
Hari berganti hari, ujian pun berjalan dengan lancar hingga tiba pada hari terakhir ujian. Sama seperti hari-hari ujian sebelumnya, semua murid terlihat begitu fokus saat mengikuti ujian hingga bel berbunyi pertanda ujian selesai. Ada beberapa diantara mereka yang merenggang penuh kemenangan ada pula yang terlihat kesal karena belum bisa menyelesaikan semua jawaban yang ada di kertas ujian. Gibran terlihat stress kerena memang dia yakin bahwa jawabannya banyak yang salah, dan beberapa soal malah masih kosong, belum terisi sama sekali. Ia bahkan terlihat beberapa kali memukul meja lalu berteriak tak jelas.
"Haissssshhh!" Teriakan lantang Gibran mengudara saat pengawas ujian keluar dari kelas.
"Kenapa? Ada soal yang nggak terjawab lagi hari ini?" Tanya Safia.
"Au ah, kesal tingkat dewa! Ayo liburan!" Jelas Gibran lalu bangun dari kursinya.
"Liburan? Macam udah yakin lulus aja! Gimana kalau ntar nggak lulus?" Tanya Ratu.
"Mulut! Doain kek supaya lulus ini malah disumpahi nggak lulus!" Jelas Gibran.
"Siapa yang nyumpahin coba? Orang cuma bilang seandainya doang, makanya jangan buru-buru liburan!" Cetus Ratu.
"Val, Bar, ayo liburan! banyak stress yang harus aku buang! Kemana kek, laut, gunung, angkasa, jupiter terserah yang penting nggak lagi di kelas ini!" Jelas Gibran.
"Ya udah ayo liburan!" Jelas Bara.
"Beneran? Kamu nggak bercanda kan?" Tanya Gibran dan Safia hampir bersamaan.
"Hmmm, kalian bisanya kapan? Besok, ntar sore atau mungkin sekarang?" Tanya Bara.
"Nggak nunggu pengumuman dulu?" Saran Ratu.
"Ayo siap-siap! Ntar sore kita berangkat!" Jelas Rival yang langsung mengambil tasnya dan keluar dari kelas.
"Apa otak Rival bermasalah? Biasanya juga dia yang malas liburan, kenapa kali ini jadi dia yang begitu menggebu?" Tanya Safia heran.
"Udah iyain aja, yang penting liburan! Let's go!" Seru Gibran penuh semangat dan bergegas menyusul Rival yang sudah menghilang ntah kemana.
"Buruan pulang, izin sama papa mama kalian, ntar jam empat kita langsung meluncur ke villa milik om Toni." Jelas Bara sambil berjalan santai keluar kelas.
"Om Toni? Waaah, jadi targetnya keluarga aku? Dasar!" Cetus Safia saat menyadari bahwa om Toni yang dimaksud oleh Bara adalah Papanya.
"Bara emang selalu begitu, seenak jidatnya aja, padahal bukan milik keluarganya." Ujar Ratu.
"Jangan lupa ajak kak Ira!" Seru Safia dengan suara lantang agar Bara bisa mendengarnya.
"Pasti!" Jawab Bara tegas dari luar kelas sana.
"Benar-benar tuh anak, ayo Ratu kita pulang!" Ajak Safia.
"Hmmm, ayo siap-siap untuk liburan kita." Jelas Ratu girang lalu keduanya segera pulang.
_______
"Kak, kakak...." Panggil Rival sambil terus mencari sosok Ira keseluruh ruangan yang ada di rumah Syakil.
Rival terus saja menelusuri semua tempat hingga langkahnya terhenti di ruang keluarga dimana Ira sedang berbaring diatas sofa dengan kaki kanan yang dibiarkan terjulur keatas lantai sedangkan kaki kiri ia letakkan diatas pembatas di ujung sofa, tangan Ira terlihat asyik bermain diatas layar ponsel miliknya.
__ADS_1
"Disini rupanya!" Ujar Rival lalu perlahan melangkah mendekati Ira lalu duduk di sisi Ira.
"Kak!" Panggil Rival sambil menyentuh lengan Ira.
"Kenapa? Apa hari terakhir ujian malah berantakan?" Tanya Ira yang bahkan langsung bangun dengan ponsel yang ia biarkan jatuh begitu saja dari tangannya.
Kini Ira malah langsung fokus pada Rival yang berada di sampingnya.
"Nggak gitu! Ujian udah beres jangan dibahas lagi!" Jelas Rival.
"Terus apa? Apa ada masalah lain? Adek mau ikut demo lagi? Tawuran atau...." Tebak Ira yang mulai panik dan khawatir.
"Kak! Adek udah lulus loh, ngapain coba tawuran lagi, bukan itu masalahnya sekarang!"
"Terus apa? Bara mana? Apa kalian terlibat dengan polisi lagi?"
"Aduh kak! Tenang dulu napa! Huffff."
"Terus ada apa? Jangan buat kakak khawatir deh!"
"Kami mau liburan!"
"Siapa yang adek sebut kami? Siapa yang mau liburan?"
"Adek, Bara, Gibran, Ratu, Safia, kakak dan juga...." Jelas Rival tertahan.
"Tolong ajak kak Re, please!"
"Apa? Coba ulang!"
"Tolong ajak kak Re." Jelas Rival.
"Ma, mama...mam...." Teriakan Ira langsung dihentikan oleh Rival.
Secepat kilat tangan Rival langsung membungkam mulut Ira.
"Kakak ember banget sih, adek kan minta tolong sama kakak, jangan bilang sama mama dong!" Jelas Rival dengan wajah kesal bercampur sedih lalu bangun dan pergi begitu saja.
"Adek tunggu!" Pinta Ira lalu berusaha menyusul Rival yang hendak ke kamarnya.
"Jangan ngambek gitu dong, dek!" Pinta Ira sambil terus mengikuti langkah Rival yang seolah tidak menghiraukan panggilannya.
"Awwwwww!" Jerit Ira bersamaan dengan tangan yang menyentuh bagian perut ratanya dan ia sontak menghentikan langkahnya bahkan ia langsung duduk dengan berjongkok di lantai.
"Kakak kenapa?" Tanya Rival panik dan segera menghampiri Ira.
"Dimana yang sakit, Ra, kamu baik-baik aja?" Tanya Bara yang bahkan langsung mengangkat tubuh Ira lalu segera membawanya ke kamar dengan diikuti oleh Rival.
"Kak, kakak kenapa? Dimana yang sakit, ayo ke rumah sakit!" Jelas Rival yang begitu ketakutan, tangan Rival terus menyentuh lembut tangan Ira.
__ADS_1
"Val, panggil mama, buruan!" Pinta Bara yang terlihat jelas begitu panik.
Rival hendak berlari keluar namun tangan Ira seketika menahan Rival membuat langkah Rival terhenti.
Kini kedua cowok yang masih menggenakan seragam putih abu-abu tersebut langsung menatap dalam wajah Ira yang kini tepat berada dalam pangkuan Bara. Tangan Rival yang awalnya menggenggam tangan Ira kini beranjak menyentuh wajah Ira dengan begitu pelan.
"Kak..." Lirih Rival dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ayo kita ke rumah sakit!" Ajak Bara yang bahkan mulai meneteskan air mata.
"Maaf!" Pinta Ira.
"Kenapa minta maaf?" Tanya Rival dan Bara serentak.
"Kakak sama sekali nggak maksud buat kalian panik, maaf! Tadinya kakak kira nggak akan jadi gini! Sorry?" Ujar Ira sambil perlahan bangun.
"Jangan bilang kalau....?" Tebak Bara dan Rival lalu keduanya saling memandang satu sama lain.
"Kakak nggak maksud gitu, habis adek sih kakak panggil malah di cuekin." Jelas Ira mencoba membela diri.
"Lain kali jangan gini lagi! Becanda kakak buat kami serangan jantung, nggak lucu!" Cetus Rival kesal.
"Hampir aja aku jantungan! Jangan ulangi lagi!" Cetus Bara dengan menarik tubuhnya menjauh dari Ira.
"Sorry!" Pinta Ira kali ini ia meminta maaf dengan menyentuh tangan Rival dan Bara secara bergantian.
"Ajak kak Re ikut liburan sama kita baru adek bakal maafin kakak!" Tegas Rival dan lekas keluar dari kamar tersebut.
"Ciiih, selalu menggunakan kesempatan dalam kesempitan!" Cetus Ira.
"Buruan gih siap-siap." Jelas Bara lalu beranjak dari tempat tidur.
"Mau liburan kemana kalian? Lagi pula ini belum pengumuman kelulusan loh!"
" Mau ikut atau nggak? Atau kamu nggak masalah kalau aku pergi liburan sama mereka? Ada Ratu dan Safia juga loh!" Jelas Bara.
"Ayo siap-siap!" Ajak Ira yang seketika turun dari tempat tidur lalu menyeret Bara untuk ikut bersamanya ke ruang ganti.
"Ayo kita bulan madu!" Jelas Ira sambil membuka lemari pakaian.
"Hmmmm..." Ujar Bara dengan senyuman lalu memeluk tubuh Ira dari belakang.
"Aku mencintaimu, Bar." Tegas Ira dengan menyentuh lembut lengan Bara yang melingkar di pinggangnya.
"Aku juga mencintaimu, Khumaira. Untuk yang tadi, jangan ulangi lagi, jangan bercanda seperti ini, aku dan Rival panik setengah mati, janji jangan gitu lagi." Ujar Bara pelan lalu menenggelamkan wajahnya di pundak kanan Ira.
"Maaf! Aku janji, aku nggak bakal gitu lagi." Ujar Ira pelan.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1