Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Dalang.


__ADS_3

Bara yang baru saja menerima empat jahitan di kakinya dan Rival yang harus menjalani pemeriksaan pada bagian bahunya yang memar parah, setelah selesai menjalani perawatan kini giliran Ira yang datang menemui sang dokter yang sejak tadi menangani kedua bocah SMA yang kini duduk di kursi tunggu di luar ruangan dokter sana.


Ira langsung duduk di kursi tepat dihadapan sang dokter, keduanya hanya terhalang oleh meja kerja sang dokter.


"Bagaimana dok? apa luka mereka parah?" tanya Ira khawatir.


"Untuk bahu Rival tidak ada masalah yang serius, hanya memar dan akan hilang dalam beberapa hari sedangkan untuk kaki Bara, sejauh ini masih baik-baik saja, besok tolong bawa dia lagi kesini, saya akan memeriksanya lebih lanjut." Jelas Dokter pria tersebut yang memiliki nama Aldo.


"Apa separah itu? lalu apa ada kemungkinan dia tidak lagi bisa berlari dengan baik?" tanya Ira yang semakin khawatir.


"Saya belum bisa memastikannya, kita tunggu saja hasil pemeriksaan ulang besok. Dan untuk beberapa minggu ini tolong jaga dia dengan baik, jangan biarkan dia terlalu banyak jalan apa lagi berlari. Apa dia seorang atlit?" Jelas Aldo.


"Hmmmmm, dia pemain bola, dok." Jelas Ira.


"Baiklah, kalau begitu, besok saya akan melakukan cek up ulang lagi, dan ini resep obatnya silahkan ditebus di apotik." Jelas Aldo.


"Baik, terima kasih banyak dok." Ujar Ira dan langsung beranjak keluar dari ruangan tersebut.


setelah menebus obat di apotik rumah sakit, kini Ira mulai berjalan menuju kedua lelaki yang bahkan terlihat asyik dalam candaan mereka, bahkan kedatangan Ira sama sekali tidak mereka sadari, hingga tangan Ira perlahan menyentuh bahu Rival.


"Apa kata dokter? kami baik-baik saja kan? udah kakak tenang aja, ayo kita pulang." Jelas Rival yang bahkan langsung bangun dari tempat duduknya.


"Ayo pulang, aku lapar banget." Jelas Bara yang bahkan langsung beranjak keluar dari rumah sakit.


"Kak, ada apa?" Tanya Rival yang paham dengan keadaan Ira yang terlihat begitu kebingungan saat ini, matanya bahkan terus manatap punggung Bara yang perlahan menghilang dari penglihatannya.


"Kak...." Ujar Rival lalu menyentuh lembut bahu Ira.


"Hmmmm" Ujar Ira.


"Apa terjadi sesuatu dengan kaki Bara?" Tanya Rival yang mulai khawatir.


"Belum ada kepastian, dia akan kembali menjalani pemeriksaan besok. Untuk hari ini jangan bahas apapun lagi, ayo kita pulang." Ajak Ira lalu keduanya segera keluar dari rumah sakit.


_______________


Setelah mengantarkan Rival pulang, sesuai permintaan Bara, kini keduanya pulang ke rumah keluarga Pradipta. Setelah keluar dari mobil, Ira langsung membantu Bara berjalan masuk ke dalam rumah.


"Tuan muda kenapa?" Tanya Siti yang memang sedang menyapu di teras rumah.

__ADS_1


"Cuman sedikit luka aja kok bi, besok juga langsung bisa sepak bola lagi." Jelas Bara dengan memamerkan senyumannya.


"Benaran? tuan muda tidak sedang membohongi bibi seperti beberapa bulan yang lalu kan?" tanya Siti memastikan.


"Beberapa bulan yang lalu?" Tanya Ira.


"Hmmmm, waktu itu tuan muda kecelakaan dan...." penjelasan Siti langsung di hentikan oleh Bara.


"Bi aku lapar, tolong masakkan makan siang yang enak buat aku, terima kasih." Jelas  Bara dan langsung melangkah masuk.


"Apa kak Ira tidak akan memapah ku hingga ke kamar?" Tanya Bara karena Ira masih saja berdiri tanpa bergeming sama sekali.


"Non Ira..." Ujar Siti.


"Ayo!" Ujar Ira dan langsung membatu Bara berjalan ke kamarnya.


"Istirahatlah, kakak harus kembali ke kantor. jika butuh sesuatu langsung telpon kakak." Jelas Ira setelah membaringkan Bara di tempat tidur.


"Hati-hati!"  Ujar Bara


"Hmmmmmm, jangan kemana-mana, tetap di kamar kalau butuh  apapun panggil aja bi Siti, atau kalau mendesak langsung telpon kakak, ingat jangan  kemana-mana." Tegas Ira yang bahkan lebih terdengar sebagai ancaman.


____________________


Setelah menyantap makanan yang baru saja diantar oleh Siti ke kamarnya, kini Bara kembali untuk berbaring sambil bermain game di ponselnya, dia terlihat begitu larut dalam permainannya hingga sebuah chat masuk.


(Bar, aku sudah seliki semuanya, dan kamu tau siapa dalang dibalik penyerangan tadi di sekolah? itu semua ulah abang Sam.) *Gibran barbar.


"Apa? hassssssshhhhhh!" Gumam Bara dengan penuh emosi setelah membaca chat dari Gibran.


Bara yang semakin emosi langsung bangun dari  tempat tidur, tanganya langsung meraih kunci mobil yang terletak diatas meja, lalu segera keluar kamar meski dengan langkah yang tertahan karena rasa sakit yang masih begitu terasa pada bagian  jahitan  di kakinya. Bara segera  masuk ke mobil dan langsung pergi begitu saja.


dengan  amarah yang memenuhi  seluruh sisi warasnya, Bara terus dan terus menambah kecepatan laju mobilnya, hingga hanya butuh waktu beberapa menit saja kini mobil merah milik Bara sudah berhenti tepat di depan pintu sebuah gedung yang menjulang tinggi lagi nan megah,  sebelum Bara keluar dari mobil empat orang satpam  penjaga  pintu bahkan langsung menghampiri  mobil Bara.


"Parkirkan!" Gumam Bara yang baru muncul dari dalam mobil dan langsung melemparkan kunci pada salah satu dari 4 orang satpam tersebut.


"Pak Bara..." Panggil salah satunya dan segera mengikuti langkah Bara yang berlari tertahan memasuki gedung tersebut.


"Pak Bara ingin bertemu dengan pak Bima? Biar saya antarkan!" Jelas Sang satpam dan terus mengikuti langkah Bara.

__ADS_1


Kini bahkan keduanya mulai melewati meja resepsionis,  lalu melintasi ruangan para karyawan hingga kakinya terhenti di depan pintu lift, tangan Bara dengan cepat menekan tombol lift.


"Sial!" Gumam Bara dengan tinju yang langsung menghantam pintu litf.


Perbuatan Bara sontak membuat semua mata yang ada disitu langsung tertuju padanya, dalam hitungan menit ia telah menjadi pusat perhatian semua orang, ada beberapa orang mulai berbisik tentang sikapnya namun kebanyakan dari mereka justru sibuk mengangumi paras rupawan milik Bara.


"Bara...." Panggil Resi yang baru saja muncul dan langsung menghampiri Bara.


"Kak Re,,,," Ujar Bara lalu kembali menekan pintu lift.


"Apa kamu mau bertemu dengan Pak Bima? Tapi baru saja pak Bima keluar." Jelas Resi.


"Bukan, aku mau cari abang Sam, apa kakak tau dimana dia sekarang?" Tanya Bara bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Sebelum Resi memberi jawaban pintu lift telah lebih dulu tertutup, membawa Bara ke lantai tujuannya.


"Kacau, ini benar-benar kacau!" Gumam Resi yang mulai khawatir dan segera merogoh saku jasnya lalu segera mengambil ponselnya.


Setelah beberapa kali menghubungi namun tidak mendapat jawaban, akhirnya Resi memutuskan untuk mengirimkan chat pada Ira sembari ia segera masuk ke lift yang satunya lagi.


Ira yang baru saja keluar dari toilet lalu kembali ke ruangannya, namun ia malah mendengar pembicaraan para karyawan yang menyebutkan nama Bara. Ira terus mencoba mendengar pembicaraan mereka.


"Waaaaah, kayaknya makin hari si Bara makin tampan aja, tempo hari perasaan tidak semaco sekarang, benar-benar pria idaman!" Jelas seorang karyawan perempuan.


"Tapi dia terlihat sangat marah barusan." Jelas yang satunya lagi.


"Apa maksud kalian sekarang Bara sedang berada di kantor ini?" Tanya Ira memastikan.


"Iya, baru aja dia lewat sini." Jelas keduanya.


"Ahhhhhsss!"  Gumam Ira dan segera berlari mencari sosok Bara.


Ira terus mencari Bara disetiap ruangan, langkah Ira tiba-tiba terhenti saat mendengar suara Bara yang berteriak kesal.


"Plaaaak" Tangan Bara mendarat sempurna di pipi Samudra.


"Haisshhhhhhhhh!" Guman Bara mencoba menahan amarahnya.


Keduanya berdiri tepat di depan pintu ruangan Samudra, saat itu Samudra memang baru saja keluar dari ruangannya dengan di dampingi oleh sang sekretaris pribadi. Kejadian tersebut menjadi tontonan para karyawan yang memang sedang lalu lalang karena memang sudah jam pulang kerja.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2