
Setelah sholat magrib di musalla sana, kini Ira kembali ke ruangan dimana Bara di rawat. Saat Ira tiba di ruangan tersebut, suasananya terasa begitu sepi hanya detak jarum jam saja yang berbunyi, sedangkan sang penghuni kamar justru tertidur begitu lelap di ranjangnya sana. Perlahan Ira melangkah mendekati Bara, lalu sedikit membenarkan selimut yang menutupi tubuh Bara, mengecek cairan infus lalu pandangannya terhenti pada wajah teduh Bara yang begitu damai dalam dunia mimpi indahnya.
"Kegantengan mu bertambah hingga berkali-kali lipat saat kamu sedang terlelap seperti ini, nggak galak, nggak teriak-teriak, nggak bikin darah tinggi." Jelas Ira dengan tangan yang perlahan menyentuh wajah Bara.
Sentuhan Ira yang berawal pada dahi kini perlahan terus berpindah menuju mata, pipi, hidung, bibir dan terakhir dagu Bara.
(Waaaah kamu benar-benar sudah gila Ra, kamu benar-benar gila.) Bisik hati Ira yang tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
(Stop Ra, stop!) Tegas hati Ira bersamaan dengan tangan kiri yang menarik tangan kanannya dari wajah Bara, namun hasilnya Ira tetap kalah dengan dirinya sendiri, tangan kanannya masih betah menempel pada pipi Bara.
"Sampai kapan kakak akan terus menyentuh wajah aku?" Tangan Bara sambil membuka matanya.
Ucapan Bara cukup membuat Ira segera menarik tangannya dari wajah Bara.
"Sejak kapan kamu bangun?" Tanya Ira sambil terus mundur beberapa langkah dari ranjang Bara.
"Ciiiih! Dasar mesum! Aku udah sadar sejak pertama tangan kak Ira menistakan kesucian kening aku, lalu mata, pipi, hi...." Penjelasan Bara langsung terhenti saat tangan Ira dengan kasar memukul bahu Bara.
"Awwww sakit!" Lanjut Bara yang memang kesakitan karena Ira benar-benar memukulnya dengan begitu kencang.
"Kakak cuman menyentuh kening doang, nggak menjalar kemana-mana, kamu aja yang salah!" Bela Ira.
"Nggak menjalar tapi mengabsensi seluruh penghuni wajah tampan ku ini!" Cetus Bara penuh kesombongan.
"Jelas-jelas kamu sedang bermimpi!" Tegas Ira.
"Apa iya itu mimpi, tapi kenapa rasanya nyata banget. Udah ngaku aja, kakak melakukan pelecehan terhadap wajah tampan ku kan?" Desak Bara.
"Jangan ngaco! Nggak!" Tegas Ira dengan suara tegas dan lantang.
"Au aaah, males debat!" Cetus Bara.
"Bagus! Dan sekarang kembali tidur gih, kakak juga mau tidur!" Jelas Ira yang hendak beranjak menuju sofa.
"Mau kemana? Apa kak Ira mau pulang?" Tanya Bara yang mulai khawatir.
"Kemana lagi? Ya ke sofa dong, tidur!" Jelas Ira yang langsung merebahkan tubuh lelahnya di sofa sana.
"Hauss!" Ujar Bara.
"Huffff! Sebentar." Ujar Ira yang sudah paham dengan maksud ucapan Bara, Bara memang sengaja mengatakannya dengan lantang agar Ira memndengarnya.
"Aku maunya air hangat!" Jelas Bara saat menerima gelas berisi air dari Ira.
"Kenapa nggak ngomong dari awal coba? Dasar!" Cetus Ira lalu kembali mengambil air hangat.
__ADS_1
"Nih!" Ujar Ira setelah menyerahkan gelas yang lainnya lagi.
"Bantuin bangun!" Pinta Bara.
Ira meletakkan gelas di meja kecil dekat ranjang lalu beralih membantu Bara bangun lalu duduk, Ira kembali memberikan gelas berisi air hangat, Bara langsung mangambilnya lalu meminumnya hingga habis.
"Lagi!" Pinta Bara lalu menyerahkan gelas kosong pada Ira.
"Bentar!" Ujar Ira lalu kembali mengambil air lalu kembali pada Bara.
Bara kembali meneguknya hingga habis.
"Ada lagi?" Tanya Ira.
"Kiss." Ujar Bara.
"Kakak nggak bawa permen, ya udah kamu tungga sebentar akan kakak belikan." Jelas Ira.
"Aku minta yang asli." Jelas Bara.
"Iya, lagi pula mana ada permen yang KW." Jelas Ira.
"Aku serius!" Jelas Bara.
"Iya, akan kakak belikan yang asli." Jelas Ira.
"Ada pesanan yang lainnya?" Tanya Ira.
"Mendekatlah!" Pinta Bara yang langsung membuat Ira kembali mendekatinya.
"Aku mau kiss yang sebenarnya!" Jelas Bara pelan dan langsung mengecup pipi kiri Ira.
Ulah Bara membuat Ira tercengang, ia bagai terbang terbuai dalam angan. Bara sedikit menggeserkan tubuhnya.
"Sini!" Pinta Bara.
"Jangan bercanda!" Cetus Ira yang paham dengan maksud Bara yang memintanya untuk berbaring di sebelahnya.
"Aku serius dan aku memerintahkan kakak sebagai seorang suami bukan teman adiknya kakak." Tegas Bara yang memepetegas maksudnya.
"Bar..." Ujar Ira pelan.
"Berbaring di sebelah aku, atau aku aja yang ikut kak Ira ke sofa?" Ancam Bara.
"Jangan gila, cepat tidur sana!" Jelas Ira yang kembali melangkah menuju sofa.
__ADS_1
Bahkan sebelum Ira kembali rebahan di sofa, Bara terlihat bangun dari ranjang lalu berdiri tegak dengan menyeret tiang infus bersama langkannya.
"Mau kemana lagi?" Tanya Ira.
"Nyamperin kak Ira!" Jawab Bara.
"Dasar....!" Gumam Ira lalu kembali mendekati Bara dan memintanya untuk kembali rebahan ke atas ranjang.
Saat tubuh Bara terbaring sempurna, tangan Bara dengan cepat menarik lengan Ira hingga tubuh Ira sedikit terhentak.
"Berbaringlah!" Pinta Bara lagi.
"Jangan membuat aku terus ngulang ucapan aku!" Tegas Bara memperingatkan.
Akhirnya Ira nurut perlahan meski merasa tidak nyaman namun pada akhirnya Ira tetap berbaring di samping Bara.
"Untuk yang semalam terima kasih banyak karena sudah merawat aku dengan sangat baik!" Ucap Bara penuh rasa terima kasih.
"Itu kan sudah menjadi kewajiban kakak, mengurus dan melayani kamu dengan baik." Jelas Ira mencoba mengalihkan pandangannya dari wajah Bara yang kini hanya berjarak beberapa centi aja dari wajahnya.
"Ooooo, jadi gitu? Berarti malam ini juga dong!" Tanya Bara yang terus mengintimidasi.
"Sebaiknya segera tidur." Ujar Ira lalu memejamkan matanya.
Perlahan tangan kiri Bara bergerak lalu melingkar di pinggang ramping Ira, membuat Ira seketika membuka kembali matanya.
"Bara, apa lagi rencana mu kali ini?" Tanya Ira yang sudah sering kali melayani kegilaan yang Bara buat.
"Apa aku tidak boleh melakukannya?" Tanya Bara yang sukses membuat Ira ambigu.
(Ada apa lagi dengan bocah ini? Sebenarnya rancangan apa lagi yang sedang ia susun dengan kedok romantis seperti ini.) Bisik hati Ira yang mulai mengintrogasi setiap gerak gerik Bara.
"Kak...!" Ujar Bara yang perlahan terus mendekat lalu menenggelamkan wajahnya di leher Ira.
"Bara! Apa lagi ini?" Tanya Ira yang berusaha menjauhkan dirinya dari jangkauan Bara.
Mengetahui penggerakan Ira membuat tangan Bara yang melingkar di pingga Ira seketika semakin erat, lalu tanpa aba-aba Bara langsung mengecup lembut bibir sang istri.
"Ini yang namanya kiss yang sebenar-benarnya." Tegas Bara lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari wajah Ira.
Bara tersenyum manis pada Ira yang masih kaget bukan kepalang karena perlakuan Bara yang barusan.
"Bara...!" Ujar Ira pelan.
"Maaf kalau kak Ira nggak suka dengan perlakuan aku barusan, aku ngerti kok perasaan kak Ira. Hanya saja aku merasa lebih tenang saat dekat dengan kakak, aku pun tidak tau dengan apa yang sebenaya aku lakukan. Mungkin karena efek sakit makanya aku ingin bermanja, jadi tolong maafkan aku kak, aku sama sekali tidak bermaksud untuk melecehkan kakak, sama sekali bukan seperti itu. Sekali lagi maafkan aku kak." Jelas Bara dan langsung memejamkan matanya.
__ADS_1
"Hmmmmm!" Ujar Ira pelan lalu ikut memejamkan matanya, keduanya terlelap terbuai mimpi yang penuh dengan keindahan.
🦋🦋🦋🦋🦋