
Setelah membawakan 2 lagu secara berturut-turut, kini saatnya mereka istirahat sejenak sebelum nantinya mereka membawakan lagu hits mereka sebagai lagu penutup, karena memang sesuai dengan perjanjian dengann pihak cafe bahwa sanya mereka hanya menyanyikan 3 lagu.
Para perlanggan terus bertambah, sekan band The Grib mampu menarik semua orang untuk terus berdatangan ke cafe tersebut.
Di meja yang terletak sebelah pojok kanan bagian timur cafe, disana ada Ira, Luna, Ratu dan juga Hanin yang sejak tadi begitu terbawa suasana dengan nyanyian Rival dengan suara yang begitu membius semua pendengarnya di tambah lagi visual ketiganya yang sama sekali tidak main-main, bahkan setiap mata dibuat tidak bisa berpindah dari aura yang pancarkan.
Tidak ingin menyia-nyiakan 10 menit waktu istirahat mereka, kini ketiganya terlihat berlari menuju meja nomor 13 di mana Ira dan yang lainnya berada.
"Gimana penampilan kami kak?" Tanya Gibran dengan senyuman mautnya yang bahkan sontak membuat beberapa remaja yang duduk di dekat meja tersebut menjerit histeris.
"Mereka sudah menjawabnya bukan? Kalian bahkan terlihat bak band papan atas!" Jelas Ira.
Gibran mengambil tempat di samping Ira sedangkan perlahan Bara justru duduk di samping Luna di ikuti dengan Rival yang duduk di sampingnya Hanin dan Ratu.
"Kalian benar-benar luar biasa!" Jelas Ratu dengan tatapan yang fokus menatap pada Bara.
"Terima kasih karena sudah datang!" Ucap Rival.
"Sama sama!" Ucap Hanin yang ternyata sejak tadi berusaha tidak salah tingkah karena berada di sampingnya Rival.
"Terima kasih ma!" Ucap Bara pelan yang seketika membuat Luna tersenyum lalu merangkul tubuh Bara.
"Tadi itu kamu terlihat lihai bermain drum, kamu keren banget sayang!" Ujar Luna dengan tatapan yang begitu teduh.
"Cie, cie, cie...aku juga mau di manjain dong tante..." Ujar Gibran dengan senyuman yang begitu bahagia karena mendapati Bara yang terlihat jelas sangat bahagia mendapat perlakuan manis dari Luna.
"Dasar kang iri!" Cerus Hanin.
"Ya biarin!" Seru Gibran.
"Hanin....." Panggil Rival pelan.
"Iya bang, kenapa?" Tanya Hanin dengan terbata-bata.
"Wajah kamu merah banget Hanin." Jelas Ratu.
"Ah, masa?" Ujar Hanin yang langsung memeriksa wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan bilang kalau kamu salting karena berada di dekat Rival?" Tebak Gibran.
"Abang apaan sih!" Cetus Hanin yang kesal dengan sikap blak-blakan sang abang.
"Bagus dong kalau Hanin tertarik sama Rival, udah kalian jadian aja!" Jelas Ira.
"Kakak jangan mulai deh, jangan buat Hanin malu!" Jelas Rival.
"Bukannya sejak dulu kamu juga tertarik sama Hanin, sampai-sampai kamu setiap hari cerita tentang dia sama kakak!" Jelas Ira.
"Yang benar?" Tanya Bara yang mulai tertarik.
"Udah mending jadian aja!" Jelas Ratu.
"Kalian serasi loh sayang!" Ujar Luna yang ikut nimbrung.
"Mama..." Ujar Rival yang tersipu malu.
__ADS_1
"Jadi Rival orangnya? Abang kira kamu malah sukanya sama Bara!" Cetus Gibran yang langsung mendapat tatapan horor dari Hanin.
"Isshhhh mulut abang nih minta di lapban deh! Gimana bisa aku suka sama abang Bara yang jelas-jelas miliknya kak Ratu." Jelas Hanin.
Penjelasan Hanin langsung membuat Luna menatap Ira seolah meminta penjelasan atas apa yang baru saja ia dengar.
"Ma...." Panggil Rival mencoba menyadarkan Luna dari tatapan penuh tangannya.
"Ah iya, kalian juga terlihat serasi loh, Ratu dan Bara." Ujar Luna.
"Tinggal aku nih yang jomblo, gimana kak? Mau menarik aku dari status jomblo ini?" Tanya Gibran.
"Jangan mimpi! Aku nggak mau punya abang Ipar yang bahkan masih SMA!" Cetus Rival.
"Ayo kembali ke panggung, waktu istirahat kita habis!" Jelas Bara yang segera berjalan menuju panggung disusul oleh kedua sahabatnya.
"Lupakan saja ucapan abang Gibran kak, dia emang gitu, ngasal aja ngomongnya!" Jelas Hanin.
"Udah kamu santai aja, kakak oke! Kakak bahkan sudah kebal dengan tingkah mereka bertiga!" Jelas Ira.
Keempatnya menghentikan pembicaraan mereka, saat suara petikan gitar mulai terdengar. Kini semua mata langsung tertuju kembali kepada ketiga cowok diatas panggung sana yang sedang menjadi bintang malam ini.
Ada rasa yang ingin ku utarakan
Namun aku tak tau
Harus memulainya dari mana
Jika aku paksakan
Aka takut membuat mu
Karena dunia kita bertemu
Terbentang penghalang atas
Nyata dan maya
Kau....
Dewi jiwa ku...
Dan aku ingin menjadi dewa mu
Ooo......dewi jiwa kua...
Melebur dalam sentuhan halu ku
Aaaaaaa dewi jiwa ku,...
Ku menanti hadir mu
Dalam nyata ku...
Dewi jiwa aaaaaaaa.......
__ADS_1
Tepuk tangan seakan menggelegar setelah lagu diakhiri dengan ketukan drum yang cukup menggetarkan setiap pendengarnya. Bahkan para penontor yang dominan rejama malah bangun lalu berteriak histeris.
Ketiganya memamerkan senyuman termanis melik mereka, saat hendak turun panggung beberapa remaja perempuan mendekati dan meminta foto bareng dan mereka melayaninya, memberikan servis fans rerbaik yang mereka bisa.
Setelah keadaan tidak lagi rame, sang pemilik cafe perlahan mendatangi mereka.
"Bagaimana? Kami tidak mengecewakan mu kan?" Tanya Bara yang penuh rasa percaya diri.
"Pastinya, kalian luar biasa. Tidak mengecewakan!" Tegas Helmi.
"Terima kasih!" Ucap Rival.
"Hmmmmm bagaimana kalau aku memberikan kontrak?" Tawar Helmi.
"Kontrak? Kami?" Tanya Gibran tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Iya. Bacalah lebih dulu, kalian putuskan bersama." Jelas Helmi.
"Akan kami pertimbangkan!" Jawab Bara dan langsung mengambil amplop kuning pemberian Helmi.
"Terima kasih!" Ujar Helmi.
"Terima kasih juga, kalau gitu kami permisi!" Ujar Rival.
"Silahkan!" Ujar helmi.
Ketiganya kembali mendekati meja di mana Luna dan ketiga gadisnya sedang menunggu mereka sejak tadi.
"Waaaaah, kerennya nggak ada akhlak, keterlaluan!" Seru Hanin yang bahkan langsung bangun lalu memeluk erat tubuh Gibran.
"Terima kasih!" Ujar Gibran yang langsung membalas pelukan hangat sang adik tersayang.
"Lagu mu emang nggak pernah main-main, liricnya keren banget, aku sampai terbuai!" Jelas Ratu lalu perlahan menyentuh lembut tangan kanan Bara.
"Ayo kita pulang!" Ajak Rival lalu menggandeng tangan sang kakak dan yang satunya lagi menyentuh tangan Luna.
"Ahhh ayo!" Ujar Luna yang sadar dari tatapan sendunya melihat kedekatan Bara dan Ratu.
"Bara, kita pulang bareng ya!" Ajak Ratu.
"Maaf banget Ratu, tapi malam ini aku menginap di rumah Rival, jadi aku pulang bareng mereka aja!" Jelas Bara.
"Loh, kenapa nggak ngajak aku? Aku juga mau!" Seru Gibran.
"Terus kamu bakal biarin Hanin pulang sendirian? Udah gih sana pulang!" Jelas Rival.
"Oke! Baiklah kalau gitu kami duluan, sampai jumpa di sekolah besok!" Jelas Gibran dan lekas ke mobilnya bersama dengan Hanin.
"Kalau gitu aku juga pamit pulang, selamat malam semuanya!" Jelas Ratu yang segera masuk ke mobilnya dan sang sopir pun langsung menjalankan mobil mereka dan lekas pulang.
"Kita juga harus pulang, ayo ma!" Ajak Rival lalu mengajak Luna ke mobil meninggalkan Bara dan Ira.
"Nanti akan ku jelaskan sama mama!" Jelas Bara.
"Kamu melanggar poin pertama dalam perjanjian pernikahan kita!" Cetus Ira dan langsung masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
Untuk sesaat Bara hanya mematung dalam keadaan tak tau arah hingga suara klakson mobil kembali menyadarkannya, dan ia pun segera menyusul yang lainnya yang sudah berada di mobil sejak beberapa menit yang lalu.
🦋🦋🦋🦋🦋