Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Kenangan terindah


__ADS_3

(Back to episode 59: Ketakutan Bara)


"Lupakan aja, yang penting sekarang kakak di sini, di samping aku!" Jelas Bara dan langsung memeluk erat tubuh Ira.


Awalnya hanya pelukan biasa namun perlahan Bara mulai mengubahnya menjadi lebih dari sekedar pelukan, tangan Bara yang perlahan merambah mengusili tubuh Ira.


"Bar...." Tegas Ira saat perlahan tangan Bara membelai rambut lurus Ira yang ia kuncir di tengah kepala.


"Lebih cantik dibiarkan terurai." Jelas Bara dengan senyuman manis sedangkan tangannya langsung beraksi melepaskan ikatan pada rambut Ira.


"Tapi...." Keluh Ira dengan kata yang seakan tertahan.


"Kak, aku..." Jelas Bara lalu menunduk wajahnya namun itu hanya berlaku untuk beberapa detik saja karena setelah itu Bara langsung mengangkat wajahnya lalu menyandarkannya tepat di bahu kiri sang istri.


"Sebenarnya apa yang kamu mimpikan barusan? Hmmm?" Tanya Ira dengan tangan yang perlahan membelai rambut Bara.


"Aku hampir saja dibuat gila oleh mimpi menyebalkan itu, jika saja itu kenyataan maka aku pasti akan benar-benar gila. Disana, di dalam mimpi ku, aku melihat abang Sam yang mencoba memper...., Haissssh!" Gumam Bara yang jelas begitu kesal dengan dirinya sendiri.


"Tentang apa ini?" Tanya Ira dengan raut wajah yang begitu penuh tanda tanya.


"Maksud kakak?" Tanya Bara yang segera beralih menatap wajah Ira.


"Sedih mu? Dan juga marah mu" Tanya Ira.


"Sedih ku? Kenapa?" Tanya Bara yang mulau dilema dengan mata bening Ira yang perlahan mulai berkaca-kaca.


"Kamu sedih dan marah karena Sam menyentuh kakak, atau kamu marah karena Sam yang lebih dulu m....." Penjelasan Ira langsung di selip oleh Bara.


"Apa yang kakak pikirkan tentang aku? Oke fine, aku memang bocah gila, bar-bar dan juga keras kepala tapi aku juga punya hati dan perasaan, bukan karena dia lebih dulu tapi ini tentang aku yang tidak bisa menjaga kak Ira, aku yang tidak bisa melindungi istri aku dengan baik, aku yang......" Bara menghentikan penjelasannya dengan mata yang memerah dan ucapan yang tertahan dengan sendirinya.


Bara kembali menekuk wajahnya lalu perlahan menarik tubuhnya untuk sedikit menjauh dari posisi Ira.


"Mungkin kak Ira masih meragukan kelayakan aku sebagai seorang suami, aku ngerti dan aku juga tau diri." Lanjut Bara lalu perlahan turun dari tempat tidur.


Bara yang hendak beranjak dari sana langsung menghentikan langkahnya saat lengan kanannya digenggam erat oleh Ira.

__ADS_1


"Duduklah!" Pinta Ira dengan tatapan penuh harap.


Bara menurut ia kembali duduk di tepi kasur, kini Ira yang perlahan bergeser mendekati Bara, perlahan dengan sentuhan yang begitu lembut tangan Ira mulai membelai rambut Bara lalu berangsur menuju wajah tampan Bara dan sejenak berhenti disana.


"Kakak bukanlah istri yang baik, tapi kakak sedang mengusahakannya, percayalah." Pinta Ira lalu mengecup kilas kening Bara yang sedikit tertutup dengan rambutnya yang mulai agak memanjang.


"Kak Ira adalah istri terbaik, kakak sempurna dengan versi kakak sendiri dan bagi aku kakak adalah pemilik seluruh hati ku." Jelas Bara.


"Bar...." Ujar Ira dengan tangan yang beralih menyentuh kedua bahu lebar milik Bara.


"Hmmmm, kenapa kak?" Tanya Bara.


"Sejak setelah akad kakak memang sudah menjadi milikmu seutuhnya, maaf karena kakak menghalangi kamu untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi hak mu, maaf karena membuat mu harus menunggu lebih dulu. Bara...." Jelas Ira lalu perlahan merebahkan kepalanya di dada bidang Bara.


"Kak, kakak sadar dengan apa yang baru saja kakak bicarakan? Dan apa kakak sadar dengan apa yang sedang kakak lakukan ini?" Tanya Bara saat menyadari tangan Ira yang bermain dikancing kemeja miliknya.


"Hmmmmm." Jawab Ira dengan suara pelan bahkan tanpa melihat wajah Bara.


"Kak...." Ujar Bara sambil menyentuh jemari Ira.


"Berhentilah bicara, kamu membuat kakak ingin menghilang dari hadapan mu." Jelas Ira dengan wajah yang semakin merah merona.


"Kamu membuat kakak malu, apa kamu tau bahkan wajah kakak mulai panas dan merona dengan sendirinya?" Cetus Ira kesal.


"Benarkah? Aku jadi penasaran!" Jelas Bara dan segera mencoba untuk melihat wajah Ira yang masih menempel di dadanya.


"Bar, berhenti!" Tegas Ira yang terus berusaha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan miliknya saat tangan Bara terus berusaha untuk mengangkat wajah Ira agar bisa ia tatap tanpa penghalang.


Usaha Bara berhasil dengan kedua tangan yang mencegat kedua tangan Ira, hingga wajah merah Ira terlihat dengan jelas.


"Benar-benar!" Gumam Ira dengan memejamkan kedua matanya.


Perlahan Bara mendekat lalu mengecup lembut kedua mata Ira.


"Apa boleh malam ini, aku melanggar perjanjian kita?" Tanya Bara yang semakin larut dalam pesona Ira.

__ADS_1


"Hmmmmm" Ira memberi jawaban dengan hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku harap esok pagi saat kakak terbangun kakak tidak akan kecewa apalagi membenci ku, karena pertahananku sudah hancur lebur kak, aku benar-benar tidak bisa bertahan lebih lama lagi!" Jelas Bara dan langsung mencium mesra sang istri.


Perlahan tapi pasti akhirnya Bara mengambil haknya sebagai seorang suami dan tanpa protes sama sekali, Ira justru menyambut Bara dengan senyuman hangat, akhirnya Ira benar-benar melakukan kewajibannya, malam terindah pun terjalin diantara keduanya.


Perlahan senyuman Bara merekah dengan sendirinya saat kenangan terindah seakan terus mengusik akal sehatnya, ia terus saja terbayang-bayang dengan apa yang telah ia lakukan malam itu, Bara benar-benar terlihat sangat bahagia.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Dari tadi papa perhatikan kamu senyam senyum terus sendirian?" Tanya Bima setelah mereka menyelesaikan maka siang.


"Lagi senang aja pa!" Jawab Bara sekenanya.


"Re, bisa kamu ikut saya sebentar, ada hal yang ingin saya sampaikan sama kamu, ayo ikut ke kantor saya." Jelas Bima.


"Baik pak!" Jawab Resi dengan raut wajah yang langsung tegang seketika pasalnya selama ini ia tidak pernah dipanggil oleh sang bos.


"Dan kamu Ira, kamu masih punya waktu kok untuk berduaan dengan anak papa, kalau gitu papa permisi." Jelas Bima lalu beranjak keluar dari restoran tersebut.


"Aku duluan, bye!" Jelas Resi dan segera mengikuti langkah Bima.


Di meja tersebut hanya tersisa Ira dan juga Bara, Ira mulai merasa risih saat Bara tidak berhenti menatap dirinya.


"Bar, Bara!". Panggil Ira mencoba menyadarkan Bara dari tatapannya.


"Bar!" Panggil Ira kali ini dengan tangan yan menyentuh tangan kanan Bara.


"Hmmmm, kenapa kak? Ayo!" Ucap Bara amburadur tak jelas.


"Hmmmm? Ayo?" Ira mengulangi pertanyaan yang baru saja Bara lontarkan.


"Ahhhh! Kak, ayo kita pulang!" Ajak Bara yang langsung berdiri lalu menggenggam tangan Ira.


"Jangan ngaco! Kakak masih harus balik ke kantor." Jelas Ira.


"Tapi aku rindu!" Tegas Bara.

__ADS_1


"Aku rindu???" Sebuah suara yang berasal dari utara meja seketika sukses mengalihkan perhatian Bara dan juga Ira, keduanya segera menoleh pada pemilik suara tersebut.


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2