Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Milik Ku.


__ADS_3

Minta izin untuk...." Jelas Bara dengan tangan yang perlahan mendekap bahu Ira dari belakang.


"Bara...." Ujar Ira yang terlihat jelas begitu kaget dengan tingkah Bara kali ini.


"Jadi emang harus izin dulu baru boleh nyentuh kakak?" Tanya Bara memastikan bersamaan dengan cepat menarik kedua tangannya dari bahu Ira.


"Bisa kita bicara serius sebentar?" Tanya Ira yang bangun dari kursinya lalu berdiri berhadapan dengan Bara.


"Soal apa? Apa karena barusan aku menyentuh kakak?" Tanya Bara dengan mata yang membulat sempurna.


Otak Bara mulai berputar menerka tentang apa yang ingin Ira bicarakan, karena sebelumnya Ira sama sekali tidak protes saat ia menyentuh tanpa izin sama sekali.


"Kita duduk dulu, ayo!" Ajak Ira yang lebih dulu beranjak menuju sofa lalu duduk di sana.


Bara menyusul lalu duduk namun kali ini terlihat jelas kalau Bara mulai menjaga jarak dari Ira, Ia duduk di posisi paling ujung nan jauh dari Ira.


"Apa yang ingin kakak bicarakan? Kenapa tiba-tiba kamar ini terasa begitu mencengkram sepi bak  kuburan." Ujar Bara pelan dengan mata yang menatap langit-langit kamar.


"Bisa kita benar-benar serius?" Tanya Ira lalu menatap gelagat Bara yang terlihat jelas begitu gelisah.


"Apa kamu menganggap kalau kakak ini adalah milik mu?" Tanya Ira lalu bergeser mendekati Bara.


"Milik ku? Apa boleh aku beranggapan seperti itu?" Tanya Bara yang langsung menatap intens bola mata bening milik Ira.


"Lalu milik siapa? Bukankah seorang istri itu mutlak milik suaminya!" Tegas Ira.


"Istri yang bagaimana, Pernikahan yang seperti apa? Apakah pernikahan ini kemauan kita? Akad nikah yang terucap hanya kata-kata yang mengubah status kita menjadi pasangan suami istri, lantas bagaimana dengan perasaan kita? Hati kita? Rasa cinta kita, apa ikut serta hadir bersama akad terucap?" Jelas Bara panjang lebar, kali ini dia terlihat begitu dewasa dengan semua ucapannya itu.


"Itulah yang ingin kakak bicarakan? Kamu yakin kalau di hati mu ada kakak?" Tanya Ira.


"Di hati ku?" Ulang Bara yang mulai kebingungan.


"Hmmmm, adakah di sana sedikit kasih untuk wanita yang bernama Khumaira? Atau hanya ada Ratu disana? Lalu bagaimana dengan wanita yang bernama Mai?" Tanya Ira.


"Kak....!" Ujar Bara dengan perasaan yang seakan terguncang hebat saat nama Mai disebut oleh Ira.


"Jujur, sejak awal memutuskan menerima perjodohan ini kakak sama sekali tidak menaruh harapan apapun, apapun itu." Jelas Ira.


"Apa kakak membenci pernikahan kita?" Tanya Bara.

__ADS_1


"Jangan salah artikan ucapan kakak, pernikahan ini kakak terima dengan ikhlas, kakak jaga kamu dengan baik, seperti kakak jagain Rival, tidak ada rasa benci sedikitpun." Jelas Ira.


"Lalu? Apa yang ingin kakak tau tentang aku?" Tanya Bara.


"Bukan tentang kamu, tapi tentang Ratu dan Mai. Kakak tidak memaksa mu, bicaralah saat kamu siap. Istirahatlah, kamu harus ke sekolah kan besok." Jelas Ira dan lekas bangun dari sofa.


Ira beranjak ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya disana. Setelah berdiam diri di sofa untuk beberapa saat, kini Bara bangun lalu berdiri tegak tepat disamping tubuh Ira.


"Apa aku boleh tidur disamping kakak?"


"Kamu yakin mau berbaring di sebelah kakak?"


"Hmmmmm!"


"Tidurlah!" Jelas Ira yang segera menggeserkan tubuhnya ke sisi kiri.


Bara langsung merebahkan tubuhnya disamping Ira. Sejenak keduanya terdiam di posisi masing-masing lalu di menit berikutnya tangan Bara mulai bergerak perlahan menyentuh pinggang ira hingga berakhir dengan pelukan erat.


"Kakak boleh mendorong ku, jika kakak tidak nyaman dengan pelukan ku!" Ujar Bara pelan.


Beberapa menit berlalu dan Ira sama sekali tidak memberi penolakan apapun, hal tersebut seolah menjadi lampu hijau untuk Bara, kini ia mulai berani menempelkan wajahnya di lengan Ira, bermanja disana, seperti bayi yang nyaman dengan sandarannya.


"Hmmmmm...." Jawab Bara pelan sambil melonggarkan tangannya dari pinggang Ira diikuti dengan wajahnya yang segera ia tarik menjauh dari lengan Ira.


Setelah tangannya terlepas dari tubuh Ira, Bara langsung mengubah posisi tidur membelakangi Ira.


"Selamat malam!" Ucap Ira pelan dengan mata yang terus memandangi punggung kekar Bara.


__________


Bara yang baru datang langsung melemparkan tasnya ke atas meja, lalu duduk dan langsung menempelkan wajahnya pada meja.


"Haissssshhh!" Gumam Bara penuh kekesalan.


"Kenapa lagi?" Tanya Gibran yang duduk disebelahnya.


"Bara..." Panggil Ratu yang duduk tepat di depan meja Bara.


"Hmmmmmmm!" Jawab Bara namun masih dalam posisi semula.

__ADS_1


"Bara!" Panggil Ratu dengan suara lantang yang bahkan membuat siswa lainnya ikut kaget.


"Jangan ganggu aku!" Tegas Bara tanpa bergeming sana sekali.


"Kamu cuekin aku? Bar aku lagi ngomong nih!" Tegas Ratu.


"Ratu!" Gumam Bara bersamaan dengan kakinya yang langsung berdiri.


"Haissssshhh!" Lanjut Bara sambil mengacak-acak rambutnya sendiri dan langsung keluar dari kelas.


"Ada apa dengannya?" Tanya Rival yang baru saja tiba di kelas.


"Sikapnya benar-benar aneh, nggak bisanya dia marah-marah sama Ratu dan barusan dia melakukannya. Aku jadi kepikiran soal bocah ajaib itu!" Jelas Gibran.


"Kepikiran soal apa? Bara baik-baik aja kan?" Tanya Rival.


"Apa dia mengidap penyakit kronis makanya akhir-akhir ini hobi marah-marah mulu! Atau mungkin dia emang sedang menyesuaikan diri dengan sikap barunya itu? Aku benar-benar bingung!" Jelas Gibran.


"Aku akan susul dia!" Jelas Rival.


"Biar aku aja!" Tegas Ratu dan langsung keluar dari ruang kelas mereka.


Ratu terus mencari sosok Bara kesana-kemari mulai dari tempat tongkrongan mereka di kantin, halaman depan sekolah, toilet, lapangan basket, ruang seni, laboratorium IPA, halaman belakang sekolah dan terakhir Ratu memutuskan untuk mencarinya ke gudang ups maksudnya gudang yang sudah mereka sulap menjadi studio latihan band mereka.


Perlahan Ratu masuk lalu mencari sosok yang sejak tadi ia cari kemana-mana dan hasilnya nihil, Bara tidak ada disana.


"Kemana perginya coba? Aku udah cari ke semua tempat tapi dia sama sekali tidak bisa aku temukan? Apa dia ditelan bumi?" Cetus Ratu kesal dan langsung keluar dari studio musik tersebut dan memutuskan untuk kembali ke kelas karena memang jam pelajaran akan segera di mulai.


__________


Bara terus berlari menuju ruangan Ira. Iya, saat ini memang dia sedang berada di kantor keluarganya, dan itu artinya dia cabut dari sekolah.


Tangan Bara membuka kasar pintu ruangan Ira dan ternyata di dalam sana kosong, tidak ada siapapun. Bara memutuskan untuk menunggu ia tidak ingin membuang waktu yang sudah dia korbankan berlalu begitu saja.


Di sepuluh menit pertama masih aman, Bara masih duduk di sofa sambil bermain dengan ponselnya, namun menuju sepuluh menit kedua dia mulai bosan lalu mondar-mandir tidak jelas, jalan ke tiga puluh menit kini Bara mulai berbaring si sofa dengan seragam sekolah yang ia lepaskan dan buang begitu saja, kini hanya kaos lengan pendek yang menutup dinding benteng kekar miliknya. Kedua kaki yang diangkat keatas sandaran sofa membuat dia tidur dengan begitu nyaman hingga akhirnya pintu dibuka dari luar.


"Kak, soal Ratu dia cuman sahabat aku dan soal Mai, dia ..." Penjelasan Bara seketika terhenti.


Ira segera berlari mendekati Bara dan cepat-cepat membungkam mulut sang suami, bukan tanpa alasan, semua itu Ira lakukan hanya untuk membuat Bara diam seketika karena saat ini ia tidak kembali seorang diri tapi juga ada Dimas yang ikut bersamanya.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2