Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Emang Gitu??


__ADS_3

"Aku? Jatuh cinta sama kak Ira? Haissssshhh jangan bercanda, nggak lucu!" Jelas Bara lalu kembali mengecek keadaan jantungnya yang masih saja berdetak cepat.


"Kalau emang kamu rasa nggak, ya udah nggak masalah!" Cetus Ira.


"Menurut kak Ira?" Kini Bara kembali melangkah mendekati Ira yang masih berdiri diposisi semula.


"Iya itu hati kamu, kamu sendiri dong yang pastikan." Jelas Ira yang terlihat gugup saat Bara tepat di hadapannya tanpa berjarak sedikitpun.


"Emang gitu?" Tanya Bara memastikan.


"Hmmmmmm!" Jawab Ira yang terus berusaha mengalihkan wajahnya dari tatapan Bara.


"Kalau emang gitu, biar aku pastikan!" Tegas Bara dan langsung mengecup bibir Ira.


"Aneh! Ada rasa yang hmmmmm, sekali lagi coba!" Ujar Bara setelah sejenak berdiam diri kini kembali mendekat hendak kembali mencium Ira.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Kamu mempermainkan kakak?" Gumam Ira yang langsung mundur menjauh dari jangkauan Bara.


"Tadi kan kak Ira sendiri yang nyuruh aku buat mastiin perasaan aku, ya aku lakukan, terus salah aku dimana?" Keluh Bara yang masih berpikir kalau perbuatannya barusan adalah wajar-wajar saja.


"Lalu?"


"Lalu?"


"Iya, lalu bagaimana? Apa benar kamu jatuh cinta sama kakak?"


"Aku rasa sama sekali tidak."


"Haaaah! Kakak balik ke kantor sekarang, kalau butuh apa-apa telpon aja ke bawah." Jelas Ira yang langsung mengambil tasnya lalu segera pergi.


"Iya, benar, aku jatuh cinta sama kak Ira. Aku rasa aku benar-benar jatuh cinta pada kak Ira, lalu apa yang harus aku lakukan? Jelas aku tidak mungkin memaksa kak Ira untuk jatuh cinta sama bocah seperti aku kan? Lalu aku harus bagaimana sekarang?" Gumam Bara pada dirinya sendiri setelah Ira keluar dari kamar.


Bara masih berdiri dengan kepala yang tertunduk, perasaannya amburadur, ia benar-benar kacau. Perlahan pintu kamar kembali terbuka lebar, suara langkah terdengar semakin mendekati dirinya.


"Jangan lakukan apapun, kamu hanya harus diam, biar kakak yang melakukan semuanya!" Jelas Ira dan langsung memeluk erat tubuh Bara.


"Kak Ira..." Ujar Bara dan langsung membalas pelukan Ira.


"Diamlah, kali ini biar kakak yang melakukan semuanya." Jelas Ira sambil membelai lembut kepala bagian belakang Bara.


"Apa kak Ira mencintai?"


"Lalu? Apa kamu sudah yakin kalau kamu jatuh cinta sama kakak?"


"Belum sepenuhnya, tapi tadi pagi aku dibakar cemburu saat kakak diantar sama Gibran."


"Lalu bagaimana dengan perasaan mu pada Ratu?"


"Sejak dulu aku memang tidak mencintai Ratu, aku sayang sama dia layaknya sahabat nggak lebih, tapi..."


"Tapi...? Apa ada wanita lain selain Ratu?"


"Hmmm, namanya Mai, aku jatuh cinta padanya."


"Mai?"

__ADS_1


"Hmmmm, tapi...?"


"Kenapa?"


"Untuk saat ini aku lebih nyaman sama kak Ira." Tegas Bara lalu melepaskan pelukannya dan perlahan mengecup kening Ira.


"Bara...!" Panggil Siti yang berdiri diambang pintu kamar yang memang terbuka lebar, membuat Siti bisa melihat dengan jelas seisi kamar, pastinya dia juga melihat Bara yang memang masih sedang mengecup lama kening Ira.


"Kayaknya bibi salah waktu deh, kalau gitu bibi kembali ke dapur, kalau butuh sesuatu panggil aja bi Siti." Jelas Siti yang buru-buru menutup pintu kamar dan lekas pergi.


Ekspresi Siti cukup membuat Bara dan Ira tertawa,  apalagi tinggah Siti yang begitu canggung dengan keadaan barusan.


"Mau kakak ambilkan makan?"


"Kak Ira kembali aja ke kantor, aku bisa jagain diri  aku dengan baik kok." Jelas Bara.


"Yakin?"


"Hmmmmm, nanti sore aku jemput kakak."


"Jemput? Kenapa? Kakak bawa mobil sendiri loh!"


"Jangan protes, nanti malam kami manggung di cafe, jadi kakak juga harus ikut. Udah gih sana ngantor, cari uang yang banyak soalnya tahun depan pengeluaran kakak bakal membengkak!"


"Maksudnya?"


"Suami kakak bakal masuk perguruan tinggi, pasti butuh banyak biaya, jadi yang rajin cari uang ya!" Jelas Bara.


"Dasar, kalau ada maunya aja!" Cetus Ira dan lekas pergi, kembali ke kantor.


_______________


"Kamu tau jam berapa sekarang?" Tanya Samudra tepat sesaat setelah Ira masuk ke dalam ruangannya.


Di sofa sana sudah ada Samudra yang duduk dengan melipat kedua tangan dan tatapan sangar yang langsung menyambut kedatangan Ira.


"Maaf karena aku telat!" Ucap Ira lalu perlahan duduk di hadapan Samudra.


"Kamu tau gara-gara kamu ngantor kesiangan kita kehilangan partner baru kita, stasiun tv yang akan berkerja sama dengan kita baru aja membatalkan pertemuannya itu semua karena kamu tidak bisa bekerja dengan baik." Jelas Samudra.


"Apa maksud pak Sam tentang iklan prodak baru kita?" Tanya Ira.


"Syukurlah setidaknya kamu masih ingat." Cetus Samudra.


"Bukannya itu rapat dengan pak Sam? Lalu apa hubungannya dengan saya? Saya bukan sekretaris pribadi pak Sam." Jelas Ira.


"Ira..." Gumam Samudra penuh emosi.


"Apa ucapan saya salah? Saya hanya mengatur jadwal dan ikut rapat bersama dengan pak Bima CEO perusahaan ini, bukan bapak." Jelas Ira.


"Kamu menentang ku? Ira..." Gumam Samudra yang bangun lalu mendekati Ira.


"Ira, kamu...." Ujar Samudra.


"Saya memang telat, saya minta maaf. Tapi rapat bapak batal itu bukan karena saya." Tegas Ira.

__ADS_1


"Apa kali ini juga karena ulah bocah itu?" Tanya Samudra dengan tangan yang mengcengkram kasar lengan kanan Ira.


"Jangan libatkan masalah pribadi dalam pekerjaan. Kalau tidak ada lagi yang ingin pak Sam bahas, saya akan kembali bekerja." Jelas Ira.


"Kamu benar-benar menguji sisi baik ku?" Tanya Samudra.


"Pak Sam tolong jangan seperti ini!" Pinta Ira yang terus berusaha menarik lengannya dari cengkraman Samudra.


Bukannya terlepas justru malah semakin kuat, tatapan Samudra jelas begitu menakutkan, tanpa permisi, dalam sekejap Samudra langsung mengecup pipi Ira, hal tersebut sontak membuat Ira menampar wajah Samudra dalam waktu yang bersamaan pintu ruangan Ira di buka dari luar, dan sosok yang datang serta menyaksikan kejadian tersebut adalah Resi.


Resi segera masuk lalu menarik tubuh Ira agar menjauh dari Samudra.


"Ra, apa yang kamu lakukan?" Tanya Resi panik.


"Re, ayo ke ruangan mu!" Tegas Ira yang langsung menyeret Resi keluar dari ruangan tersebut.


"Sam, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bertindak bodoh seperti tadi? Dasar payah!" Gumam Samudra memaki dirinya sendiri yang ntah kenapa setelah menyaksikan kejadian tempo hari di halaman belakang rumah kini ia semakin tidak bisa mengendalikan emosinya setiap kali melihat Ira ataupun Bara.


Sesampai di ruangan Resi, Ira segera mengambil  segelas air minum lalu meneguk ya hingga habis, sejenak menarik nafas pelan, mencoba untuk menenangkan dirinya lalu duduk di sofa dengan diikuti oleh Resi.


"Apa yang pak Sam lakukan?"


"Dia mencium ku!"


"Apa? Jadi benar kalau dia itu suka sama kamu? Gila, kalau memang suka kenapa menolak perjodohan kalian. Giliran sudah menjadi milik Bara eh malah ingin merebutnya, apa dia physkopat?" Gumam Resi yang juga mulai emosi setelah mendengar penjelasan Ira.


"Aku juga nggak ngerti!'


"Terus? Apa kamu mencintai pak Sam? Lalu bagaimana dengan Bara?"


"Aku tidak mencintainya!"


"Siapa? Pak Sam atau Bara? Atau justru keduanya?"


"Kamu sendiri taukan, siapa cowok yang sangat aku cintai?"


"Hmmmm, aku tau, aku tau kamu sangat mencintai cowok pujaan hati mu itu, sampai-sampai kamu rela melakukan apapun untuk dirinya."


"Hmmmm apapun." Ujar Ira.


"Pak Sam dan Juga Bara, ntah lah! Aku pusing jika memikirkan mereka." Ujar Resi.


"Kenapa kamu harus memikirkan mereka?" Tanya Ira.


"Iya juga ya? Mending mikirin gimana caranya mendapatkan cinta ayang ValVal!" Ujar Resi yang seketika semangatnya langsung full dan senyumnya mereka sempurna jika sudah membahas hal yang berhubungan dengan Rival.


"Dasar mak lampir!" Cetus Ira sambil bangun dari sofa.


"Mau kemana?"


"Balik kerja, bye!" Jelas Ira dan segera kembali ke ruangannya.


"Ira, Ira, beruntung banget cinta pertama mu itu, hingga belasan tahun kamu masih saja betah mencintainya, bahkan cinta mu semakin membesar untuknya. Harusnya aku bangga punya teman seperti mu, sekali jatuh cinta akan terus cinta sampai mati. Tapi di lain sisi aku justru kasian dengan cinta sepihak mu itu. Semoga secepatnya kamu bisa bahagia Ra." Ungkap Resi dengan penuh ketulusan.


🦋🦋🦋🦋🦋

__ADS_1


__ADS_2