
"Lepasin aku kak,,," Pinta Bara dengan tangan yang mencoba melepaskan tangan Ira dari pinggangnya.
"Maaf karena telah berprasangka buruk pada mu! Kakak akui kalau kakak salah, salah menilai siapa kamu yang sebenarnya, maaf karena telah menuduh mu melakukan hal yang tak pernah kamu lakukan." Pinta Ira lalu perlahan melepaskan tangannya, bahkan mundur beberapa langkah menjauhi tubuh Bara.
"Dan juga maaf karena memeluk mu tanpa izin, kakak janji kakak tidak akan melakukannya lagi." Lanjut Ira.
"Sudahlah, aku benar-benar capek, aku lagi tidak mood menjelaskan apapun itu, kita lanjut pembicaraan ini besok aja." Jelas Bara.
"Satu lagi...!" Ujar Ira.
"Apa? Kan aku sudah bilang, kita bahas ini besok, nggak malam ini." Jelas Bara.
"Berapa uang yang kamu habiskan barusan?" Tanya Ira.
"Kenapa kakak ingin tau? Ini nggak ada hubungannya sama kak Ira." Tegas Bara.
"Kakak akan menggantikannya." Jelas Ira
"17.000.000! Tunggu! Kakak ingin menggantikan apa? Uang yang aku habiskan barusan, gitu maksud kakak?" Tanya Bara yang benar-benar tidak paham dengan apa yang sedang Ira bicarakan.
"Untuk saat ini, jika butuh sesuatu bicaralah sama kakak, jangan gunakan lagi uang papa jika tidak terlalu mendesak." Jelas Ira.
"Kakak ingin memberi aku nafkah? Aku yang kurang ilmu atau kakak yang mulai gila, kenapa istri yang justru memberikan nafkah untuk suaminya? Sejak kapan dunia bekerja seperti itu?" Tanya Bara yang mulai tidak lagi bisa tenang.
"Bar, untuk saat ini kakak akan coba memenuhi semua kebutuhan mu, sampai kamu tumbuh dewasa dan bekerja, setelah itu baru kita gantian, kamu yang menafkahi kakak." Jelas Ira.
"Aku tidak akan ikutan gila kayak kak Ira."
"Bara!"
"Apa? Aku tidak mau mengikuti ide gila kakak! Kenapa aku harus menerima nafkah dari kakak? Toh papa dan bunda masih sanggup memfasilitasi semua kebutuhan aku."
"Kakak paham maksud kamu, tapi coba kamu belajar pahami perasaan kakak. Kakak tidak mau papa terus-menerus marah karena salah paham sama kamu hanya karena pengeluaran kamu membengkak seperti tadi, kakak tidak mau Sam menuduh mu macam-macam, kakak...." Penjelasan Ira terhenti bersamaan dengan isak tangis yang pecah seketika.
Ira menundukkan kepalanya dan larut dalam tangisnya, ia bahkan terlihat sesegukan karena berusaha menahan dirinya agar tetap berdiri kokoh dihadapan Bara.
"Kak Ira..." Lirih Bara yang langsung luluh setiap kali air mata Ira berjatuhannya.
Perlahan Bara kembali mendekat, lalu membawa tubuh Ira kedalam dekapan hangatnya.
"Maaf soal barusan, tentang semuanya. Aku aku turuti keinginan kak Ira." Ujar Bara pelan dengan tangan yang perlahan membelai lembut jilbab Ira.
__ADS_1
"Apapun yang kamu butuhkan, apapun yang ingin kamu lakukan, bicarakan dulu pada kakak, kita pikirkan sama-sama, setidaknya jangan lagi buat papa marah, jangan lagi buat bunda khawatir." Ujar Ira.
"Hmmmmmm" Ujar Bara dan hendak melepaskan tubuh Ira dari dekapannya.
Bara langsung mengurungkan niatnya saat tanpa sengaja matanya mendapati sosok Samudra yang berdiri di kejauhan sana dengan terus menatap kearah dimana dirinya dan Ira berada. Mendapati Ira yang mulai bergerak beranjak lepas dari pelukannya membuat tangan kokoh Bara kembali menarik Ira kedalam pelukannya tidak hanya sampai disitu, tangan Bara semakin meraja lela membelai jilbab Ira dan sesaat kemudian mulai menundukkan kepalanya terus mendekati kepala Ira lalu mengecupnya pelan.
Dari kejauhan terlihat jelas bahwa Samudra mulai melangkah medekati mereka, saat tangan Samudra hendak menarik Ira dari pelukan Bara secepat kilat Bara menarik tubuh Ira agar berdiri di belakang tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu sadar kalau kamu sedang melecehkan Ira?" Gumam Samudra emosi.
"Melecehkan? Sejak kapan menyentuh istri dianggap sebagai pelecehan?" Tanya Bara songong.
"Ira, katakan, apa yang bocah ini lakukan pada mu?" Tanya Samudra yang kini beralih menatap Ira.
"Apa sekarang abang sedang cemburu pada ku? Haaah lucu bukankah sejak dulu abanglah yang selalu unggul, lantas apa yang terjadi sekarang? Jangan bilang kalau abang iri karena aku yang mendapatkan gadis yang abang cintai selama ini? Aaahhaaaha, aku paham, apa abang berniat merampasnya kembali?" Tanya Bara.
"Jaga ucapan mu! Karena sejak dulu Ira adalah milik ku!" Tegas Samudra.
"Sam!" Ujar Ira.
"Itu cerita dulu, dan sekarang akulah pawangnya!" Tegas Bara bersamaan dengan mengecup pipi kanan Ira yang sontak membuat Samudra semakin emosi.
"Buuuuk" Tinju Samudra mendarat di bibir Bara.
"Kak Ira ayo ke kamar, aku sudah tidak lagi bisa menahan diriku." Jelas Bara lalu menyeret Ira ikut bersamanya.
"Bara berhenti! Berhenti sebelum aku benar-benar membunuh mu!" Tegas Samudra.
"Lakukan apapun yang kamu ingin lakukan! Aku tunggu!" Tegas Bara yang terus melangkah masuk kedalam rumah dan segera menuju kamarnya.
"Bagaimana? Apa kamu merasa menang? Apa kamu merasa bahwa kamu berhasil membuat Samudra kalah?" Tanya Ira saat keduanya berada di dalam kamar.
"Kak..."
"Apa kamu bahagia melakukan hal seperti barusan?"
"Kak Ira...."
"Ayo terus lakukan seperti itu, jika memang bisa membuat mu puas dan senang!"
"Aku tidak bermaksud melecehkan kakak, sama sekali tidak begitu! Aku hanya ingin membuatnya merasakan apa yang selama ini aku rasakan. Marah, kesal, kecewa pada diri sendiri, aku hanya mau abang Sam tau kalau semua hal itu bisa membuatnya gila, sama seperti hidup yang ku jalani selama ini." Jelas Bara.
__ADS_1
Ira melangkah mendekati Bara lalu segera memeluknya erat, tangan Ira dengan lembut terus mengusap-usap punggung Bara, berusaha menenangkan perasannya.
"Kakak sama sekali tidak pernah tau kalau selama ini kamu begitu tersiksa, yang kakak tau kamu hanyalah siswa SMA yang begitu keras kepala dan selalu membuat masalah disana-sini. Kakak nggak tau kalau ternyata kamu bersikap kasar hanya untuk melindungi dirimu agar tidak roboh seketika, maafkan kakak yang tidak bisa memahami dirimu, maafkan kakak, Bara." Jelas Ira pelan lalu sedikit melonggarkan pelukannya.
"Apa sekarang aku terlihat begitu menyedihkan?"
"Tidak, sama sekali tidak!" Ujar Ira dengan menggelengkan kepalanya lalu tersenyum manis pada Bara.
"Kak..."
"Hmmmmm?" Tanya Ira sambil mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Bara.
Bara tidak memberikan jawaban apapun, ia terus menatap dalam wajah Ira, lalu perlahan semakin mendekat, membuat Ira salah tingkah karena ditatapan begitu dekat oleh mata bening milik Bara, tangan Bara perlahan menyentuh kedua pipi milik Ira yang mulai memerah, disaat wajah Bara kian mendekat, disaat itu pula pintu kamar di ketuk dari luar, seketika membuyarkan pandangan keduanya. Ira segera membukakan pintu dan ternyata yang datang adalah Bima.
"Ira, apa kamu yang melakukannya?" Tanya Bima sambil memperlihatkan layar ponselnya.
"Iya pa, maaf karena masih kurang." Ucap Ira pelan dan hati-hati.
"Apa kakak membayar kembali semua pengeluaran aku barusan? Kapan kakak melakukannya?" Tanya Bara yang segera mendekati Ira dan Bima yang berdiri di pintu sana.
"Itu, hmmmm saat kita di halaman belakang. Pa....!"
"Papa akan mentransfernya kembali, itu tabungan mu." Jelas Bima.
"Pa, Bara tidak menggunakan uang papa untuk berfoya-foya, dia hanya mentraktir semua anak-anak yang ikut demo, dan Rival lah dalangnya. Jadi Ira..." Jelas Ira tertahan.
"Lupakan masalah uang, dan ini, gunakan untuk semua keperluan mu, kamu menantu papa, itu artinya kamu juga tanggungan papa sampai anak papa bisa menanggung semua keperluan mu!" Jelas Bima yang langsung menyerahkan blackcard di tangan Ira.
"Tapi pa....!" Keluh Ira.
"Papa tau kalau kamu akan menggunakannya dengan baik. Dan kamu Bara, segera transfer kembali uang Ira." Tegas Bima dan langsung pergi begitu saja.
"Kakak bayar berapa sih?" Tanya Bara.
"Cuman setengah!" Jawab Ira pelan.
"Ciiih! Baru juga punya simpanan segitu udah sok mau nafkahi aku. Kakak lupa kalau kekayaan aku tidak akan habis hingga sepuluh turunan." Cetus Bara.
"Itu punya papa bukan punya kamu!" Tegas Ira.
"Yah aku pewarisnya!"
__ADS_1
"Mulai lagi, baru juga sebentar sadar eh gilanya kambuh lagi. Kakak capek, sana gih mandi, kakak mau tidur!" Cetus Ira yang langsung merebahkan tubuhnya ke atas sofa dan lekas tidur, sedangkan Bara bergegas ke kamar mandi.
🦋🦋🦋🦋🦋