Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Rencana Rival.


__ADS_3

Resi terlihat begitu menikmati angin malam yang terus membelai wajah indahnya, kedua tangannya perlahan mengeratkan jaket yang melekat pada tubuhnya. Mata Resi terus aja memandangi kearah kebun stroberry yang terlihat begitu memukau di malam hari.


"Kak..." Panggil Alea sambil berjalan lalu berdiri disamping Resi.


"Alea, kamu belum tidur?" Tanya Resi dengan senyuman ramah kearah Alea.


"Belum kak, hmmmm boleh aku disini sama kakak sebentar?" Tanya Alea lalu mengikis jarak antara dirinya dan Resi.


"Tolong jangan anggap aku sebagai gadis yang hendak merebut pacar kakak, aku memang mencintainya tapi aku sama sekali tidak berniat untuk mengacaukan hubungan kak Re dan Rival. Kak, bisakah aku menjadi sahabat kakak?" Tanya Alea pelan dengan nada yang terdengar jelas begitu sedih.


"Alea....!" Ujar Resi yang bahkan langsung memeluk erat tubuh Alea.


"Sejak awal kakak sama sekali tidak ingin menjadi sahabat mu Alea, maafkan kakak!" Jelas Resi yang sontak membuat Alea seketika menarik tubuhnya dari pelukan  Resi.


"Apa aku terlihat begitu menakutkan bagi kak Re?" Tanya Alea dengan kepala yang tertunduk seketika.


"Menakutkan? Alea, kamu itu cantik, baik, imut bagaimana bisa kakak hanya menjadikan mu sebagai seorang teman? apa kamu mau menjadi adik kakak?" Tanya Resi dengan tatapan yang begitu meneduhkan.


"Kak Re..." Ujar Alea dengan air mata yang perlahan menetes lalu segera mendekap erat tubuh Resi.


"Aku juga mau..." Seru Ratu yang langsung berlari kearah mereka berdua dan tanpa persetujuan Ratu langsung bergabung dalam pelukan mereka.


"Apa aku juga boleh menjadi adik kak Re? boleh kan?" Tanya Ratu.


"Hmmm, pastinya dong sayang....!" Ujar Resi pelan lalu tangan kanannya bergerak memeluk Ratu.


Dari kejauhan sana Safia terus saja memperhatikan ketiga gadis yang terlihat begitu larut dalam pelukan mereka, mata Safia mulai berkaca-kaca, tatapannya terlihat begitu dipenuhi rasa camburu dan juga kagum.


(Bagaimana kalau mereka tau tentang perasaan ku? apa mereka juga bisa menerima aku seperti mereka menerima Alea? aku juga sama, aku juga tidak berniat merebut Bara, aku hanya jatuh cinta meski beribu kali aku buang rasa ini tetap saja aku belum mampu melakukannya dengan baik, aku? Aku bahkan terkadang begitu tersiksa dengan diri aku sendiri, apa rasa ini salah?) Ungkap hati Safia dengan punggung yang tersandar sempurna pada dinding dan kedua tangan yang mendekap erat wajahnya.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan mereka bertiga?" Tanya Gibran yang tiba-tiba muncul dihadapan Safia.


"Nggak ada, aku hanya...." Jelas Safia tertahan.


"Aku ngerti dan aku juga sangat memahami perasaan mu." Jelas Gibran lalu memeluk Safia.


"Maafkan aku!" Pinta Safia.


"Hei, kenapa minta maaf, jangan menangis lagi, kami akan selalu ada untuk mu." Jelas Rival yang ikut bergabung.


Rival perlahan mendekati mereka berdua, tangan Rival bergerak lalu mengusap pelan rambut Safia dengan terus memamerkan senyumannya untuk menyemangati Safia yang terlihat larut dalam kesedihan.

__ADS_1


"Rupanya disini kalian? ayo keluar!" Ajak Bara yang memang sejak tadi terus mencari para sahabatnya untuk bergabung ke halaman depan.


"Kalian habis nangis jamaah? kok nggak ngajak?" Celutuk Bara saat menyadari bahwa Safia sedang menangis, Bahkan segera merapat lalu merangkul mereka bertiga kedalam dekapannya.


"Siapa yang nangis, orang lagi acting!" Tegas Rival yang mencoba keluar dari rangkulan Bara.


"Udah ikot aja, jarang-jarang loh dapat pelukan gratis dari orang ganteng!" Ujar Bara dengan gelak tawa khasnya.


"Ciih!" Cetus Rival dan Gibran barengan hingga membuat Safia ikut tertawa.


"Masih betah disini? kalian ninggalan kakak sendirian di luar tau!" Gumam Ira kesal.


"Mau ikutan?" Tanya Rival yang bahkan langsung memeluk Ira.


"Buruan keluar ntar makanannya keburu dingin loh!" Jelas Ira.


"Kenapa ngumpul disini?" Tanya Resi.


"Nungguin kalian!" Cetus Ira.


"Makan malamnya gimana? bakar-bakarnya?" Tanya Ratu.


"Cieee bumil ngamuk nih ceritanya, udah ayo..." Ujar Resi lalu merangkul Ira dan lekas keluar.


"Ayo..." Ajak Gibran lalu semuanya segera menyusul Ira dan Resi yang sudah lebih dulu menuju lapak makan malam mereka malam ini.


"Waaaaaah! baunya aja udah sedap, apalagi rasanya..." Seru Gibran girang dan segera duduk serta langsung memakan sate yang baru saja dihidangkan oleh Jihan yang tak lain adalah pelayan yang menyediakan makanan di villa tersebut.


"Au...aishhh, panas..." Keluh Gibran namun tetap menelan sate yang telah keburu masuk ke mulutnya.


"Makannya jangan asal lahap!" Cetus Ratu.


"Habis mengiurkan!" Jelas Gibran.


"Ya udah embat aja semuanya!" Cetus Bara yang bahkan langsung menyodorkan piring yang terisi penuh dengan sate.


"Iiiiiih mana boleh gitu!" Tegas Ira yang langsung mengambil piring tersebut dan segera menikmatinya.


"Dasar rakus!" Cetus Resi.


"Ini juga enak loh kak, cobain deh!" Ujar Safia sambil menyodorkan Ayam bakar pada Ira.

__ADS_1


"Terima kasih!" Ujar Ira dengan senyuman dan mengambil peberian Safia.


"Pelan-pelan dong, tenang aja nggak akan ada yang merebut makanan kakak..." Protes Rival saat melihat Ira buru-buru memakan setiap hidangan yang ada dihadapannya.


"Pelan-pelan, hmmmm!" Ujar Bara yang perlahan menyentuh tangan Ira.


"Sorry!" Ujar Ira dengan senyuman.


Semuanya begitu menikmati makan malam mereka sambil sesekali bercanda lalu tertawa bersama hingga malam semakin larut dan akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing. Resi yang masuk paling belakang setelah membantu Jihan membersihkan meja makan, disaat Resi hendak membuka pintu kamarnya disaat itu pula sebuah tangan perlahan menyentuh tangannya.


"Rival..." Ujar lalu membawa Resi untuk ikut bersamanya.


Resi hanya nurut tanpa protes sama sekali, ia terus mengikuti langkah Rival yang akhirnya berhenti di teras samping villa. Tanpa perintah, Resi langsung mengambil posisi di kursi sebelah barat, setelah duduk lalu menarik nafas pelan lalu melayangkan pandangannya pada Rival yang masih berdiri tak jauh darinya.


"Kak, pulang dari sini aku akan membicarakan hubungan kita dengan papa dan mama, lalu setelah pengumuman aku akan minta papa dan mama melamar kak Re, selanjutnya setelah aku berhasil masuk kuliah, ayo kita nikah." Jelas Rival.


"Bisa tolong diulang!" Pinta Resi yang terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Kak, aku lagi ngomong!" Tegas Rival karena merasa Resi mengabaikan dirinya.


"Kakak tau, makanya kakak minta diulang sekali lagi, soalnya nggak terekam dari awal sih!" Celetuk Resi lalu memutar penggalan suara Rival yang berhasil ia abadikan.


"Kak!" Ujar Rival.


"Kakak tagih janjinya! Awas aja kalau sampai dilanggar bakal kakak cari kamu sampai ke ujung dunia!" Tegas Resi lalu bangun dari kursinya.


"Kak Re nggak keberatan dengan rencana ku?" Tanya Rival.


"Keberatan? Kakak justru girang! Semoga sukses, semangat!" Seru Resi dengan senyuman manis lalu menepuk pundak Rival dan berlalu begitu saja.


"Waaaah, lampu hijau nih! Yessss! Kamu keren Rival, wuuuuuuushhh!" Seru Rival kegirangan ia bahkan bersiul tak jelas sambil berlari kecil masuk ke dalam villa.


__________


"Bara, tolong...!" Pinta Ira sambil bangkit dari tidurnya.


Bara yang sedang duduk di sofa yang awalnya terlihat asyik menulis lirik lagu seketika langsung berlari kearah Ira bahkan ia langsung melemparkan pulpen yang sejak tadi berputar-putar dijemarinya.


"Ra, kenapa? Dimananya yang sakit?" Tanya Bara panik dan langsung memeriksa seluruh anggota tubuh Ira.


...🦋🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2