Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Mengadu.


__ADS_3

~Mai, rasanya hari ini aku ingin menangis!~


~Tapi sesaat kemudia, aku malah ingin membantai semua orang, aku lelah~


~Tidak bisakah kita bertemu?~


~Aku benar-benar sedang berada di titik terendah saat ini, jika saja bunuh diri itu tidak haram dalam agama ku, mungkin aku sudah melakukannya~


~Tolong aku Mai, tolong!~


Bara terus mengirim pesannya pada Mai sahabat terbaiknya yang cuma muncul di dunia maya. Jemari Bara masih saja ingin kembali mengetik di layar ponselnya namun suara pintu kamar yang dibuka dari luar membuat tangan Bara justru mematikan ponselnya lalu menenggelamkan wajah sembabnya dibantal. Perlahan kaki Ira melangkah mendekati tempat tidur dimana Bara berada.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ira dengan mata yang terus menatap Bara dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Tolong jangan ganggu aku, aku ingin sendiri!" Tegas Bara masih dalam posisi semula.


"Baiklah, selamat malam!" Ujar Ira dan lekas kembali ke sofa untuk menyelesaikan kerajaannya yang tadi tertunda lalu tidur disana.


Jarum jam terus berdetak memutari waktu, malam semakin larut, sunyi kian terasa, dan akhrinya Ira terlelap meski awalnya dia sempat bergulat dengan perasaannya sendiri. Saat jarum jam berada di angka dua, entah apa yang terjadi Bara terperanjat dari tidur lelapnya, matanya yang spontan terbuka langsung melirik keseluruh sudut kamar, perlahan ia duduk dengan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, lalu tangan kanan yang perlahan mengusap keringatnya yang bercucuran membasahi wajah.


"Ada apa ini? Kenapa rasanya sesak sekali? Apa yang terjadi pada diri ku ini?" Tanya Bara pada dirinya sendiri.


Tangan Bara meraih ponsel miliknya yang tergeletak di sisi kirinya lalu menyalakannya untuk melihat jam, namun matanya malah terusik oleh notifikasi diakun instagramnya.


"Jangan-jangan...." Ujar Bara yang langsung membuka pesan tersebut.


~L, aku nggak tau masalah apa yang kamu hadapi saat ini, tapi aku kagum dan bangga dengan cara mu bertahan hingga saat ini, sesulit apapun itu tetap menjadi yang terbaik.~


~Jika sudah saatnya kita pasti akan bertemu, tapi tidak untuk sekarang L, maafkan aku.~


~Kamu harus kuat, kamu pasti bisa~


Setelah membaca isi pesan tersebut tanpa terasa air mata Bara menetes dengan perlahan, matanya tidak lagi bisa menahan isak tangisnya.


"Tenang Bar, segalanya akan baik-baik saja." Tegas Bara lalu kembali berbaring.


"Bara...." Panggil Ira yang memang sudah bangun dan sejak tadi terus memperhatikan sosok Bara.


"Apa kak Ira belum tidur?"


"Baru aja terbangun. Hmmmmm, mau ikut kakak?"

__ADS_1


"Tengah malam begini? Emang kak Ira mau ngepet?"


"Muluuuut"


"Terus kemana? Aku masih ngantuk, lebih baik kembali tidur dari pada ikut sama kak Ira."


"Haaaaah! Aku nggak semengerikan itu kali." Cetus Ira dan segera bangun dari sofa.


"Mau kemana?" Tanya Bara saat Ira mulai melangkah.


"Ngepet!"


"Kaaaaak!"


"Wudhu, mau tahajjud, mau ikut?"


"Tahajjud?"


"Hmmmmm, ayo!" Ajak Ira yang kali ini langsung mendekati Bara lalu membantunya untuk turun dari tempat tidur.


"Pelan-pelan, kaki aku masih sakit!" Ujar Bara sambil terus mengikuti langkah Ira.


"Ngapain?"


"Beli cat, ya buat pemeriksaan ulang luka kamu lah. Udah buruan, Kakak tunggu di luar!" Jelas Ira setelah memasukkan Bara ke kamar mandi lalu menutup pintunya dari luar.


Setelah Bara keluar, kini gantian Ira yang masuk. Setelah wudhu dan siap-siap, keduanya langsung tahajjud, Ira mengambil tempat di sisi kanan tempat tidur sedangkan Bara berdiri di sisi kiri dekat dengan drum miliknya. Keduanya sholat tanpa berjamaah.


Setelah selesai sholat, Bara sedikit menyeret sajadah miliknya kearah utara agar tubuhnya terhalang dari pandangan Ira. Setelah merasa aman di balik drumnya perlahan Bara mulai mengangkat kedua tangannya, lalu memejamkan kedua bola mata indahnya.


(Ya Allah....


Aku sama sekali tidak mencintainya, tapi aku juga tidak membenci kehadirannya. Aku tidak menginginkan pernikahan ini tapi aku juga tidak punya kekuatan untuk menolaknya. Tapi, ntah apa yang terjadi seolah dia bagaimana alarm yang Engkau kirimkan untuk menjadi pengingat dalam setiap gerak ku. Ia mengajak ku sholat, dia membela ku bahkan saat semua orang menyalahkan aku, air matanya perlahan meredamkan amarahku, apa yang sebenarnya terjadi pada ku ya Allah?


Kenapa dia terus saja mengusik hati ku ini? Sebenarnya takdir apa yang ingin engkau datangkan lewat kehadirannya untuk hidup ku ya Allah?


Ya Allah, apa mungkin papa dan bunda punya alasan atas pernikahan ku ini? Apa mereka menyembunyikan sesuatu dari ku?


Tolong aku ya Allah,,,


Jangan engkau serahkan diriku seutuhnya pada diriku sendiri, beri aku petunjuk-MU ya Allah...) Doa Bara dengan begitu kusyuk.

__ADS_1


Setelah meresa puas mengadu pada sang pemilik semesta, akhirnya Bara bangkit dari sajadahnya, sebelum Bara bergerak Ira telah lebih dulu meraih tangan Bara, lalu perlahan membantu Bara untuk bangun.


"Ayo...!" Ajak Ira yang langsung membantu Bara hingga ke tempat tidur.


"Kakak mau kemana?" Tanya Bara setelah berbaring karena mendapati Ira yang perlahan beranjak dari tempat tidur.


"Masih ada waktu untuk tidur, kakak masih ngantuk jadi mau balik tidur sebentar sebelum subuh." Jelas Ira.


"Kemari lah!"


"Kenapa? Apa kamu ingin kakak gantikan perbannya lagi?" Tanya Ira yang kembali mendekati Bara.


"Apa tubuh kakak tidak sakit tidur di sofa? Barbaringlah di sini." Jelas Bara sambil menyentuh sisi kasur yang kosong di sebelahnya.


"Hmmmmm, kakak udah terbiasa di sofa."


"Tapi aku risih melihatnya,  berbaringlah disini, lagi pula aku sama sekali tidak ada niat untuk menyentuh kak Ira, bukan tipe ku!" Jelas Bara setelah menatap tubuh Ira dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Dasar bocah mesum!"


"Kak, meski bocah selera aku itu jauhhhhh wussssssh, kak Ira sama sekali bukan selera ku!" Jelas Bara.


"Hahhhhh! Lalu kamu pikir kamu itu selera kakak? Sorry, kakak nggak doyan sama bocah! level kakak tuh kayak hmmmmm, Ji Sung, Kim Woo Bin, Choi Jin Hyuk, Rm, Ji......."


"Stop! Aku tidak ingin mendengarkannya lagi, terserah kak Ira mau tidur dimana aku nggak peduli!" Cetus Bara yang bahkan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Makanya jangan mulai, akhirnya kamu juga kan yang kewalahan! Dasar!" Cetus Ira bangga karena merasa kali ini dia bisa mengalahkan egonya Bara.


"Kak Ira kenal dengan Jung Soo Min? Atau  Kim Ji Won? Ahhhh, atau mungkin Lim Yoona? Mereka itu perempuan idaman ku, bukan yang modelnya kayak kak Ira, ciiiiih, nggak level!"  Cetus Bara.


"Benar-benar ngajak perang nih anak, bukannya dia pecinta animasi? Bagaimana bisa dia bisa menyebutkan nama-nama artis  favorit ku semuanya.  Sial" Guman Ira dengan suara pelan namun terdengar jelas begitu kesal


"Kenak kan! Makanya jangan songong" Seru Bara lalu segera mematikan ponselnya yang sejak tadi ia gunakan untuk mencari nama artis korea yang sedang naik daun saat ini, dia tau betul kalau Ira adalah pencinta sejati drama korea.


Setelah mematikan ponselnya, perlahan Bara kembali membuka selimut yang menutupi wajahnya, lalu melirik kearah Ira yang masih berdiri dengan terus ngedumel pada dirinya sendiri.


"Buruan tidur! Jangan lupa matiin lampu." Perintah Bara dan langsung memejamkan matanya.


"Kalau bukan berstatus sebagai suami, huffff sudah aku obok-obok tuh mulut pakek air got!" Gumam Ira dan segera kembali tidur di sofa.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2