Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Masa Lalu Dewi.


__ADS_3

"Baiklah, akan papa ceritakan semuanya, saat itu usia pernikahan papa dan bunda kalian sudah menginjak usia enam tahun, namun kami belum juga mendapatkan keturunan sedangkan sahabat papa yang tak lain adalah papanya Ira justru sudah memiliki putri yang begitu cantik yaitu Ira, meski Syakil harus kehilangan wanita yang begitu ia cintai. Lalu pada suatu hari............" Bima mulai bercerita.


"Biar bunda yang ceritakan pa! Bunda tidak ingin menyimpan rahasia ini seorang diri lagi, karena bunda rasa sudah waktunya kalian semua tau semuanya tanpa tersisa satu pun." Jelas Dewi.


"Apa maksud dari ucapan bunda?" Tanya Bima.


"Maafkan bunda, pa. Maaf karena tidak jujur sejak awal sama papa." Jelas Dewi.


"Tentang apa ini? Bukannya kita berdua sama-sama tau kalau Sam, memang kita adopsi, tapi meskipun demikian, percayalah Sam, papa dan bunda sangat menyayangi mu." Jelas Bima.


"Tidak pa, bukan begitu ceritanya." Sanggah Dewi.


"Apa maksud bunda? Lalu siapa aku sebenarnya? Bukankah kalian mengambilku dari panti asuhan? Atau mungkin aku adalah anak yang kalian pungut dari jalanan?" Tanya Samudra yang mulai tidak bisa mengendalikan perasaannya.


"Tuan muda Sam, bukan begitu ceritanya." Tegas Siti yang memang sejak awal tau semua cerita tentang Samudra karena Dewi kerap kali curhat tentang dirinya pada Siti.


"Siti, sebenarnya apa yang tidak aku tau?" Tanya Bima yang kini beralih menatap kearah Siti.


"Tuan sebenarnya...." Ujar Siti tertahan.


"Biar aku yang cerita mas!" Ujar Dewi dengan menatap dalam bola mata Bima.


"Baiklah, bicaralah!" Pinta Bima yang kini beralih menatap sang istri.


"Waktu itu, 18 tahun yang lalu....." Dewi mulai bercerita.


18 Tahun yang Lalu


"Mau kemana sayang?" Tanya Bima saat Dewi terlihat buru-buru masuk kedalam mobilnya.


"Sayang, aku harus pergi sebentar, nggak akan lama, assalamualaikum." Jelas Dewi yang bahkan langsung menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Dewi terus menulusuri setiap jalan menuju lokasi yang baru saja ia dapatkan dari salah satu sahabat SMA nya dulu. Keduanya sepakat untuk bertemu disebuah taman kota yang jelas begitu ramai pengunjung saat itu. Setiba disana, Dewi langsung keluar dari mobilnya lalu mencari sosok sang sahabat yang katanya sudah sejak dari satu jam yang lalu menunggu kedatangannya. Dewi berlari-lari kecil mencari kesana-kemari hingga akhirnya langkah Dewi terhenti saat matanya menatap sosok sang sahabat yang ternyata sedang duduk dibangku tepatnya dibawah pohon yang agak rindang.


"Maaf, karena membuat mu menunggu lama!" Pinta Dewi dengn senyuman lalu perlahan berjalan menghampiri sang sahabat dan duduk di sampingnya.


"Hmmmm, nggak masalah. Kamu mau datang aja aku udah terima kasih banget. Dewi, kamu ingatkan tempat ini?" Jelas Sari yang tak lain adalah sahabat dekatnya Dewi yang sudah berpisah lama semenjak keduanya lulus SMA dulu.


"Hmmm, jelas dong aku ingat banget, dulu sehabis pulang sekolah kita sering banget main ke sini." Jelas Dewi.


"Gimana kabar mu? Dan juga Suami mu?" Tanya Sari.


"Aku baik, dan Bima juga baik. Suami mu? Dia juga sahabat mu kali, sejak dulu kan kita emang sahabatan." Jelas Dewi.


"Hmmmm. Dewi, aku senang kamu hidup bahagia dengan Bima, lalu kalian sudah memiliki berapa anak? Dua? Tiga? Atau bahkan sudah selusin?" Tanya Sari.


Mendapat pertanyaan tentang anak seketika membuat raut wajah Dewi murung dan sedih, ia mencoba untuk menahan diri agar terlihat baik-baik saja.


"Dewi, kamu baik-baik saja? Apa aku salah ngomong? Kenapa tiba-tiba diam?" Tanya Sari yang paham dengn perubahan raut wajah Dewi.


"Belum...." Jawab Sari.


"Mama.....!" Panggil seorang bocah yang terlihat berlari menghampiri Sari dengn tangan kanan yang menggenggam es cream.


"Sayang, ayo sini, kenalkan ini sahabat mama, namanya tante Dewi." Jelas Sari sambil mengelus lembut rambut sang putra.


"Putra mu? Bukannya tadi kamu bilang kalau kamu belum menikah? Lalu?" Jelas Dewi kebingungan.


"Hmmmm, dia putra ku, namanya Samudra." Jelas Sari.


"Hai sayang!" Sapa Dewi yang langsung menyentuh pipi tembem milik Samudra hingga membuat sang empunya tertawa girang.


"Wi, aku ingin minta tolong sama kamu. Selama ini aku tidak ingin mengusik rumah tangga mu dan juga Bima, aku sudah cukup bahagia melihat kalian berdua bahagia, namun kenyataannya aku terpaksa harus kembali datang di dalam cerita kalian berdua." Jelas Sari dengan air mata yang lolos dari ujung mata indahnya.

__ADS_1


"Sari, apa maksud mu? Aku sama sekali tidak masalah dengan kehadiran kamu. Kita kan sahabat." Jelas Dewi.


"Ada hal yang tidak pernah aku ungkapkan pada kamu dan juga Bima bahkan Syakil pun tidak tau." Jelas Sari.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan Sari? Jangan buat aku menerka dalam pikiran negatif ku!" Pinta Dewi yang mulai tidak bisa lagi tenang.


"Sejak kita kelas satu dulu, sejak pertama kita bertemu, aku sudah jatuh cinta pada Bima. Maafkan aku karena tidak bisa menahan perasaan ku ini. Dewi, aku mengidap kanker otak, dan hidup aku sudah tidak lama lagi, jadi sebelum aku pergi aku ingin mengembalikan putra suami mu. Hmmmm, iya, Sam adalah anak Bima." Jelas Sari.


Penjelasan Sari seketika membuat detak jantung Dewi seakan terhendi, semuanya terasa gelap dan hampa, ia bahkan tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya air mata yang terjatuh tanpa bisa tertahankan lagi, pandangan Dewi buram, seakan semuanya sirna sudah, tidak ada lagi rasa yang bisa ia katakan.


"Maafkan aku Dewi, tolong maafkan aku!" Pinta Sari yang bahkan langsung berlutut di kaki Dewi.


"Mama....!" Tangis Samudra yang langsung memeluk erat tubuh Sari.


"Kamu boleh membenci ku, dan juga boleh menncaci aku, tapi aku mohon, tolong bawa Sam bersama mu, aku mohon Dewi, kasihani anak ku, dia tidak punya siapapun selain papanya saat ini, tolong, aku mohon Dewi, tolong bawa anak ku bersama mu." Pinta Sari.


Dewi bangun dari duduknya, ia langsung pergi tanpa jawaban apapun, Ia terus melangkah meninggalkan Sari dan putranya begitu saja.


Sari masih saja menangis dengan terus menggenggam erat tangan mungil sang buah hati.


"Mama......ma ...mama...." Tangis Samudra kecil pecah saat tubuh Sari ambruk keatas rerumputan.


Tangisan Samudra membuat langkah Dewi terhenti, perlahan ia mencoba untuk menoleh kebelakang, saat ia melihat Sari yang sudah terbaring serta Samudra yang terus menangis membuat Dewi segera berlari mendatangi keduanya, tangan Dewi segera membawa kepala Sari kedalam pangkuannya, ia terus berusaha menyadarkan Sari, hingga para pengunjung taman lainnya ikut berkumpul ke tempat dimana Dewi dan Sari berada.


"Sari bangun, aku bilang bangun, putra kamu masih kecil, dia butuh kamu." Gumam Dewi disela isak tangisnya.


Namun sekeras apapun Dewi berusaha tetap saja tidak ada reaksi apa-apa hingga ambulance pun datang karena memang ada pengunjung yang langsung menghubunginya.


Setelah tubuh Sari dibawa ke dalam ambulance, Dewi juga ikut dengan membawa serta Samudra di dalam gendongannya.


...🦋🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


__ADS_2