Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 100. Keputusan Final


__ADS_3

Apa yang dikatakan Lilis tentang kemungkinan adanya orang yang sengaja ingin membunuh Lilis, membuat Nathan berpikir keras untuk mencari tahu siapa pelakunya.


Kecurigaan ini membuat Nathan bersama Seno mengunjungi toko tempat terjadinya kecelakaan yang sudah menewaskan ibu mertuanya. Disana Nathan meminta pemilik toko untuk memperlihatkan kejadian hari itu melalui CCTV yang ada di luar toko.


Untunglah pemilik toko tidak banyak bertanya dan berusaha membantu Nathan untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya tentang sengaja atau tidaknya kejadian hari itu. Setelah cukup lama mencari, akhirnya di temukan juga tanggal dan jam kejadian kecelakaan di depan toko.


Dengan seksama, Nathan dan Seno memperhatikan setiap detik peristiwa yang terekam dalam CCTV itu. Mulai dari dia turun dari mobil dan masuk ke toko hingga detik-detik Lilis dan Bu Siti turun dari mobil. Sebuah sepeda motor melaju kencang menuju ke arah Lilis yang sedang menggendong Wahyu sambil menenangkan Wahyu yang terlihat rewel.


Terlihat, Bu Siti kaget saat melihat sepeda motor yang sedang melaju kencang menuju ke arah Lilis. Tanpa pikir panjang, Bu Siti bergerak menghalangi laju sepeda motor yang sedikit lagi menabrak Lilis. Dan terlihat mengendarai sepeda motor itu berhenti sejenak setelah salah menabrak orang. Akan tetapi, mengendarai sepeda motor itu segera menambah kecepatan motornya lebih cepat lagi.


Terlihat juga, Lilis menangisi tubuh Bu Siti yang bersimbah darah. Nathan menghela nafas panjang dan meminta untuk menghentikan pemutaran CCTV tersebut. Kini dia yakin jika memang, Lilis adalah target yang sebenarnya.


Nathan dan Seno memutuskan untuk kembali.


"Bos, setahu Seno, Bu Lilis tidak memiliki musuh di kota ini yang sampai menginginkan kematiannya. Kejam sekali orang itu, ingin menyakiti wanita yang tidak bersalah," kata Seno sambil menyetir.


"Seno, fokus saja menyetir. Tidak perlu banyak omong," jawab Nathan yang mulai teringat pada seseorang.


"Oke," jawab Seno sambil menghela nafas.


Nathan menerawang jauh ke masa dimana Kakek sangat memanjakannya. Kakek yang begitu dipujanya setelah sang ayah. Begitu bijaksana dan pekerja keras meski sudah berusia senja.


Apakah Kakek mampu melakukan semua ini?


Pertanyaan yang ingin sekali Nathan tanyakan pada Kakek. Melihat dulu Kakek pernah mengancam Lilis, hingga hampir membuat Nathan dan Lilis berpisah. Apa yang tidak mungkin bagi Kakek. Tapi sungguh sangat kejam jika benar-benar dilakukan, mengingat bukan hanya nyawa Lilis tetapi juga ada nyawa bayi kecil yang belum lahir ke dunia ini.


Nathan terlihat sangat bingung dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Jika bertanya langsung kepada Kakek, dan jika kakek tidak melakukan itu maka Kakek pasti akan marah. Akan tetapi siapa lagi orang yang membenci Lilis, karena hanya satu yang membenci Lilis yaitu Kakek Edward.

__ADS_1


"Antar aku ke rumah Kakek, setelah itu kamu boleh pulang naik taksi," perintah Nathan.


"Baik, Bos."


Seno membelokkan mobil kearah rumah Kakek. Setelah sampai di sana, mobil berhenti di depan rumah Kakek. Nathan turun perlahan sambil menyiapkan apa yang akan dikatakannya pada sang Kakek.


"Assalamualaikum," ucap salam Nathan.


"Wa'alaikum salam," jawab bibi dari dalam rumah.


Terdengar suara pintu dibuka. Terlihat bibi tersenyum melihat kedatangan Nathan yang memang sudah lama tidak pulang lagi ke rumah ini.


"Kakek ada, Bik?" tanya Nathan.


"Ada, mas Nathan. Bibik beritahu Kakek dulu. Mas Nathan duduk saja dulu," kata Bibik.


Nathan masih ragu-ragu, dia berdiri mematung tepat di depan pintu. Hari ini akan menjadi hari penentuan bagi hubungannya dengan Kakek. Jika Kakek benar-benar telah melakukan ini pada keluarga barunya, maka tidak mungkin dia akan bisa menerima semua itu terutama Lilis.


"Nathan, masuklah," kata Kakek menyadarkan lamunannya.


Nathan melangkah masuk dan duduk di depan Kakek. Kakek tersenyum melihat cucu kesayangannya datang lagi setelah sekian lama. Nathan tidak pernah datang lagi semenjak kejadian makan bersama sebulan yang lalu. Padahal biasanya, Nathan akan datang walau hanya sekedar melihat kondisi Kakeknya.


"Nathan, Kakek senang kamu datang. Beberapa hari ini, Kakek ingin bertemu kamu dan meminta maaf atas kata-kata Kakek waktu itu. Kakek ingin datang ke rumahmu, tetapi Kakek belum berani menghadapi istrimu. Dia pasti sangat membenci Kakek," kata Kakek terlihat sedih.


Nathan hanya tersenyum pahit mendengar perkataan Kakeknya.


"Kakek, jika Kakek benar-benar ingin meminta maaf, Kakek tidak akan tega membuat keluarga Nathan celaka," kata Nathan sambil menahan kesedihan.

__ADS_1


"Maksud kamu apa? Kakek tidak pernah membuat keluarga kamu celaka," tanya Kakek kaget dengan ucapan Nathan.


"Bagaimana dengan kecelakaan yang menimpa Bu Siti? Apa Kakek akan bilang, bahwa itu bukan perbuatan Kakek?" kata Nathan penuh emosi.


"Nathan, kecelakaan yang terjadi pada Bu Siti, memang bukan perbuatan Kakek. Mana mungkin Kakek melakukan itu?" kata Kakek menyangkal tuduhan Nathan.


"Bukankah Kakek pernah mengancam Lilis? Sekarang Kakek mentargetkan Lilis, tetapi untunglah, Lilis diselamatkan oleh ibunya. Kakek, Lilis sedang hamil anak Nathan, Kakek. Kakek tega sekali ingin membunuh darah daging Nathan. Dia calon cucumu Kakek," kata Nathan mengungkapkan isi hatinya.


"Nathan, percayalah pada Kakek. Kakek benar-benar tidak melakukan itu," kata Kakek masih tidak mengaku.


"Kakek, karena Kakek masih tidak mau mengaku, baiklah. Mulai sekarang, jangan pernah berharap Nathan akan datang ke rumah ini lagi. Anggap saja, cucu Kakek ini sudah meninggal," ucap Nathan sedih.


"Nathan ...."


"Apa yang sudah Kakek lakukan, tentunya Kakek juga sudah tahu konsekuensinya. Kakek akan kehilangan Nathan untuk selama-lamanya. Kakek, apakah begitu sulit menerima keberadaan Lilis sebagai cucu menantu Kakek? Apa yang kurang dari Lilis? Mungkin karena dia bukan anak orang kaya, tapi hatinya lebih kaya dari orang kaya. Dia yang bisa membuat Nathan bahagia dan memahami, bahwa hidup tidak hanya untuk memperkaya diri sendiri. Tetapi Lilis juga bisa berbagi semampunya. Ketika mereka tertawa karena rasa kenyang, aku juga bisa ikut merasa bahagia seperti Lilis. Hal itu, yang tidak pernah aku lakukan dulu," kata Nathan dengan suara parau.


Perasaan Nathan mulai tidak terkendali, tidak terasa air bening menetes disudut matanya. Nathan membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika Lilis yang meninggal bersama anak dalam kandungannya. Nathan pasti akan gila.


"Nathan, Bagaimana lagi Kakek harus menjelaskannya padamu. Kakek memang sudah terlalu banyak salah pada istrimu, dan mungkin inilah karma yang harus Kakek terima. Cucu Kakek tersayang, sekarang membenciku. Namun, satu yang harus kamu ingat, Kakek tidak pernah melakukan rencana pembunuhan ini," kata Kakek sambil menarik nafas panjang, karena dadanya mulai terasa sesak.


"Mulai hari ini, aku keluar dari bisnis keluarga Sugara. Jika dulu, Nathan bisa kembali lagi, mungkin kali ini, Nathan tidak akan kembali lagi. Assalamualaikum," ucap lalu pergi dengan hati hancur berkeping-keping.


Rasa sakit hatinya seperti kuku yang dicabut dari dagingnya. Dia sangat kehilangan, tetapi keputusan ini sudah final.


Bersambung


yuk baca juga karya temen aku, judulnya ada di bawah ini

__ADS_1



__ADS_2