Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Tes Seleksi.


__ADS_3

"Ma, mama...mama...!" Panggil Rival sambil terus mencari keberadaan Luna.


Rival terus saja berteriak memanggil sang mama dengan terus berlari kecil menuju dapur, saat ini Rival cuma menggunakan celana hitam dengan bertelanjang dada dan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


"Ma, lihat kemeja putih adek nggak?" Tanya Rival tanpa menoleh kearah manapun ia masih sibuk dengan dirinya sendiri.


"Ma adek...." Protes Rival terhenti bahkan tubuhnya ikut membeku seketika saat matanya menatap sosok Resi yang sedang berdiri di samping Luna tepat di depan meja makan sana.


Tatapan Luna dan Resi yang menatap aneh serta lucu kearah Rival bahkan membuat Rival melangkah mundur dan tangan yang dengan spontan menutup tubuhnya dengan handuk kecil yang sejak tadi ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


"Kak Re..." Ujar Rival pelan.


"Kemeja putih kan mama gantung di lemari sebelah timur, adek nggak lihat? Kalau nyari sesuatu itu pakek mata jangan pakek mulut, nggak bakal ketemu." Jelas Luna.


"Mama..." Ujar Rival.


"Apa perlu aku yang bantu nyariin?" Tawar Resi.


"Emang boleh?" Tanya Rival yang sontak membuat Luna mengernyitkan dahinya.


"Jangan macam-macam! Sana gih balik ke kamar, dan cepat siap-siap, ntar telat loh." Jelas Luna.


"Siap ma...!" Jawab Rival dan bergegas kembali ke kamarnya.


"Masih unyu dan lucu banget, nggak kebayag deh kalau dia jadi suami aku, hufff, bakal asyik kayaknya!" Ujar Resi pelan.


"Re..." Ujar Luna.


"Hmmm, iya tante..." Jawab Resi yang segera beralih menoleh kearah Luna.


"Begitu lah anak mama, ntar tolong dijaga dengan baik ya, masih banyak hal yang belum dia mengerti dan mama harap kamu bakal sabar dalam membimbingnya." Jelas Luna.


"Yang ada ntar aku loh tante yang harus belajar dari dia." Ujar Resi dengan senyuman.


"Waaah, pagi-pagi buta udah ada tamu aja, nyari sarapan gratis atau ada udang dibalik bakwan nih!" Goda Ira yang baru saja bergabung di meja makan.


"Sering-sering aja Re main kesini, papa suka, tambah rame!" Ujar Syakil yang langsung mengambil tempat di kursinya.


"Bakal ada saingan nih ceritanya." Ujar Ira.


"Apaan sih!" Cetus Resi pelan sambil menyengol bahu Ira.


"Ngapain pagi buta ke sini?" Tanya Ira.


"Mama yang minta Re datang, karena ada hal yang ingin mama bicarakan sama Re." Jelas Luna.


"Tentang apa?" Tanya Ira penasaran.


"Rahasia dong!" Jelas Luna dengan senyuman.

__ADS_1


"Pa, emang ada apa sih?" Ira beralih bertanya pada sang papa.


"Papa juga nggak tau!" Jawab Syakil yang langsung menyantap sarapan paginya.


"Bara dan adek mana? Bukannya hari ini mereka bakal ikut tes seleksi?" Tanya Syakil karena sejak tadi tidak melihat kemunculan Rival dan Bara di meja makan.


"Bara lagi di kamar adek pa, ntah pada ngapain, biar kakak panggil aja pa." Jelas Ira yang hendak bangun dari kursinya.


Langkah Ira langsung terhenti karena Bara dan Rival yang mulai nuncul dan bergabung dimeja makan.


"Ayo sarapan!" Ajak Luna.


"Iya ma." Jawab Bara dan Rival hampir serentak lalu bergegas untuk sarapan bersama.


Setelah semuanya selesai, mereka langsung bergegas melakukan kegiatan masing-masing, Syakil yang langsung berangkat ke kantor, Rival dan Bara yang langsung menuju ke lokasi tes serta Luna dan Resi yang langsung pergi tanpa mengatakan sesuatu apapun pada Ira, akhirnya Ira lah yang di tinggal sendirian, membuat dirinya menghela nafas kesal karena harus kesepian.


_______


"Ruang berapa?" Tanya Gibran saat ia dan kelima temannya telah berkumpul tepat di depan sebuah gedung mewah yang menjulang tinggi.


"Ruang lima." Jawab Rival sambil memamerkan kartu ujiannya.


"Ruang Satu." Jawab Bara dan Alea yang memang satu ruang tes.


"Aku ruang enam, kamu?" Tanya Ratu.


"Sepuluh!" Jawab Gibran dengan begitu lesu.


"Semangat!" Ucap Ratu.


"Hmmm, sampai jumpa nanti!" Seru Gibran sambil terus mengikuti langkah Safia menuju ruangan tes.


Begitu juga dengan yang lainnya, mereka langsung bergegas ke ruang masing-masing.


Ujian seleksi pun dimulai, semua peserta mulai mengikuti ujian dengan tertib dan aman terkendali, mereka diberi waktu selama dua jam untuk mengerjakan seratus soal. Dua jam pun berlalu, selesai ataupun tidak mereka harus tetap meninggalkan ruang ujian.


"Lea, aku duluan ya, soalnya ada urusan penting, bye..." Jelas Bara yang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Alea.


Bara bahkan pulang tanpa mengabari yang lainnya, tingkah Bara sontak membuat yang lainnya kesal dan ikut bubar pulang ke tujuan masing-masing, terkecuali Ratu dan Gibran yang justru langsung pergi untuk kencan pertama mereka.


"Ada urusan penting apa sih tuh anak sampai dia lupa ngambil ponselnya?" Tanya Alea pada dirinya sendiri dengan tangan yang masih memegang ponsel milik Bara yang tadinya dikumpulkan ke meja pengawas ujian.


Alea terus berjalan menuju parkiran mobilnya lalu segera masuk kedalam mobil.


"Udah ah, lebih baik aku antar aja ke rumahnya." Cetus Alea dan langsung meluncur ke rumah Bara.


Setelah menempuh perjalanan hingga beberapa menit lamanya kini mobil Alea berhenti tepat di gerbang rumahnya Bara, baru saja Alea hendak keluar dari mobil disaat yang bersamaan pula gerbang terbuka lalu sebuah mobil muncul dari balik gerbang dan berpas-pasan dengan mobil milik Alea.


Alea hendak maju memberi jalan namun Alea kalah cepat dengan suara klakson yang di tekan tanpa jeda dari mobil yang ada di hadapannya, membuat pak satpam segera menghampiri mobil Alea.

__ADS_1


"Mbak Lea, maaf bisa mbak maju dulu, soalnya tuan muda Sam lagi buru-buru." Jelas pak Satpam yang memang sudah mengenal Alea.


"Iya pak, maaf!" Ujar Alea yang segera memajukan mobilnya.


Namun sebelum mobil Alea jalan, Samudra sudah turun dari mobilnya lalu menghampiri Alea.


"Bisa minggir nggak sih?" Tanya Samudra dengan raut wajah penuh dengan amarah.


"Tuan muda, maaf, mbak Alea akan segera maju, tuan muda kembali aja ke mobil." Jelas satpam yang paham betul dengan tingkah Samudra saat sedang kesal dan emosi.


"Maaf, Lea minta maaf bang!" Ujar Alea dengan menundukan kepalanya dan segera memajukan mobilnya.


Samudra langsung kembali ke mobil dan lekas pergi. Alea keluar dari mobil lalu berjalan menghampiri pak satpam.


"Maaf pak, karena aku malah bapak yang dimarahi sama abang Sam, maaf." Pinta Alea karena merasa tidak enak setelah melihat Samudra yang sempat marah-marah sama pak satpam.


"Nggak apa-apa kok mbak, oh ya ada perlu apa yang mbak? Apa mbak mau cari tuan muda Bara?" Tanya pak satpam.


"Iya, apa Bara ada di rumah?" Tanya Alea.


"Waaah, sudah beberapa minggu ini tuan muda Bara nggak pulang ke rumah ini, dia tinggal di rumah non Ira, ada yang bisa bapak bantu?" Jelas satpam.


"Ini, sebenarnya..." Penjelasan Alea langsung terhenti saat melihat mobil Samudra yang tiba-tiba kembali.


"Nggak apa-apa pak, kalau gitu saya pamit pulang aja, terima kasih." Ucap Alea yang bergegas kembali ke mobilnya, dia sama sekali tidak ingin kembali bertemu dengan Samudra.


Namun yang terjadi malah sebaliknya, sebelum Alea kembali masuk ke mobilnya, sebuah tangan langsung menarik tangannya hingga membuat langkah kakinya terhenti.


"Soal yang tadi, aku minta maaf!" Pinta Samudra dengan kepala tertunduk.


"Hmmmmm, nggak apa-apa kok, lagian emang aku yang salah. Sekali lagi aku minta maaf, dan tolong lepaskan tangan aku..." Jelas Alea yang langsung membuat Samudra melepaskan pegangannya pada tangan Alea.


"Aku benar-benar minta maaf! Tadi aku lagi emosi, aku tidak bermaksud berkata kasar ke kamu." Jelas Samudra.


"It's okay, permisi." Jelas Alea.


"Hmmm, ayo makan siang bersama, aku yang traktir, anggap aja sebagai permintaan maaf aku." Jelas Samudra.


"Hmmmmm!" Alea tampak sedang memikirkan tawaran Samudra.


"Pak, tolong bawa masuk mobil aku." Pinta Samudra.


"Baik tuan muda." Jawab pak satpam.


Sedangkan Samudra langsung masuk ke dalam mobil Alea membuat sang empunya kaget dengan sikap Samudra.


"Ayo jalan!" Jelas Samudra.


"Hmmmm!" Jawab Alea masih kebingungan namun langsung menjalankan mobilnya.

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2