
Bara seketika mematung di tempat, matanya terus menatap Ira, Rival dan Ratu secara bergantian. Ratu melangkah mendekati Bara lalu tanpa permisi langsung memeluk tubuh Bara.
"Kamu pasti nyariin aku kan? Kamu nyesel mutusin aku tadi kan?" Tanya Ratu lalu melepaskan pelukannya.
"Ratu, kamu salah paham!" Ujar Bara lalu menjauh dari Ratu.
Bara malah mendekati Ira yang sontak membuat Ira melangkah mundur, lalu Rival langsung berinisiatif mendekat kearah Bara.
"Dasar teman pelit, pasti mau nagih uang somay yang tadi kan? Nih aku balikin!" Tegas Rival yang langsung mengeluarkan uang lima ribuan dari saku celananya.
"Nah elo tau! Makanya besok-besok utang tuh di bayar jangan nunggu sampai di tagih!" Cetus Bara.
"Kalian sedang syuting? Lima ribuan? Sejak kapan uang lima ribu membuat kamu datang ke rumah Rival? Udah jujur aja kenapa kamu ke sini, ngikutin aku kan?" Tanya Ratu lalu berdiri diantara Rival dan Bara.
"Fine! Aku bakal jujur, aku ke sini bukan ngikutin kamu ataupun nagih hutang, tapi aku..." Penjelasan Bara langsung diselip oleh Ira.
"Apa kamu bikin ulah lagi di sekolah? Apa kakak harus ke sekolah mu lagi besok?" Tanya Ira yang berusaha tetap tenang meski saat ini dia sedang begitu panik.
"Kalian, ayo ke meja makan, mama baru aja siap masak mie kuah yang maknyus lezatnya, ayo!" Ajak Luna yang baru saja datang ke ruang tamu.
"Ayyo ma!" Ajak Bara yang langsung merangkul Luna dan lekas menuju ke meja makan.
"Ma?" Ulang Ratu heran.
"Hmmmm, berhubung dia cuma punya bunda ya udah aku izinkan dia memanggil mama ku dengan panggilan mama, udah nggak usah terlalu dipikirkan, kamu tau sendiri kan gimana Bara, main sikat aja, ayo gih buruan!" Jelas Rival lalu mengajak serta Ratu menuju ke meja makan.
" Hampir aja ketauan! Padahal udah kabarin lewat chat supaya dia nggak pulang ke sini, emang dasar tukang bikin jantungan, ceroboh, untung aja Ratu nggak curiga." Ungkap Ira sedikit lega.
Ira adalah orang terakhir yang bergabung di meja makan, lalu semuanya menikmati mie super lewat buatan Luna.
"Lezat banget!" Ungkap Bara puas setelah meneguk habis kuah langsung dari mangkuknya.
"Mau nambah lagi?" Tanya Luna.
"Emang boleh? Mau banget!" Jawab Bara dengan penuh semangat dan langsung menyodorkan mangkuk kosongnya kearah Luna.
"Biar kakak aja yang ambilkan." Ujar Ira lalu mengambil mangkuk Bara dan kembali mengisinya hingga penuh.
__ADS_1
"Tante, apa aku juga boleh memanggil tante dengan panggilan mama? Kan aku juga temannya Rival, sama kayak Bara." Jelas Ratu yang spontan membuat Bara dan Rival keselek.
"Kalian menertawakan aku?" Lanjut Ratu kesal karena melihat aksi Rival dan Bara yang saling bertukar pandang.
"Udah-udah! Boleh kok sayang, panggil aja mama." Jelas Luna dengan senyuman manisnya.
"Udah hampir magrib, aku pamit pulang ma, ayo Bar kita bareng!" Ajak Ratu.
"Pulang bareng?" Tanya Bara.
"Iya, soalnya tadi aku kesini naik taxsi, jadi tolong antarkan aku pulang!" Jelas Ratu.
"Kita kan sudah putus." Seru Bara.
"Tapi kita masih bisa sahabatan kan?" Tanya Ratu yang mulai kembali terlihat sedih.
"Gimana kalau mama aja yang ngantar Ratu pulang?" Tawar Luna.
"Mama....!" Ujar Ratu terharu bahkan ia segera bangun dan memeluk tubuh Luna dari belakang karena posisi Luna memang sedang duduk di kursi.
"Biar aku yang nyetir, ayo ma, Ratu!" Ajak Rival yang langsung mengambil kunci mobil dan lekas keluar.
"Iya, sama-sama." Balas Ira.
"Dan kamu, cepat gih habiskan mie mu dan lekas pulang, jangan gangguin kak Ira, jangan buat kak Ira lelah ngurusin kamu. Ayo ma!" Jelas Ratu dan lekas pergi bersama Luna.
"Ciiih!!! Jangan ganggu, kamu tuh yang jangan gangguin istri orang, dasar!" Cetus Bara kesal namun tetap menghabiskan mienya.
"Mulai sekarang kita harus hati-hati." Jelas Ira.
"Kok jadi kita yang hati-hati, emang kita salah apa?" Tanya Bara yang bodoh amat.
"Bukannya di surat perjanjian tertera dengan jelas bahwa tidak ada yang boleh tau tentang pernikahan kita termasuk Ratu dan Gibran. Kamu yang buat sendiri kan poin itu!" Jelas Ira.
"Bodo! Aku nggak peduli lagi!" Cetus Bara dan hendak meninggalkan meja makan.
"Tapi kakak peduli!" Tegas Ira.
__ADS_1
"Apa maksud kak Ira? Apa kak Ira takut kalau semua orang tau bahwa kakak itu istri aku? Apa aku serendah itu sampai-sampai kakak takut orang lain tau tentang hubungan kita?" Tanya Bara lalu kembali menoleh pada Ira.
"Bara, kakak nggak mau hubungan kita di ketahui oleh orang lain, itu bukan karena kamu suami kakak tapi karena kakak istri kamu. Bar, kamu masih SMA, nanti apa kata orang tentang kamu? Kakak nggak mau orang lain berpikir yang tidak-tidak tentang suami kakak karena itu akan berpengaruh pada sekolah kamu, dan juga teman-teman mu yang lainnya, mereka semua pasti akan mencela atau bahkan akan membully kamu dan kakak nggak mau semua itu terjadi, paling tidak kita harus tetap seperti ini hingga kamu lulus, kakak harap kamu paham dengan maksud kakak, kali ini saja, tolong ikuti permintaan kakak!" Jelas Ira dengan berusaha tetap tenang meski sebenarnya dia jelas kecewa dengan penilaian Bara terhadap dirinya.
"Kak...." Ujar Bara dan segera memeluk erat tubuh Ira.
"Kamu nangis?" Tanya Ira saat mendengar isak tangis Bara.
"Terima kasih karena selalu memikirkan yang terbaik untuk aku, love you my sunshine!" Ujar Bara lalu mengecup lama kening Ira.
"Khhmmmmm!" Suara dehem Syakil seakan memecahkan suasana romantis yang baru saja Ira dan Bara bangun.
"Papa..." Ujar Bara yang langsung menjauh dari Ira.
"Kalaupun mau mesra-mesraan lihat-lihat tempat dong, nggak enak kan kalau sampai kepergok Rival." Jelas Syakil dan berlalu begitu saja.
"Iya pa, lain kali aku bakal lebih hati-hati lagi!" Jelas Bara lantang yang bahkan sukses membuat Syakil terkekeh.
"Apaan sih!" Gumam Ira dengan tangan yang mendarat di mulut Bara.
"Loh kok pipi kakak merah gitu, hayyyo!" Goda Bara dengan senyuman mautnya.
"Kayaknya makin ngelunjak aja nih!" Cetus Ira.
"Loh, kenapa emang nggak boleh? Sebenarnya sejak tadi itu aku gerah banget, keringetan, ayo kak kita mandi!" Ajak Bara yang langsung menarik tangan Ira untuk ikut dengannya ke kamar.
"Yang mau mandi tuh kamu kenapa kakak yang diajak, udah sana gih mandi, kakak mau beresin meja makan!" Jelas Ira.
"Kak urus suami itu wajib loh!" Jelas Bara yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Udah mandi sana!" Cetus Ira.
"Mandi bareng!" Ujar Bara.
"Dasar bocah mesum!" Cetus Ira.
"Toh bocah mesum ini suami kakak!" Jelas Bara dan langsung menarik Ira untuk ikut masuk bersamanya.
__ADS_1
🦋🦋🦋🦋🦋