
"Mau kemana?" Tanya Samudra yang baru saja pulang.
"Mau pulang!" Jawab Ira.
"Ayo!" Ajak Samudra yang bahkan langsung memutar arah, yang awalnya hendak masuk ke rumah kini justru kembali berjalan keluar.
"Aku bisa pulang sendiri."
"Ikut aku!" Tegas Samudra yang langsung masuk ke dalam mobil miliknya yang memang baru saja ia parkirkan di depan rumah.
Awalnya Ira tidak peduli, ia justru berjalan menuju mobilnya yang ada di garasi, namun sebelum tangan Ira menyentuh pintu mobilnya tangan Samudra telah lebih dulu menarik tangannya lalu membawa Ira masuk ke mobil milik Samudra.
"Masuk!" Titah Samudra setelah membukakan pintu mobil untuk Ira.
"Tapi..."
"Masuk!"
Akhirnya Ira menurut, ia langsung masuk dengan disusul oleh Samudra. Mobil terus melaju menelusuri setiap jalan, beberapa menit pertama keduanya hanya terdiam membisu hingga akhirnya Samudra angkat bicara.
"Kenapa tidak menemui ku waktu itu?"
"Hanya saja..."
"Kenapa? Atau biar aku ubah pertanyaannya, apa sebenarnya kamu mencintai Bara? Kamu jatuh cinta sama bocah liar itu?"
"Biar aku yang bertanya, lalu kenapa bapak menolak menikah dengan aku?"
"Itu karena aku sama sekali tidak tau kalau sebenarnya wanita pilihan bunda itu kamu."
"Apa bapak mencintai ku?" Tanya Ira yang langsung menatap kearah Samudra yang sedang mengemudi.
"Iya, aku sangat mencintai mu, Ira. Sejak dulu, saat pertama kali kamu menjadi bagian dari perusahaan keluarga ku. Saat hari pertama kamu datang, aku langsung jatuh cinta pada mu." Jelas Samudra.
"Kenapa baru mengatakannya sekarang?"
"Itu karena aku takut kamu akan menolak ku terlebih aku tau kalau kamu punya pacar. Ra, aku menolak perjodohan yang bunda rancang hanya karena aku tidak bisa menikah dengan gadis selain kamu."
"Tapi kenapa baru sekarang pak Samudra bicara? Kenapa nggak dari dulu? Padahal aku juga..."
"Juga mencintai ku?" Tanya Samudra.
"Hmmmm, aku juga tertarik sama bapak."
"Lalu kenapa kamu tidak datang pada ku? Kenapa malah melanjutkan pernikahan mu?"
"Bagaimana aku berani datang, bapak bahkan tidak pernah memberi kejelasan tentang perasaan bapak untuk aku!"
"Berhenti memanggilku dengan sebutan bapak, bapak dan bapak, panggil aku Sam!" Jelas Samudra dengan raut wajah yang mulai emosi.
__ADS_1
"Sam..."
"Aku akan merebut mu kembali dari Bara. Tunggu sampai aku datang, tetap di tempat mu karena kali ini aku tidak akan lagi menjadi pengecut, aku akan membawa mu bersama ku, Ra."
"Tidak Sam, tidak ada lagi yang harus di ubah, biarkan semua ini berjalan seadanya."
"Nggak Ra, aku akan memberi mereka kejelasan bahwa sebenarnya orang yang harus menjadi suami kamu adalah aku bukan Bara. Lagi pula dia menikahi mu hanya karena ancaman papa."
"Sam...." Ucapan Ira lagi-lagi langsung di selip oleh Samudra.
"Tunggulah sebentar, aku akan menjadikan mu istriku!" Tegas Samudra.
Tangan Bara yang perlahan menjauh dari punggung Ira, seketika membuat ingatan tentang kejadian tadi siang di mobil buyarlah sudah. Ira kembali sadar bahwa yang saat ini bersamanya adalah Bara bukan lagi Samudra.
"Kak Ira tidak harus menjawabnya, lagi pula aku sama sekali tidak punya hak untuk mengusik kehidupan pribadi kak Ira. Maaf karena membuat kakak syok dengan sikap aku yang barusan, aku mandi dulu!" Jelas Bara yang langsung masuk ke kamar mandi.
"Dasar Ira bodoh, bisa-bisa kamu berpikir yang tidak-tidak! Cemburu? Hahhh dia tidak akan cemburu dengan mu,,," Ujar Ira pada dirinya sendiri yang sempat sedikit syok dengan tingkah dan pertanyaan dari Bara barusan.
"Kak, nih baju untuk Bara!" Jelas Rival yang baru datang dan langsung menerobos masuk ke kamar Ira.
"Sini!" Ujar Ira yang langsung mengambil stelan yang ada di tangan Rival.
"Apa dia masih mandi?"
"Iya, kamu udah makan?" Tanya Ira setelah meletakkan stelan tadi ke atas tempat tidur.
Ira segera menyusul dan duduk di sebelah Rival.
"Ada apa? Apa kalian buat masalah lagi?" Tanya Ira yang begitu khawatir.
"Apa tadi abang Sam yang mengantarkan kakak pulang?"
"Iya, tau dari mana?"
"Tadi pas Bara nelpon kakak aku nggak sengaja mendengar suara abang Sam dari seberang. Kak..."
"Kenapa? Ada sesuatu terjadi tanpa kakak tau?"
"Sejak dulu, hubungan Bara dan abang Samudra memang tidak baik, nggak seperti hubungan kita berdua. Meski mereka sedarah tapi hubungan yang mereka bina sama sekali tidak baik jadi aku mohon sama kakak, jangan terlalu dekat dengan abang Sam karena itu akan membuat Bara marah. Kakak bisa kan?"
"Dek, jangan salah paham. Bara sama sekali tidak membatasi hubungan kakak dengan siapapun, kamu juga taukan kalau pernikahan kami hanya sebatas perjodohan saja. Dan soal hubungan kakak dengan Sam, kami sama sekali tidak menjalin hubungan apapun!"
"Lalu..."
"Apa lagi? Kenapa kamu makin hari makin posesif sama Bara, apa ada masalah yang tidak kakak tau? Kamu pasti menyembunyikan sesuatu dari kakak kan?"
"Apaan sih kak, orang biasa aja. Adek cuma mau bilang, kayaknya Gibran naksir deh sama kakak!"
"Jangan aneh-aneh! Mana mungkin, udah ah kakak mau bantu mama siapkan makan malam." Jelas Ira yang beranjak dari sana.
__ADS_1
"Kak tolong!" Pinta Bara saat kaos yang ia kenakan malah nyangkut di bahu belakangnya. Karena memang ukuran tubuh Bara lebih berisi dari pada Rival, hal tersebutlah yang membuat Bara sedikit kesulitan saat memakai bajunya Rival.
"Sebentar..." Ujar Ira yang segera membantu Bara.
"Udah!" Lanjut Ira Setelah menarik ujung kaos hingga bawah.
"Mau ikut?" Tanya Bara tanpa menatap kearah Ira sama sekali.
"Kemana?'"
"Jadi penonton kami, bakal seru banget kok, ikut ya kak!" Jelas Rival dan langsung keluar dari kamar tersebut.
"Loh sejak kapan dia di sini?" Tanya Bara.
"Udah dari tadi, jadi kalian bakal tampil malam ini?" Tanya Ira
"Iya, dan Ada Gibran juga kok!" Jelas Bara dan segera keluar mengikuti Rival.
"Apa yang sedang mereka lakukan? Tumben dua-duanya bersikap manis gini! Aku malah jadi curiga dan takut!" Bisik hati Ira dan lekas ke dapur untuk membantu Luna yang sedang menyiapakan makan malam dengan dibatu oleh dua orang pembantu rumah tangga yang memang sejak dulu sudah begitu setia dengan keluarga Syakil Darman.
Setelah solat magrib berjamaah dengan diimami oleh Syakil, lalu semua anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama. Kegiatan keluarga Darman seketika membuat Bara hanya terdiam terbuai lamunan karena memang di dalam keluarganya tidak pernah ada rutinitas seperti demikian. Lebih-lebih sholat berjamaah sekedar makan bersama saja begitu jarang selalu ada saja yang kurang.
"Apa malam ini kalian akan manggung?" Tanya Syakil sambil terus menikmati makan malamnya.
"Iya, doakan ya pa, semoga semuanya sesuai rencana!" Jelas Rival.
"Pastilah papa doakan." Jawab Syakil.
"Hmmmm, apa mama boleh ikutan nonton?" Tanya Luna.
"Mama benaran mau ikut?" Tanya Bara memastikan.
"Kenapa? Apa tidak boleh? Ya udah nggak apa-apa." Jawab Luna.
"Bukan itu,,,, apa mama nggak masalah dengan..." Penjelasan Bara langsung terhenti dengan sendirinya.
"Boleh banget! Iyakan Bar?" Jelas Rival karena ia paham saat ini perasaan Bara pasti sedang tidak baik-baik saja. Dia akan selalu sedih saat Luna ataupun mamanya Gibran ikut menyaksikan mereka baik saat bermusik ataupun main bola.
"Iya, ma. Ikutlah bersama kami, aku janji kalau aku pasti akan tampil dengan sangat baik." Jelas Bara.
"Ya udah mama siap-siap dulu, kalian tungguin mama ya, nggak akan lama kok!" Jelas Luna yang bergegas untuk bersiap-siap.
"Selamat bersenang-senang, Ira papa titip mama ya, soalnya papa nggak bisa ikutan, ada kerjaan yang masih harus papa selesaikan." Jelas Syakil.
"Papa tenang aja, mama aman sama kami!" Jelas Ira.
Syakil meninggalkan meja makan, dia menuju ke ruang kerjanya sedangkan yang lainya segera bersiap dan saat Luna datang mereka langsung meluncur ke tempat tujuan.
🦋🦋🦋🦋🦋
__ADS_1