Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Lagi....


__ADS_3

#1 Minggu Kemudian#


The GRiB group


~Udah sampe mana?~ Gibran.


~Masih nyari kaos kaki!~ Rival.


~Masih ngumpulin kesadaran yang berceceran di alam mimpi~ Bara.


" Buruan, aku udah hampir tiba di tempat janjian nih!~ Gibran.


~Tenang napa? Sing penting kita bakal datang kok!~ Bara.


~Datang sih datang tapi nggak jam makan siang juga kali~ Gibran.


~Otw nih~ Rival.


~Anak2 gimana?~ Bara.


~Semua udah standby, cuman bapak komandan doang yang masih belum ada kabar, entah masih keluyuran di dunia mimpi buramnya~ Gibran.


~Ciiiiih! Hati2 kalo ngomong, aku juga otw nih!~ Bara.


~Nggak ada yang boleh telat, buruan gerak!~ Gibran.


~Siap Co Comandan!~ Risvan yang langsung off seketika.


~Lets go!~ Bara.


~Pengen bener gw geplak pala nih dua bocah!~ Gibran.


~Slow! Bey~ Bara lalu segera memasukkan ponselnya ke dalam ransel.


Kini tangan Bara sibuk merapikan rambutnya di depan cermin, setelah puas dengan gaya rambut barunya Bara segera bergegas keluar dari kamar dan berlari riang menuju garasi.


"Ira mana?" Tanya Bima yang saat itu memang sedang berada di garasi karena ia memang hendak berangkat ke kantor.


"Masih di kamar, lagi siap-siap!" Jelas Bara yang langsung menaiki motor kesayangannya.


"Jadi kalian nggak barengan?" Tanya Dewi yang memang sedang mengantarkan sang suami hingga ke mobilnya.


"Aku lagi buru-buru, lagian kak Ira sama sekali nggak masalah aku tinggalin!" Jelas Bara yang langsung menyalakan mesin motornya.


"Kamu benar-benar suami yang tak bertanggung jawab! Kamu pikir Ira itu siapa? Dia istri kamu, dia butuh tanggung jawab kamu." Jelas Bima.


"Tanggung jawab? Dari anak SMA? Terlebih dari aku? Yang keras kepala dan bodoh ini? Papa kalau ngomong suka ngaco deh! emang sejak kapan papa menganggap kalau aku cowok yang bertanggung jawab?" Jelas Bara.


"Bar..." Ujar Dewi.


"Bunda juga nggak usah ikutan! Ini perkara rumah tangga aku. Aku berangkat!" Cetus Bara dan langsung tancap gas.

__ADS_1


"Benar-benar!" Gumam Bima yang mulai emosi.


"Bukannya papa sendiri yang salah? Kenapa menikahkan bocah SMA? Begini kan jadinya!" Cetus Samudra yang baru datang dan dimenit berikutnya langsung masuk ke mobil dan lekas pergi.


"Udah pa, jangan lagi menyalahkan siapapun. Kita yang salah!" Jelas Dewi.


"Bunda jangan terpengaruh dengan ucapan mereka berdua. Kita hanya memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Papa berangkat kerja, jaga diri bunda baik-baik, love you, sayang." Ujar Bima lalu mengecup mesra kening sang istri dan lekas masuk ke mobil lalu berangkat kerja.


Setelah mobil Bima keluar dari garasi, Dewi segera kembali ke dalam rumah, Ira yang sejak tadi memang berdiri di samping mobilnya terlihat begitu tenang saat menyaksikan kemesraan sang mertua, bahkan tanpa ia minta hayalan justru berdatangan mengusik otaknya.


"Aku berangkat dulu sayang, soalnya ada ulangan hari ini, ntar aku jemput ya, assalamualaikum sayang ku, love you!" Ujar Bara lalu mengecup lembut kening Ira tak hanya itu, dengan penuh kasih sayang tangan kanan Bara terus mengusap jilbab yang menempel di kepalanya Ira.


"Hmmmm, hati-hati di jalan my Hero!" Ucap Ira dengan senyuman bahagia.


Namun hanyalan teraebut tak bertahan lama, pada kenyataannya hanyalan hanyalah hayalan belaka, senyuman yang merekah seketika memudar menyadari keberadaan diri yang hanya seorang diri di depan mobil miliknya.


"Rumah tangga impian ku seketika sirna berkeping! Kini yang ada hanya rumah tangga bak rumah hantu, suram dan menakutkan, tidak ada kebahagiaan yang datang justru hal-hal yang mengerikan. Ira, terimalah kenyataan bahwa hidup tidak selamanya berjalan sesuai harapan." Ungkap Ira pada dirinya sendiri.


Mencoba terlihat tangguh, memasang senyum bahagia lalu segera masuk ke mobil dan berangkat kerja.


____________


Motor yang di kendarai oleh Bara berhenti tepat di perempatan jalan, ia segera menepi lalu turun dari motor dan segera bergabung dengan segerombolan siswa lainnya yang sejak tadi sudah berkumpul di sana. Bara terus berjalan mencari sosok Rival dan juga Gibran yang ternyata sedang berdiskusi dengan beberapa siswa yang mengenakan seragam yang berbeda dari sekolah mereka.


"Sorry telat!" Ucap Bara.


"Emang kang telat kan!" Cetus Gibran sinis.


"Udah, nggak usah pada ribut!" Tegas Rival.


"Loh, kamu juga ikut Bara? Bukannya kenaikan BBM nggak ada pengaruhnya sama sekali buat kamu, mau seratus ribu sekali pun itu bukanlah masalah besar buat blackcard mu kan?" Jelas Erris salah satu pemimpin dari sekolah lain.


"Emang nggak ngaruh tapi demo nggak bakal seru jika nggak ada aku!" Ujar Bara dengan senyumannya.


"Aku jadi iri sama kamu, andai aja anak-anak orang kaya di sekolah aku sama kayak kamu." Jelas Fildan yang juga berasal dari sekolah lainnya.


"Aku mewakili para buruh!" Ujar Bara santai.


"Kamu ini!" Ujar Arjuna sambil menepuk bahu Bara.


"Terus gimana? Udah bisa gerak? Anak-anak udah di kasih aba-aba?" Tanya Bara.


"Udah, kita langsung beraksi!" Jelas Erris.


"Tujuan utama ke gedung Xx kan?" Tanya Bara.


"Iyap! Gimana? Bisakan?" Tanya Arjuna memastikan lokasi utama demo mereka.


"Okay! Ayo!" Ujar Bara.


"Teman-teman semuanya, kita akan langsung mengeksekusi lokasi utama yaitu gedung Xx, kita gerak sekarang, siap!" Seru Gibran dengan suara lantang.

__ADS_1


"Siap!" Jawab semua siswa yang sudah berbaur satu sama lainnya


Mereka segera bergerak menuju lokasi tujuan, setelah melakukan diskusi antar 4 sekolah kemaren, akhirnya mereka memutuskan untuk ikut unjuk rasa membantu para mahasiswa yang telah lebih dulu melakukannya kemaren, dan hari ini mereka mengambil peran meski hasil dari demo para mahasiswa kemaren begitu kacau karena ada beberapa aktifis justru di tangkap.


Sorak-sorai dengan suara lantang mengiringi langkah mereka hingga sampai di tujuan yang tentunya telah di sambut oleh para penjaga keamanan yang mengawal ketat.


Demo mulai riuh, saat beberapa siswa mulai mengajukan aksi mereka, selama Bara dan Arjuna terus berkomentator di depan sana secara bergabtian, para pengikutpun mulai berinisiatif dengan yel-yel mereka hingga membuat para penjaga turun tangan dan pada akhirnya cecok antara kedua belah pihak pun tidak bisa terhindar lagi, aksi bakar-bakar ban pun dimulai, hingga air melambung di udara meghujani para pendemo. Kekacauan terjadi dimana-mana, hingga sejam lamanya.


_____________


"Gila!" Cetus Bara kesal dan masih duduk bersandar di dinding sel tahanan.


"Tamat riwayat kita hari ini!" Ujar Gibran.


"Aku sih nggak masalah, toh kalau bosan mereka juga bakal ngebebasin kita, cuman....?" Ujar Erris gantung.


"Cuman kenapa?" Tanya Arjuna penasaran.


"Nggak kebayang aja kalau sampai papanya Bara datang kesini!" Jelas Erris.


"Kalian tenang aja, papa aku nggak bakal datang kok!" Tegas Bara.


Ya, mereka berempat sudah diamankan sejak dua jam yang lalu akibat ulah mereka yang tidak menaati peraturan dan menjadi provokator saat demo berlangsung.


"Justru itu? Aku mulai merinding! Gimana kalau kita bakal lama di sini?" Tanya Gibran yang paham betul jika papanya Bara tidak megirim bala bantuan itu artinya mereka harus tinggal lama di balik jeruji besi tersebut.


"Mending tinggal disini lebih nyaman!" Ujar Bara yang bahkan langsung rebahan lalu memejamkan matanya.


"Pak Faisal..." Ujar Gibran saat melihat kedatangan Faisal sang wali kelas.


"Kalian benar-benar! Lagi dan lagi! Bukannya bapak menyuruh kalian untuk latihan?" Gumam Faisal penuh amarah.


"Pak..." Ujar Gibran.


"Lalu Rival dimana? Kenapa cuma kalian berdua?" Tanya Faisal.


"Nggak berdua pak, ada Erris dan juga Juna, kalau bapak mau melepaskan kami, maka lepaskan kami semuanya, Juna dan Erris juga korban." Jelas Gibran.


"Maaf sudah merepotkan bapak!" Ujar Arjuna.


"Maafkan kami pak! Dan juga tolong jadi wali kami juga!" Pinta Erris.


"Kalian benar-benar! Rival mana?" Tanya Faisal lagi.


"Dia aman pak, paling lagi makan sekarang!" Jelas Bara santai.


"Bara....!" Seru Ira yang sukses membuat Bara segera bangkit dari rebahannya.


Ira baru saja datang dengan di dampingi oleh Rival. Suara Ira juga membuat Gibran dan Faisal segera menoleh kearah Ira yang terus melangkah mendekati sel tahanan dimana mereka berada.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2