
Nathan mencurigai Kakek telah membuat Lilis kembali tertekan. Nathan tidak habis pikir, di tempat sejauh ini apakah Kakek Edward masih bisa mengganggu kehidupan rumah tangganya. Rasanya tidak masuk akal jika Kakek melakukannya lagi setelah apa yang dia katakan.
Nathan berniat menghubungi Guntur untuk mengetahui apakah Kakek melakukan sesuatu terhadap Lilis atau tidak. Sebelum Nathan menghubungi Guntur, Lilis memanggilnya.
"Mas Nathan, Lilis ingin bicara. Apa Wahyu sudah tidur?"
"Sudah, sudah sejak tadi. Kemarilah, kita bicara sambil bersantai dan rebahan di tempat tidur," kata Nathan yang segera merebahkan diri ditempat tidur terlebih dulu.
Lilis mengikuti keinginan Nathan dan berbaring di sampingnya. Sesaat Lilis menatap suaminya dengan tatapan sendu.
"Katakanlah, aku siap mendengarnya," ucap Nathan.
"Mas, tadi mantan mertuaku datang. Beliau datang bersama kakak iparku," kata Lilis mengawali ceritanya.
"Baguslah. Mereka masih melanjutkan silaturrahmi denganmu, meski sekarang kamu bukan lagi menantu dan adik iparnya," kata Nathan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mereka bukan sekedar bersilaturahmi, tetapi mereka ingin aku menyerahkan Naina pada mereka," kata Lilis pelan.
"Apa, memberikan Naina pada mereka? Tidak salah. Pantas kamu hampir seharian ini sering meneteskan air mata," kata Nathan sambil meraih tubuh Lilis dalam pelukannya.
"Padahal aku sudah menolak keinginan mereka," kata Lilis sedih.
"Lalu, apa masalahnya? Harusnya kamu sudah tenang. Sudah memberi mereka jawaban. Lalu apa masalahnya?" tanya Nathan.
"Mereka ingin aku berpikir lagi. Mereka masih mengharapkan jawaban iya dariku. Aku bingung, Mas. Aku selalu kepikiran ucapan mereka?"
"Lilis, mereka hanya berharap kamu berubah pikiran. Mereka sengaja membuat kamu bingung dan ragu-ragu dengan keputusanmu. Dengan begitu mereka memiliki harapan bahwa kamu akan merubah apa yang sudah kamu putuskan di awal."
__ADS_1
"Aku takut mereka akan melakukan hal-hal yang buruk pada kami. Meskipun mereka tidak mengancamku, tetapi aku masih trauma dengan apa yang di lakukan Kakek Edward padaku," kata Lilis cemas.
"Maafkan Kakek, karena telah membuat dirimu trauma. Tapi kamu harus yakin, aku akan selalu di sisimu, aku akan selalu berusaha menjadi pelindungmu. Lakukan apa yang ada didalam hatimu dan tidak perlu takut ancaman orang lain," kata Nathan tegas.
"Terimakasih, Mas," ucap Lilis mulai agak tenang.
***
Acara lamaran Wendi dan Sri akan segera akan segera di adakan. Nathan, Bu Siti dan Naina sudah pergi terlebih dahulu. Sedangkan Lilis masih di rumah karena Wahyu masih tidur. Lilis tidak akan pergi selama Wahyu masih belum bangun karena takut akan membuat Wahyu tidak nyaman.
Sambil menunggu Wahyu bangun, Lilis bersiap-siap jika sewaktu-waktu Wahyu bangun, mereka akan langsung berangkat.
Lilis tiba-tiba, ingin ke kamar mandi. Dia meninggalkan Wahyu didalam box bayi yang dirasa sudah aman untuk ditinggal ke kamar mandi. Mungkin hampir 10 menit dia di kamar mandi karena perutnya sedikit mules. Saat dia keluar dari kamar mandi, Lilis sangat terkejut. Wahyu sudah tidak ada di dalam box bayi tempatnya biasa tidur.
Lilis panik dan berteriak-teriak memanggil Wahyu, akan tetapi semua sia-sia. Dia berlari mengelilingi seluruh rumah berharap Wahyu akan ditemukan. Tetapi bayi sekecil Wahyu tidak mungkin bisa turun sendiri dari dari dalam box tanpa orang lain.
"Wahyu ... Wahyu ...."
Saat itu, Lilis bertemu salah seorang tetangganya yang baru saja akan berangkat ke tempat Sri. Lilis mengentikan laju sepeda motor Zeno.
"Mas Zen, tolong, Wahyu hilang. Tolong kasih tahu suami Lilis untuk segera pulang. Tapi jangan sampai membuat keributan dan mengganggu jalannya pernikahan," kata Lilis sambil menangis.
"Hilang? Baiklah Mbak Lilis, saya akan beritahu suami Mbak," kata Zeno kaget.
Zeno segera berangkat menuju rumah Sri dan segera mencari Nathan. Setelah itu, dia memberitahukan apa yang terjadi pada Wahyu dan Lilis. Nathan tampak panik dan bergegas pulang tanpa memberitahu siapapun termasuk Wendi dan Bu Siti. Nathan tidak ingin membuat acara pernikahan Wendi kacau.
Sampai di rumah, Nathan mendapati Lilis yang sedang menangis dan dalam kondisi yang menyedihkan. Ketika Nathan datang, Lilis langsung berlari kearah suaminya dan tampak histeris.
__ADS_1
"Mas, Wahyu hilang, Wahyu hilang ... apakah dia diculik orang?"
"Tenanglah, ayo duduk dan ceritakan dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nathan sambil membantu Lilis duduk.
"Wahyu tadi tidur, dan aku sudah pastikan dia aman di dalam box bayi. Aku tinggal ke kamar mandi sebentar. Saat aku keluar, Wahyu sudah tidak ada. Wahyu hilang. Aku sudah mencoba mencari ke seluruh rumah, dan diluar rumah, tetapi Wahyu tetap tidak ada," kata Lilis sambil terisak-isak.
"Tenang, aku akan lapor polisi sekarang. Kamu di rumah saja," kata Nathan.
"Tidak, Mas. Aku ikut Mas Nathan ke kantor polisi. Aku tidak mau di rumah sendirian, aku bisa gila Mas," kata Lilis merengek.
"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Rapikan dulu dirimu, kita akan pergi ke kantor polisi bersama-sama," kata Nathan sambil membantu Lilis merapikan rambutnya.
Setelah Lilis merapikan diri sebentar,mereka segera berangkat menuju ke kantor polisi terdekat. Nathan menceritakan apa yang terjadi karena Lilis terlalu lemah untuk bisa bercerita lagi tentang Wahyu. Setelah polisi berjanji akan menindaklanjuti laporan Nathan, Nathan dan Lilis bergegas pulang.
Meski sudah lapor polisi, Nathan dan Lilis tidak mau tinggal diam, mereka berusaha mencari dijalan sekitar rumah mereka. Siapa tahu ada orang yang sengaja menggoda Lilis dengan mengambil Wahyu dan disembunyikan. Tapi jika itu terjadi, orang itu benar-benar keterlaluan.
Kondisi Lilis sudah tidak stabil lagi karena terus menangis sejak Wahyu hilang. Tubuhnya mulai lemah dan sudah tidak sanggup lagi berjalan sendiri tanpa bantuannya. Nathan juga sangat sedih dan terpukul dengan hilangnya Wahyu, tetapi saat ini dia tidak boleh larut dalam kesedihannya. Siapa yang akan membantu Lilis dan menguatkan hatinya jika bukan dia.
Nathan mengajak Lilis untuk makan di warung, karena pasti sejak Wahyu hilang Lilis belum makan apapun. Akan tetapi Lilis menolak dan malah menangis lebih kencang.
"Aku tidak akan makan. Bagaiman aku bis makan, jika aku tidak tahu apakah Wahyu sudah minum susu atau belum? Dia pasti sedang menangis saat ini. Dia pasti sedang mencari ku," kata Lilis sesenggukan.
"Sayang, jangan siksa dirimu seperti ini. Bagaimana kita bisa mencari Wahyu jika kamu sakit. Jika tubuh kamu lemah, kamu tidak akan bisa mencari Wahyu lagi," kata Nathan ikut meneteskan air mata.
Keduanya berpelukan untuk sedikit mengurangi rasa sedih dihari.
Bersambung
__ADS_1
yuk baca karya temen aku