Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Kiss.


__ADS_3

Setelah seharian penuh  berkutat dengan menemui beberapa investor, lalu rapat dengan semua ketua bidang di kantor, cukup membuat Ira begitu kewalahan dengan jadwal kerjanya hari ini yang memang begitu mengurus tenaga. Hingga malam hari ia masih saja sibuk menyiapkan beberapa berkas untuk rapat ulang besok pagi khusus dengan bidang promosi. Rambut yang dikuncir di tengah kepala, dengan kaos berlengan pendek terlihat begitu fokus pada layar laptopnya dengan tangan yang sesekali membenarkan letak kaca matanya.


Keadaan meja yang di penuhi dengan kertas, pensil, pulpen dan juga buku cacatan, sesekali ia terlihat membolak-balik buku cacatan hitam miliknya. Pintu kamar yang di buka dari luar sama sekali tidak mengusik fokus Ira, ia bahkan sama sekali tidak menyadari dengan suara langkah yang terus menghampiri dirinya.


"Ira....!" Panggil Samudra saat ia berada tepat di belakang kursi kerja Ira.


"Sam!" Seru Ira kaget dan segera bergegas mengambil kerudungnya yang tergeletak diatas tempat tidur sana.


"Ada apa? Kenapa tidak ketuk pintu?" Tanya Ira setelah mengenakan kerudung acak-acakan.


"Aku udah mengetuk pintu hingga beberapa kali, tapi nggak ada jawabannya sama sekali, sorry!" Ujar Samudra.


"Ya kan, ada apa?" Tanya Ira yang malas memperpanjang masalah meski sebenarnya dia marah karena Samudra masuk tanpa izin terlebih saat itu keadaannya tanpa menutup aurat.


"Aahhh, file yang tadi kamu kirimkan untuk aku, tolong kirimkan ulang!" Jelas Samudra.


"Cumam itu? Kenapa tidak telpon aja?"


"Kenapa? Apa sekarang aku tidak lagi bisa bertemu sama kamu?"


"Bukan begitu, hanya saja aku tidak mau orang rumah salah paham dengan kita berdua."


"Aku tidak peduli!"


"Tapi aku peduli, karena orang lain pasti akan berpikir kalau akulah yang salah." Tegas Ira yang mulai emosi.


"Pernahkah kamu mencintai aku?"


"Sam...."


"Jawab!" Desak Samudra bahkan dengan tangan yang langsung mencengkram lengan Ira.


"Aku sudah mengirimkan filenya!" Tegas Ira setelah melepaskan tangannya dari cengkeraman Samudra dan segera mengirim file tersebut.


"Haisssh!!!" Gumam Samudra kesal dan lekas keluar dari kamar tersebut.


Setelah pintu kamar kembali tertutup, Ira kembali duduk di kursi kerjanya.


"Au ah! Aaahhhh!" Gumam Ira kesal.


Tangan Ira hendak kembali melepaskan kerudungnya namun segera ia hentikan saat ia mendengar suara pintu yang kembali di buka dari luar.


"Ada apa lag...?" Pertanyaan Ira langsung terhenti saat ia menyadari bahwa sosok yang muncul dari balik pintu adalah Bara yang lengkap dengan seragam olah raganya.


Pertanyaan Ira yang menggunakan suara lantang cukup membuat langkah Bara terhenti bahkan bola kaki yang ada di tangannya pun ikut terjatuh begitu saja dari genggamannya.


"Haaaaah! Ternyata kakak juga bisa berubah menjadi  harimau!" Ujar Bara dengan tatapan yang masih tercengang.


"Apa aku salah? Kenapa meneriaki aku?" Bara kembali bertanya sembari mengambil bola miliknya yang bergelinding di lantai.


Bara berjalan lalu menyimpan bola ke dalam keranjang, menggantung tas di tempatnya lalu mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi.


"Huffff hampir aja! Untung tanduknya nggak keluar! Lagi pula, dia latihan berepa lama sih? Kenapa malam gini baru pulang?" Ujar Ira sambil mengelus dadanya dan kembali fukos pada pekerjaannya.

__ADS_1


Dua puluh menit berlalu, kini Bara yang sudah lengkap dengan kaos tanpa lengan serta celana pendek berwarna hitam perlahan kembali mendekati Ira yang masih berkutat dengan laptopnya.


"Sebenarnya kakak ini sekretaris pribadi CEO atau kuli sih? Kerjaan penuh meja gini? Apa kak Ira nggak capek, di kantor kerja sampe malam di rumah masih juga kerja!" Jelas Bara sambil menyentuh beberapa kertas secera bergantian.


"Kamu pikir kakak robot? Kalau di bilang capek ya pasti capek, tapi mau gimana lagi, ini kan emang tanggung jawab kakak sebagai pegawai." Jelas Ira.


"Ciiih pegawai atau tukang?" Cetus Bara yang kini beralih menyentuh buku cacatan Ira.


"Stop! Jangan sentuh apapun lagi, awas, minggir jangan ganggu kakak!" Tegas Ira yang langsung menepis tangan Bara dari bukunya.


"Waaah! Dasar maniak kerja!" Cetus Bara yang kini beralih ke tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur.


"Kak...!" Panggil Bara dengan mata yang terus menatap langit-langit kamar.


"Apa?" Tanya Ira kesal.


"Boleh minta kiss?" Tanya Bara spontan.


Ucapan Bara sontak membuat Ira tercengang, tubuhnya bahkan mematung sempurna dengan pikiran yang berterbangan entah kemana, lama keduanya terdiam membisu, hingga membuat Bara kembali mengajukan pertanyaannya.


"Kak Ira, kenapa diam aja? Jawab dong!" Cetus Bara.


(Apa otaknya bermasalah? Atau mungkin geger otak? Aaaa kesurupan kayaknya, tapi....haisss bisa gila aku lama-lama, kenapa pakek acara minta sih, kenapa nggak langsung nyosor aja! Aku harus jawab apa coba? Di tolak suami, mau di jawab iya bakal di sangka gampangan atau bahkan dianggap mesum, huffff gimana nih, au aaahhh) Gumam hati Ira yang terus berembuk dengan akal sehatnya.


Perlahan Ira bangun dari tempat duduknya lalu perlahan mendekati Bara yang berada di atas kasur, pelan-pelan Ira duduk di samping Bara.


"Bar..." Ujar Ira pelan bahkan tanpa menoleh pada Bara sedikitpun.


"Mana?" Tanya Bara yang langsung ikut bangun dan duduk.


"Jadi boleh langsung ngambil nih?"


"Hmmmm!" Ujar Ira dengan langsung menatap kearah Bara.


Sedangkan Bara seketika langsung bangun lalu bergegas ke meja kerjanya Ira dan langsung mengambil toples yang berisikan permen kiss tersebut.


"Makasih!" Seru Bara yang kembali ke tempat tidur dengan membawa serta toples permen kiss bersamanya.


"Haaaaahhhh!" Ujar Ira dengan mata terbelalak setelah paham dengan apa maksud Bara yang sebenarnya.


(Kurang ajar nih bocah! Dia sengaja ngerjain aku atau gimana sih? Orang udah panas dingin eh dianya malah, huffff ingin rasanya aku jambak tuh rambut) Gumam hati Ira yang benar-benar begitu kesal dengan sikap Bara kali ini.


"Kenapa masih di sini? Apa kerjaannya udah selesai?"


"Ciiiih!" Desis Ira dan hendak beranjak dari tempat tidur.


Tiba-tiba, tangan Bara menarik ujung kaos milik Ira, lalu perlahan memeluknya, Bara yang memang dalam posisi masih duduk di sudut kasur langsung membenamkan wajahnya di perut rata Ira, karena saat Bara memeluknya, posisi Ira sedang berdiri tegap tepat di hadapan Bara.


"Hari ini benar-benar melelahkan!" Ujar Bara pelan.


"Bara..."


"Hmmm, baiklah, kak Ira mau kembali kerja kan." Ujar Bara setelah melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ira saat tanpa sengaja menatap mata Bara yang terlihat memerah.


"Hmmmmmm!"


Tangan Ira langsung menyentuh wajah Bara yang terlihat sedikit pucat.


"Kamu demam?" Tanya Ira yang mulai khawatir.


"Aku okay kak, lanjutin aja kerja kakak!"


"Okay kata mu? Tubuh kamu panas banget, dan wajah kamu juga pucat. Ayo berbaring, akan kakak ambilkan obat penurun panas." Jelas Ira yang langsung membantu Bara untuk berbaring.


Setelah membaringkan tubuh Bara dan menyelimutinya, Ira bergegas mengambilkan obat, hanya butuh waktu beberapa menit kini Ira kembali dengan obat dan air minum di tangannya.


Perlahan Ira membantu  Bara untuk duduk lalu memberikannya obat dan kembali membaringkannya, Ira keluar dari kamar dan kembali lagi dengan sebuah baskom yang terisi air dingin di tangannya. Dengan telaten ia mengompres kening Bara dengan terus mengganti handuk setiap beberapa menit sekali.


"Kak..." Ujar Bara pelan dengan mencoba membuka matanya.


"Hmmm, apa kamu butuh sesuatu?" Tanya Ira.


"Berhenti melakukannya, apa kakak ingin membuat kening ku membeku?" Ujar Bara sambil menahan tangan Ira yang hendak kembali meletakkan handuk di keningnya.


"Apa iya panasnya udah turun?" Tanya Ira memastikan.


"Hmmmmm, sekarang kembali lah kerja, aku baik-baik aja!" Jelas Bara.


"Kerjaan kakak udah selesai."


"Kalau gitu, hmmmmm!"


"Ada apa? Katakan lah, akan kakak ambilkan, kamu mau apa?"


"Berbaringlah di sini!" Pinta Bara sambil menyentuh kasur disampingnya.


"Bara..."


"Setiap kali sakit, aku pasti akan bermimpi buruk, jadi..."


"Iya, baiklah!" Ujar Ira nurut dan langsung berbaring disamping tubuh Bara.


"Kak..."


"Tidurlah! Jangan bicara yang tidak-tidak!"


"Hmmmm!" Ujar Bara yang tiba-tiba langsung berbalik menghadap Ira dan seketika menempelkan wajahnya di pundak milik Ira.


"Bara..." Ujar Ira pelan.


"Sebentar aja, please!" Ujar Bara pelan dan langsung terlelap begitu saja, seolah dia telah menemukan tempat ternyaman untuk bersandar.


Setelah memastikan bahwa Bara benar-benar telah terlelap, perlahan Ira memberanikan diri untuk mengusap lembut rambut Bara, dan menatap wajahnya dalam-dalam.


"Semuanya akan baik-baik saja, tetaplah kuat, kakak akan terus berdiri di samping mu, Bar...." Ujar Ira pelan lalu ikut memejamkan matanya.

__ADS_1


🦋🦋🦋🦋🦋


__ADS_2