
Sepanjang perjalanan pulang Ira dan Dewi hanya terdiam tanpa sepatah katapun hingga membuat Bima yang duduk di samping supir seketika menoleh kebelakang, memperhatikan tingkah kedua wanita tersebut yang semenjak keluar dari rumah sakit hanya duduk membisu, bahkan sejak pertama keluar dari ruangan dokter tadi Dewi langsung memperingatkan Bima untuk tidak bertanya apapun hingga nanti sampai di rumah.
Ira hanya duduk dengan kepala tertunduk, keadaan itu terus berlangsung hingga mereka sampai di rumah.
"Bunda...." Ujar Bima yang tidak lagi bisa menahan rasa penasarannya.
"Duduk dulu pa, kamu juga Ira." Pinta Dewi yang saat itu memang ketiganya sedang melintasi ruang tamu.
Bima dan Ira nurut, keduanya langsung duduk disusul oleh Dewi yang mengambil tempat disamping Ira. Perlahan Dewi menatap Ira dan Bima begitu dalam secara bergantian.
"Ira, apa kamu kepikiran dengan perkataan bunda yang tadi?" Tanya Dewi dengan memgelus lembut jilbab Ira.
Ira hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Apa yang bunda katakan pada Ira? Ira sakit apa?" Tanya Bima.
"Bunda meminta Ira untuk tidak mengatakan apapun dulu pada Bara, bukan karena bunda marah hanya saya kita bicara setelah Bara lulus, biar dia fokus sama ujiannya dulu." Jelas Dewi.
"Apa maksud bunda? Apa Ira sakit parah? Ayo kembali ke rumah sakit, papa akan carikan dokter terbaik untuk mengobatinya." Jelas Bima.
"Anak papa yang buat Ira sakit!" Jelas Dewi.
"Bunda...." Ujar Ira yang langsung menundukkan wajahnya.
"Apa maksud bunda? Apa Bara buat masalah lagi? Apa yang dia lakukan Ira, katakan pada papa, biar papa yang...." Ocehan Bima langsung dihentikan oleh Dewi.
"Ulah Bara? Dia memberikan kita cucu!" Jelas Dewi yang langsung memeluk tubuh Ira dengan penuh kasih sayang.
"Apa? Maksud bunda...." Tenya Bima tertahan.
"Hmmmm, Ira hamil." Jelas Dewi dengan senyuman.
"Benarkah? Ira apa benar apa yang baru saja bunda mu katakan?" Tanya Bima memastikan.
"Iya pa." Jawab Ira.
"Ayo kita buat syukuran, atau mungkin kita buat pesta pernikahan secara resmi yang terbuka." Usul Bima yang terlihat begitu bahagia.
"Pa....." Ujar Ira.
"Iya sayang, apa yang kamu butuhkan, katakan pada papa, papa akan memenuhi semua permintaan mu sayang, katakan saja." Jelas Bima.
"Ira tidak ingin membuat keputusan sendiri pa, nanti setelah Bara selesai ujian, biar Ira bicarakan dulu dengan Bara." Jelas Ira.
"Benar-benar istri yang baik, hmmm, nanti kalian putuskan bersama, setelah itu baru kita bicarakan lagi, mau diadakan pesta atau apapun itu." Jelas Dewi.
"Baiklah, untuk sekarang istirahat, tidak usah ke kantor, papa akan berikan cuti sementara ini." Jelas Bima.
"Tapi..." Keluh Ira.
"Yang ini tidak ada tawar menawar, sekarang istirahatlah." Ujar Bima.
__ADS_1
"Iya sayang, mulai sekarang kamu harus banyak istirahat, tolong jaga cucu bunda dengan baik." Jelas Dewi.
"Iya bunda, pa. Kalau begitu Ira permisi ke kamar." Ujar Ira.
"Iya sayang." Ujar Dewi dengan senyuman.
"Papa kira hubungan mereka berdua belum sejauh ini! Ternyata..." Ujar Bima.
"Udah ah pa, sana ke kantor!" Jelas Dewi.
"Hmmm, baiklah, papa berangkat, assalamualaikum." Ujar Bima lalu mengecup kening Dewi dan lekas pergi.
________
Bara yang baru saja memarkirkan motornya di depan rumah, langsung berlari memasuki rumah, ia tidak peduli pada siapapun, ia terus saja melesat menaiki tangga lalu buru-buru ke kamarnya.
"Kak..." Panggil Bara setelah tangannya membuka lebar pintu kamar.
Ucapan Bara terhenti saat ia mendapati Ira yang tertidur lelap diatas tempat tidur sana. Menutup kembali pintu dengan sepelan mungkin, lalu perlahan melangkah mendekati Ira.
"Pantesan aku telpon nggak diangkat, aku chat nggak dibalas rupanya lagi terbang kealam mimpi." Ujar Bara lalu duduk di dekat Ira.
Mata Bara tidak bisa berhenti memandang wajah Ira yang terlihat begitu damai, bahkan jilbab yang dia kenakan terlihat begitu berantakan. Tangan kanan Bara beranjak menyentuh jilbab Ira lalu mencoba untuk membukanya dengan pelan agar sang pemilik tidak terjaga karena dirinya.
"Hufffff!" Ujar Bara lega setelah berhasil melepaskan jilbab Ira.
"Apa kamu baik-baik saja? Aku khawatir setengah mati, sampai-sampai disemua mata pelajaran tadi aku hanya memikirkan dirimu, semua fokus dan otak ku tertuju pada mu, aku di buat gila karena memikirkan keadaanmu, dan nyatanya... huffff kamu justru enak-enakan tidur sperti ini." Jelas Bara dengan senyuman lebar dan mata yang sama sekali tidak beralih dari wajah Ira.
"Bara..." Ujar Ira pelan.
"Tidurlah lagi! Aku ingin memeluk tubuh mu sebantar lagi, jadi tetaplah seperti ini!" Pinta Bara tanpa membuka matanya.
"Kamu keringatan, setidaknya ganti dulu seragam mu!" Jelas Ira mencoba menarik tubuhnya dari dekapan Bara.
"Sebentar aja...." Pinta Bara lagi yang justru mempererat pelukannya.
"Apa kata dokter?" Tanya Bara yang kini beralih menatap wajah Ira.
"Kurang istirahat, sehari dua hari istirahat juga bakal baikan." Jawab Ira.
"Makanya jangan asyik kerja aja! Kerja terus yang dinomor satukan, untuk satu minggu kedepan tidak perlu ke kantor, istirahatlah yang cukup kalau perlu biar aku yang menemani disetiap waktu, aku juga bisa minta izin ke sekolah." Jelas Bara.
"Jangan ngada-ngada! Sebulan lagi ujian, awas saja kalau nggak lulus dengan nilai yang tinggi!" Cetus Ira.
"Kamu tenang aja, aku bakal jadi peringkat lulusan teratas, aku janji dan setelah itu ayo kita liburan bersama, cuma berdua." Jelas Bara.
"Baiklah!hmmmm, Bara...."
"Iya,,,,"
"Apa cita-cita mu adalah menjadi musisi?"
__ADS_1
"Tidak, bermain drum dan menciptakan lagu hanya sebatas hobi saja."
"Bermain bola?"
"Itu aku anggap sebagai olahraga bukan profesi."
"Lalu?"
"Apanya yang lalu?"
"Cita-cita mu?"
"Jadi suami terbaik untuk kamu."
"Aku serius!"
"Ya aku serius, aku mau menjadi suami yang bisa membahagiakan kamu dunia akhirat, belajar menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita nanti." Jelas Bara lalu perlahan mengecup kening Ira.
"Apa kamu ingin punya anak?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kamu kira aku tidak ingin di panggil ayah?" Cetus Bara yang terlihat agak kesal.
Ira hanya tersenyum dengan ekspresi wajah Bara, lalu tangan Ira mencoba menyentuh wajah Bara.
"Mau kerja apa? Nggak mungkin kan selamanya aku yang kerja, terus kamu ngapain?"
"Lah emang aku pernah nyuruh kamu kerja? Nggak kan? Udah tenang aja harta papa nggak bakal habis buat anak cucu kita, santai!" Ujar Bara.
Jari Ira dengan spontan langsung menyentil keras kening Bara membuat sang empunya menjerit kesakitan.
"Warisan aja yang ada di otak mu!" Cetus Ira kesal.
"Aku ingin jadi jaksa?" Tegas Bara sambil mengusap dahinya.
"Jaksa?"
"Hmmm, aku ingin menuntut semua orang yang berbuat kejahatan, ketidak adilan dan semena-mena terhadap hak orang lain. Keren kan cita-cita aku?"
"Ciiih! Mau menbantu orang lain atau mau terlihat keren sih?"
"Dua-duanya dong, udah berhenti membahas masa depan ku, ayo kita tidur!" Jelas Bara lalu kembali menempelkan wajahnya dileher Ira lalu memejamkan matanya.
"Dasar..." Ujar Ira pelan dan akhirnya ikut memejamkan mata.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
Hay hay hay para pembaca setia ku semuanya🤗🤗🤗
Trimakasih banyak udah ngikutin novel aku, makasih atas like, komen dan juga semua-semuanya😄
Ayo mampir juga ke novel terbaru aku judulnya Night Guard , jangan lupa singgah ya,
__ADS_1
Stay terus, jangan bosan bosan😘😘