Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Ketakutan Bara.


__ADS_3

"Bara, Bar tolongin kakak, tolong!" Pinta Ira dengan suara yang terdengar begitu putus asa.


Ira terus saja menjerit memanggil nama Bara.


"Kak, kakak, kak Ira...." Panggil Bara bersamaan dengan tubuhnya yang langsung terduduk.


Keringat membasahi seluruh wajahnya, mimpi buruk tersebut sukses membuat Bara ketakutan, tangannya bahkan ikut gemetar, peluh perlahan menetes dari ujung rambutnya.


Sejenak mencoba mengatur nafas, detak jantung yang ia coba stabilkan, penglihatan yang tadinya gelap perlahan kembali terang, setelah sedikit tersadar dengan apa yang baru saja ia alami seketika Bara langsung meloncat dari tempat tidur, mencari ponsel dan juga kunci kereta lalu lekas pergi meski jarum jam sudah menunjuki angka dua belas.


Setelah berada di atas motornya, Bara beberapa kali mencoba untuk menghubungi nomor Ira, namun sama sekali tidak ada jawaban hingga membuat Bara bergumam tak jelas memaki dirinya sendiri yang merasa telah teledor dalam menjaga sang istri. Bara langsung mengendarai motornya dengan kecepatan maksimum, dia tidak lagi peduli dengan apapun saat ini yang ada di dalam otaknya hanyalah Ira, ia terus menerobos udara yang semakin sejuk memeluk disepanjang jalan, namun semua itu tidak membuat Bara kalah, ia justru semakin menambah kecepatan motornya hingga akhirnya ia tiba tepat di depan rumah megah nan besar milik sang papa.


Bara meloncat turun dari motornya lalu segera menerobos masuk.


"Tuan.." Tegur pak satpam yang sedang berpatroli di sekitar rumah.


"Pak, tolong buka pintu, aku lupa bawa kunci!" Pinta Bara.


"Oh ya, sebentar tuan!" Ujar sang satpam dan langsung membukakan pintu.


Tidak tunggu lama Bara langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, sesampai disana kakinya melemah seketika, tangan kanannya perlahan mengusap mata yang di basahi keringat, tatapan kosongnya terus tertuju pada tempat tidur tanpa penghuni. Cepat-cepat Bara beralih memeriksa ke kamar mandi dan hasilnya juga sama, Ira tidak ada disana.


"Haisssssh!" Gumam Bara yang semakin dilanda rasa panik serta khawatir.


Kaki panjangnya beralih menuju balkon dan lagi-lagi semua tempat kosong, Ira benar-benar menghilang.


Kini Bara keluar dari kamarnya lalu bergegas ke kamar Samudra dan sama halnya dengan kamarnya yang kosong, kamar Samudra juga kosong tidak ada seorangpun disana. Bara kembali berlari menuruni tangga lalu menuju pintu kamar sang papa dan Bunda, tangannya hendak mengetuk pintu namun seketika terhenti begitu saja.


"Jika aku tanya sama bunda, pasti masalahnya bakal tambah runyam, belum lagi kalau sampai papa tau kalau aku yang ninggalin kak Ira, papa pasti akan langsung membunuh ku dan aku justru tidak bisa mencari kak Ira, sebaiknya aku cari sendiri saja." Cetus Bara menyakinkan dirinya sendiri.


Bara kembali keluar rumah, ia bergegas kembali naik keatas motornya.


"Loh tuan muda kenapa balik lagi, ini udah hampir setengah satu loh, mau kemana lagi?" Tanya Pak Satpam.


"Apa bapak lihat kak Ira tadi?" Tanya Bara.


"Ah iya, bapak lupa. Tadi sekitar jam sembilan bapak nggak sengaja ngelihat non Ira dan juga tuan muda Sam di garasi mobil, dan setelah itu bapak tidak lagi melihat keduanya." Jelas pak satpam.


"Makasih pak, oh ya jangan bilang ke papa dan juga bunda ya kalau aku pulang." Jelas Bara.


"Baik tuan muda." Jawabnya pasti.


Bara kembali merogoh ponselnya yang ada di dalam saku jaket lalu segera kembali menghubungi nomor Ira namun masih saja tidak ada jawaban sama sekali, lalu ia beralih menghubungi nomor Samudra dan hasilnya juga sama.


"Siaaaaal!" Maki Bara dan lekas pergi.


"Aku harus cari kakak kemana coba? Atau mungkin....? Iya sepertinya aku harus cek kesana, aku tidak boleh membiarkan hal buruk terjadi pada kak Ira, bagaimana kalau mimpi tadi adalah kenyataan maka aku tidak akan pernah bisa memaafkan diri aku sendiri." Jelas Bara pada hati dan perasaannya namun tangannya semakin mempercepat laju motornya.


Setelah menempuh perjalanan hingga beberapa puluh menit lamanya kini Bara tiba di depan gedung apartemen nan megah, ia segera masuk ke gedung tersebut, masuk ke dalam lift dan segera meluncur ke lantai lima menuju kamar nomor tujuh enam dimana unit tersebut adalah milik Samudra.

__ADS_1


Saat kaki Bara keluar dari lift di saat itu pula ponselnya berdering satu panggilan dari Rival masuk dan Bara segera menjawabnya.


"Kamu dimana? Kok kamar kosong? Kamu pulang?" Tanya Rival dari seberang dan saat itu Rival memang sedang berada di kamarnya Ira.


"Aku, akiy nyariin kak Ira, aku mimpi buruk tentang kak Ira!" Jelas Bara.


"Ampun deh! Terus sekarang dimana?" Tanya Rival sambil duduk keatas kasur milik Ira.


"Aku di depan apartemen abang Sam!" Jawab Bara.


"Kamu gila! Ngapain ke sana? Cari ribut tengah malam gini?" Tanya Rival yang langsung khawatir.


"Aku nyariin kak Ira!" Tegas Bara.


"Kenapa nyarinya kesana coba?" Tanya Rival.


"Karena aku yakin abang Sam pasti membawa kak Ira kesini!" Jelas Bara.


"Aneh, kamu kira kakak anak kecil apa bisa di bawa sesuka hati, dia itu kak Ira cewek menakutkan, kalau udah marah dia bakal berubah menjadi vampir yang bisa menghisap darah orang sampai habis!" Jelas Rival.


"Jangan bercanda, aku akan bawa kak Ira pulang, kamu tunggu aja!" Jelas Bara hendak memutuskan panggilan mereka namun Rival segera menghentikannya.


"Kakak lagi di rumah kak Re sekarang!" Jelas Rival.


"Apa?" Tanya Bara dengan suara lantang.


"Hmmm, kakak di rumah kak Re, habis curhat nangis-nangis hingga akhirnya ketiduran, aku akan kirim alamat kak Re, jadi cepat pergi dari sana." Jelas Rival.


"Iya, nih bakal langsung aku kirimkan!" Tegas Rival dan langsung memutuskan panggilan mereka berdua.


Bara bergegas kembali ke lift dan segera pergi meninggalkan area gedung tersebut dia secepatnya kilat meluncur menuju alamat yang baru saja ia dapatkan dari Rival.


Tanga Bara langsung menekan bel pintu rumah milik Resi, ia terus menekannya hingga beberapa kali sampai pintu dibuka dari dalam.


"Bara...!" Ujar Resi sambil mengucek kedua matanya.


"Kak Ira mana?" Tanya Bara to do points.


"Ada di kamar, kamu mau bawa dia pulang?" Tanya Resi.


"Iya kak!" Jawab Bara.


"Ya udah ayo ikut aku!" Ajak Resi yang langsung membawa Bara ke kamarnya dimana Ira sedang tertidur pulas dengan wajah dan mata yang terlihat jelas sedikit membengkak.


Bara segera mendekati Ira lalu menyentuh wajahnya pelan.


"Kak..." Ujar Bara lembut.


Bara langsung membawa tubuh Ira ke dalam gendongannya.

__ADS_1


"Kamu yakin mau membawanya pulang?" Tanya Resi sambil mengikuti langkah Bara menuju pintu utama.


"Iya kak, aku akan bawa kak Ira pulang." Jawab Bara.


"Kalau gitu pakek mobil Ira aja kalian pulangnya." Jelas Resi lalu membukakan pintu mobil Ira yang terparkir tepat di depan rumah.


Setelah meletakkan tubuh Ira di jok mobil kini Bara ikut masuk ke dalam mobil.


"Hati-hati!" Pesan Resi dengan melambaikan tangannya


"Hmmmm, makasih banyak kak!" Ucap Bara.


Bara segera menyalakan mesin mobil dan lekas pulang menuju rumah orang tua Ira.


____________


Setelah membaringkan tubuh Ira keatas tempat tidur, perlahan Bara duduk di sisi kiri Ira, tangannya membelai lembut wajah Ira.


"Maafkan aku kak, karena aku mata kakak jadi bengkak gini, muka kakak juga sembab banget, sekali lagi maaf kan aku kak!" Pinta Bara penuh penyesalan.


Ira sedikit menggeliat, lalu mengubah posisinya miring ke kiri, perlahan tangan Ira bergerak menyentuh tangan kiri Bara.


"Kak, apa kakak sudah bangun?" Tanya Bara.


"Hmmmmm!" Jawab Ira dengan senyuman lalu tangan kirinya beranjak menuju wajah tampan Bara.


"Jangan lagi menghindar dari kakak! Jangan buat kakak kacau!" Pinta Ira


"Aku bukannya menghindar, hanya saja aku terlalu malu untuk berhadapan sama kak Ira." Jelas Bara.


"Apa ini karena kejadian semalam?" Tanya Ira memastikan.


"Hmmmm, maaf karena aku terbakar nafsu!" Pinta Bara dengan kepala tertunduk.


Perlahan tangan Ira mengangkat wajah Bara agar melihat kearahnya.


"Oh ya, bukannya tadi kakak pergi bareng sama abang Sam?" Tanya Bara tiba-tiba teringat dengan ucapan pak satpam.


"Pergi? Siapa yang bilang? Orang kita ketemu di garasi mobil dan kakak langsung pergi meninggalkan dia begitu aja!" Jelas Ira.


"Syukurlah! Dia nggak nyentuh kakak kan? Dia tidak.....?" Pertanyaan Bara langsung terhenti saat Ira tanpa ragu mengecup lembut bibir sang suami.


"Sama sekali tidak terjadi apa-apa, kakak langsung pergi tanpa lagi menoleh pada Sam, serius!" Jelas Ira.


"Hmmmm, aku percaya. Dan juga aku lega karena itu hanya mimpi!" Jelas Bara.


"Mimpi? Tentang apa?" Tangan Ira penasaran.


"Lupakan aja, yang penting sekarang kakak di sini, di samping aku!" Jelas Bara dan langsung memeluk erat tubuh Ira.

__ADS_1


_____________


__ADS_2