
"Kenapa belum tidur?" Tanya Rival yang baru saja masuk ke kamar dengan laptop dan beberapa buku ditangannya.
Rival baru saja kembali dari ruang keluarga, karena sejak setelah magrib tadi, ia sibuk mengerjakan tugas bersama Bara. Rival meletakkan bawaannya ke atas meja, lalu melangkah mendekati Resi yang masih duduk di pojok tempat tidur dengan mata yang terus saja mengikuti setiap gerak Rival.
"Kak Re..." Panggil Rival dengan tangan perlahan menyentuh tangan Resi.
"Udah hampir lima jam loh aku nungguin." Jelas Resi dengan nada yang terdengar jelas penuh emosi.
"Sorry habisnya aku harus selesaikan tiga makalah sekaligus, ayo tidur!" Ajak Rival dengan penuh kelembutan.
"Tidur?" Ulang Resi dengan nada tinggi.
"Hmmmm tidur, kamu pasti lelah kan seharian di kantor, ya udah ayo kita tidur." Ajak Rival.
"Iya aku lelah nungguin kamu hingga berbulan-bulan lamanya! Kesabaran aku udah habis, udah final!" Jelas Resi yang langsung menyerang Rival.
Ciuman Resi yang secara tiba-tiba, membuat Rival kaget.
"Apa kamu sama sekali nggak tergoda dengan aku? Dimana yang kurang? Apa aku harus belajar dandan? Atau mungkin oplas aja sekalian biar kamu tertarik!" Jelas Resi kesal lalu bangun dari duduknya.
"Kak Re!" Seru Rival dengan suara lantang lalu berdiri tegap tepat didepan Resi.
"Kak Re pikir aku baik-baik saja? Aku setengah gila menahan diri, setiap malam bertengkar dengan nafsu, bergulat dengan ego, aku ingin sekali menyentuh kak Re, tapi aku takut, aku belum cukup baik untuk menjadi suami untuk kak Re, aku belum cukup berani untuk memeluk kak Re, aku, aku...maafkan aku, karena aku tidak seberani Bara." Jelas Rival dengan menundukkan wajahnya.
Perlahan air mata mulai menetes membasahi wajah Rival, ia terlihat sesegukan dalam tangisnya. Membuat Resi jadi serba salah karena sudah salah paham dengan sikap dan perlakuan Rival selama ini yang terkesan begitu cuek padanya.
"Jangan terus menerus membandingkan dirimu dengan Bara, karena bulan dan bintang bersinar di waktu yang berbeda begitu pula kamu dan Bara, kalian sempurna dengan diri kalian sendiri. Jadi apa sekarang aku harus mengajari mu untuk bersikap berani?" Tanya Resi.
"Maksudnya?" Tanya Rival.
Tanpa tunggu lebih lama lagi, Resi langsung mendekat dan menyerang Rival dengan ciuman yang membabi buta, hingga akhirnya Rival nurut dan memberikan apa yang Resi inginkan.
________
Sejenak bangun dari tidurnya, duduk dengan menyandarkan punggung pada kepala ranjang, mencoba mengatur deru nafas yang tiba-tiba berpacu cepat, lalu kembali berbaring terlentang, dimenit berikutnya mengubah posisi dengan tidur miring menghadap ke barat dan hanya berselang beberapa menit ia kembali mengubah posisi dengan menghadap kearah Bara. Menatap wajah Bara dengan tatapan yang begitu dalam, tangan yang pelan-pelan menyentuh wajahnya Bara.
(Kenapa malam ini rasanya sesak banget, mau tidur nyenyak aja susah, dari tadi nggak bisa tidur dengan posisi nyaman.) Bisik hati Ira lalu sedikit bergeser mendekat pada Bara.
"Lelap banget tidur mu sayang, kamu pasti capek banget ngerjain tugas berjam-jam lamanya, padahal...." Ujar Ira pelan dengan tangan yang berhenti tepat di dagu sang suami.
"Selamat malam sayang ku." Lanjut Ira lalu mencoba untuk bangun dengan punggung kembali ia sandarkan pada kepala ranjang.
"Huffff, mending jalan-jalan aja deh bentar biar enakan nih perasaan dan badan." Ujar Ira lalu beranjak turun dari kasur.
"Mau kemana? Ini udah tengah malam banget loh sayang, kamu nggak ngantuk?" Tanya Bara dengan tangan yang spontan menyentuh tangan Ira.
__ADS_1
Bara berusaha membuka matanya pelan, meski dengan tubuh yang masih terbujur tanpa beranjak sama sekali.
"Cuman mau jalan-jalan sebentar, kamu lanjut gih tidurnya, besok ada kelas pagi kan?" Jelas Ira.
"Mau jalan kemana?"
"Cuman ke balkon aja kok, butuh udara malam kayaknya, udah lanjut aja tidurnya!"
Bukannya kembali tidur, Bara justru langsung bangun.
"Ayo!" Ajak Bara dengan menggandeng tangan sang istri tercinta.
"Tapi..."
"Ayo, aku okay!" Jelas Bara lalu keduanya melangkah pelan menuju balkon kamar, berdiri tepat pada pembatas, dengan menikmati udara malam serta langit gelap yang dihiasi oleh kelap-kelip bintang serta sang bulan sabit yang tergantung indah di langit sana. Perlahan Bara merapatkan tubuhnya pada Ira lalu memeluknya dengan penuh kehangatan.
"Lain kali jika nggak bisa tidur atau ada yang sakit, langsung bangunkan aku, jangan menahannya seorang diri, dia anak kita, bukan hanya tanggung jawab kamu, tapi juga aku." Jelas Bara.
"Aku hanya tidak ingin menganggu tidur mu, seharian capek kuliah, buat tugas, kerja, kamu pasti sangat kelelahan, sedangkan aku seharian penuh istirahat terus kerjanya." Jelas Ira lalu mengusap lembut tangan Bara yang melingkar di perutnya.
"Jangan pernah sungkan untuk mengatakan semuanya padaku, aku suami mu, aku bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi padamu, mulai sekarang, apapun itu, bicaralah lebih dulu pada ku." Jelas Bara.
"Hmmm, aku janji. Bar..."
"Dingin, ayo kita kembali ke kamar."
"Serius? Beneran udah cukup cari udara malamnya?"
"Udah, ayo kita tidur."
"Hmmm, ayo!"
Bara langsung menggandeng tangan Ira lalu menuntunnya untuk kembali ke kamar. Ira yang sudah kembali berbaring dan Bara yang baru aja mencoba untuk merebahkan tubuhnya tiba-tiba langsung berhenti bergerak karena mendapat tatapan penuh harap dari Ira.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya Bara.
"Lapar, rasanya pengen makan buah." Jawab Ira lalu memamerkan senyuman.
"Mau buah apa? Biar aku ambilkan." Tawar Bara.
"Anggur, hmmmmm jeruk juga boleh." Jelas Ira.
"Tunggu sebentar, ingat jangan tidur, aku nggak akan lama." Jelas Bara lalu segera berlari keluar kamar.
"Bar..." Panggil Ira.
__ADS_1
"Apa ada lagi yang kamu inginkan?" Tanya Bara yang berhenti tepat di depan pintu kamar yang telah terbuka lebar.
"Susu hangat!" Pinta Ira.
"Siap komandan ku tersayang." Jawab Bara lalu segera berlari menuju dapur.
"Bara...." Panggil Luna yang saat itu terlihat sedang duduk diatas meja dengan segelas air yang terletak tepat di hadapannya.
"Mama, kenapa belum tidur?" Tanya Bara.
"Mau ambil minum buat papa, soalnya papa masih kerja. Terus kamu kenapa belum tidur? Apa kamu lapar?" Tanya Luna.
"Hmmm, bukan aku yang lapar ma, tapi Ira..." Jawab Bara.
"Dia minta apa? Biar mama aja yang buatkan." Ujar Luna.
"Cuman minta buah aja kok ma, mama balik aja, papa pasti nungguin mama." Jelas Bara.
"Beneran nih nggak butuh bantuan mama?" Tanya Luna memastikan.
"Iya ma." Jawab Bara.
"Apa Ira baik-baik aja? Kandungannya gimana?" Tanya Luna.
"Dua-duanya sehat kok ma. Mama nggak usah khawatir mereka berdua sehat-sehat aja. Udah mama balik aja ke kamar, ntar dicariin papa." Jelas Bara.
"Ya udah, selamat malam sayang." Ujar Luna lalu segera kembali ke kamar.
Bara segera mengambil buah anggur dan jeruk sesuai pesanan Ira lalu membuat susu hangat dan lekas kembali ke kamar dan betapa kagetnya Bara saat mendapati Ira yang sudah tertidur pulas dengan kaki yang ia letakkan diatas guling dan tangan yang memeluk erat boneka keroppi favoritnya. Bara memelankan langkah kakinya, meletakkan bawaannya keatas meja lalu duduk disamping Ira.
"Sayang, Ra, nih aku bawakan buah dan susu hangatnya." Jelas Bara pelan sambil menyentuh tangan Ira.
"Hmmmm!" Ujar Ira sambil berusaha mencoba membuka matanya.
"Ayo minum!" Pinta Bara sambil membantu Ira untuk duduk lalu bersandar.
Bara langsung membantu Ira untuk minum lalu menyuapi beberapa buah anggur.
"Makasih sayang." Ucap Ira dan langsung kembali tidur.
"Selamat malam sayang!" Ucap Bara karena mendapati Ira yang kembali tertidur pulas.
"Makin hari makin lucu aja tingkah mu, Ra." Ucap Bara dengan senyuman lalu mengecup kening Ira dan kembali untuk melanjutkan tidurnya yang tadi sempat diganggu oleh sang istri.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1