Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Alwani Atthabarani Pradipta.


__ADS_3

Satu Tahun Kemudian


"Nanana, owoooo ooo, shalala nana...nana...nanaaaa...." Senandung Bara sambil terus bermain dengan sang buah hati yang sejak tadi tertawa riang bersamannya.


Bayi yang terlihat bak fotocopy dari Bara dari segala sisi. Yah, dia adalah versi juniornya Bara, sejak terbangun tadi keduanya malah bermain riang. Mata indahnya terus saja menatap sang ayah yang berada tepat dihadapannya, tangan nan mungil yang sejak tadi terus digenggam oleh Bara lalu kaki kecilnya yang sesekai bermain di udara lalu mengenai bagian dada Bara karena memang posisi Bara sedang tengkurap di depan sang anak dengan wajah yang menghadap tepat kearah wajah bayi imut nan tampan tersebut.


"Sayang, anak ayah, ayah sayang sayang, sayang sayang ayah..." Nyanyi Bara dengan  irama jadi-jadian dan senyum lebar.


"Cieeee, senang banget dibilang sayang ayah, ayo....ngaku, tergila-gila sama ayah kan? Udah ngaku aja, ayah tau bahwa memiliki ayah yang tampan dan keren seperti ayah pasti menjadi beban hidup mu kan? Secara kamu langsung kalah bersaing sama ayah mu sendiri, iya kan?" Jelas Bara panjang lebar sambil menyentuh pipi tembem sang bayi.


"Eeh eh eh, kok malah tertawa?" Ujar bara karena mendapati bayinya yang kembali tertawa.


"Ya ampun!" Teriak Ira yang baru saja membuka pintu kamar dan mendapati keduanya masih saja di atas tempat tidur.


Ira langsung berlari mendekat dan langsung memukul punggung Bara.


"Kamu nggak lihat jam? Masih aja bermesraan, hari ini kamu ada mata kuliah pagi kan?" Gumam Ira kesal.


Ira bahkan langsung menarik tubuh Bara untuk bangun.


"Ganggu banget sih, orang lagi asyik main, aku mau bolos aja hari ini, mau kencan!" Tegas Bara yang kembali merebahkan tubuhnya kesisi sang anak.


"Jangan cari masalah, bangun mandi gih sana!" Perintah Ira.


"Nggak mau! Aku mau lanjut tidur. Iya kan sayang ayah? Ayo kita bobo cantik." Jelas Bara yang kini mencoba memeluk buah hatinya.


Namun sebelum Bara berhasil meluncurkan misinya, tangan Ira telah lebih dulu menepis kasar tangan Bara agar menjauh dari tubuh anaknya.


"Ayo Alwan sayang, kita pulang ke rumah oma Luna." Jelas Ira yang langsung membawa Alwan ke dalam gendongan.


Ya bayi yang baru berusia delapan  bulan tersebut bernama lengkap Alwani Atthabarani Pradipta. Putra yang mewarisi segala hal yang sang papa miliki, cucu pertama yang pastinya begitu disayang bahkan menjadi rebutan para oma dan opa.


"Sayang...." Rengek Bara yang buru-buru bangun lalu menyusul Ira yang kini mulai melangkah keluar dari kamar.


"Loh, Bara kamu belum siap? Kamu nggak ke kampus?" Tanya Samudra yang juga baru keluar dari kamarnya.


"Nggak ada mata kuliah hari ini!" Bohong Bara.

__ADS_1


"Buruan siap-siap abang tunggu di bawah, nggak ada mata kuliah tapi hari ini mitem kan?" Jelas Samudra.


"Benar-benar bikin naik darah! Dasar malas, buruan siap-siap sana!" Cetus Ira yang langsung dipenuhi amarah karena mengetahui bahwa suaminya berbohong padanya.


"Udah hajar aja, ayo Alwan sama om..." Jelas Samudra yang langsung mengambil alih Alwan ke dalam gendongannya dan lekas turun menuju meja makan.


Ira terus menatap horor kearah Bara hingga akhirnya membuat Bara mengalah dan kembali ke kamar untuk siap-siap. Ira mengikuti Bara kembali ke kamar.


Bara segera mandi, menggenakan pakaian, merapikan rambut, lalu berdiri tepat didepan Ira yang sedang duduk diujung tempat tidur, sejak tadi Ira memang sengaja menunggu Bara siap.


"Ayo!" Ajak Ira yang langsung merangkul sang suami.


"Hmmmmm, padahal masih mau rebahan, main bareng Alwan, ketawa-ketiwi, nggak selera keluar rumah, dunia luar sana sekali tidak menarik lagi bagi ku." Jelas Bara yang bermanja di lengan kanan  Ira sambil terus berjalan menuruni tangga lalu bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang telah lebih dulu berada di meja makan.


"Jam berapa mitem?" Tanya Bima saat Bara bergabung di meja makan.


"Jam sembilan pa," Jawab Bara santai.


"Dan kamu masih santai gini? buruan sebelum papa tarik kamu keluar dari rumah. Jangan becanda, kuliah yang serius, cepat lulus, kamu nggak lagi muda, udah punya anak dan istri!" Tegas Bima dan lekas pergi.


"Bye Alwan sayang, jaga ayah mu baik-baik ya, jangan sampai dia bolos lagi, bye bye sayang..." Ujar Samudra lalu mencium kedua pipi Alwan lalu menyerahkan Alwan pada Dewi.


"Udah buruan berangkat gih!" Pinta Ira dengan menatap horor kearah Bara.


"Iya, aku berangkat sekarang, assalamualaikum." Ujar Bara nurut dan langsung mencium kening Ira lalu beralih mencium tangan Dewi dan terakhir mencium seluruh wajah Alwan dengan penuh kasih sayang.


"Bye ayah sayang, belajar yang rajin ya ayah, jangan keluyuran!" Jelas Desi memperingatkan.


"Iya...." Ujar Bara dengan muka memelas namun akhirnya tetap harus pergi meski dengan langkah yang begitu berat.


_________


"Mbak pesan jus naga satu!" Pinta Alea lalu duduk bergabung di meja agak ujung dimana teman-temannya udah ngumpul dari tadi.


"Dasar mata-mata!" Cetus Bara kesal saat Alea duduk tepat di sampingnya.


"Ciiih! Salah sendiri, siapa suruh bolos mulu!" Jelas Alea membela diri.

__ADS_1


"Kayaknya aku menyesal menjadi mak jomblang kamu dan abang Sam." Jelas Bara.


"Makanya jangan suka absen, emang kemana aja sih?" Tanya Gibran.


"Gimana aku nggak absen, kuliah jadi membosankan semenjak kedatangan Alwan, aku jadi betah banget di kasur rebahan sambil tertawa dan bernyanyi sama dia, aku jadi nggak tertarik dengan dunia luar." Jelas Bara dengan wajah penuh kesedihan.


"Pantes aja...Riva...." Ucapan Ratu langsung diselip cepat oleh Bara.


"Pantes apa? Aaah mana Rival? Apa dia masih di ruangan?" Tanya Bara yang memang sejak tadi tidak melihat Bara.


"Dia tadi buru-buru pulang." Jelas Safia.


"Pulang?" Tanya Bara dan Gibran serentak.


"Hmmm..." Jawab Ratu dan Safia serentak.


"Kak Re kan lagi hamil besar, makanya Rival nggak bisa lama-lama ninggalin kak Re. Dulu kamu juga gitu kali, selalu aja ngilang tanpa ngomong dulu." Jelas Alea.


"Tapi dia lebih parah dari aku." Tuduh Bara.


"Nggak nyadar, tingkah Rival bahkan tidak setengah dari kegilaan elo!" Cetua Gibran mengingatkan sikap Bara saat Ira hamil dulu.


"Kalau gitu aku pulang aja deh!" Cetus Bara dan lekas bangun.


"Aku ikut!" Pinta Ratu.


"Ikut kemana?" Tanya Bara.


"Aku juga." Tegas Safia.


"Jangan ngada-ngada, pulang gih sana, belajar buat mitem besok." Tegas Bara.


"Kan bisa belajar di rumah kamu, sekalian aja aku minta Rival dan kak Re datang, ayo teman-teman kita cuzzz!" Jelas Gibran yang bahkan langsung meninggalkan tempat tersebut.


"Udah buruan, kami cuman mau melepas kangen sama Alwan aja kok!" Jelas Alea.


"Alwan atau omnya Alwan?" Tanya Bara.

__ADS_1


"Kalau bisa dua-duanya kenapa harus milih coba? Buruan!" Jelas Alea dan lekas keluar menyusul yang lainnya.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2