
Sejak di dalam mobil, Sita terus berusaha membuka bajunya sendiri. Sedangkan Guntur berusaha menutup pakaian Sita kembali. Hingga mereka sampai disebuah hotel terdekat. Dengan susah payah Guntur berusaha membuat Sita tetap sadar dan membuat Sita tetap memakai pakaian utuh.
"Sita, sadar. Kamu ini sedang berada di luar ruangan, banyak orang yang melihat. Rapikan pakaian kamu jangan malah buka-bukaan. Jika nanti kamu sadar, kamu nanti akan malu," kata Guntur sambil membantu Sita berjalan.
"Mas Guntur, aku sudah tidak tahan lagi. Obat ini benar-benar membuatku hilang akal. Kamu pukul saja aku, biar aku pingsan dan tidak berulah sebelum terlambat," kata Sita memohon.
"Sita , mana mungkin aku akan tega memukulmu. Sudahlah, ayo kita menyewa sebuah kamar agar kamu bisa beristirahat dengan baik," kata Guntur menuju ke meja resepsionis untuk check in.
"Kamar 2 bersebelahan, apa masih ada?" tanya Guntur.
"Sebentar saya check dulu," jawab resepsionis yang kemudian segera membuka komputer.
"Sita, sabar. Sebentar lagi kita dapat kamar," kata Guntur sambil terus membuat pakaian Sita tetap pada tempatnya.
"Maaf, pak. Dua kamar yang bersebelahan sudah tidak ada. Adanya satu kamar besar dengan 1 ranjang besar. Bagaimana pak, apa bapak setuju?" kata resepsionis sambil tersenyum.
"Tapi ...."
"Mas Guntur ...," panggil Sita.
"Baiklah aku ambil satu kamar itu. Tolong cepat sedikit ya?" kata Guntur cemas dengan kondisi Sita.
Kunci kamar sudah diberikan oleh resepsionis dan Guntur segera membawa Sita kekamar tersebut. Sesampainya di kamar, Guntur mendudukkan Sita di tempat tidur. Dia bergegas kekamar mandi karena dia kebelet buang air kecil.
Sementara itu, kondisi Sita semakin tidak terkendali. Dengan cekatan dia membuka satu persatu pakaian yang di kenakan hingga terlihat tubuh seksinya hanya dengan balutan pakaian dalam saja. Akan tetapi, Sita masih saja tampak kepanasan dan menggeliat bak ular.
Guntur yang baru keluar dari kamar mandi merasa kaget dan panik. Dia melihat dengan jelas pemandangan yang tidak seharusnya dia lihat. Dengan cepat dia menarik selimut dan membungkus tubuh Sita dengan selimut hingga Sita tidak bisa lagi bergerak. Hanya kepalanya saja yang terlihat.
__ADS_1
"Mas Guntur, lepaskan aku. Aku kepanasan, Mas. Buka selimutnya!" teriak Sita.
"Sita, diam. Jangan berteriak-teriak, nanti apa kata orang," kata Guntur sambil terus memegangi tubuh Sita yang masih terbalut selimut.
"Tapi aku tidak tahan mas, panas ...."
"Tidur saja, pejamkan matamu. Kamu pasti tidak akan kepanasan lagi," kata Guntur.
"Aku akan terus berteriak jika mas Guntur tidak melepaskan selimut ini," kata Sita terus berontak.
Guntur bingung apa yang harus dia lakukan untuk menutup mulut Sita agar tidak berteriak lagi. Mau disumpal pakai kain, tapi kedua tangannya sudah kesusahan memegangi tubuhnya. Tiba-tiba terselip ide, biarpun nanti setelah sadar Sita akan marah padanya, namun itu adalah resiko yang harus dia tanggung.
Guntur menatap wajah cantik Sita dengan bibir yang merah menggoda. Sebelum akhirnya dia mencium bibir itu dengan lembut. Mata Sita membulat saat Guntur mulai menikmati lembutnya bibir Sita. Sejenak Sita kaget, akan tetapi dia langsung membalas ciuman Guntur yang membuat Guntur kaget.
Sekarang, giliran Guntur yang matanya membulat sesaat. Akan tetapi, dia kembali menikmati lembutnya bibir wanita yang dia cintai dengan sepenuh hati itu lebih intens, setelah mendapatkan balasan.
Guntur terus mencium Sita, hingga Sita lelah dan tertidur. Melihat Sita sudah terlelap dalam mimpi, Guntur barulah melepaskan pegangannya dan melonggarkan selimut yang membungkus tubuh Sita. Guntur merebahkan diri di samping Sita yang tiba-tiba bergumam sendiri. Pasti dia sedang bermimpi.
"Mas Guntur, aku mencintaimu," gumam Sita dalam tidurnya.
Guntur terdiam mendengar perkataan Sita. Dia melirik wajah cantik disampingnya.
Apakah benar kamu mencintai aku? batin Guntur.
Guntur tersenyum-senyum sendiri, lalu mulai memejamkan matanya yang sudah mulai ngantuk. Mereka terlelap didalam mimpi masing-masing.
Keesokan harinya, Sita terbangun saat tangannya menyentuh wajah seseorang. Wajah dengan garis wajah yang tegas dan hidung yang mancung. Perlahan, Sita membuka mata. Dan dia sangat terkejut mendapati dirinya satu ranjang dengan seorang pria. Dan pria itu adalah Guntur.
__ADS_1
Lebih mengejutkan lagi, keadaan tubuhnya yang hanya memakai pakaian dalam dan berbalut selimut. Hampir dia berteriak, akan tetapi dia teringat kejadian semalam. Bagaimana dia bernyanyi dengan gembira dan perlakuan Desta yang sudah memberinya obat perangsang. Dia mengingat semua hingga dia dibawa oleh Guntur ke hotel ini.
Sita juga teringat, ciuman Guntur yang sangat menggairahkan dan penuh cinta. Tetapi Guntur masih tetap menjaga diri dari perbuatan tidak terpuji. Tidak apalah Sita dan Guntur semalam berciuman, semua itu membuktikan jika mereka saling memiliki rasa suka satu sama lain. Sita merasakan ciuman Guntur disertai perasaan cinta yang cukup membuat Sita merasakan sensasi dari pria yang dia cintai.
Sita tersenyum dan memunguti pakaiannya, lalu bergegas ke kamar mandi. Dia berjalan pelan-pelan, karena takut membangunkan Guntur sebenarnya sudah terbangun sejak tadi. Guntur hanya tersenyum melihat tingkah Sita yang seperti anak-anak.
Selesai mandi, Sita segera berganti pakaian yang semalam. Masih dengan perlahan-lahan, dia berniat meninggalkan Guntur yang masih berbaring di tempat tidur.
"Mau pergi begitu saja?" tanya Guntur mengejutkan Sita.
Sita berbalik arah, sambil tersenyum malu. Guntur sudah berdiri sambil bersedekah di belakangnya.
"Maaf, Mas Guntur. Semalam aku sudah merepotkan Mas Guntur," kata Sita masih dengan sikap malunya.
"Tidak hanya merepotkan. Tetapi lebih dari itu, apa kamu tidak ingat?" tanya Guntur.
"Tidak, aku tidak ingat apapun," jawab Sita berbohong.
"Kalau begitu, aku akan menceritakan semuanya padamu. Duduklah," kata Guntur sambil mempersilahkan Sita duduk.
"Tidak perlu. Aku harus segera pergi," kata Sita sambil berlari kecil menuju ke arah pintu.
Guntur membiarkan Sita pergi. Dia tidak menghalanginya karena Sita pasti sangat malu berada satu kamar dengan seorang pria. Apalagi saat bangun, dia dalam keadaan setengah telanjang.
Guntur menghela nafas panjang dan bergegas mandi. Dibawah guyuran air shower, dia mengingat peristiwa semalam. Dia masih terpukau melihat tubuh seksi Sita yang nyaris tanpa busana. Untung saja dia masih memiliki batasan norma dan etika yang selalu di tanamkan ibunya sejak kecil.
Walaupun cukup sulit untuk menjalankannya ketika benar-benar dihadapkan pada kenyataan yang ada. Ada terbersit godaan untuk menyentuhnya lebih jauh dan rasa ingin menikmati keindahan hidup dengan gadis yang dicintainya.
__ADS_1
Guntur yang telah melewati masa ujian hati dan cinta. Mencintai dengan hati dan selalu menjaga kesucian Gadis yang dia cintai sampai pada saatnya halal baginya.