Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Perjanjian Pernikahan.


__ADS_3

"Maafkan aku!" Pinta Bara lalu melepaskan tubuh Ira dari dalam pelukannya.


Sejenak keduanya saling menatap satu sama lain, perlahan tangan Ira bergerak lalu menyentuh lembut lengan kanan Bara.


"Perjanjian Pernikahan kita, kakak masih mengingatnya dengan baik, dan akan kakak pastikan kalau kakak tidak akan pernah mengingkarinya apapun yang terjadi." Jelas Ira dengan tatapan yang begitu teduh.


"Aku juga akan selalu menepati perjanjian pernikahan kita. Aku janji kak!" Ujar Bara yang perlahan hendak menyentuh wajah Ira.


Namun tangan Bara langsung terhenti saat perlahan pintu kamar di ketuk dari luar dan hanya berselang beberapa detik kemudian pintu langsung di buka dari luar, membuat Bara sedikit menjauh dari Ira.


"Ayo latihan!" Ajak Rival yang muncul dari balik pintu.


"Latihan?" Tanya Ira.


"Hmmmm, kami harus latihan siang ini kak, soalnya nanti malam kami akan manggung di sebuah cafe yang cukup terkenal saat ini!" Jelas Rival yang langsung bergelayut di lengan sang kakak.


"Tunggulah sebentar, aku mandi dulu, tidak akan lama!" Jelas Bara yang langsung berlari ke kamar mandi.


"Kamu udah makan?" Tanya Ira lalu mengajak Rival untuk duduk di sofa yang berada di dekat rak buku disisi timur kamar.


"Udah dong! Loh kakak pakai tas, emangnya mau kemana?" Tanya Rival setelah memperhatikan penampilan Ira.


"Ahhh, tadi rencananya mau pulang sebentar, ada barang yang mau kakak ambil."


"Ohhhh, ya udah kakak duluan aja, soalnya mama juga lagi di rumah. Biar aku yang nungguin Bara, ntar setelah latihan di studio aku akan ajak Bara pulang ke rumah kita."


"Ya udah kalau gitu, kakak duluan, bye adik kakak tersayang!" Ujar Ira dengan senyuman lebar dan lekas pergi.


"Kak Ira tolong...." Ucapan Bara langsung terhenti saat matanya tidak bisa menemukan Ira di kamar tersebut.


"Kak Ira udah berangkat duluan!" Jelas Rival santai sambil menikmati apel yang memang terletak di dalam keranjang di atas meja.


"Berangkat kemana? Kok nggak ngomong ke aku?" Tanya Rival sambil berjalan menuju ruang ganti.


"Pulang ke rumah! Udah buruan ntar kalau telat yang ada Gibran bakal gamuk tuh!" Cetus Rival mengingatkan.


"Iya iya, ini juga udah hampir siap!" Jawab Bara yang bahkan sedang berada di ruang ganti.


Setelah Bara siap dengan setelannya ia segera bergegas dengan Rival yang buru-buru ikut keluar dari kamar


Keduanya langsung menuju ke mobil yang Rival gunakan khusus untuk menjemputnya.


"Loh, ini kan mobil kak Ira, lalu dia pulang pakek apa?" Tanya Rival saat mendapati mobil Ira yang terparkir rapi di bagasi sana.


"Apa dia naik taxsi? Atau....?" Bara menggantungkan pertanyaannya  ia segera merogoh ponsel yang ada di saku jeansnya dan segera menghubungi nomor yang tersimpan dengan nama "Kakak@ Rival"


"Telpon siapa?" Tanya Rival yang langsung masuk ke dalam mobilnya dengan diikuti oleh Bara.


"Pulang sama siapa?" Tanya Bara dengan wajah yang terlihat  jelas begitu emosi.


Bukannya suara Ira yang terdengar dari seberang justru suara Samudra yang dalam sekejap langsung membuat Bara mematikan ponselnya, tidak hanya sampai di situ, ia bahkan melempar ponselnya begitu saja.


"Kenapa?" Tanya Rival.

__ADS_1


"Udah buruan jalan, bukannya kita harus latihan ekstra. Jalan gih!" Ujar Bara yang langsung menutup matanya dan menyandarkan punggungnya.


Rival hanya menurut, meski agak kesal dengan tingkah laku Bara namun ia mencoba untuk sabar, sejenak menarik nafas dalam-dalam lalu segera menjalankan mobilnya tanpa lagi mau memperkeruh keadaan, ia membiarkan Bara terlelap dengan emosinya.


_____________________


Jika itu pilihan mu


Pergilah,


Cari bahagia mu bersamanya


Biar luka ini ku tanggung send.....


Rival menghentikan nyanyiannya saat suara ketukan drum terdengar semakin ambur radur, bahkan tidak ada ketukan yang sesuai sejak pertama kali mereka mulai latihan.


"Elo ada masalah?" Tanya Gibran yang bahkan melepaskan bass dari bahunya lalu meletakkannya begitu saja dan lekas beranjak ke sofa lalu merebahkan tubuhnya di sana.


"Kalau lagi ada masalah, ya di selesaikan, jangan melampiaskannya pada musik kita!" Tegas Gibran sambil sejenak memejamkan matanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Rival lalu mendekati Bara yang masih duduk tertunduk di belakang perangkat drumnya.


"Hasssshhhh! Kalian aja yang manggung, aku pulang!" Jelas Bara dan beranjak dari rempatnya.


"Kamu gila? Bukannya kamu yang begitu ngotot pengen tampil di cafe ternama itu? Sampe kamu matian-matian cari cara agar bisa tampil, dan sekarang kamu bilang kalau kamu tidak akan tampil? Bulshit!" Gumam Gibran yang kembali melangkah mendekati Bara dan Rival.


"Bara,  kita istirahat 10 menit, setelah ini aku mau kalian berdua kembali normal, bagaimanapun caranya!" Tegas Rival yang keluar dari stodio musik mereka.


"Aku malas bahas tentang cowok songong itu, yang ada otak aku bakal tambah kacau balau!" Jelas Bara.


"Ayo cari obat penenang!" Ajak Gibran yang langsung merangkul Bara dan keluar dari studio.


Kduanya terus keluar menelusuri setiap ruangan yang ada di gedung tersebut, akhirnya keduanya sampai di tepi jalan, dan ternyata di tempat pangkalan favorit mereka sudah ada Rival yang sedang menikmati obat penenang dengan begitu nikmat.


"Parah emang nih orang! Mang Ojan, lengkap satu!" Jelas Gibran yang langsung duduk di sebelah Rival yang bahkan tidak bergeming sama sekali, ia begitu menikmati baksonya.


"Seperti biasa pak ya!" Jelas Bara yang mengambil tempat di depan keduan sahabatnya.


"Siap mas! Tanpa seledri kan?" Ujar mang Ojan.


"Yoi mang!" Seru Bara.


Setelah pesanan datang dengan sigap keduanya langsung menyantap bakso mercon yang selalu menjadi obat penenang yang akan menghilangkan segala kekacauan di otak mereka. Sejak lima bulan yang lalu, setelah menyewa studio tersebut, ketiganya telah menjadi pelanggan tetapnya gerobak mang Ojan.


Setelah puas dengan bakso super pedas, ketiganya balik ke studio untuk latihan. Dua jam telah berlalu dan mereka sepakat untuk mengakhiri latihan mereka, sejenak melepas lelah dan akhirnya pulang untuk siap-siap karena nanti jam 8 malam mereka akan manggung.


"Val, ajak kak Ira ya!" Pinta Gibran.


"Dia sibuk! Lagian kenapa harus ajakin kak Ira? Bukannya wanita yang harusnya kamu ajak adalah Alea?" Tanya Rival.


"Dasar nggak peka! Udah aku duluan, jangan sampai kalian berdua telat, kalau sampai, hmmmm langsung aku coret dari kartu keluarga band kita." Jelas Gibran dan lekas pergi dengan motor kesayangannya.


"Ayo pulang!" Ajak Rival yang langsung masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Tanpa jawaban Bara pun menyusul masuk ke dalam mobil dan keduanya segera pulang.


_______________


"Yang ujung sana kamar kak Ira!" Jelas Rival saat dirinya dan Bara melintasi kamar Rival.


"Aku numpang di kamar kamu aja, lagi pula aku sama sekali nggak bawa baju ganti!" Jelas Bara.


"Jangan ngada-ngada, kalau mama lihat bakal panjang urusannya! Bukan cuma kamu, aku juga bakal kenak siraman rohani sepanjang jalan kenanga. Dan soal baju ganti, entar aku antarin ke kamar kak Ira. Udah gih sana, bye abang ipar!" Jelas Rival panjang lebar dan segera berlari masuk ke kamarnya.


"Dasar! Teman kurang ajar! Ciiiiih!" Gumam Bara kesal.


"Bara...!" Panggil Luna.


"Mama! Hmmmmmm." Ujar Bara gelagapan dia begitu terkejut dengan kedatangan Luna terlebih baru saja dia mengumpat.


"Habis latihan?"


"Iya ma."


"Udah gih ke kamar, Ira di kamarnya kok!"


"Iya ma."


"Ya udah mama mau ke dapur, kalau butuh sesuatu katakan sama mama, jangan sungkan-sungkan, ini rumah kamu juga."


"Iya ma.'


Luna tersenyum manis dan bergegas ke dapur sedangkan Bara langsung menuju ke kamar Ira. Perlahan mengetuk pintu nanun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam bahkan setelah beberapa kali Bara memanggil nama Ira, tetap juga tidak ada jawaban sama sekaki hingga akhirnya Bara memutuskan untuk langsung masuk.


Kaki Bara terus melangkah, hingga matanya menatap sosok Ira yang terlihat jelas sedang tertidur lelap di atas kasur sana. Perlahan Bara mendekat.


"Dasar, biasa-bisanya dia tertidur begitu pulas seolah tidak terjadi apa-apa!" Gumam Bara kesal dengan mata yang terus menatap wajah lelap Ira.


"Khmmmmm!" Seru Bara dengan suara lantang, dia memang sengaja ingin membuat Ira terbangun.


"Rival, sana gih balik ke kamar kamu! Kakak capek, kakak mau istirahat!" Jelas Ira tanpa membuka matanya sama sekali.


"Kak Ira!" Panggil Bara.


"Bara..." Seru Ira yang dengan spontan langsung bangun dan segera mengikat rambutnya yang terurai berantakan.


"Soal perjanjian Pernikahan kita.." Jelas Bara.


"Bar, berapa kali sudah kakak jelaskan, kalau kakak sama sekali tidak melanggarnya." Jelas Ira yang mencoba turun dari tempat tidur.


Bara hanya terdiam dengan tatapan yang terus menatap dalam wajah Ira, lalu dengan sendirinya kedua tangan Bara langsung menarik tubuh Ira ke dalam pelukannya.


"Ada hubungan apa kak Ira dengan abang Sam?"


Pertanyaan Bara yang terdengar pelan namun penuh penekanan cukup membuat tubuh Ira bergetar seketika, jantungnya kian berpacu membuat otaknya kembali pada memori saat ia diantar pulang oleh Samudra tadi siang.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2