
Dalam ketegangan, suasana hening seketika, ketiganya hanya saling menatap satu sama lainnya hingga suara nyaring ponsel Ira yang berada dalam genggamannya sukses membuyarkan suasana mengerikan diantara mereka.
"Kenapa cuman dilihatin doang? Angkat dong, siapa tau dari bos baru kakak, ada kerjaan mendesak kali, buruan gih balik ke kantor!" Jelas Bara dengan mata yang tidak bisa lepas dari ponsel milik Ira.
"Iya pak!" Jawab Ira setelah menggeserkan tombol hijau di layar ponselnya.
"Hmmmm, saya mengerti." Jawab Ira setelah mendengar penjelasan dari seberang sana lalu memutuskan panggilannya.
"Sana gih balik, pekerjaan kan segalanya buat kakak!" Cetus Bara sinis.
"Apa benar kalau sekarang kakak bekerja untuk abang Sam?" Tanya Rival.
"Segera berangkat ke sekolah atau kakak akan membatalkan pertandingan kalian!" Tegas Ira dan berlalu begitu saja menuju lemari.
Rival dan Bara tidak beranjak sama sekali, keduanya masih berdiri tegak di posisi semula. Di depan lemari sana, Ira terlihat sedang menyiapkan beberapa potong baju lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Mau kemana?" Tanya Bara yang bahkan langsung berlari mendekati Ira tidak hanya sampai disitu ia bahkan menarik paksa tas yang ada ditangan Ira.
"Pergi dinas selama seminggu!" Jelas Ira sambil merebut kembali tas miliknya.
"Bersama abang Sam? Cuman kalian berdua? Kemana?" Tanya Bara bertubi-tubi ia bahkan terlihat begitu ketakutan.
"Hmmmm, cuman berdua, kami akan keluar kota!" Jelas Ira santai.
"Keluar dari pekerjaan kakak! Berhenti bekerja, biar aku yang cari uang, aku bakal tanggung semua keperluan kakak!" Gumam Bara yang kali ini langsung melemparkan kasar tas milik Ira hingga membuat isinya berhamburan ke lantai.
"Kerja? Cari uang? Jangan bercanda, kamu bahkan tidak punya waktu untuk ke sekolah, kamu hanya mementingkan sepak bola dan drum, hanya itu prioritas mu!" Jelas Ira yang juga mulai terbawa emosi.
"Kak, Bar, tenang dulu!" Ujar Rival mencoba menengahkan mereka berdua.
"Diam!" Gumam Bara dan Ira barengan.
"Lanjutkan! Terus bertengkar!" Cetus Rival yang kini memilih duduk disofa menjadi penonton pertengkaran antara kakak dan iparnya itu.
"Aku memang begitu menyukai bola dan drum, tapi aku juga bisa cari uang, aku bisa jadi suami yang bertanggung jawab!" Jelas Bara.
"Bukan itu maksud kakak! Nggak masalah apapun hobi kamu tolong tetap jadikan sekolah sebagai prioritas, kakak nggak minta uang dari kamu yang kakak mau kamu fokus sama pelajaran mu, dan cepatlah lulus." Jelas Ira.
"Kak, aku akan segera lulus, aku akan jadi suami yang bisa kakak banggakan, jadi tolong jangan pergi bersama abang Sam, aku mohon!" Pinta Bara yang langsung luluh dalam pelukan Ira.
"Bar....." Ujar Ira pelan lalu mengusap pelan rambut Bara.
__ADS_1
"Jangan pergi, aku sudah terbiasa diurus sama kakak, lalu kalau kakak pergi siapa yang bakal mengurus semua keperluan sekolah aku?" Jelas Bara.
"Ciiiih! Tadi galak minta ampun, lah sekarang manja nggak ketulungan, dasar bocah nggak jelas! Aku tunggu di depan, buruan sebelum gerbang sekolah di tutup." Jelas Rival dan langsung keluar dari kamar Ira.
"Cepat gih pakai seragam mu!" Pinta Ira.
"Hmmmmm!" Jawab Bara nurut dan segera ke ruang ganti untuk memakai seragam putih abu-abunya.
"Apa ada yang tertinggal?" Tanya Ira saat Bara kembali menemuinya kali ini dia sudah lengkap dan rapi dalam balutan seragam SMAnya.
"Nggak ada, semuanya udah masuk ke dalam tas. Kak Ira nggak akan pergi kan?" Tanya Bara.
"Dengarin kakak! Kakak akan keluar kota untuk kerja, nggak cuman sama Sam, tapi Resi dan Bayu juga ikut, ada rapat dengan cabang perusahaan yang ada diluar kota, rapat penting dan juga nanti sore kami sudah kembali lagi ke sini." Jelas Ira.
"Beneran? Terus kenapa barusan kakak siapin baju?" Tanya Bara.
"Sengaja! Ayo buruan, kakak juga di tungguin Resi di depan sana!" Jelas Ira.
"Kakak sengaja bikin aku emosi?" Tanya Bara.
"Ya gitu deh!" Seru Ira dan segara tancap gas kabur dari amukan sang suami. Tak tunggu lama Bara pun bergegas menyusul sang Istri.
__________
Rival segera mendekati Resi yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya namun saat Rival datang ia langsung menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Belum berangkat ke sekolah?" Tanya Resi yang bahkan langsung bangun dari bangkunya.
"Belum? Kak Re nungguin kakak?" Tanya Rival.
"Iya, kenapa belum berangkat? Sepuluh menit lagi jam delapan loh!" Jelas Resi setelah sejenak melirik jam tangannya.
"Nungguin Bara, oh ya kak, soal...." Ucapan Rival langsung terhenti saat ia mendengar langkah kaki yang berlarian semakin mendekati mereka.
"Ayo Re kita berangkat!" Ajal Ira yang baru saja muncul dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Ayo, kalau gitu kakak pamit ya Val, semangat belajarnya, bye!" Jelas Resi dengan senyuman lebar dan lekas ke mobil.
"Awas kalau sampai berulah lagi! Kakak bakal gantung kalian berdua hidup-hidup!" Tegas Ira memberikan peringatan yang justru lebih cocok disebut sebagai ancaman.
"Hati-hati!" Pesan Rival.
__ADS_1
"Jangan pulang telat!" Tegas Bara yang sukses membuat Ira tersipu malu.
Resi dan Ira lekas masuk mobil dan segera berangkat, begitu juga dengan Rival dan Bara keduanya segera berangkat dengan motor milik Bara.
__________
"Ira, kamu ikut aku sebentar!" Pinta Samudra tepat setelah rapat berakhir dan para anggota rapat telah bubar kecuali mereka berempat yang masih duduk dimeja ruang rapat.
"Kemana?" Tanya Ira.
"Ada hal penting yang harus kita urus, kalian berdua langsung duluan aja ke restoran untuk makan siang, ntar kami nyusul, Ira buruan!" Jelas Samudra yang bahkan langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Perasaan rapat udah selesai, emang ada hal penting apa lagi coba? Aneh banget deh gelagatnya pak Sam." Cetus Resi kesal.
"Udah kalian tunggu aja di restoran, aku pergi ya." Jelas Ira dan lekas pergi.
"Udah nggak usah pasang wajah kesal gitu, atau kamu emang cemburu?" Tanga Bayu.
"Cemburu? Tunggu, tunggu kamu bilang aku cemburu? Apa mungkin pak Sam suka sama Ira?" Tanya Resi.
"Kenapa kaget? Udah dari kali kamunya aja yang peka, udah biar aja mereka berduaan siapa tau habis ini langsung jadian!" Jelas Bayu santai.
"Jadian! Jangan haral aku tidak akan membiarkannya!" Tegas Resi dan segera keluar untuk mencari keberadaan Ira namun sayang ia kehilangan jejak.
"Udah biara aja mereka berdua, ayo makan!" Ajak Bayu yang ternyata sejak tadi mengikuti Resi hingga ke lobi.
Lain halnya di salah satu ruangan lain yang ternyata masih di gedung yang sama, disana Ira terlihat duduk disofa sedangkan Samudra berada tepat dihadapannya.
"Hal penting apa yang ingin bapak bahas?" Tanya Ira.
Bukannya menjawab Samudra justru bangun dari tempatnya lalu perlahan pindah tepat disamping Ira.
"Pak Samudra!" Ujar Ira saat menyadari keberadaan Samudra yang berada disampingnya tanpa spasi sama sekali.
Ira langsung bergeser membuat jarak antara keduanya namun Samudra langsung menarik tubuh Ira kembali kesini.
"Sebenarnya apa yang ingin pak Sam katakan?" Tanya Ira yang berusaha menahan diri.
"Ira, aku....." Jelas Samudra yang perlahan semakin mengikis jarak wajahnya dari wajah Ira, ia semakin mendekat, dan semakin dekat dengan Ira.
🦋🦋🦋🦋🦋
__ADS_1