
Keduanya saling menatap dalam diam tanpa kata sepatah pun. Lama terdiam, tidak ada yang berani memulai pembicaraan, hingga perlahan tatapan Ira mendapati bola mata bening milik Bara yang mulai berkaca-kaca lalu pada menit berikutnya air mata pun menetes membasahi pipinya.
"Apa kamu menangis?" Tanya Ira yang langsung syok dan juga khawatir.
"Aku takut kalau kakak bakal ninggalin aku, secara pak Faisal lebih unggul dalam segala hal, dia punya sejuta cara untuk membahagiakan kakak makanya aku menghapus chatnya tanpa sepengetahuan kakak." Jelas Bara.
"Bara..." Ujar Ira pelan.
"Jangan menyuruhku untuk minta maaf, karena aku tidak akan pernah mau melakukannya, aku tidak akan minta maaf karena aku nggak salah, aku hanya cemburu!" Tegas Bara lantang.
"Justru kakak yang harusnya minta maaf. Maaf karena telah membuat mu menangis, tapi jujur kakak suka melihat mu ketakutan seperti ini, karena ini pertama kalinya kakak melihat versi mu yang begini, kan biasanya selalu keras kepala dan kerap kali membangkang." Jelas Ira lalu perlahan mengangkat tangan kanannya lalu membelai rambut Bara.
"Jadi apa yang kalian bicarakan barusan?" Tanya Bara yang seketika berubah menjadi kembali sangar.
"Nggak ada!" Jawab Ira yang langsung menarik tangannya dari kepala Bara.
Secepat kilat tangan Bara menangkap tangan Ira yang baru saja beranjak dari kepalanya, Bara membawa tangan Ira kedalam genggamannya lalu menciumnya pelan.
"Jangan sembunyikan apapun dari aku, apapun itu! Jangan buat aku marah, jangan buat aku lepas kendali karena jika itu terjadi maka aku akan berubah menjadi monster yang mengerikan." Jelas Bara bak sebuah peringatan yang langsung membuat Ira tertegun dengan nafas yang seakan tertahan dan jantung yang berhenti berdetak.
"Kak Ira ngerti kan maksud aku?" Tanya Bara dengan menatap dalam bola mata Ira.
"Hmmmm!" Jawab Ira dengan menganggukkan kepalanya.
"Sekarang pulanglah." Jelas Bara lalu membuka pintu mobil, ia hendak keluar.
"Kamu mau kemana? Ayo kita pulang bersama!" Ajak Ira yang sukses menghentikan gerak Bara yang hendak keluar dari mobil.
"Sebenarnya aku sangat ingin pulang bareng kakak, cuman mau gimana lagi, kalau kita barengan, takutnya ntar ketahuan sama yang lain. Mereka pasti sedang menunggu aku di rumah, soalnya ntar setelah magrib kami akan mengerjakan tugas kelompok kami." Jelas Bara.
"Ahhh iya, kakak lupa!" Jelas Ira.
"Lupa atau emang nggak tahan jauh-jauh dari aku? Udah ngaku aja, kakak emang mau dekat terus sama aku kan?" Goda Bara.
"Ciiiih! Keluar gih sana!" Cetus Ira.
"Sampai jumpa di kamar kita nanti malam, love you my sunshine!" Jelas Bara yang bahkan langsung mengecup pipi kiri Ira dan lekas keluar dari mobil milik Ira.
"Waaaah, ada apa dengannya? Apa sekarang dia hobi membuat aku merona, waaah! Huffff panas! Kenapa tiba-tiba jantung aku melompat dahsyat dari tempatnya. Dia benar-benar menguji kesabaran ku, lihat aja, aku bakal bikin perhitungan, aku akan membalas mu dengan godaan yang paling membahana!" Gumam Ira yang terus mencoba mengatur normal tarikan nafasnya.
Ira terus menenangkan dirinya yang sedang di guncang habis-habisan oleh pesona Bara. Butuh waktu hingga beberapa menit lamanya agar Ira bisa kembali normal dan bisa mengemudikan mobilnya dan lekas pulang.
__ADS_1
_________
Bara memarkirkan motornya tepat disamping mobil milik Gibran, melepas helmet dan langsung masuk. Ia terus menelusuri setiap ruangan, namun suasana rumah benar-benar sepi tidak ada tanda-tanda keributan sama sekali, bak tanpa penghuni satu pun. Langkah Bara terus berjalan menuju kamar milik Rival dan langsung masuk.
"Gibran mana? Yang lain juga pada kemana? Kok sepi?" Tanya Bara saat mendapati Rival yang sedang mengenakan kaosnya.
"Gibran lagi mandi, Devi dan Safia di kamar tamu sama mama dan papa belum pulang. Kamu bareng kakak?" Jelas Rival.
"Kak Ira pakek mobil sendiri, soal..." Jelas Bara yang langsung mendekat pada Rival.
"Aku udah chat ke mama soal mereka, jadi mama nggak bakal ngomong apa-apa kok, kamu tenang aja." Jelas Rival dengan suara pelan.
Posisi keduanya yang begitu dekat tanpa spasi sama sekali membuat Gibran yang baru keluar dari kamar mandi menjerit histeris.
"Apa yang kalian lakukan? Kalian masih normal kan? Jangan buat aku takut!" Gumam Gibran yang bahkan berlari kearah mereka lalu mendorong Bara agar tidak menempel pada Rival.
"Apaan sih? Jangan parno deh!" Cetus Rival kesal dengan otak Gibran yang selalu saja traveling kemana-mana.
"Emang otak mu nggak ada lawan!" Cetus Bara yang begitu kesal.
"Ya Allah tolong kembalikan sahabat ku pada jalan yang benar!" Ungkap Gibran.
"Aku masih normal!" Tegas Bara dan langsung masuk ke kamar mandi.
"Kan jaga-jaga!" Bela Gibran.
"Hati mu itu yang haru kamu jaga dengan baik, bentar suka sama Devi tiba-tiba pindah ke Ratu terus kak Ira dan sekarang kak Re! Huffff! Sana taubat, jangan jadi buaya darat!" Cetus Rival kesal.
Sejak pulang dari latihan tadi, Gibran kerap kali membicarakan Resi hingga membuat Rival kesal tak jelas.
"Loh kok kamu yang kepanasan, orang mereka fine aja!" Jelas Gibran.
"Fine dari mananya coba? Udah ah, buruan siap-siap untuk sholat, habis ini kita langsung ke ruang tamu, Devi dan Safia pasti nungguin kita buat ngerjain tugas kelompok kita." Jelas Rival yang segera bersiap untuk sholat di ikuti oleh Gibran dan juga Bara yang baru saja keluar dari kamar mandi.
________
"Apa mereka bertiga belum keluar?" Tanya Ira.
Ira yang baru keluar dari kamarnya langsung ke ruang tamu menemui Devi dan Safia yang sejak tadi menunggu teman kelompoknya yang tak kunjung ngumpul.
"Belum kak!" Jawab Safia.
__ADS_1
"Ni kami datang!" Jelas Gibran yang baru saja datang bersama Bara dan Juga Rival, ketiganya langsung bergabung.
"Ayo buruan!" Ajak Devi yang langsung membuka buku serta mengambil alat tulisnya.
"Siap buk ketua!" Ujar Rival yang ikut membuka bukunya.
"Selamat bekerja, kalau butuh sesuatu panggil aja kakak!" Jelas Ira.
"Makasih kak." Jawab Safia dan Devi bergantian.
Ira meninggalkan ruangan tersebut dan kelimanya segera menyelesaikan tugas mereka bersama-sama.
________
Ira terus berguling ke kiri dan ke kanan secara bergantian, seakan dia terus mencari posisi ternyaman untuk tidur, namun dia terus bolak-balik melakukan tanpa henti. Sejenak menarik nafas dalam-dalam, pandangan menerawang langit-langit kamar lalu kembali memejamkan matanya dan terus berguling kesana-kemari membuat seisi kasur berantakan sempurna, sprei yang entah sudah seperti apa, bantal yang bertaburan dimana-mana dan juga selimut yang bahkan sudah melorot hingga ke lantai semua itu sama sekali tidak membuat Ira berhenti hingga suara pintu yang dibuka dari luar membuat pandangan Ira langsung tertuju pada sosok yang kini berdiri tegak di depan daun pintu yang telah tertutup rapat.
"Kenapa kesini? Yang lain mana? Tugasnya udah selesai?" Tanya Ira yang seketika langsung bangun dari rebahannya.
Bara tak memberi jawaban apapun, kakinya terus melangkah mendekati Ira yang duduk diatas tempat tidur dengan mata yang terus menatap pada Bara.
"Butuh isi ulang baterai!" Jelas Bara dan langsung memeluk erat tubuh Ira.
"Bara, sana keluar!" Pinta Ira yang berusaha menarik tubuhnya dari pelukan Bara.
"Aku capek, aku lelah banget, seharian latihan terus, lanjut ngerjain tugas dan sekarang setelah semuanya selesai aku benar-benar harus isi ulang!" Jelas Bara yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa tugasnya sudah siap?" Tanya Ira.
"Beres!" Jawab Bara.
"Gibran, Devi dan juga Safia dimana?" Tanya Ira.
"Pulang." Jawab Bara.
"Pulang?" Ulang Ira.
"Hmmm, bahkan aku pun harus pura-pura pulang supaya mereka nggak curiga. Hari ini benar-benar begitu melelahkan!" Jelas Bara yang perlahan menyandarkan wajahnya di bahu Ira.
Penjelasan Bara bahkan membuat Ira tersenyum membayangkan Bara yang harus keluar hanya agar tidak membuat yang lain curiga.
"Ayo tidur!" Ajak Bara yang bahkan langsung merebahkan tubuhnya bersamaan dengan menarik tubuh Ira ke samping.
__ADS_1
"Malam ini aku ingin tidur sambil terus memeluk lengan kakak, jangan protes apapun! Good night." Jelas Bara yang langsung memejamkan matanya.
🦋🦋🦋🦋🦋