Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Pembelaan Rival.


__ADS_3

"Loh Bara, kamu terluka? Dimana yang sakit?" Tanya Luna yang terlihat begitu khawatir ia bahkan langsung memeriksa keadaan Bara


"Aku baik-baik aja Tante!" Jawab Bara yang merasa tidak enak karena ia membuat Luna khawatir.


"Rival, kamu apain Bara?" Tanya Luna yang kini beralih menyerang Rival.


"Bukan aku pelakunya ma." Jelas Rival.


"Tuh kan hampir lupa, udah Ira sana temui Sam, biar Bara mama yang jagain!" Jelas Luna.


"Baiklah." Jawab Ira datar.


"Tapi, kalau di ingat-ingat, Sam datang juga dalam keadaan wajah lebam di sana sini, jangan bilang...." Penjelasan Luna langsung terhenti.


"Aku ikut kak!" Jelas Rival dan bergegas mengikuti Ira yang telah lebih dulu keluar.


"Maaf sudah merepotkan tante dan kak Ira!" Pinta Bara.


"Tidak sama sekali. Bara..."


"Iya tante."


"Coba panggil mama, lagi pula cuman tinggal beberapa hari lagi kan kamu akan menjadi menantu mama, nggak ada salahnya kan membiasakan dari sekarang." Jelas Luna.


"Hmmm, mama!


Luna tersenyum bahagia mendengar Bara memanggilnya dengan sebutan mama, bahkan kini tangan Luna dengan lembut mengusap rambut Bara yang terlihat begitu berantakan.


"Istirahatlah, mama ambilkan makan siang untuk mu!" Jelas Luna.


"Terima kasih, mama!" Ucap Bara dengan senyuman manisnya.


"Sama-sama sayang!" Ujar Luna dan beranjak keluar dari kamar Rival, membiarkan Bara untuk istirahat.


_________________


"Berkas apa yang ingin bapak ambil?" Tanya Ira setelah menemui Samudra yang duduk menunggunya di teras.


"Ira, ada hal yang harus kita bicarakan!" Jelas Samudra.


"Tentang pekerjaan atau tentang..."


"Apa dia di dalam?"


"Maksud bapak?"


"Bara, dia ada di dalam kan? Itu motornya!" Jelas Samudra sambil meunjuk kearah motor bara yang terparkir tepat di samping teras.


"Dia disini atau tidak itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan abang Sam!" Jelas Rival yang ikut bergabung dengan Samudra dan Ira.


"Rival, ini nggak seperti yang kamu pikirkan!" Jelas Samudra.


"Abang tau apa yang sedang ada dalam pikiran aku saat ini?" Tanya Rival yang mulai di liputi amarah.


"Rival..." Ujar Ira dengan menyentuh tangan Rival berharap bisa meredakan emosi sang adik.


Ira tau persis apa yang akan Rival lakukan jika emosinya memuncak apa lagi ini berhubungan dengan Bara, maka Rival sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


"Rival, kamu lihat sendirikan, Bara yang lebih dulu menggunakan kekerasan." Jelas Samudra.


"Iya aku lihat dengan jelas memang Bara yang lebih dulu mengerahkan tinjunya kearah abang, tapi apa abang sadar kalau abanglah yang memancing Bara lebih dulu. Kenapa mematahkan stik drum kesayangannya?" Jelas Rival.


"Apa benar bapak melakukannya?" Tanya Ira.


"Itu karena..." Penjelasan Samudra langsung terhenti saat tinju Rival mendarat di pipi kirinya.


"Rival..." Seru Ira yang langsung menyeret Rival menjauh dari Samudra.


"Maafkan kelancangan adik aku!" Pinta Ira.


"Rival..." Ujar Samudra.


"Jangan pernah ulangi lagi ucapan mu yang tadi, dan jangan pernah sentuh Bara lagi!" Jelas Rival yang langsung kembali ke dalam.


"Ucapan yang tadi?" Tanya Ira yang mulai penasaran sebenarnya ucapan apa yang Samudra ucapkan hingga membuat Bara mengamuk dan berakhir dengan pertengkaran diantara keduanya.


(Aku tidak mengkin mengatakannya pada Ira, jika aku cerita dia pasti akan memihak pada Bara, dia pasti akan berasumsi kalau akulah yang salah.) Bisik hati Samudra.


"Pak Sam..."


"Ira, coba pikirkan kembali secara matang-matang, apa benar kamu akan menikahi bocah SMA itu?" Jelas Samudra dan lekas pergi begitu saja.


"Apa maksud ucapannya? Apa dia sedang menentang pernikah kami? Tapi kenapa? Apa dia tidak ingin aku menjadi bagian dari kekuarganya? Atau mungkin dia...ah tidak mungkin, jelas tidak mungkin dia suka sama aku, jangan gila Ira, husssss" Gundah Ira yang bahkan dibuat malu dengan pemikirannya sendiri.


"Loh dimana Sam?" Tanya Luna yang baru datang dengan nampan yang berisikan gelas yang di isi dengan minuman segar serta beberapa toples yang di isi dengan snack.


"Dia udah pulang ma!" Ujar Ira lalu mengambil gelas tersebut dan meneguk isinya hingga habis.


__________________


Setelah mandi, sholat dan makan siang, Ira kembali mendatangi kamar Rival. Perlahan tangan Ira mengetuk pintu kamar yang letaknya memang berhadapan dengan kamar miliknya.


"Tumben di ketuk, biasa juga langsung trobos...!" Ujar Rival dari  dalam kamar.


Perlahan pintu terbuka dari luar, sosok Ira muncul dan melangkah masuk.


"Bara mana? Apa dia sudah pulang?" Tanya Ira karena tidak mendapati Bara di dalam kamar tersebut.


"Lagi dikamar mandi, kenapa? Apa kakak khawatir dengan keadaannya?" Goda Rival yang bahkan langsung tersenyum nakal.


"Jangan ngaco, kakak hanya mau mastiin aja kalau lukanya tidak iritasi." Jelas Ira yang langsung duduk disebelah Rival yang terlihat sedang bermain gitar.


"Kak..."


"Hmmm, kenapa?"


"Kakak bakal menepati janji kakak kan?"


"Janji? Yang mana?"


"Kalau kakak akan memperlakukan Bara dengan baik!"


"Apa dia anak kecil hingga kakak harus memperlakukannya dengan baik!"


"Hmmmm, meski dia jago berkelahi, tapi sebenarnya dia masih seperti bayi. Kak, kalaupun nanti ada orang yang kakak cintai lalu mendatangi kakak lalu membalas cinta kakak, berjanjilah untuk tidak meninggalkan Bara, hmmmm? Kak, banyak hal yang Bara korbankan untuk pernikahan ini, jadi aku harap kakak tidak akan menambah lukanya lagi."

__ADS_1


"Rival..."


"Berjanjilah lah, jaga sahabat aku dengan baik!" Pinta Rival yang langsung berubah menjadi begitu serius dan dewasa jika sudah menyangkut masalah hidup Bara.


"Apa dia jauh lebih berarti dari pada kakak?"


"Bukan begitu, karena kakak bisa menjaga diri kakak dengan baik, karena kakak sudah dewasa tapi tidak dengan Bara, dia tidak bisa melakukan semua hal dengan baik karena keahliannya cuma nyetak gol sama nyiptain lagu!" Jelas Rival dengan gelak tawa khasnya.


Bara yang awalnya hendak keluar dari kamar mandi seketika menghentikan langkahnya saat mendengar pembiraan Rival dengan Ira, ia bahkan menutup kembali pintu rapat-rapat.


"Rival, terima kasih sudah menjadi sahabat paling baik untuk aku. Aku janji suatu saat aku akan membalas semua kebaikan mu ini!" Ungkap Bara pada dirinya sendiri.


"Bara, bara, kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali di kamar mandi?" Tanya Rival sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Aku baik-baik saja!" Jawab Bara dan langsung keluar dari kamar mandi.


"Apa kalian sudah makan?" Tanya Ira saat Rival dan Bara berjalan lalu duduk di pinggir tempat tidur.


"Udah!" Jawab keduanya hampir serentak.


"Mama barusan yang ngantar makanan ke sisni." Jelas Bara.


"Mama!" Ujar Ira dan Rival


"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Bara dengan begitu percaya diri.


"Cieeee yang bentar lagi bakal jadi menantu..." Goda Rival.


"Kenapa? Cemburu? Ahhh kamu pasti takutkan kalau mama bakal lebih sayang ke aku?" Ujar Bara.


"Ciiiih mau sampai kiamat pun, orang yang paling disayangi di rumah ini ya tetap aku, nggak akan pernah berubah!" Tegas Rival.


"Yakin??" Tanya Ira yang ikut main dalam becandaan kedua bocah SMA itu.


"Apa kakak mulai beralih hati?" Tanya Rival.


"Bukan masalah beralih hati, tapi ini tentang prioritas, kan harus suami dulu baru adik, iya kan kak?" Jelas Bara yang semakin semangat menggoda Rival.


"Iya, kamu benar! Waaaah mulai terancam nih!" Seru Ira.


"Awas aja kalau kamu berani menyingkirkan aku dari kursi utama, bakal aku cabut ginjal mu!" Cetus Rival yang bahkan langsung menyerang tubuh Bara.


"Auuuuw sakit!" Keluh Bara.


"Dimana yang sakit?" Tanya Rival panik dan segera mengecek tubuh Bara.


Bahkan Ira juga bergegas mendekat dan ikut mengecek kondisi Bara.


"Kebukti kan?" Ujar Bara dengan tawa lebar penuh kemenangan.


"Dasar!" Cetus Rival yang kini bahkan memeluk tubuh sahabatnya itu.


"Kalian ini!" Cetus Ira sambil mengusap pelan rambut Rival.


Mata Bara kini beralih menatap Ira dengan tatapan yang begitu teduh membuat Ira salah tingkah, tangannya yang semula mengusap rambut Rival kini perlahan beralih membelai lembut rambut Bara membuat sang empunya tersenyum manis pada Ira.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2