Dia Suami Ku

Dia Suami Ku
Tersihir.


__ADS_3

"Bar...." Ujar Ira pelan dengan kedua tangan yang perlahan mengusap lembut dada Bara, dengan tatapan penuh harap yang terus-menerus menatap dalam bola mata Bara yang semakin terlihat jelas sedang menyembunyikan rasa gelisahnya.


"Sayang, aku sama sekali nggak ngada-ngada! Aku lagi, hmmmm...." Jelas Bara tertahan.


"Apa aku tidak bisa menjadi alasan mu untuk bicara jujur?"


"Sayang, aku...hmmm!" Ungkap Bara masih kebingungan.


"Cerita, aku ingin mendengar, tidak, maksud aku, aku dan anak kita mau tau apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan."


"Tapi..."


'cup' Ira mendaratkan kecupannya di kening Bara lalu tangannya perlahan mengusap lembut rambut Bara sambil berkata. "Apa kamu tega buat aku khawatir dan penasaran...?"


"Okay, aku bicara...." Ujar Bara nyerah.


"Good boy!" Puji Ira bahkan dengan menambah usapan pada rambut Bara.


"Sebenarnya aku dan Rival lagi menyiapkan peresmian pernikahan kita dan juga acara pertunangan Rival dan kak Re, mama dan bunda juga ikut bantuin. Sorry karena nggak ngomong sama kamu, kami hanya tidak ingin menambah beban pikiran mu, kamu kan lagi hamil, jadi butuh full istirahat nggak boleh lelah apalagi banyak pikiran, kamu ngertikan maksud aku? Sumpah aku sama sekali nggak ada niat egois, aku...." Penjelasan Bara langsung terhenti saat air mata Ira perlahan menetes membasahi pipinya.


"Sayang, my sunshine... Aku benar-benar minta maaf, aku sama sekali nggak bermaksud.....sorry." Jelas Bara kembali terhenti saat isak tangis Ira semakin terdengar jelas.


"Kamu boleh marah sama aku, karena ini semua rencana aku, bukan bunda, mama ataupun Rival." Jelas Bara dengan kepala tertunduk.


'cup, cup.' kini kedua pipi Bara yang menjadi sasaran kecupan Ira.


"Aku bahkan tidak pernah berani membayangkannya sama sekali. Aku, aku...." Jelas Ira yang semakin larut dalam isak tangisnya.


"Ra, aku minta maaf!" Pinta Bara dengan penuh rasa bersalah.


"Bukan itu maksud aku! Tentang pesta pernikahan kita, terima kasih sudah mewujudkan impian terbesar aku, terima kasih Bara." Jelas Ira yang langsung memeluk sang suami tercinta.


"Aku sama sekali tidak pernah berpikir kalau kamu akan melakukan semua ini Bar, aku benar-benar bahagia, aku bahagia banget, terima kasih banyak atas semua cinta yang kamu berikan untuk aku, terima kasih Bar." Ungkap Ira.

__ADS_1


"Ra, seharusnha aku lah yang berterima kasih sama kamu. Karena kamu mengubah segala hal kelam menjadi indah dalam hidup aku, kamu menerima aku dengan semua sisi gelap dan kekurangan ku, kamu bahkan menuntun aku menjadi suami yang baik, kamu mengajarkan aku menjadi ayah yang baik. Terima kasih karena memilih aku menjadi suami mu." Jelas Bara dengan terus mendakap tubuh sang istri.


"Sejak kapan kalian merencanakan semua ini?" Tanya Ira.


"Sebelum pergi liburan, setelah kita bicara tempo hari aku langsung bilang ke mama dan bunda soal pesta peresmian pernikahan kita, maaf karena telat, harusnya sejak hari pertama kita nikah." Jelas Bara.


"Terima kasih atas semuanya, aku mencintaimu, suami ku." Ucap Ira dengan penuh haru dan bahagia.


_______


"Adek..." Panggil Luna sambil terus masuk ke kamar Rival lalu perlahan duduk disamping sang anak bungsu tersayang.


Baru saja sebentar Luna duduk, Rival langsung saja merebahkan kepalanya keatas pangkuan sang mama tercinta.


"Gimana persiapannya?" Tanya Luna dengan tangan yang perlahan langsung membelai lembut rambut Rival.


"Persiapan yang mana ni ma? Soal pertandingan bola? Tes seleksi masuk universitas? Soal lagu spesial? Pesta pernikahan kakak atau soal pertunangan adek?" Tanya Rival.


"Tentang semuanya, apa semuanya baik-baik saja?" Luna balik bertanya.


"Lalu soal pertunangan adek?"


"Hmmm, sebenarnya...hmmmmm!" Jelas Rival menggantung.


"Kenapa? Apa Resi bilang sesuatu?" Tanya Luna panik.


"Nggak gitu ma, ini bukan tentang kak Re, tapi adek..." Jelas Rival.


"Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Luna.


"Ma, boleh nggak kalau adek nggak usah tunangan?" Tanya Rival yang spontan langsung mendapat cubitan kecil di pipi kirinya.


"Jangan macam-macam!" Tegas Luna.

__ADS_1


"Ma dengarin dulu, adek belum selesai ngomong. Maksud adek, kenapa adek dan kak Re nggak langsung nikah aja, aku udah siap lahir batin." Jelas Rival sembari bangun lalu duduk menghadap kearah Luna.


"Siap lahir batin? Sombong! Emang adek udah kerja? Punya penghasilan? Ntar mau adek kasih makan apa untuk Resi? Adek nggak berencana menjadi beban untuk Resi kan?" Jelas Luna.


"Mama, kalau masalahnya tentang kerjaan, adek bisa kerja sampingan sambil kuliah atau kalau perlu nggak usah kuliah sekaligus, adek bakal banting tulang cari uang buat nafkahi kak Re." Jelas Rival yang langsung mendapatkan sentilan di keningnya.


"Awww, sakit ma!" Keluh Rival dengan terus mengusap keningnya.


"Nggak gitu konsepnya sayang, nikah nggak segampang yang adek bayangkan, banyak hal yang harus di pertimbangkan, mama cuma nggak mau nantinya adek dan Resi saling menyalahkan, dan mama juga nggak mau Resi menanggung kebutuhan adek, adek ngertikan maksud mama?" Jelas Luna.


"Giliran Bara aja boleh, malah nikah pas masih SMA, masak iya adek nggak boleh padahal pemikiran adek lebih dewasa ketimbang Bara." Protes Rival.


"Itu karena mama kenal dengan kakak mu, mama tau kalau kakak mu akan menjaga dan memandu Bara dengan baik. Tapi mama nggak bisa jamin kalau Resi juga bisa sabar dengan segala kekurangan adek." Jelas Luna.


"Tapi ma...." Keluh Rival dengan wajah memelas.


"Paling tidak sampai kamu praktek nanti, bisa?" Tawar Luna.


"Beneran nih ma? Mama nggak bakal ingkar janji kan?" Tanya Rival memastikan.


"Hmmmm, mama janji!" Jawab Luna pasti.


"Terima kasih ma, i love you my mom." Tegas Rival dan langsung memeluk erat tubuh Luna.


"Ya udah mama harus kembali menyiapkan beberapa hal, ingat, belajar yang rajin, harus  lulus seleksi." Tegas Luna.


"Siap komandan." Jawab Rival penuh semangat.


Luna hanya tersenyum lalu segera keluar dari kamar Rival.


Rival kembali berbaring dengan membawa serta gitar lalu memainkannya sambil rebahan. Petikan irama mulai terdengar merdu di telinga lalu mulutnya mulai bersenandung bahagia.


Untuk sesaat Rival berhenti bermain gitar tangannya mulai merogoh saku celananya lalu buru-buru mengambil ponsel dan membukanya. Perlahan tangan Rival mulai membuka galeri hingga muncul lah foto-foto Resi, ia terus menggeserkan foto demi foto dengan tatapan penuh rasa bahagia dan senyuman yang kian melebar.

__ADS_1


"Kak Re, aku bak tersihir oleh mu, setiap menit detik cuma memikirkan mu, segala hal yang aku lakukan selalu dihantui oleh bayangan mu, sepertinya aku sudah sampai di tahap menggilai mu, kak. Semakin hari semakin tidak bisa jauh dari mu, waaaah, rasanya aku ingin langsung menghalalka mu lalu tinggal bersama, memikirkannya saja begitu menyenangkan, kak Re, ayo secepatnya kita nikah." Ungkap Rival dengan mata yang terus menatap setiap foto Resi.


...🦋🦋🦋🦋🦋...


__ADS_2