan aku di sini." Pinta Ira.
"Nggak!" Tegas Samudra.
"Sam!" Seru Ira.
"Tetap duduk atau kamu ingin melihat aku mengamuk?" Ancam Samudra.
"Berhenti sekarang!" Tegas Ira.
"Kamu benar ingin melihat Bara hancur?" Tanya Samudra dengan nada ketus yang sukses membuat Ira terdiam seketika.
Ingatan tentang kejadian barusan di mobil lagi-lagi membuat Ira harus menarik nafas dalam-dalam, ia berusaha tenang, dan menyakinkan dirinya kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Sam, aku tidak tau apa yang kamu pikirkan atau apa yang sedang kamu rencanakan, tapi aku mohon jangan libatkan Bara, aku mohon Sam!" Ungkap hati Ira dengan penuh harap.
🦋🦋🦋🦋🦋
__ADS_1