Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Keputusan Gibran.


__ADS_3

"Sial!" Teriak Vino penuh amarah ia bahkan membanting ponsel yang ada di tangannya.


Sejak setelah dia membaca berita hari ini, dia benar-benar begitu emosi, marah dan bahkan semua barang-barang yang ada didekatnya semuanya telah rata dilantai, yah dia membanting semuanya.


Kini Vino terlihat duduk di atas sofa dengan kapala tertunduk, kedua tangan yang menggepal, otak yang tidak lagi bisa berpikir jernih, ia telah dikuasai oleh amarah yang membuncah.


"Sial, padahal aku ingin menghancurkan Ira, agar dia kembali pada ku, tapi kenapa melah jadi begini? Hasssssh! Jadi selama ini dia justru menikah dengan bocah aaaahhhh! Aku yang salah mengira, aku pikir dia menjadi istri simpanannya tuan Bima taunya malah jadi menantunya! Sial. Sekarang apa yang harus aku lakukan, bagaimana caranya merebut dia kembali, hassss!" Gumam Vino yang jelas begitu kesal dengan berita yang memenuhi meda sosial saat ini.


Sejenak bangun, lalu berjalan kearah utara lalu kembali kearah selatan begitu terus hingga beberapa saat lamanya, kaki Vino terhenti sejenak, saat sesuatu melintas di pikirannya.


"Aku harus merebut Ira kembali, jika tidak maka aku akan kehilangan ATM berajalan, tidak akan ada lagi yang menanggung biaya hidup ku, tidak, tidak, aku harus mengambilnya kembali jika tidak maka aku akan miskin, dan aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi, aku harus kembali menjadi kekasih Ira dengan begitu aku bisa memorotinya." Jelas Vino yang mencoba untuk tenang.


"Lihat aja, Ira aku akan segera membawa mu kembali pada ku!" Tegas hati Vino dan lekas pergi begitu sana.


__________


"Jadi semua berita itu benar adanya? Kamu benar-benar sudah menikah dengan kak Ira?" Tanya Ratu kembali memastikan untuk ke yang sekian kalinya.


Bara dan Ratu masih berada diatap sekolah, keduanya mesih berdiri berhadapan dengan sedikit dipisahkan oleh jarak.


"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Tanya Ratu dengan kedua tangan yang langsung menutup wajahnya dan dalam waktu yang bersamaan pula kini tubuhnya malah duduk berjongkok dihadapan Bara.


"Ratu, apa yang kamu lakukan?" Tanya Bara panik ia bahkan langsung mendekati Ratu.


Perlahan tangan Bara mulai mencoba menyentuh rambut Ratu, lalu mencoba menyentuh tangan Ratu lalu perlahan menarik tangan Ratu yang menutupi seluruh wajahnya.

__ADS_1


"Ratu, jangan begini? Aku jadi serba salah? Lihat aku, jangan seperti ini." Pinta Bara yang terus berusaha melihat wajah Ratu.


"Ini semua salah kamu!" Tuduh Ratu dengan tangan yang bahkan langsung meninju bahu Bara.


"Maafkan aku!" Pinta Bara dengan tatapan yang begitu penuh rasa bersalah.


"Aku harus bagaimana jika bertemu dengan kak Ira? Aku harus gimana?" Tanya Ratu dengan nada suara yang cukup membuat Bara terhentak kaget.


"Kenapa? Kamu tidak akan melabrak kak Ira kan?" Tanya Bara memastikan.


"Dasar bodoh! Bagaimana bisa mantan pacar melabrak istri sah!" Tegas Ratu.


"Lalu? Apa yang akan kamu lakukan pada kak Ira? Ratu aku mohon jangan gila, kamu sahabat aku dan yang lebih penting kak Ira adalah istri aku sekaligus kakaknya Rival." Jelas Bara.


"Benar-benar nih otak!" Gumam Ratu kesal kali ini kepala Bara yang jadi sasaran tangannya Ratu.


"Jadi itu yang kamu takutkan?" Tanya Bara lega, dia bahkan tidak pernah kepikiran kalau Ratu akan mengatakan hal yang seperti demikian, karena Bara mengira kalau Ratu akan mengamuk lalu melabrak Ira.


"Ya iyalah! Aku benar-benar tidak punya muka untuk menemui kak Ira. Dia adalah wanita baik-baik, hatinya bak malaikat, dia bahkan tersenyum saat aku bercerita tentang hubungan aku dan kamu, dia memberi aku nesehat, dan waktu itu dia juga pernah menolong ku!" Jelas Ratu.


"Apa menurutmu dia sebaik itu?" Tanya Bara.


"Hmmmm, jika saja wanita yang kamu nikahi bukan kak Ira mungkin aku akan mendatanginya, menghinanya atau bahkan memukulinya, tapi semua perasaan itu hilang seketika saat aku tau bahwa kak Ira orangnya. Dan tolong kamu ingat ini baik-baik, sedikit aja kamu buat kak Ira menangis maka aku yang akan membunuh mu! Ingat itu." Jelas Ratu.


"Hmmmmm, terima kasih sudah menjadi sahabat terbaik ku!" Ucap Bara lalu memeluk Ratu.

__ADS_1


"Hmmmmm, kamu sahabat terbaik ku." Jelas Ratu lalu mendekap erat tubuh Bara yang sedang memeluknya.


"Oh ya, tadi kami bilang kak Ira pernah menolong mu? Kapan?" Tanya Bara saat keduanya mulai menuruni tangga.


"Kepo benar! Rahasia, aku duluan sampai jumpa di kelas." Jelas Ratu dan seketika langsung berlari menuruni tangga meninggalkan Bara dengan rasa penasarannya.


Bara terus menuruni tangga dengan otak yang berusaha menerka sebenarnya ada hubungan apa antara Ratu dan Ira, kenapa Ratu bisa begitu sayang dan perhatian pada Ira, karena setau dirinya Ira dan Ratu tidak pernah kenal dekat. Bara terus melangkah menelusuri lorong menuju ruang kelasnya. Langkahnya terhenti saat Gibran berdiri tepat dihadapannya dan itu terjadi hanya beberapa langkah dari pintu ruang kelas mereka. Gibran melangkah mendekati Bara dengan tatapan yang begitu mengintimidasi, Gibran bahkan berjalan memutar mengililingi Bara yang masih berdiri tegak dengan nafas yang ia coba netralkan sealami mungkin karena dia benar-benar dibuat bingung, resah dan juga panik dengan perlakuan Gibran terhadapnya.


"Aku, haissssshhh! Aku ingin sekali memukul mu hingga babak belur!" Cetus Gibran sinis.


"Gibran...." Ujar Bara pelan.


"Diam! Kamu merahasiakan hal yang begitu penting dari aku! Kamu tidak menganggap aku sebagai sahabat mu? Apa aku ini orang asing bagi mu?" Tanya Gibran kini dengan ucapan yang penuh dengan penekanan pada setiap kata yang dia ucapkan.


"Gibran...." Ujar Rival yang baru saja keluar dari ruang kelas lalu perlahan menghampiri kedua sahabatnya yang sedang di selubungi hawa dingin mencengkam.


"Kamu juga diam! Kamu juga sama saja. Dasar, persahabatan kita sejak awal memang gila, semuanya dipenuhi oleh orang-orang yang tidak waras, aku yang salah, memang aku yang tidak seharusnya berada dalam persahabat ini. Kalian memang lebih cocok berdua, tanpa ada aku, orang asing yang justru menjadi beban untuk kalian berdua." Jelas Gibran dan lekas pergi.


"Gibran! Dengar dulu penjelasan ku." Pinta Bara.


"Aku nggak butuh penjelasan apapun!" Tegas Gibran dengan mata yang sudah memerah sempurna.


"Setiap sesuatu hal yang kita lakukan pasti ada alasannya masing-masing. Jadi, coba kamu dengarkan dulu alasan kami melakukan semua ini! Jangan menghakimi sesuka hati mu, kamu kira kami senang melakukan semua ini, kami juga sesak, kami benci dengan keadaan ini!" Jelas Rival yang mulai terbawa emosi.


"Fine, sebaiknya memang lebih baik kita bubar saja, group band, tim bola dan persahabatan kini, aku mundur!" Jelas Gibran dan langsung masuk ke dalam kelas meninggalkan Bara san Rival dengan persaan kelut mereka, bak petir datang menyambar, keputusan Gibran membuat Rival dan Bara memang dengan air mata yang perlahan jatuh tanpa diminta.

__ADS_1


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2