
"Sampai jumpa besok!" Jelas Gibran setelah mobilnya berhenti tepat di depan gerbang rumah megah milik Ratu.
"Sampai jumpa besok?" Ulang Ratu.
"Lalu? apa kamu tidak ingin menemuiku besok?"
"Mau kemana lagi emangnya besok?"
"Kencan!"
"Apa?"
" Ya kecan, tunggu? apa menurut mu hubungan kita masih sebatas teman? hei,,,! bukan kah hubungan kita sekarang itu sedang berpacaran?" Jelas Gibran yang kini beralih menatap fokus kearah Ratu.
"Sejak kapan? apa kamu pernah menyatakan perasaan kamu ke aku?" Tanya Ratu.
"Lalu menurut mu apa hubungan diantara kita berdua? kamu masih mengganggap aku hanya sebatas teman kelas? teman bekas pacar mu? atau apa?"
"Lalu apa aku harus mengklaim kamu sebagai pacar aku sedang kamu sendiri tidak pernah mengatakan apapun pada ku? apa harus aku yang lebih dulu menyatakan perasaan aku? kamu mau aku bagaimana? apa kamu juga mau menggantung aku seperti yang dulu Bara lakukan, dekat tanpa kejelasan stastus. Aku lelah Gibran, aku lelah bertindak sepihak, pada akhirnya hanya aku yang jatuh cinta."
"Ratu...." Ujar Gibran pelan.
Gibran paham betal dengan apa yang Ratu rasakan, dan dia juga sadar kalau sejak awal dia memang tidak memberikan kejelasan sama sekali terhadap kedekatan mereka berdua. Perlahan tangan Gibran menyentuh jemari Ratu dengan penuh kelembutan.
"Jadilah pacar ku!" Hanya itu kata yang terucap dari mulut Gibran selebihnya hanya ada tatapan yang begitu penuh dengan harapan.
"Kamu tidak akan meninggalkan aku kan?" Tanya Ratu memastikan.
"Aku akan terus ada didekat mu. Jujur, aku tidak bisa menjanjikan yang lainnya, tapi satu hal yang pasti, aku akan selalu ada untuk kamu, aku akan terus mencintai mu." Jelas Gibran.
"Jadi, apa sekarang kita pasangan kekasih?" Tanya Ratu memastikan.
"Hmmm,,," Ujar Gibran dengan senyuman.
"Aku tunggu jemputan mu besok sore, hati-hati di jalan." Jelas Ratu dan langsung keluar dari mobil.
"Akhirnya stastus jomblo ku usailah sudah, yes!!!" Ujar Gibran girang.
________
Sudah satu minggu semenjak mereka pulang dari liburan dan selama satu minggu ini Rival dan Bara kerjaannya hanya uring-uringan di rumah, keduanya sibuk dengan alat musik favoritnya masing-masing. Sama halnya dengan hari ini, sejak tadi pagi hingga sudah jam 12 siang keduanya masih saja berada di kamar Rival.
Diatas tempat tidur sana Rival sedang berbaring dengan gitar yang masih menempel di tubuhnya dan sesekali memetiknya tanpa irama, sedangkan di sofa yang letakknya tidak terlalu jauh dari tempat tidur sana ada Bara dengan tangan yang masih menggenggam erat pulpen di tangan kiri dan juga stik drum di tangan kanannya serta buku yang sejak tadi menyita seluruh fokus Bara.
"Hampir setengah gila rasanya!" Cetus Bara lalu merebahkan tubuhnya untuk berbaring diatas sofa.
__ADS_1
"Persiapannya gimana?" Tanya Rival yang masih saja diposisi semula.
"Persiapan yang mana? Kita lagi nyiapin banyak hal, aku hampir stress memikirkannya. Yang ini setengah jalan, yang itu jalan di tempat yang satunya lagi nggak jelas, yang ada kita bakal gila di kamar ini." Jelas Bara panjang lebar lalu menghela nafas kasar saat kembali memikirkan semua rencananya.
"Besok tes kan?"
"Tes? Tes apa?"
"Mampus! Kamu lupa? Tes masuk universitas, bukannya kamu yang daftarkan kita semua disana? Dasar!"
"Ahhhhh, iya aku ingat!"
"Lalu lagu baru kita? Dan juga besok sore kita tanding bola loh!"
"Nah kalau sudah ngomongin bola semangat aku langsung jadi semangat 45, kapan kita latihan?"
"Siapin dulu liriknya, waktu kita cuma satu minggu lagi, ingat nggak boleh gagal, sisa waktu kita hanya satu minggu lagi." Jelas Rival lalu bangun dan langsung memainkan gitarnya dengan melodi yang entah muncul dari mana namun terdengar nyaman ditelinga.
"Rasa rasanya aku hampir tumbang!" Ujar Bara dengan menghela nafas panjang.
"Semangat demi masa depan kita..." Tegas Rival.
"Ini yang kalian sebut masa depan? Molor aja dari tadi pagi sampai ntar malam, terus begitu sampai matahari terbit dari arah barat, sekalian aja nggak usah keluar dari kamar ini, terus terus!" Gumam Ira yang berdiri diambang pintu kamar sana.
"Kerja? Rebahan sambil ghibah, itu yang kalian sebut kerja? Kalian sadar nggak sih selama satu minggu ini kalian di kamar ini terus." Jelas Ira.
"Ayo kembali ke kamar!" Ajak Bara yang bergegas mendekati Ira.
"Nggak! Nggak usah balik lagi ke sana, terus aja di sini sama adek, dia kan istri tercinta mu!" Gumam Ira yang langsung pergi gitu aja.
"Huffff!" Ujar Bara dan Rival hampir bersamaan dengan menatap satu sama lain.
"Buruan gih di tenangin, ntar tambah ribet, masalah undangan biar aku yang urus." Jelas Rival.
"Thanks!" Jelas Bara dan segera berlari menyusul sang istri.
"Semenjak hamil ada aja tingkah kakak! Marah-marah nggak jelas, bentar-bentar mewek terus seketika cemburuan, vibenya udah kayak bukan kakak, ntah ruh anak puber mana yang merasukinya." Jelas Rival.
_______
"Ra..." Panggil Bara sambil terus melangkah mendekati Ira yang terlihat sedang berdiri di depan jendela kamar dengan menghadap keluar sana.
"Ngapain ke sini? Terus aja di sana, sibuk ciptain lagu, main musik, ini itu...!" Cetus Ira kesal.
Bara tidak menjawab sepatah kata pun, ia terus malangkah mendekati Ira lalu perlahan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Sorry! Lusa ayo kita keluar!"
"Kenapa harus lusa? Kenapa nggak besok aja? Atau sekalian aja tahun depan pas aku udah lahiran, sekarang kan aku gendutan, jelek, dekil, nggak asik dipandang apalagi diajak jalan."
"Kamu cemburu sama Rival?"
"Ciiiih!"
"Atau cemburu sama drum?"
"Nggak lucu!" Tegas Ira lalu melepas paksa tubuhnya dari pelukan Bara.
"Aku rindu..." Ungkap Ira lalu memeluk erat tubuh Bara.
"Belakangan waktu mu lebih banyak kamu habiskan bersama adek ketimbang sama aku, emang apa sih yang sedang kalian lakukan?" Lanjut Ira setelah sedikit melonggarkan pelukannya lalu menatap dalam wajah Bara yang tepat berada di depan wajahnya.
"Ada hal yang sedang kami urus, nggak cuma soal band kok!" Jelas Bara.
"Apa ini soal kampus?" Tanya Ira.
"Iya, soal kampus dan juga beberapa hal lainnya." Jawab Bara seolah menahan diri untuk tidak memberikan jawaban yang lebih rinci atas apa yang Ira tanyakan.
"Kapan tes seleksi?" Tanya Ira.
"Besok, doakan aku sayang!" Ujar Bara dengan senyuman lebar.
"Pasti aku doakan, semoga semuanya berjalan lancar, dan...." Jawab Ira menggantung.
"Dan...?" Tanya Bara.
"Dan selesai." Cetus Ira sekenanya.
"Sayang..." Ujar Bara lalu mengecup lembut kening sang istri tercinta.
"Bar, aku tau kalau kamu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku kan?" Tanya Ira yang tiba-tiba berubah menjadi begitu serius ia bahkan menatap dalam wajah Bara yang seketika berubah menjadi panik karena menadapat pertanyaan dari Ira.
"Nggak ada yang aku sembunyikan." Jawab Bara.
"Aku kenal kamu dan adek dengan baik, aku tau kalau kalian berdua sedang merencanakan sesuatu dibelakang aku." Jelas Ira.
"Nggak gitu Ra..." Sanggah Bara.
"Bar...." Ujar Ira pelan dengan kedua tangan yang perlahan mengusap lebut dada Bara, dengan tatapan penuh harap yang terus-menerus menatap dalam bola mata Bara yang semakin terlihat jelas sedang menyembunyikan rasa gelisahnya.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1