
"Saya nikahkan putri saya, Resi Ranindia binti Indramayu dengan engkau Rival Rahardi Bin Syakil dengan enam gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai." Ucap Indra dengan begitu lantang.
Rival yang sejak tadi duduk tegap dengan tangan yang berjabat dengan tangan Indra, matanya begitu fokus meski jantungnha justru berpacu cepat dari biasanya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Resi Ranindia putri bapak diatas diri saya dengan mahar yang telah disebutkan, tunai." Jawab Rival dengan begitu lantang dan jelas.
"Bagaimana para Saksi?" Tanya sang penghulu yang duduk di samping Indra.
"Sah!" Jawab Para saksi serentak.
"Alhamdulillah..." Ucap penghulu lalu melanjutkan dengan lantunan doa.
Ditempatnya sana Resi terlihat lega dan tersenyum bahagia saat Rival sukses membaca akad, bahkan Ira yang sejak tadi duduk disamping sang pengantin wanita seketika langsung memeluk erat tubuh sang sahabat yang kini justru telah menyandang status sebagai adik iparnya.
Setelah pembacaan doa selesai, salam salaman lalu menikmati segala hidangan yang telah di sediakan.
Masih di tempat yang sama saat akad tadi, Rival masih saja duduk disana jika tadi didampingi oleh para saksi dan penghulu kini justru di temani oleh para anggota group gesreknya. Diimpit oleh Bara dan Gibran, lalu di kerumuni oleh Ratu, Safia, dan Alea.
"Pengantin baruuuu!" Goda Gibran dengan tangan yang langsung mencolek dagu Rival.
"Cieeee! Bakal bulan madu kemana nih? Boleh ikut nggak?" Canda Ratu.
"Lo kira liburan, ngajak pasukan, bulan madu lo, khmmmm!" Ujar Safia yang sukses membuat wajah Rival memerah sempurna.
"Pasti bakal wowww." Seru Gibran.
"Coba jelasin Hu! Suhu kan lebih paham!" jelas Alea yang seketika mengarahkan pandangan pada Bara.
"Seru dong, menyenangkan!" Jawab Bara lantang yang seketika langsung mendapat cubitan pada bahu kirinya.
"Dasar bocah mesum!" Cetus Rival lalu kembali mencubit bahu Bara.
"Mesum? Ntar kamu juga bakal tau gimana ra..." Penjelasan Bara terhenti saat mendapati para sahabat yang justru terlihat begitu fokus mendengar omongannya.
"Kenapa diam? Lanjut!" Pinta Gibran.
"Kayaknya kita langsung nikah aja deh! Ayo Gibran!" Jelas Ratu.
"Kalau gini ceritanya aku juga pengen nikah muda." Ujar Safia.
"Aku juga mau langsung sat set set cuzz halal." Jelas Alea dengan menghela nafas kasar.
__ADS_1
"Yakin mau langsung nikah? Biar langsung aku urus!" Tawar Bara.
"Maksudnya?" Tanya Safia dan Gibran hampir bersamaan.
"Mau berapa lama lagi kalian disini? Nggak lihat tuh mempelai wanitanya dari tadi nungguin giliran!" Jelas Dewi yang datang menghampiri kelompok rempong tersebut.
"Lupa tante, keenakan curhat soalnya." Dalih Ratu lalu perlahan bangun.
"Udah sana gih, samperin istrinya!" Jelas Dewi.
"Iya bunda!" Jawab Bara dan Rival hampir bersamaan.
"Maksud bunda pengantin baru loh, bukan pengantin lama!" Jelas Dewi dengan tawa.
"Bunda..." Ujar Bara yang langsung bermanja pada Dewi.
"Ayo kita makan." Ajak Dewi.
"Ayo bunda." Jawab Safia, Alea dan Ratu lalu segera ikut bersama Dewi.
"Yah di tinggal deh!" Ujar Gibran lalu segera menyusul yang lainnya yang telah lebih dulu menuju prasmanan untuk menikmati segala jenis makan yang telah disediakan.
Setelah pihak keluarga berembuk secara kekeluargaan, lalu mereka sepakat memutuskan kalau untuk sementara ini Resi yang akan ikut Rival, itu artinya Resi akan tinggal di rumah keluarga Syakil yang kini telah menjadi mertuanya.
Tepat pukul sembilan malam, Resi baru saja selesai sholat, melibat mukenah, lalu perlahan matanya mulai menerawang ke seluruh isi kamar Rival, Mulai dari meja belajar, sofa, rak buku, gitar yang terpajang pada dinding tepat di sebelah lemari, lalu tempat tidur, semua foto yang berjejer rapi terpasang di dinding, mulai dari foto bersama group band, tim sepakbola, bersama club gesrek, dan juga beberapa piala yang tersusun rapi di atas rak sana.
"Semuanya terlihat begitu rapi, berbanding balik dengan isi kamar aku, yang semuanya aku sangkut sana sini! Ini kamar cowok SMA atau kamar gadis remaja sih, rapi benar, bahkan buku aja serapi ini susunannya, beeeh, nih laki fix sempurna banget." Ungkap Resi dengan penuh rasa kagum sambil terus berjalan menghampiri setiap sudut kamar.
"Tapi, tunggu! Sejak magrib dia belum juga nongol, apa dia kabur? Masak iya langsung ditinggal pas malam pertama? Nggak bisa dibiarin, harus langsung diselidiki." Jelas Resi yang segera keluar kamar untuk mencari keberadaan sang suami.
_______
"Udah balik gih sana!" Pinta Ira untuk yang kesekian kalinya.
"Balik nggak! Atau bakal aku seret dari sini!" Ancam Bara dengan tatapan honor kearah Rival.
Bukan tanpa sebab Bara kesal, habis sejak tadi Rival terus saja bermanja pada Ira, semenjak tadi magrib sampai sudah insya Ira dikuasai olehnya.
"Kak, adek nggak berani ke kamar!". Jelas Rival.
"Eh, elo kira kak Re singa apa? Dia nggak bakal menerkam kamu kali!" Cetus Bara.
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar nggak berani sekamar sama kak Re..." Jelas Rival.
"Jadi kamu mau disini? Sekamar sama aku dan Ira, gitu maksudnya?" Tanya Bara yang semakin kesal.
"Ya aku numpang! Lagi pula ini kamar kakak kenapa jadi kamu yang kesal?" Cetus Rival.
"Hellllo! kakak mu itu istri aku, istri Aqquhhh! Ciiiih, sana gih keluar aku mau mesra-mesraan sama istri dan anak aku!" Jelas Bara yang langsung memeluk tubuh Ira.
"Kaaaak!" Rengek Rival lalu memeluk lengan kanan Ira dengan manja.
"Kalian bisa berhenti nggak? Aku sesak! udah badan bongsor gini masih aja manja nggak jelas, mending kamar ini buat kalian berdua aja, kakak mau tidur sama Resi." Jelas Ira yang langsung melepaskan tubuhnya dari kedua bayi kekar tersebut.
"Dasar perebut istri orang!" Cetus Bara yang bergegas menyusul Ira yang hendak membuka pintu kamar.
"Kamu yang perebut kakak orang!" Gumam Rival dan ikut beranjak menyusul Ira.
Saat tangan Ira hendak menyentuh gagang pintu disaat itu pula pintu dibuka dari luar, dan yang muncul dihadapan mereka adalah sosok Resi dengan ditemani oleh Luna.
"Mama, kak Re..." Ujar Rival pelan, ia bahkan sedikit bergeser untuk menyembunyikan tubuhnya dibelakang Bara.
"Disini rupanya? Mama cariin ke semua tempat, tau-taunya disini." Jelas Luna.
"Aku udah surah keluar ma, tapi dianya aja yang susah dibilangin." Adu Bara.
"Dasar teman laknat!" Cetus Rival bahkan dengan memukul bahu kiri Bara.
"Silahkan diambil suaminya kak Re, soalnya ganggu banget disini!" Jelas Bara sambil bergeser agar tubuh Rival bisa terlihat seutuhnya.
"Kamu kabur dari aku?" Pertanyaan Resi sontak membuat yang lainnya kaget.
"Slow Re, tenang!" Ujar Ira dengan mengusap pelan bahu Resi seolah sedang berusaha menenangkan emosi sang sahabat.
"Nah kalau udah gini, mama nggak ikutan, selamat malam anak-anak mama tersayang." Ujar Luna yang pergi begitu saja.
"Aku juga lepas tangan, ayo sayang!" Jelas Bara yang bahkan langsung mendorong tubuh Rival keluar dari kamar.
"Selamat malam adek dan ipar ku tersayang, bye, good night!" Jelas Ira yang ikut masuk bersama Bara lalu menutup pintu rapat-rapat.
Rival masih berdiri mematung dengan pandangan tertunduk karena mendapat tatapan horor dari Resi.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1