Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Lepas!


__ADS_3

Sore harinya, setelah latihan band selama empat jam full kini ketiganya terlihat sedang duduk lesehan dekat drum sambil meneguk air mineral dari satu botol yang terus saja mereka over kesana-kemari. Bermula dari Gibran, lalu di teguk oleh Bara dan akhirnya jatuh ke tangan Rival namun sebelum Rival meneguknya hingga habis, Bara kembali menyodorkan tangan meminta botol di over kembali.


"Baru juga seteguk!" Cetus Rival.


"Ya tapi aku masih haus!" Tegas Bara.


"Aku juga masih haus banget!" Jelas Gibran.


"Hahaha!" Setelah sejenak saling memandang lalu tertawa bersama.


"Seakan nih air harganya jutaan, padahal lima ribuan doang tapi kita sampai rebutan, nih ceritanya pelit atau gimana sih!" Cetus Gibran.


"Minum rame-rame itu lebih seru! Mempererat tali silaturrahmi." Jelas Bara mengutarakan pendapatnya.


"Lebih seru atau ngajak gelud, udah sana gih beli lagi!" Jelas Rival lalu meneguknya hingga habis.


"Ya udah aku keluar sebentar, apa ada pesanan lainnya?" Tanya Gibran setelah bangun lalu berdiri tegak di hadapan Bara dan Rival.


"Seblak kayaknya enak!" Ujar Bara.


"Okay seblak, elo?" Tanya Gibran sambil mengarahkan pandangannya pada Rival.


"Hmmmmm, batagor aja deh!" Ujar Rival.


"Aku juga!" Seru Bara.


"Jadi batagor nih dua duanya?" Tanya Gibran memastikan.


"Seblak!" Seru Bara.


"Apa sih? Yang jelas dong!" Cetus Gibran.


"Ya seblak iya, batagor juga!" Tegas Bara.


"Dasar tukang makan, aku pergi!" Jelas Gibran dan langsung keluar dari studio musik mereka.


"Apa kamu ada masalah?" Tanya Rival setelah Gibran benar-benar pergi.


"Nggak ada!" Jawab Bara cuek.

__ADS_1


"Terus kenapa dari tadi kakak nelpon ke nomor aku, nggak cuman itu dia terus chat aku nanyain kamu, ada apa? Kamu kabur dari rumah? Kali ini apa lagi ulah mu?" Tanya Rival.


"Siapa juga yang kabur, orang cuma kangen sama mama!" Jelas Bara.


"Haaaah! Kangen? Waaaah, kalau pun mau bohong yang masuk akal lah! Tuh kan?" Jelas Rival sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Bara soalnya Ira kembali menelpon ke nomornya.


"Jawab gih, bilang aja kalau kita Sedang latihan!" Jelas Bara.


"Mending kamu aja yang jawab, aku males ikut campur masalah rumah tangga kalian!" Cetus Rival sambil menyerahkan ponsel miliknya pada Bara dan ia pun lekas keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Bara seorang diri.


"Hmmmmmm, haissssshhh bisa gila kalau gini terus!" Cetus Bara setelah panggilan Ira berakhir dan dia masih saja berdiam diri.


Bara membuka chat yang kembali masuk dan benar saja itu adalah chat dari Ira.


~Dek, apa Bara sama kamu?~


~Tolong bilang ke dia kalau kakak nyariin dia, suruh dia menjawab telpon dari kakak!~


~Apa kalian bersekongkol? Kalian mau lihat tanduk kakak keluar?~


~Suruh dia balas chat kakak, sebelum kakak membuatnya tidak lagi bisa membalas chat dari siapapun ~


Chat dari Ira sukses membuat nyali Bara sedikit menciut, lalu perlahan merogoh ponsel miliknya dari dalam saku celana dan langsung menghubungi nomor Ira, hanya hitungan detik saja Ira sudah menjawab panggilannya dari seberang sana.


"Kak, aku...." Jelas Bara.


"Dimana kamu? Kakak akan menjemput mu!" Tegas Ira.


"Aku masih di studio latihan, kita ketemu di rumah aja." Jelas Bara pelan.


"Kamu masih mau terus menghindar, okay! Jangan salah kan kakak jika kakak juga ikut menghilang, kakak tunggu sampai jam delapan malam, kalau kamu masih belum juga pulang maka kakak yang akan pergi." Tegas Ira dan langsung mematikan ponselnya.


"Pergi? Yah paling juga kakak perginya ke rumah mama, sama kayak aku kabur dari rumah bunda menginap di rumah mama. Maaf kak, aku benar-benar belum bisa bertemu sama kakak, aku benar-benar malu kak, bisa-bisanya nafsu ku memuncak begitu saja, buat malu aja!" Cetus Bara pada dirinya sendiri lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jeansnya.


"Ayo makan!" Ajak Gibran yang baru aja kembali dengan jajanan yang memenuhi kedua tangannya.


"Mantap, ayo!" Ajak Bara yang langsung mengambil bawaan Gibran lalu segera menyantapnya dengan lahap.


Gibran dan Rival pun ikut makan.

__ADS_1


____________


"Benar-benar bikin khawatir? Kenapa sih menghindar terus? Udah jam delapan lebih tapi belum juga pulang, apa dia sengaja menjauh? Atau ini ada hubungannya dengan kejadian tadi malam! Apa sebaiknya aku susul ke rumah mama? Ummmmmm!" Gundah Ira sambil terus mondar mandir di depan tempat tidurnya.


Perasaannya gundah tak karuan, dia terlihat begitu gelisah. Ia masih saja terus menunggu hingga satu jam lamanya, akhirnya Ira memutuskan untuk segera mendatangi Bara, ia mengambil kerudungnya lalu mengenakannya acak-acakan, mengambil kunci mobil serta ponsel miliknya lalu segera keluar dari kamar, menuruni tangga dengan berlarian hingga suara Dewi menghentikan langkahnya.


"Mau kemana sayang?" Tanya Dewi yang keluar dari dapur dengan segelas air kopi di tangannya.


"Bunda, Ira izin pulang ke rumah mama ya, soalnya Bara lagi disana." Jelas Ira.


"Sendirian? Kenapa nggak Bara aja yang pulang ke sini?" Tanya Dewi.


"Sendiri bunda, lagi pula masih jam sembilan kok, Bara lagi ngerjain tugas sama Rival, ya udah ma, Ira pamit, assalamualaikum." Jelas Ira yang sebahagian besar harus berkata bohong, karena ia tidak ingin masalah rumah tangganya di ketahui oleh mertuanya.


"Waalaikum salam, hati-hati sayang, kalau udah sampai jangan lupa kabari bunda." Pesan Dewi.


"Iya, bunda." Jawab Ira lalu mencium telapak tangan Dewi dan lekas pergi.


Disaat Ira hendak masuk ke mobil, sebuah tangan menyentuh bahunnya membuat pandangan Ira seketika tertuju pada pemilik tangan tersebut.


"Sam!" Ujar Ira lalu melangkah menjauh dari Samudra.


"Mau kemana?" Tanya Samudra.


"Pulang ke rumah mama." Jawab Ira.


"Ikut aku!" Ajak Samudra yang langsung menyeret Ira ikut bersamanya.


__________


"Apa yang kamu lakukan? Lepas!" Gumam Ira yang terus saja memberontak.


Ira terus berusaha menarik lengannya dari cengkraman kasar Samudra, bukannya melepaskannya, Samudra malah semakin memperlakukan Ira dengan kasar, kali ini ia bahkan menghempaskan tubuh mungil Ira keatas tempat tidur.


Ira mencoba untuk bangun namun ia kalah cepat dari Samudra yang langsung menghadang tubuh Ira untuk beranjak dari kasur.


"Kali ini kamu tidak akan bisa lepas lagi Ra, kamu akan jadi milik aku seutuhnya!" Tegas Samudra yang terus memaksa untuk mencium Ira.


"Apa kamu gila? Lepaskan aku!" Pinta Ira yang terus memberontak.

__ADS_1


Namun semuanya sia-sia, usaha Ira untuk lepas dari cengkeraman Samudra tidak membawakan hasil sama sekali, yang ada ia justru kelelahan karena menguras terlalu banyak tenaga. Ira yang mulai melemah langsung dimanfaatkan oleh Samudra, dengan nakal Samudra mulai menciumi seluruh wajah Ira tanpa tersisa satu pun, mulai dari kening, kedua pipi, kedua mata, hidung, dagu lalu berakhir di bibir Ira. Tangan Samudra pun tak tinggal diam, ia mulai menelusuri setiap jengkal lekuk tubuh Ira.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2