
Alarm terus berbunyi seakan memanggil sang empunya untuk segera bangkit dari tidur nyenyaknya. Di atas sofa sana Ira sedikit menggeliat lalu perlahan membuka matanya yang terasa masih begitu berat untuk diajak melek. Setelah beberapa menit mengumpulkan jiwanya kembali, perlahan ia bangun dari tidurnya dan sejenak duduk sambil menatap kesekeliling kamar hingga matanya terhenti tepat pada tempat tidur di mana Bara masih tertidur nyenyak dengan keadaan kasur yang begitu berantakan, posisi tidur yang cukup membuat Ira kaget, betapa tidak Bara tertidur dengan kedua kaki yang hampir menyentuh lantai, tangan kanan yang memeluk guling lalu tangan kiri yang masih menggenggam erat ponselnya serta selimut yang tertindih di bawah bahu lebarnya.
"Apa dia habis gulat? Ada ada aja tingkahnya yang buat aku syok setengah mati!" Ujar Ira pelan sambil terus melangkah mendekati Bara yang bahkan masih mendengkur dalam tidurnya.
"Bara, Bara...." Panggil Ira pelan namun tidak ada reaksi apapun dari orang yang baru saja ia panggil namanya.
Bara bahkan tidak bergeming sama sekali, dia bahkan semakin nyenyak dalam tidurnya. Kini tangan Ira yang mulai bergerak lalu perlahan menyentuh kaki Bara yang hanya beberapa senti lagi telah menyentuh lantai.
"Bara, bangunlah udah setengah enam, kita belum sholat subuh, bangunlah!" Pinta Ira yang mencoba menahan amarahnya.
"Bunda, aku mohon, tolong beri aku waktu 5 menit lagi saja, aku masih sangat ngantuk!" Jelas Bara yang kembali menarik kaki keatas tempat tidur.
"Bara!" Gumam Ira kesal namun tetap ia coba untuk menahan amarahnya.
"Bunda..." Rengek Bara.
"Kakak bilang sekarang!" Gumam Ira yang tidak lagi bisa menahan dirinya.
Tangan Ira bahkan dengan kasar menarik tangan Bara hingga membuat tubuh Bara terduduk meski dengan mata yang masih tertutup rapat.
"Bangun! kita sholat subuh sekarang, atau kakak akan menyeret mu ke kamar mandi, cepat bangun!" Jelas Ira yang masih setia memegang lengan Bara agar tubuhnya tidak kembali terjatuh keatas kasur.
"Kak Ira! kenapa disini? apa yang kakak lakukan di kamar ku?" Tanya Bara yang bahkan langsung meloncat dari tempat tidur.
Tubuh Bara yang kini telah berdiri tegak di hadapan Ira, dengan penampilan yang begitu berantakan.
"Dasar gila! buruan mandi dan wuduk!" Desak Ira yang langsung menyeret Bara ke kamar mandi.
"Lepas! ngapain kak Ira di sini? keluar!" Gumam Bara yang mulai emosi.
"Apa kamu lupa? atau mungkin sudah gila? kamu suami aku! lalu apa kakak harus sekamar dengan abang mu?" Gumam Ira kesal dan langsung masuk ke kamar mandi, ia bahkan menutup pintu dengan kasar.
"Ahhhhh dasar pelupa! bodoh, bisa-bisanya aku amnesia tentang pernikahan aku sendiri. Come on Bara, hari ini adalah hari pertama kamu menjadi suaminya!" Jelas Bara pada dirinya sendiri lalu segera menuju ruang ganti.
Setelah mandi dan sudah siap dngan mukenah putih bersih yang membalut tubuhnya, kini Ira duduk di atas sajadah menunggu Bara yang bahkan belum keluar dari kamar mandi. Ira masih duduk menunggu dengan mata yang tertuju kearah pintu kamar mandi berharap sang suami segera keluar, namun harapan ya tinggal harapan hingga 20 menit lamanya Bara belum juga keluar membuat Ira mau tidak mau segera bangun lalu menuju kamar mandi.
"Bara, Bara!" Panggil Ira sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya!" Jawab Bara dari dalam sana.
"Keluar sekarang, atau pintunya bakal rusak?"
"Iya!" Jawab Bara bersamaan dengan pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam.
"Buruan! ini udah jam enam, dan kita belum sholat subuh!"
"Bukannya kak Ira udah sholat?"
__ADS_1
"Kakak nungguin kamu, Bar."
"Loh kenapa?"
"Karena kamu imam kakak! buruan kakak tungguin nih!" Jelas Ira yang bahkan langsung kembali ke sajadahnya.
Bara kembali menghampiri dengan langkah yang begitu pelan.
"Ayo!" Ajak Ira karena mendapati Bara yang masih berdiri mematung di belakangnya.
"Kak, aku...hmmmmmm, kita sholatnya sendiri-sendiri aja." Jelas Bara dengan pandangan tertunduk.
"Kenapa? apa kamu tidak ingin kakak menjadi makmum mu?"
"Bukan begitu. Jujur, ini adalah kali pertama aku sholat subuh! aku..." Penjelasan Bara langsung terhenti dengan sendirinya.
"Baiklah, ayo sholat sendiri-sendiri." Ujar Ira yang langsung melaksanakan sholat subuhnya.
Setelah sholat Ira langsung turun untuk ikut menyiapkan sarapan, sedangkan Bara justru kembali melanjutkan mimpinya yang tadi dirusak oleh Ira.
________________
"Hari ini kamu libur kan sayang?" Tanya Dewi saat bertemu dengan Ira tepat di depan tangga.
"Bunda, aku nggak ambil cuti, soalnya ada banyak kerjaan yang belum aku selesaikan." Jelas Ira.
"Aku berangkat!" Ujar Samudra yang baru saja turun dari tangga melewati kedua wanita tersebut.
"Atau kalian berangkat bareng aja, bisa kan Sam kamu tunggu Ira siap-siap sebentar?" Jelas Dewi.
"Aku berangkat sendiri aja!" Jelas Ira bersamaan dengan Samudra yang justru memberikan jawaban yang berbanding terbalik "Ayyok"
Jawaban keduanya membuat suana sejenak terdiam dengan Dewi yang terlihat menatap keduanya secara bergantian.
"Bunda..." Teriak Bara sambil berlari menuruni tangga dengan tangan yang sibuk memasang kancing seragam sekolahya.
"Bunda, lihat kaos kaki aku nggak?" Tanya Bara yang bahkan tidak peduli dengan Ira dan Samudra yang sejak tadi menatap kearahnya.
"Kan semuanya di laci lemari paling bawah." Jawab Dewi.
"Kami permisi bunda!" Ujar Ira pelan dan langsung menyeret Bara untuk kembali keatas.
"Apaan sih kak?" Gumam Bara kesal.
"Bisa diam nggak sih? kamu buat kakak malu tau nggak?" Gumam Ira pelan dan semakin mempercepat langkah kakinya.
Setelah pintu kamar kembali tertutup rapat, Ira segera menuju lemari lalu segera mencari kaos kaki untuk bara.
__ADS_1
"Mulai hari ini, apapun keperluan kamu mintalah sama kakak, jangan lagi mengganggu bunda,paham!"
"Baiklah!" Jawab Bara sambil memakai kaos kakinya.
Ira bergegas ke ruang ganti dan segera memakai seragam kerjanya.
"Kak Ira, kak..." Panggil Bara.
"Apa lagi?" Tanya Ira yang segera mendatangi Bara bahkan dalam keadaan tangan yang sedang memakai jilbabnya
"Paling tidak pakailah jilbab kakak dulu..." Jelas Bara dengan senyuman lebar dan segera memalingkan wajahnya dari Ira.
Ira langsung berbalik lalu merapikan jilbabnya dengan benar.
"Lihat buku aku yang di sini nggak? buku cetak IPA!" Jelas Bara sambil terus mengobrak-abrik seluruh meja belajaranya.
"Nyari buku atau ngajak gulat buku sih? udah sana gih sarapan, biar kakak yang carikan!" Jelas Ira yang langsung merapikan kembali meja belajar yang sudah bak kapal pecah lalu mencoba untuk mencari buku yang sejak tadi di cari oleh bara.
Setelah menemukan buku tersebut, Ira segera mengambil tas dan beberapa file miliknya lalu bergegas bergabung dengan anggota keluarga lainnya yang berada di meja makan.
"Ayo duduk!" Ajak Bima.
"Iya pa." Jawab Ira dan langsung mengambil tempat di sebelahnya Bara sembari memasukkan buka cetak IPA ke dalam ransel Bara.
"Bara, antarkan istri mu ke kantor!" Jelas Bima lalu kembali menyantap nasi goreng.
"Aku ada ulangan pa! jadi nggak boleh telat!" Jelas Bara.
"Sejak kapan kamu peduli dengan yang namanya ulangan? kamu bahkan pernah ikut demo saat ujian. Pokoknya antarkan Ira ke kantor!" Tegas Bima.
"Pa....!" Gumam Bara kesal.
"Biar Ira berangkat sama Sam aja, pa." Usul Dewi.
"Aku bisa berangkat sendiri kok, bunda, pa." Ujar Ira.
"Ayyok kak buruan!" Ajak Bara yang langsung menarik tangan Ira untuk ikut bersamanya.
"aku berangkat duluan, bunda, assalamualaikum." Ujar Ira sambil terus mengikuti langkah Bara.
"Sam, ayo!" Ajak Bima.
"Aku ada pertemuan di luar kantor, jadi aku tidak bisa bareng dengan papa." Jelas Samudra dan lekas pergi begitu saja.
"Papa pergi ya bun!" Ujar Bima dengan senyuman sambil mengusap rambut Dewi.
"Hati-hati pa!" Ujar Dewi lalu mengantarkan sang suami hingga ke pintu depan sana.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋