Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Peringatan Terakhir.


__ADS_3

Semua berkumpul di meja makan untuk makan malam bersama, di sisi kiri ada Samudra yang duduk berhadapan dengan Dewi lalu di sebelah Dewi ada Ira yang tentu duduk berhadapan dengan Bara. Sejak awal acara makan malam berlangsung Bara terus saja memperhatikan gerak Ira yang terlihat canggung bahkan sesekali terlihat risih, mendapati keadaan Ira yang seperti itu membuat Bara berhenti menatap sang istri. Lain halnya dengan Samudra yang berada di sebelah Bara, sejak awal kedatangannya di meja makan, matanya tidak bisa berhenti melirik kearah Ira, ia bahkan sesekali tersenyum sendiri membuat Bima heran dengan tingkah Samudra.


"Sam...." Tegur Bima di sela-sela makan malam mereka.


"Kenapa pa?" Tanya Samudra santai.


"Papa perhatikan sejak tadi kamu senyum-senyum sendiri, apa ada hal baik yang terjadi? Gimana dengan kerjaan kalian di luar kota tadi siang?" Tanya Bima.


"Semuanya berjalan sesuai rencana pa." Jawab Samudra masih dengan terus tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu." Ujar Bima lega.


"Bar, gimana dengan persiapan ujian akhir mu? Cuma tinggal tiga bulan lagi kan?" Tanya Dewi.


"Iya bunda, aku belajar kok!" Jawab Bara sekenanya.


"Kamu nggak lupa janji mu sama papa kan?" Tanya Bima.


"Hmmm, iya." Jawab Bara acuh.


"Emang apa yang papa janjikan padanya?" Tanya Samudra.


"Papa hanya..." Penjelasan Bima langsung disela oleh Bara.


"Kenapa papa harus ngejelasin sama abang Sam? Ini perjanjian kita nggak ada hubungannya dengan dia." Jelas Bara.


"Bara..." Ujar Ira dengan manatap tajam pada Bara.


"Aku sama sekali tidak penasaran!" Tegas Samudra yang segera melanjutkan makan malamnya.


"Bagus!" Cetus Bara.


"Teruskan makan kalian, papa harus balik kerja, ada file yang harus papa cek ulang." Jelas Bima.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" Tanya Ira.


"Nggak usah, kamu istirahat aja, lagi pula kamu juga pasti capek karena perjalan tadi siang, lanjutkan makan kalian papa permisi." Jelas Bima.


"Bunda juga udah selesai makan, bunda permisi sayang, selamat malam!" Ujar Dewi dengan senyuman dan segera mengikuti Bima menuju ruang kerja Bima.

__ADS_1


"Ahhhh ponsel aku, sebentar ya kak, takotnya ntar Rival nelpon." Jelas Bara lalu segera kembali ke kamar untuk mengambil ponselnya.


"Aku tunggu kamu tepat jam sebelas, aku tidak akan memaafkan bahkan keterlambatan satu menit pun, selamat malam sayang!" Ujar Samudra dengan mengedipkan matanya dengan tatapan mesum pada Ira.


Sejenak menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya kasar, dan akhrinya Ira memutuskan untuk kembali menyantap hidangan yang ada diatas meja meski perasannya mulai tidak tenang.


"Kakak kenapa?" Tanya Bara yang baru saja kembali ke meja makan dengan ponsel di tangan kirinya.


"Bar..." Ujar Ira pelan dengan mata yang seakan mengisyaratkan sesuatu.


Bara bukannya balik ke tempat duduknya, ia justru datang menghampiri Ira, duduk disebelahnya lalu menatap wajah Ira lekat-lekat.


"Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Seakan tatapan kakak sedang meminta tolong pada ku! Ada apa?" Tanya Bara dengan tangan yang menyentuh pelan wajah Ira.


"Bara, tetaplah di samping kakak, apapun yang terjadi, teruslah menjadi suami kakak." Pinta Ira yang langsung merebahkan kepalanya di dada bidang Bara.


Perlahan tangan Bara beralih menyentuh jilbab Ira lalu mengusapnya pelan, menciumnya dengan penuh kasih sayang.


"Hmmm, hingga habis selamanya pun aku, Bara Pradipta akan tetap menjadi suaminya Khumaira." Tegas Bara semankin mengeratkan tangannya di tubuh Ira.


"Mau lanjut makan lagi? Atau udahan?" Tanya Ira setelah mengangkat wajahnya untuk menatap Bara.


"Mau nambah?" Tanya Ira.


"Nambah apa nih? Makan atau apa?" Tanya Bara menggoda.


"Dasar, baru aja baikan eh udah mulai lagi, ayo..." Ajak Ira.


"Kemana?" Tanya Bara namun tetap saja mengikuti langkah Ira.


"Ke taman!" Ajak Ira yang langsung meraih tangan Bara lau membawanya ikut bersama ke taman.


_________


Perlahan pintu kamar Samudra dibuka dari luar, langkah kaki terdengar senyap-senyap melangkah masuk ke dalam kamar. Samudra yang menyadarinya segera menyalakan lampu  kamar yang sejak awal emang sudah dia matikan. Setelah lampu kembali menyala, mata Samudra langsung tertuju pada sosok yang kini berdiri tepat dihadapannya.


"Kenapa? Abang kaget karena yang datang aku bukan kak Ira?" Tanya Bara dengan wajah penuh ambisi.


"Dimana Ira? Kenapa kamu yang datang?" Tanya Samudra.

__ADS_1


"Kenapa? Kecewa karena tidak bisa mencipipi istri aku?" Tanya Bara sambil perlahan melangkah duduk ditempat tidurnya Samudra.


Samudra terus menatap wajah Bara. Samudra sekuat tenaga menahan diri agar tidak membuat keributan karena jika dia menyerang maka masalah ini akan sampai ke telinga Bima dan itu tidak akan berakibat tidak baik untuk dirinya.


"Keluar dari sini!" Gumam Samudra.


"Sam, kamu sudah tertinggal jauh dari aku, aku sudah lebih dulu mencicipinya, sekarang dia adalah bekas aku, apa abang masih juga menginginkannya? Aku bahkan sudah berkali-kali menggunakannya." Jelas Bara dengan senyuman puas.


"Aku bilang keluar! Keluar sekarang juga!" Gumam Samudra.


"Sam, ini peringatan terakhir dari aku, jangan lagi usik kak Ira, jangan sentuh dia, jangan temui dia, jika kamu masih juga melakukannya maka akan ku perlihatkan sosok aku yang sebenarnya. Saat ini aku masih menghargai kamu sebagai abang aku, tapi jika kamu masih saja maju maka jangan salahkan aku, aku akan menghancurkan semua milik mu tanpa tersisa apapun, termasuk jabatan kamu saat ini!" Tegas Bara lalu keluar dari kamar Samudra.


Setelah kepergian Bara, seketika amarah Samudra meledak, dia terus membanting semua barang-barang yang ada di hadapannya, dia benar-benar di penuhi oleh amarah.


"Haissssshhh!!! Tunggu saja, aku akan membunuh mu Bara, bukan kah sejak awal kita memang tidak pernah akur. Baiklah, ayo kita mulai!" Gumam Samudra yang masih saja menghancurkan seisi kamarnya.


_____________


Bara kembali ke kamarnya, ia perlahan berjalan menuju tempat tidur dimana Ira sedang tertidur pulas. Bara terus melangkah, lalu perlahan berjongkok disamping Ira, manatapnya dalam-dalam, hingga ia larut dalam tangisnya, bahkan sampai tubuhnya terduduk dilantai dengan keduanya tangan yang menggenggam erat tangan Ira, dengan wajahnya yang menempel pada sisi kasur di samping lengan Ira.


Suara tangisan Bara sukses membangunkan Ira dari tidurnya, perlahan Ira membuka matanya, ia mendapati sosok Bara yang masih terisak.


"Bara..." Ujar Ira dengan suara parau, lalu perlahan bangkit dari tidurnya.


"Ayo kita lakukan!" Ajak Bara tanpa mengangkat wajahnya sama sekali.


"Ada apa? Kamu dari mana?" Tanya Ira.


"Atau ayo kita pulang ke rumah mama!" Ajak Bara lalu mengangkat wajah sembabnya dari kasur.


"Ada apa sebenarnya?" Tanya Ira.


"Atau ayo kita beli rumah sendiri, kakak punya cukup tabungan kan?" Tanya Bara.


"Apa kamu habis dari kamar Sam?" Tanya Ira yang mulai menaruh curiga dengan gelagat Bara.


Pada hal tadi Bara sudah berjanji untuk tidak mendatangi Samudra setelah Ira menceritakan semuanya di taman tadi.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2