
Keduanya masih saja berdiri tanpa beranjak sejengkal pun, keduanya terdiam dengan seribu bahasa.
"Apa kalian akan terus disini?" Tanya Safia.
Pertanyaan Safia bak angin berlalu, tidak ada respon sama sekali dari Rival ataupun Bara.
"Huuuuf, hanya karena Gibran marah, bukan berarti dunia kalian runtuh kan? Setidaknya bergerak, buat Gibran tak beranjak dari kalian, beri dia penjelasan bukan diam seperti mayat hidup!" Jelas Safia dengan menatap Rival dan Bara secara bergantian.
"Kamu benar!" Tegas Bara yang segera berlari ke dalam kelas.
"Terima kasih sarannya!" Ujar Rival yang segera menyusul Bara.
"Ciiiih, emang gitu ya? Di tinggalkan teman membuat kita jadi bodoh gitu, padahal mereka juara kelas, bisa-bisanya bodoh hanya karena Gibran ngambek, Huffffff!" Ujar Safia yang perlahan juga ikut masuk ke dalam kelas.
Di dalam kelas sana, Gibran terlihat duduk di bangkunya, tatapannya fokus ke depan, tanpa peduli pada Bara dan Rival yang sejak tadi berdiri disampingnya.
"Nanti pulang sekolah, ayo kita ketemuan di studio musik, akan aku jelaskan semuanya." Jelas Bara.
"Ogah!" Cetus Gibran.
"Jadi mau lo apa?" Tanya Rival.
"Minggir, jangan dekat-dekat sama aku!" Jawab Gibran lantang.
"Jangan harap! Aku tidak akan jauh-jauh dari kamu." Jelas Bara.
"Aku juga, aku akan terus menempel sama kamu." Tegas Rival yang bahkan semakin menempel pada Gibran.
"Kalian syuting drama? Balik ke tempat masing-masing, sebelum pak Faisal menyeret kalian bertiga keluar dari kelas!" Jelas Ratu yang sukses membuat Bara dan Rival segera pindah.
Mereka langsung nurut, karena memang pak Faisal sudah memasuki kelas.
_____________
Dengan begitu pelan, Ira mengetuk pintu ruangan Bima, hingga sebuah suara terdengar dari dalam dan memintanya untuk masuk. Perlahan Ira membukakan pintu lalu masuk menghadap Bima yang sedang berada di kursi kekuasaannya.
"Ira, ayo duduk!" Ajak Bima yang beranjak menuju sofa dengan di ikuti oleh Ira.
"Ada apa? Pasti ada hal yang ingin kamu ketahui makannya datang menemui papa, iya kan? Tentang apa ini? Sam atau Bara?" Tanya Bima setelah ia dan Ira duduk berhadapan di sofa.
"Dua duanya pa, tapi, hmmmmm untuk saat ini, aku sangat khawatir dengan Bara, apa papa sudah mendengar kabar tentang Bara? Dia baik-baik saja kan pa?" Tanya Ira memastikan, karena sejak mengantarnya tadi pagi sampai dengan saat ini dia belum mendapat kabar apapun dari Bara, hingga membuatnya khawatir.
__ADS_1
"Kamu tau apa alasan papa menjodohkan kamu dengan Bara?" Bima malah memutar pertanyaan pada persoalan lainnya.
"Nggak tau pa." Jawab Ira yang terlihat jelas kebingungan.
"Karena ini, karena kamu peduli dengan anak papa, karena kamu merawatnya dengan begitu baik, papa benar-benar bahagia karena filing papa nggak salah tentang kamu, Khumaira." Jelas Bima dengan senyuman penuh kebahagiaan.
"Pa, dia suami aku, maka sudah menjadi kewajiban bagi aku untuk peduli padanya." Jelas Ira.
"Terima kasih sayang, dan soal suami mu itu, kamu tenang aja, nggak usah khawatir, papa sudah mengirim dua anak buah papa untuk menjaganya tanpa sepengetahuan dari Bara. Dan sejauh ini dia baik-baik saja, satu lagi, soal Sam, nanti malam kita bahas di rumah bersama Bara dan juga Sam." Jelas Bima.
"Baik pa, dan terima kasih. Kalau gitu Ira permisi pa, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ujar Ira dengan senyuman.
"Hmmmm, kembali lah ke ruangan mu." Ujar Bima.
"Sekali lagi terima kasih pa." Ucap Ira dan lekas keluar dari ruangan tersebut.
Ira hendak kembali ke ruanganya namun Resi langsung mencegat Ira.
"Waaaaaah, akhirnya..." Seru Resi yang bahkan langsung berlari kearah Ira lalu memeluknya dengan erat.
"Apaan sih?" Tanya Ira yang mencoba menarik tubuhnya dari pelukan Resi.
"Cieee yang udah go publik, lah aku punya ayang aja belom! Waaah gimana rasanya saat seluruh dunia tau kalau kamu adalah istri tuan muda Pradipta? Nggak kebayang, pasti wow banget kan?" Tanya Resi.
"Terus khmmmm, gimana?" Tanya Resi yang kembali mengejar langkah Ira.
"Gimana apanya?" Tanya Ira.
"MP?" Tanya Resi.
"MP? Apa itu?" Tanya Ira yang benar-benar tidak paham dengan maksud sahabatnya tersebut.
"Malam Pertama! Honeymoon!" Jelas Resi bahkan dengan suara lantang yang langsung membuat Ira reflek menutup mulut Resi dengan tangannya.
"Kami benar-benar deh....!" Gumam Ira kesal namun Ira langsung menghentikan aksinya saat ponselnya berdering pertanda satu panggilan masuk.
Ira segera merogoh saku jasnya lalu mengambil ponselnya dan ternyata orang yang sedang menelponnya adalah Bara.
"Hmmmm, Suami Ku❤️! Buru gih diangkat!" Goda Resi setelah melihat nama kontak yang tertara pada layar ponsel Ira.
"Benar-benar deh, awas gih sana." Cetus Ira yang langsung menjawab panggilan Bara lali sedikit menjauh dari Resi namun sia-sia belaka, karena Resi kembali mendekatinya.
__ADS_1
"Iya, kenapa?" Tanya Ira.
"Kak bisa kesini nggak sekarang?" Tanya Bara dari seberang.
"Sekarang?" Tanya Ira memastikan.
"Hmmmm, sekarang." Jelas Bara.
"Mobil kakak kan sama kamu." Jelas Ira.
"Kak ini adek, Rival. Kakak naik taksi aja, langsung ke studio musik ya kak, ada hal penting yang ingin kami bahas sama kakak." Jelas Rival yang mengambil alih pembicaraan dari Bara.
"Biar aku yang antar, boleh kan Val kalau kakak juga ikut datang?" Tanya Resi yang bahkan langsung ngomong tanpa persetujuan dari Ira.
"Boleh kok kak." Jawab Rival.
"Hmmm, kakak kesana sekarang!" Jelas Ira lalu memutuskan panggilan mereka.
"Ya udah, tunggu apa lagi, buruan!" Ajak Resi yang tiba-tiba begitu bersemangat, ia bahkan sudah siap dengan kunci mobil ditangannya.
"Apa nggak sebaiknya aku pinjam mobil mu aja, kayaknya kamu nggak perlu ikut deh, lagi pula ini masalah keluarga jadi kenapa kamu juga ikutan?" Jelas Ira mencoba memberi penjelasan pada sahabatnya.
"Terus kamu kira aku siapa? Kamu tidak menganggap aku sebagai keluarga mu? Lagi pula aku ini kan calon adik ipar ma." Jelas Resi.
"Haaaah! Jangan mimpi." Cetus Ira dan lekas pergi.
"Ciiiih! Buruan!" Seru Resi dan lekas menuju parkiran mobil.
____________
Ruang latihan terasa begitu hening, sejak dua puluh menit yang lalu mereka datang ke situ, mereka hanya diam diaman saja, membuat suana semakin terasa mencengkam dan menakutkan.
Sesekali Rival mencoba bernyanyi untuk mencairkan suasana lalu Bara yang juga ikut duet namun Gibran masih saja diam dengan tatapan mematikan hingga membuat Rival dan Bara kembali terdiam.
Pelan-pelan Bara bangun lalu duduk di depan drum kesayangannya.
"Ini adalah hadiah pertama dari kalian berdua, terima kasih sudah memberikan aku hadiah yang begitu berharga." Jelas Bara dengan tangan yang perlahan menyentuh drun miliknya yang ternyata merupakan hadiah dari Gibran dan Rival saat pertama kali mereka latihan di studio sendiri.
"Itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan studio ini, terima kasih Bar, karena telah membeli studio ini untuk kita latihan." Jelas Rival.
"Ini juga berkat kalian berdua, karena kalian bersedia menjadi anggota band ini. Gibran...." Ujar Bara pelan lalu sejenak menatap kearah Gibran.
__ADS_1
Gibran bangun dari tempat duduknya, perlahan beranjak mendekati Bara lalu pada menit berikutnya tangan Gibran langsung meninju wajah Bara hingga beberapa kali, dan Bara menerimanya tanpa melawan sama sekali. Rival mencoba melerai, hingga tanpa sengaja tangan Rival malah menarik Gibran dengan kuat hingga membuat Gibran terayun beberapa langkah kebelakang hingga punggungnya menghantam dinding lalu membuatnya terjatuh ke lantai. Rival buru-buru mendekat, ia ingin membantu Gibran untuk bangun namun yang terjadi malah Rival yang ikut terjatuh karena kaki Gibran yang langsung menghantam betis Rival secara kasar disaat yang bersamaan pula Ira dan Resi datang ke ruangan tersebut, keduanya benar-benar dibuat tercengang dengan keadaan ketiga bocah SMA tersebut yang sedang meringis kesakitan di atas lantai akibat baku hantam.
...🦋🦋🦋🦋🦋...