
Dua Minggu kemudian.
Semenjak Nathan meninggalkan rumah ini, Lilis tidak baik-baik saja. Dia seolah kehilangan pegangan. Akan tetapi keputusan sudah dia ambil dan dia harus siap dengan segala resikonya. Walaupun dia masih berharap akan ada hal baik yang akan terjadi, agar keluarga kecil ini masih bisa merasakan kebahagiaan.
Hari ini mungkin akan menjadi hari yang paling menyedihkan dalam hidup Lilis. Seorang pengacara yang mengaku sebagai pengacara Nathan datang dengan membawa sebuah dokumen yang ternyata adalah surat cerai. Disitu sudah ada tanda tangan dari suaminya, Nathan Sugara.
Lilis meneteskan airmata, karena dia tidak mengira jika dia akan secepat itu menerima surat cerai dari suaminya. Dia menangis sambil tersenyum getir, dan tangannya bergetar memegang surat cerai dari suaminya.
Tenyata sangat mudah membuat Nathan membencinya. Sangat mudah membuat Nathan melupakan anak dan istrinya. Harusnya Lilis senang, tujuannya sudah tercapai.
Nathan sekarang sudah kembali menjadi anggota keluarga Sugara. Dia sudah menjadi seorang kaya dan terhormat. Dia sudah bisa membuat Kakek Edward sembuh dan tidak akan lagi menganggapnya sebagai penghalang masa depan cucunya.
Flashback on.
Siang itu, Guntur datang menemui Lilis dan mengajaknya menemui Kakek. Lilis sebenarnya masih belum mengerti, mengapa Kakek memanggilnya tanpa sepengetahuan suaminya. Perasaan Lilis menjadi tidak enak dan cemas.
Sampai di rumah sakit, dia langsung dibawa kesebuah ruang VVIP. Disana tampak Kakek Edward dalam keadaan lemah dan ditubuhnya terdapat beberapa alat kesehatan untuk membantunya.
Guntur meminta Lilis mengikutinya mendekati Kakek.
"Kakek, Lilis sudah datang," kata Guntur berbisik ditelinga Kakek.
Setelah memberitahu Kakek, Guntur keluar dari ruangan.
"Lilis, mendekatlah," ucap Kakek lemah.
"Kakek ...."
"Lilis, kondisi Kakek sudah seperti ini. Kakek masih mengharapkan Nathan bisa kembali ke keluarga Sugara. Karena sebenarnya Nathan adalah benar-benar putra dari anakku Samuel. Ini semua ulah mantan suamimu, Desta. Desta yang sudah mengganti sampel dari Nathan," kata Kakek terengah-engah.
__ADS_1
"Apakah, mas Nathan sudah tahu?" tanya Lilis.
"Sudah, sudah lama. Tetapi, dia masih belum mau kembali ke keluarga Sugara karena kalian. Kalian secara tidak langsung sudah membuat cucuku menderita. Dia seharusnya hidup senang, dengan apa yang dia miliki. Karena kalian dia menjadi pelayan. Kamu membuat cucuku menjadi seseorang yang tidak memiliki harga diri," Kakek berhenti sebentar.
"Kamu hanya wanita kampung yang miskin. sejak awal aku tidak menyukaimu, karena kamu telah merubah hidup Nathan yang dulunya hidup tenang dan patuh, menjadi pemberontak. Meskipun aku sekarang sekarat, aku bisa saja menyuruh orang untuk menculik anakmu dan menjadikannya pengemis di jalanan atau kamu ingin melihat ibumu mati di kota ini," kata Kakek lagi.
"Kakek, jika Nathan tahu, dia pasti akan sangat membencimu. Apa yang bisa Kakek lakukan, saya adalah istri dari cucumu. Saya sudah melahirkan buyut untukmu," kata Lilis.
"Aku tidak peduli, aku hanya perlu Nathan, cucuku. Kamu pasti tidak akan percaya, dan kamu pasti merasa aku bercanda."
Kakek mengambil ponsel yang ada disampingnya sejak tadi. Dia kemudian menghubungi seseorang. Setelah itu, dia memberikan ponselnya pada Lilis. Lilis mengambil ponsel dari tangan Kakek dan melihat apa yang ingin ditunjukkan padanya.
Matanya mulai membesar saat melihat ibunya yang berjalan bersama Naina dan Wahyu sedang berjalan menuju ke rumah Bu RT. Dan dari arah belakang, sebuah sepeda motor, melaju dengan kecepatan tinggi menuju kearah mereka.
"Awas ibu, Naina ...," teriak Lilis tegang.
Kakek tertawa melihat Lilis. Lilis menjadi bingung, apa maksud Kakek memperlihatkan video tersebut.
"Kamu lihat, jika pengendara motor itu tidak, mengerem motornya tepat waktu. Apa yang akan terjadi dengan ibu dan anakmu?"
"Maksudnya," tanya Lilis kaget.
"Jika kamu menolak meninggalkan Nathan, maka nyawa seluruh orang-orang yang kamu cintai akan sangat tragis. Dan jika itu terjadi, kamu akan hidup penuh dengan penyesalan," kata Kakek.
"Tidak mungkin. Mereka sama berartinya dalam hidup Lilis. Apalagi mas Nathan sangat mencintaiku, dia tidak akan pernah meninggalkan aku."
"Pilihan ada di tanganmu. Kamu tidak bisa memilih keduanya. Kamu harus melepaskan salah satu. Nathan atau ibu dan anak-anakmu."
Lilis meneteskan airmatanya. Dia tidak pernah menyangka, Kakek Edward ternyata lebih kejam dari yang di kira. Jadi dulu dia menerima pernikahan Nathan dan Lilis hanya karena dia tidak ingin kehilangan Nathan. Selebihnya dia masih terus mencari cara untuk memisahkan mereka.
__ADS_1
"Pikirkan. Tapi aku harap, kamu akan memilih ibu dan anak-anakmu. Karena jika terjadi sesuatu pada mereka, kamu tidak akan bisa hidup tenang, karena kamulah penyebab kematian mereka. Karena kamu yang salah memilih," ancam Kakek.
"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Lilis lirih.
"Jika kamu berpikir, mengadu pada Nathan, semua itu akan percuma. Nathan tidak akan percaya dengan apa yang kamu katakan. Karena sekarang aku ada di rumah sakit sedang sakit parah."
"Kakek sangat kejam."
"Buat Nathan membencimu, hingga dia tidak akan ingin melihatmu lagi. Itulah imbalan dari nyawa ketiga orang yang kamu cintai."
Flashback off.
"Bu Lilis, silahkan tandatangani," suara pengacara itu mengejutkan lamunan Lilis.
"Apakah setelah saya tanda tangan, tidak perlu lagi ada persidangan?"
"Tentu saja masih. Tetapi ini hanya sebagai simbol bahwa anda dan klien saya sudah sepakat bercerai. Klien saya sudah tandatangan, silahkan ibu cek sendiri."
Lilis melihat tulisan paling bawah. Nathan memang benar sudah menandatangi surat cerai ini. Apa yang bisa Lilis pertahankan lagi, jika suaminya sudah memutuskan untuk menceraikannya.
Entah kenapa ada rasa sedih dan kehilangan. Kenapa begitu cepat Nathan memberikan surat cerai padanya.
Apakah dia begitu sangat membenciku? Membenci karena aku sudah mengusirnya dari rumahku? Menjauhkannya dari anak-anaknya? Sehingga dia cepat sekali melupakan cinta diantara kami.
Aku mencintainya dengan cara yang berbeda. Mungkin, dia mencintai aku dengan cara yang berbeda juga, batin Lilis.
Dengan tangan gemetaran, Lilis menanda tangani surat cerai. Walaupun ini bukan surat resmi dari Pengadilan Agama, dan hanya sekedar surat pernyataan kesepakatan cerai dari pasangan suami istri yang sepakat bercerai secara baik-baik antara Lilis dan Nathan. Akan tetapi, sudah bisa dianggap mereka sudah bercerai meski belum secara resmi.
Setelah menyerahkan salinan pada Lilis, pengacara Nathan segera pergi. Lilis masih terduduk lesu, merenungi nasib rumahtangganya yang telah berakhir. Akan tetapi penyesalan sudah tidak ada gunanya sekarang. Meski tanpa Nathan, Lilis akan berusaha tetap melangkah dan kokoh untuk menjadi sandaran ketiga orang yang dia cintai. Setelah berpikir cukup lama, Lilis memutuskan untuk meninggalkan kota B dan melupakan semuanya.
__ADS_1