Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Tempat Ternyaman.


__ADS_3

"Ra, kenapa? Dimananya yang sakit?" Tanya Bara panik dan langsung memeriksa seluruh anggota tubuh Ira.


"Awwwww!" Seru Ira dengan mata yang terus memperhatikan raut wajah Bara yang terlihat jelas begitu panik.


Perlahan tangan Ira menyentuh tangan Bara yang terlihat sibuk mencari asal rasa sakit yang Ira keluhkan.


"Dimana yang sakit? Ra...!" Ujar Bara yang terlihat begitu panik dan gelisah.


'Cup' tanpa aba-aba Ira mendaratkan kecupannya dikening Bara membuat mata Bara membulat seketika.


"Ira...!" Ujar Bara dengan mata yang terus memperhatikan Ira dengan tatapan yang begitu dalam.


"Terima kasih sudah begitu peduli dan mencintai aku selama ini. Dan juga terima kasih karena menerima aku sebagai istri mu." Ujar Ira yang langsung mendekap erat tubuh Bara.


"Kenapa ceritanya jadi melow gini? aku sama sekali nggak suka dengan alur cerita yang sedih, aku suka yang romantis." Jelas Bara lalu mengecup lembut pucuk kepala Ira dengan penuh kasih sayang.


"Setelah pengumuman minggu depan, ayo kita liburan berdua, cuma kita berdua aja, bisa?"


"Nggak, aku sibuk, nggak ada waktu buat liburan mulu, lagi pula ini kan kita lagi liburan, buat apa liburan lagi coba? jatuhnya jadi boros kan?"


"Boros? nggak ada waktu? sibuk? okay, nggak masalah, selamat malam!" Gumam Ira bahkan dengan nada bicara yang terdengar jelas penuh emosi.


Ira langsung membaringkan tubuhnya lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya tanpa lagi peduli pada Bara yang sejak tadi hanya menatapnya dengan penuh rasa heran. Bara tidak ingin memperkeruh keadaan, tidak ada inisiatif sedikit pun untuk membujuk sang istri, ia justru ikut berbaring bahkan membalas perlakuan Ira yang tidur dengan membelakanginya, hingga pada akhirnya mereka tidur dengan saling membelakangi satu sama lain.


(Apa? dia bahkan tidak mencoba untuk membujuk ku sama sekali, apa dia mulai bosan? atau mungkin sudah ada yang lain dihatinya? apa karena aku sedang hamil, makanya dia bosan sama aku? aku harus bagaimana? apa aku yang harus minta maaf? tapi? kan dia yang salah kalau justru aku yang minta maaf dia bakal semakin ngelunjak nantinya, terus aku bakal di cap bucin akut. Nggak, ini nggak bisa dibiarkan, aku harus melakukan sesuatu) Gumam hati Ira yang terus berperang dengan akal sehatnya.


Perlahan Ira mencoba mengintip apa yang sedang Bara lakukan, namun setelah berhasil melihat posisi Bara yang justru masih begitu betah membelakangi dirinya membuat Ira langsung berbalik dan disaat yang bersamaan pula Bara menghadap kearah Ira.


"Apa?" Tanya Bara dengan memainkan alisnya.


"Aku, hmmm, sudahlah! selamat malam." Ujar Ira dengan suara yang begitu pelan lalu memejamkan matanya.


Bara sedikit bergeser lalu mencoba memeluk sang istri, karena tidak mendapat perlawanan, akhirnya Bara semakin mengeratkan pelukannya, tangan kanan yang perlahan membelai rambut Ira.


"Apa yang sedang kamu pikirkan tentang aku? pasti barusan kamu menyumpahi aku habis-habisan kan?" Tanya Bara.


"Ya itu karen...." Protes Ira seketika terhenti saat matanya bertemu dengan tatapan nan teduh milik Bara yang terus menatap wajahnya.

__ADS_1


"Banyak hal yang harus aku urus, untuk beberapa minggu ke depan, aku benar-benar begitu sibuk, lain kali, lain kali aku pastikan kalau kita bakal liburan berdua, hanya berdua." Jelas Bara.


"Apa ini tentang pendidikan?"


"Hmmmmm, aku dan Rival juga Gibran akan mendaftar di kampus yang sama, aku harap kamu bisa memahami ku, please!"


"Hmmmmm, aku paham, tapi tolong jangan seperti barusan!"


"Seperti barusan?"


"Hmmmm, menjawab pertanyaan ku dengan begitu cuek dan kasar."


"Sorry!"


"Hmmmm, tidurlah..." Ujar Ira dengan memamerkan senyuman manisnya.


"Selamat malam istriku tersayang." Ucap Bara lalu mengeratkan pelukannya.


_________


"Pelan-pelan!" Pinta Rival sambil terus berusaha menyeimbangi langkahnya dengan Resi yang berjalan dengan lincah menelusuri kebun Stroberry.


"Jadi cowok itu harus tahan banting, masak iya kalah sama cewek, cuma dingin doang loh!" Cetus Resi yang terus saja berjalan membuat Rival mau tidak mau kembali mempercepat gerak langkahnya untuk bisa berjalan beriringan dengan sang kekasih.


"Benar-benar persis seperti kakak, tahan banting dalam segala situasi." Jelas Rival yang kini berjalan disamping kanan Resi.


"Harus dong, kalau bukan diri sendiri harus bergantung sama siapa lagi coba, dunia kerja itu nggak seindah bangku sekolah, mental harus sekuat baja, tenaga harus full dan harus siap bertempur dengan segala siatuasi. Val, aku harus mandiri, kalau tidak siapa yang akan memeluk luka ku ini? siapa yang akan menyemangati saat rasa lelah memberontak ingin berhenti? aku dan Ira bukan tidak ingin bermanja, hanya saja kami belum mendapatkan tempat yang tepat untuk memperlihatkan sisi lemah kami." Jelas Resi dengan mata yang terus menatap kearah depan tanpa sedikitpun menoleh pada Rival.


"Tapi sekarang kalian sudah memiliki tempat yang tepat bukan? Kakak sudah punya Bara, dan kak Re juga sudah punya aku." Jelas Rival dengan perlahan mengenggam tangan Resi.


"Apa boleh?"


"Tentu saja boleh, kak Re nggak harus menunjukkan sisi tangguh kak Re sama aku, karena aku mencintai kak Re dalam versi apapun itu." Jelas Rival yang kali ini justru menatap dalam bola mata Resi yang mulai berkaca-kaca.


"Apa tidak sebaiknya setelah pengumuman ujian kita langsung nikah terus?"


"Kak Re..."

__ADS_1


"Aku serius! Sepertinya aku tidak punya kesabaran untuk menunggu terlalu lama, ayo nikah sebelum aku khilaf." Jelas Resi.


"Waaah, huffff!" Ujar Rival yang langsung salah tingkah ia bahkan langsung memalingkan wajahnya kearah lain dan sedikit bergeser menjauh dari Resi.


"Val, Rival..." Ujar Resi yang justru semakin bersemangat menggoda Rival.


Resi bahkan beralih berdiri tepat dihadapan Rival, meski Rival terus mencoba menghindar namun seribu cara Resi lakukan agar tetap bisa melihat wajah Rival yang telah memerah sempurna.


"Jangan bilang kalau kamu salting? Heiiii baru juga aku goda sedikit langsung merona parah gimana kalau aku sudah beraksi, waaah!" Jelas Resi blak-blakan.


"Kak Re apaan sih! Ayo kembali ke villa." Ajak Rival yang hendak beranjak dari sana.


Namun sebelum langkah Rival bergerak tangan Resi telah lebih dulu menarik tangan Rival.


"Jangan kabur, tanggung jawab dulu!"


"Tanggung jawab? Emang aku apain kak Re?"


"Apa kamu tidak mendengarnya?"


"Mendengar apa?"


"Detak jantung aku, yang memburu berpacu begitu dahsyat, membuat dada ini sesak! Sepertinya aku semakin menggilai mu, Val." Jelas Resi yang kini menyentuh kedua tangan Rival.


"Udah ah, aku lapar!" Cetus Rival mengalihkan pembicaraan Resi.


"Cieeeee! Salting lagi kan? Cieeeee!" Goda Resi yang semakin semangat menggoda Rival.


Rival yang berusaha menghindar namun lagi-lagi tangan Resi menghadangnya, kali ini tangan Resi menarik ujung jaket Rival hingga tanpa sengaja membuat Rival kehilangan keseimbangannya dan akhirnya membuat Rival hampir saja terjatuh lalu dengan sigap Resi menarik Rival kedalam pelukannya.


"Hati-hati! Jika tidak aku akan sering memeluk mu secara tiba-tiba!" Ujar Resi dengan senyuman dan lekas pergi begitu saja.


Rival masih mematung dengan tangan yang mencoba menetralkan detak jantungnya.


"Huffff! Semakin bahaya aja nih jantung! Nggak aman lagi nih kayaknya, harus segera dihalal kan!" Ujar Rival pada dirinya sendiri.


"Ayo masuk!" Teriak Resi yang sudah berada agak jauh dari Rival.

__ADS_1


"Iya." Jawab Rival dan segera menyusul Resi untuk kembali ke villa.


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2