
"Kenapa mama nggak bilang lebih dulu?" Tanya Rival yang masih saja mondar mandir dengan penuh rasa gelisah yang menyerang hatinya.
"Bukannya sejak awal emang adek yang minta langsung akad nikah kan?" Tanya Luna.
"Iya, cuman kenapa baru hari H mama ngomongnya? Adek kira cuman tunangan, kenapa tiba-tiba langsung ijab qabul? Adek jadi panas dingin nggak karuan nih ma." Keluh Rival yang masih saja tidak bisa tenang.
"Dek, ayo sini, duduk dulu!" Pinta Ira dengan tangan yang langsung menggenggam tangan Rival lalu membawanya untuk duduk di sofa dengan diikuti oleh Luna.
"Tenang, tenang, adek pasti bisa, kan cuman ijab qabul, adek tinggal duduk manis lalu menjawabnya dengan lantang." Jelas Ira dengan perlahan menyentuh bahu Rival.
"Mama tau kalau anak mama pasti bisa melakukannya dengan baik, ayo! Sebentar lagi acaranya akan dimulai, ayo sayang!" Ajak Luna dengan merangkul tubuh Rival.
Rival mencoba untuk berdamai dengan hati dan jantungnya yang sejak tadi berdetak tak karuan, betapa tidak, selama persiapan Rival hanya tau bahwa hari ini dia akan bertunangan dengan Resi namun kenyataannya justru langsung dinikahkan. Sejenak menatap Ira dan Luna secara bergantian, membuat ia sedikit lebih tenang dengan senyuman kedua wanita yang begitu ia cintai dan sayangi selama ini, hingga akhirnya perlahan Rival ikut bersama mereka menuju ke ruang utama, ruang yang akan menjadi saksi bisu atas perjuangannya untuk menghalalkan sang kekasih hati.
Ingatan akan kejadian tadi pagi perlahan menghilang dari ingatannya, Rival masih berdiri mematung dengan pandangan tertunduk karena mendapat tatapan horor dari Resi.
"Maaf!" Ucap Rival dengan suara yang bahkan hampir tidak bisa didengar oleh Resi.
"Apa? Kamu bilang apa barusan? Aku nggak dengar! Coba di ulang!" Tanya Resi memastikan bahwa apa yang ia dengar tidaklah salah.
"Aku minta maaf kak!" Ulang Rival dengan mencoba memberanikan diri untuk menatap wajah Resi.
"Emang kamu buat salah apa? Kenapa minta maaf?" Tanya Resi dengan mata yang terus mengintrogasi.
Rival kembali terdiam dengan perasaan serba salah, ia tidak tau harus mengatakan apa lagi pada Resi. Tangan Resi yang tiba-tiba menyentuh tangan Rival membuat sang empunya kaget dan langsung menoleh kearah Resi.
"Ayo ke kamar!" Ajak Resi yang bahkan tanpa lebih dulu mendapat persetujuan dari Rival langsung menyeretnya ke kamar.
"Duduklah!" Pinta Resi saat keduanya berada di kamar Rival.
Rival menurut, ia langsung duduk di sofa dengan disusul oleh Resi.
"Apa bisa kita bicara sekarang? Atau kamu masih butuh waktu untuk sendiri?" Tanya Resi memulai pembicaraan karena Rival memang hanya berdiam diri sejak pertama masuk tadi.
"Ayo kita bicara!" Ujar Rival pasti.
"Apa kamu mencoba menghindar dari aku?" Pertanyaan Resi yang blak-blakan sukses membuat Rival kaget seketika.
__ADS_1
"Bukan menghindar lebih tepatnya aku ingin memastikan diri aku lebih dulu." Jelas Rival.
"Memastikan? Tentang apa?" Tanya Resi.
"Memastikan bahwa aku tidak akan membuat kak Re tidak nyaman berada didekat aku, memastikan kalau aku tidak akan membuat kak Re terluka apalagi kecewa dengan diri aku yang masih banyak kekurangan ini. Aku ingin menjadi pantas untuk menyandang status sebagai suami kak Re." Jelas Rival.
"Kamu benar-benar..." Ungkap Resi dengan mata yang bahkan sudah berkaca-kaca sejak pertama Rival bicara.
Resi langsung memeluk erat tubuh Rival.
"Kamu bahkan jauh lebih dari kata pantas! Meski baru lulus SMA tapi kamu begitu dewasa dalam menyikapi segala hal yang ada. Rival aku mencintaimu, dengan semua yang ada pada diri mu, apapun itu, semua sisi mu ku terima dengan lapang dada." Jelas Resi lalu sedikit melonggarkan pelukannya.
"Aku akan berusaha untuk membahagiakan kak Re." Jelas Rival.
"Benarkah? Aku punya satu permintaan." Jelas Resi.
"Permintaan? Katakanlah!" Pinta Rival.
"Panggil aku sayang atau baby juga okay, masak iya aku dipanggil kak Re mulu." Jelas Resi yang sontak membuat mata Rival terbelalak kaget.
"Aaaah, aku harus ke kamar mandi, permisi!" Ujar Rival yang langsung berlari kabur dari tatapan Resi.
Tingkah Rival membuat Resi tertawa puas, Rival layaknya anak SD yang melarikan diri karena ketakutan.
"Selucu itu suami aku! Waaaah ayang Valval ku, ku kira kamu tidak sepolos itu eh ternyata aku harus ekstra dalam mengajari mu tentang banyak hal. Hmmmm, apa dulu Bara juga sepolos itu? Apa aku harus belajar sama Ira? Kayaknya emang harus nanya ke suhu nih!" Jelas Resi pada dirinya lalu kembali tertawa puas.
________
"Bara..." Ujar Ira dengan tangan yang terus berusaha mendorong bahu Bara.
"Rinduuu!" Jelas Bara yang masih saja mencium wajah sang istri sejak beberapa saat yang lalu.
"Bahkan sudah lebih dari sepuluh kali kamu mencium ku, apa belum cukup?" Tanya Ira.
"Belum, aku butuh tambahan baterai, dan ini solusinya!" Jelas Bara yang meluncurkan kecupan di kening Ira.
'Cup' Kini Ira yang langsung mengecup kedua pipi Bara secara bergantian.
__ADS_1
"Udah cukup kan? Ayo tidur, aku ngantuk banget!" Jelas Ira.
"Okay, aku ngalah! Ayo sayangnya ayah kita tidur sebelum ibu mu ngamuk nggak karuan!" Ujar Bara dengan senyuman lalu merebahkan tubuhnya disamping Ira.
"Selamat malam!" Ujar Ira lalu memeluk Tubuh Bara.
"Selamat malam sayang-sayang ku!" Ujar Bara dengan senyuman lalu mengelus perut Ira lalu beranjak membelai rambut Ira yang terurai begitu saja.
________
"Lea, Lea, sayang...!" Panggil Siska, sambil membuka pintu kamar putri semata wayangnya.
"Hmmm, iya kenapa ma?" Tanya Alea sambil bangun dari rebahannya.
"Ada tamu di depan, nyariin kamu!" Jelas Siska.
"Siapa ma? Apa Ratu, atau Gibran? Atau Safia...?" Tanya Alea lalu bangun dan berjalan menghampiri sang mama.
"Bukan meraka, tapi seperti mama sering melihat wajahnya, tapi dimana ya?" Jelas Siska berusaha mengingat wajah tamu yang saat ini sedang duduk di teras menunggu Alea.
"Siapa sih ma? Rival? Atau Bara?" Tanya Alea yang mulai penasaran.
"Bukan, pokoknya bukan pasukan turbo mu itu loh, dia terlihat begitu gagah, berwibawa, pakai jas, pokonya mama suka." Jelas Siska.
"Mama apaan sih! Biar aku samperin dia dulu." Jelas Alea yang hendak pergi namun langsung dicegah oleh Siska.
"Kamu mau keluar dengan kaos dan celana ini, belum lagi rambut mu yang kayak sarang burung, ganti baju gih sana, rapiin juga tuh rambut." Jelas Siska.
"Malas, udah gini aja lah ma..." Jelas Alea yang langsung kabur dari Siska.
Alea segera menuju teras.
"Apa mungkin pak Faisal? Atau... Siapa sih?" Tanya Alea sambil terus berjalan hingga akhirnya ia sampai di teras.
Betapa kagetnya Alea saat tau ternyata orang yang sedang menunggu dirinya adalah Samudra.
...🦋🦋🦋🦋🦋...
__ADS_1