
Perlahan tangan Ira bergerak menyentuh wajah sembab Bara, tatapan Ira terlihat begitu dalam, seolah dia sedang menelusuri seluruh isi hati dan pikiran Bara yang terlihat sedang begitu kacau saat ini.
"Mendekatlah, ayo duduk sini!" Ajak Ira.
Bara perlahan bangun lalu duduk disamping Ira, pandangannya masih saja tertunduk dengan air mata yang perlahan kembali menetes, tangan Ira membawa Bara kedalam pelukannya.
"Maafkan aku karena menjadi beban dalam hidup kak Ira, maaf!" Pinta Bara dengan tangan yang melingkar erat di pinggang rampingnya Ira.
"Beban? siapa yang menjadi beban siapa?"
"Aku, karena aku abang Sam melecehkan kakak, karena aku, dia..."
"Aku mencintai mu, Bar!" Pengakuan Ira sontak membuat Bara menghentikan ucapannya, kini matanya malah larut dan terbuai dengan senyuman manis milik sang istrinya.
"Kak..." Ujar Bara dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar oleh Ira.
Bara semakin mendekat, dia sukses mencium sang istri tanpa adanya penolakan sama sekali. Bara yang merasa mendapatkan lampu hijau, kini mulai melancarkan aksinya sedangkan Ira terlihat membiarkan Bara memperlakukannya sesuka hati, Ira bahkan tidak bisa mengatakan tidak saat melirik mata Bara yang memerah ditambah wajah yang begitu sembab hingga akhirnya Bara hampir saja lepas kendali.
"Maafkan aku kak! karena terbawa perasaan, aku hampir saja melangar perjanjian kita. Maafkkan aku yang masih labil ini." Pinta Bara lalu buru-buru menjauh dari Ira.
"Bar, kakak..." Ujar Ira tertahan.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi, mungkin karena aku begitu marah dengan abang Sam makanya aku tidak bisa mengendalikan diri aku dengan baik. Untuk beberapa saat aku sempat ingin merampasnya saat ini juga, aku tidak ingin kalau sampai....maafkan aku kak, selamat malam." Jelas Bara dengan begitu bersusah payah bahkan sesekali ia berusaha menahan dirinya.
langkah Bara perlahan semakin menjauhi Ira yang masih duduk mematung dengan pakaian yang sedikit berantakan karena ulah Bara. Bara cepat-cepat menuju sofa lalu berbaring disana.
"Untuk malam ini aku akan tidur di sofa, aku tidak bisa menjamin kewarasan aku akan bertahan jika aku dekat-dekat sama kak Ira. selamat malam." Jelas Bara yang bahkan langsung berbalik menghadap ke sandaran sofa.
(Gila, kamu gila Bar! gimana bisa kamu melakukannya? apa kamu berniat memperkosa kak Ira? apa kamu ingin membuatnya ilfil? lantas apa bedanya kamu dengan abang Sam? shiiiit! kamu benar-benar kurang ajar Bar, haisssssh) Gumam hati Bara yang terus memaki kebodohannya sendiri.
(Haaaaaah! perasaan apa ini, harusnya aku marah tapi kenapa justru hati ini seakan begitu kecewa karena Bara menghentikannya. Apa yang sebenarnya terjadi? aku yang tanpa sadar justru menginginkan Bara melanjutkan aksinya. Bagaimana bisa, rasanya aku ingin kembali menyeret Bara agar kembali kesisi ku? apa ini Ira? apa yang telah terjadi? kenapa rasanya sesak saat Bara memilih menjauh? aku, aku....) Keluh hati Ira dengan mata yang terus memandangi punggung Bara dari kejauhan.
Perlahan Ira membenarkan kembali pakaiannya, lalu merebahkan tubuhnya untuk kembali melanjutkan tidurnya.
___________
Pagi-pagi sekali Bara telah menghilang dari kamar. Bahkan setelah Ira mencarinya keseluruh sisi kamar namun orang yang dicari tetap juga tidak ia temukan. Setelah tadi ke balkon lalu kini beranjak turun menuju dapur namun disana juga ia tidak bisa menemukan Bara.
"Non Ira, ada yang bisa dibantu? mau sarapan atau butuh sesuatu yang lain?" Tanya Siti yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Nggak ada bi, oh ya apa tadi Bara kesini?" Tanya Ira.
"Tuan muda Bara sudah pergi sejak tadi subuh, katanya ada latihan band, dia bahkan tidak sarapan apapun, apa tuan muda tidak bilang dulu sama non Ira?" Jelas Siti.
"Oh gitu, ya udah Ira kembali ke kamar dulu ya bi." Ujar Ira dan lekas bergegas ke kamarnya.
Ira buru-buru mencari ponsel miliknya dan segera menghubungi nomor Bara, namun setelah mencoba hingga beberapa kali tetap saja tidak ada jawaban sama sekali hingga akhirnya Ira memutuskan untuk mengirimkan pesan.
Bara yang sejak tadi hanya menatap ponselnya akhirnya beranjak bangun lalu meraih ponselnya untuk melihat chat yang baru saja masuk.
"Kenapa harus nelpon segala sih kak? Malah di chat pula, aku jadi serba salah kan? Mau angkat masih malu karena perkara semalam, nggak diangkat takut bikin kakak khawatir, aku harus gimana coba." Jelas Bara yang perlahan membaca chat dari Ira.
~Kamu dimana?~
~Kenapa pergi tanpa bangunin kakak?~
~Apa ada masalah?~
~Apa kamu sedang kabur dari kakak?~
"Apa yang harus aku jawab, maafkan aku kak!" Ujar Bara yang malah kembali menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Baru saja sejenak Bara kembali berbaring, suara ketukan pintu dari luar membuatnya kembali bangun.
"Iya ma." Jawab Bara lalu melangkah untuk membukakan pintu.
"Kamu tidur lagi? Pakek seragam? Udah jam tujuh, bukannya harus berangkat ke sekolah?" Tanya Luna setelah memperhatikan penampilan Bara yang terlihat kusut sana sini.
"Ini juga mau berangkat kok ma." Jawab Bara yang segera mengambil ranselnya lalu keluar dari kamar milik Ira.
Dia dan Luna terus berjalan beriringan menuju meja makan.
"Bar, boleh mama bertanya?" Tanya Luna.
"Ada apa ma? Mama mau tanya soal apa?" Tanya Bara.
"Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Ira? Apa Ira buat salah sehingga kamu menghindar darinya?" Tanya Luna.
"Nggak gitu ma. Hmmmm, gini, sebenarnya aku yang salah makanya aku malu bertemu sama kak Ira. Tolong jangan bilang-bilang sama bunda ya ma, tentang ini." Jelas Bara.
__ADS_1
"Hmmmm, iya sayang, ayo kita sarapan." Ajak Luna lalu merangkul bahu Bara dengan penuh kasih sayang.
"Loh, sejak kapan kamu disini? Kak Ira mana?" Tanya Rival yang sejak tadi sudah berada di meja makan bersama Syakil.
"Mau datang kapanpun suka hati Bara dong, kan ini juga rumah dia, mau datang sendiri atau bareng sama kakak mu, nggak ada masalah kan?" Jelas Syakil lalu kembali menikmati sarapannya.
"Terus aja belain menantu kesayangan papa." Cetus Rival.
"Ayo Bar, sarapan dulu." Ajak Syakil.
"Iya pa." Jawab Bara lalu duduk disamping Bara.
"Kucel amat, apa kakak tidak mengurus mu dengan baik? Kenapa pakek baju lecek gitu?" Tanya Rival setelah melihat penampilan Bara secara dekat.
"Mulut! Aku gini karena tadi tidur pakek seragam, iya kali kak Ira nelantarin aku." Cetus Bara pelan.
"Apa hari ini kalian ada latihan?" Tanya Luna.
"Latihan Band ma, itu pun nanti siang, pas pulang sekolah." Jelas Rival.
"Pulang dulu atau gimana? Biar mama siapkan makan siangnya." Jelas Luna.
"Pulang ma!" Bara buru-buru memberi jawaban sebelum Rival melakukannya.
"Baiklah, mama akan masak makanan kesukaan mu." Ujar Luna.
"Papa juga pulang ma!" Ujar Syakil.
"Baik pa, terus kamu gimana Val?" Tanya Luna.
"Ke wartek aja lah, percuma pulang paling juga bakal di nomor tiga kan." Cetus Rival dengan memasang wajah kesal.
"Baiklah!" Ujar Luna simpel.
"Mama..." Seru Rival.
"Iya sayang, nanti bakal mama siapkan makanan kesukaan kalian semua." Ujar Luna dengan senyuman.
Bara dan Syakil pun ikut tertawa melihat keseruan Luna dengan Rival yang kerap kali berselisih paham namun berakhir dengan manja-manjaan.
__ADS_1
Setelah sarapan Syakil langsung berangkat kerja dengan mobilnya, sedangkan Bara dan Rival pun langsung meluncur ke sekolah dengan menggunakan motor kesayangannya Bara.
🦋🦋🦋🦋🦋