
Kehidupan Nathan telah berubah 180° setelah keluar dari keluarga Sugara. Demikian juga hidup Guntur dan Desta. Mereka menikmati kemewahan yang belum pernah mereka miliki.
Guntur kini tinggal bersama Kakek, sedangkan Desta menempati rumah kontrakan yang dulu disewa Guntur. Sebenarnya, Desta ingin tinggal dirumah Kakek Edward bersama Guntur, tetapi tentu saja Guntur menolak keinginan sahabatnya itu.
Setiap Malam, Desta mengabiskan banyak uang, untuk pergi ke bar atau ke tempat lain, yang bisa memuaskannya hatinya. Dia menghabiskan begitu banyak uang yang diberikan Guntur padanya. Jika uangnya habis, dia akan meminta lagi dari Guntur.
Desta bahkan membayar wanita malam untuk melampiaskan gairahnya yang sudah lama tidak tersalurkan. Tidak hanya satu, bahkan setiap kali dia ingin, dia akan menyewa wanita malam yang berbeda. Tentu saja tergantung berapa besar dia mampu membayar wanita-wanita malam itu.
Jika uangnya banyak, dia akan mendapatkan wanita yang muda dan cantik bahkan umurnya bisa setara anak sekolah. Tetapi jika uangnya seadanya, dia bisa menikmati wanita seusia dirinya.
Desta benar-benar menikmati hari-harinya yang bergelimang uang.
Lebih puas lagi, karena dia sudah bisa mengusir Nathan dari keluarga Sugara dan membiarkan Nathan hidup miskin. Dia merasa yakin, pasti Lilis sekarang menyesal memiliki suami miskin seperti dirinya dulu, pengangguran. Apa yang bisa digunakan Nathan untuk memanjakan Lilis?
Desta tersenyum sambil duduk santai di kursi kerjanya. Memang dasar pemalas, diberi pekerjaan apapun tidak pernah beres. Desta hanya malas-malasan saja, sementara Guntur yang harus berpikir keras untuk memajukan usahanya.
Sebenarnya, Guntur juga tidak begitu suka dengan sikap Desta. Akan tetapi mengingat Desta adalah sahabat dia satu-satunya, Guntur membiarkan Desta bertindak semaunya. Sampai Guntur mendapatkan teguran dari Kakek Edward atas kelakuan Desta.
Guntur duduk di samping Kakek yang sedang menikmati secangkir teh. Guntur menunggu apa yang ingin Kakek katakan dengan hati cemas. Guntur cemas karena sejak kepergian Nathan dari bisnis keluarga, semua bisnis menjadi tidak ada kemajuan. Tentu saja ini membuat hati Guntur risau karena dia sadar, dia hanya lulusan SMA.
"Guntur, kamu tahu, kenapa Kakek memanggilmu?" tanya Kakek sambil menatap Guntur.
"Tidak tahu, kek."
"Kakek, sudah menyerahkan semua tanggung jawab Nathan kepadamu. Bagaimana, apa kamu ada kendala?"
"Banyak, Kek. Kakek tahu aku berpendidikan rendah, tidak seperti Nathan," jawab Guntur sedih.
"Memang kamu harus banyak belajar agar lebih berpengalaman. Bagaimana kalau pekerjaan kamu sebagian dikerjakan Seno. Kakek meminta dia untuk menggantikan posisi Nathan untuk sementara," kata Kakek lagi.
"Maksud Kakek?"
__ADS_1
"Kakek masih berharap, Nathan akan kembali lagi ke keluarga Sugara. Meskipun dia bukan keturunan Sugara, dia tetap cucuku," kata Kakek sedih.
"Guntur juga berharap semua akan kembali seperti dulu. Guntur bisa belajar banyak dari Nathan," kata Guntur sambil mengangguk-angguk.
"Kamu juga, memiliki asisten tetapi kelakuannya seperti itu. Seperti parasit saja. Bekerja malas kalau minta uang maju duluan. Apa dia masih sering minta uang padamu?"
Guntur terdiam mendengar pertanyaan Kakek. Dia bingung harus menjawab apa.
"Kenapa diam saja? Hhh, Kakek bingung sama kamu, dapat darimana temen seperti Desta itu? Guntur, hati-hati dengan orang seperti Desta," kata Kakek mengingatkan.
"Iya, Kek. Guntur akan menegur Desta agar jangan malas," kata Guntur sambil tersenyum.
"Kakek bukannya mau ikut campur urusan kamu dengan Desta, tetapi kamu itu pewaris keluarga Sugara. Kakek ingin kamu tegas dan jangan mudah tergoda rayuan teman untuk melakukan hal-hal yang dapat menjatuhkan keluarga Sugara. Beban keluarga Sugara ada di tanganmu."
"Guntur mengerti."
"Nanti, Kakek akan membawamu ke pesta untuk untuk mengenalkan kamu dengan beberapa temen Kakek."
"Baik, Kek."
***
Kakek dan Guntur datang ke sebuah pesta ulangtahun salah satu teman Kakek. Disana telah hadir beberapa orang-orang yang sangat penting dalam dunia bisnis. Mereka datang dengan membawa putra dan putri mereka seolah tempat ini menjadi ajang mencari jodoh.
Diantara sekian banyak gadis, mata Guntur tertuju pada seorang gadis yang sangat cantik dengan wajah yang keibuan persis seperti ibunya waktu masih muda. Guntur ingin mendekatinya, akan tetapi, ada rasa minder yang tiba-tiba datang menggerogoti hatinya.
Guntur melepaskan harapannya lalu duduk di sebuah kursi sendirian. Saat itu sang gadis impiannya datang menghampirinya.
"Permisi, boleh ikut duduk disini?" tanya gadis itu sambil tersenyum.
"Tentu saja," jawab Guntur gagap.
__ADS_1
Guntur terkesima melihat paras cantik gadis impiannya dari dekat. Benar-benar cantik.
"Kamu, cucunya Kakek Edward, bukan? Kita belum kenalan, namaku Sita," ucap Sita sambil mengulurkan tangannya.
"Guntur," jawab Guntur sambil menyambut uluran tangan Sita. "Sita, nama yang cantik secantik orangnya."
"Kamu bisa saja. Mas Guntur, kenapa duduk disini sendirian?"
"Aku tidak terlalu suka dengan pesta. Mungkin karena aku belum terbiasa dengan pesta seperti ini."
"Sebenarnya, aku juga tidak terlalu suka dengan pesta seperti ini. Membosankan, karena mereka pasti hanya akan membicarakan bisnis," kata Sita sambil menghela nafas.
"Benar. Semua serba bisnis. Bagiamana kalau kita pergi makan malam di luar saja. Aku akan mengantarmu ketempat yang kamu suka. Kita makan malam disana, bagiamana?" Guntur mencoba menawarkan diri.
"Ide kamu bagus juga. Aku bilang dulu pada ayah, tunggu aku disini."
Sita berjalan pelan mendekati ayahnya untuk meminta izin, sementara Guntur juga meminta izin pada Kakek untuk pergi dari pesta ini. Kakek memberinya izin, tetapi Guntur harus menghubungi pak Danda untuk menjemputnya.
Setelah mendapat izin dari keluarga masing-masing, mereka pergi menuju kesebuah kawasan yang menjual makanan biasa bukan restoran. Guntur kaget, karena Sita mengajaknya makan disebuah warung makan sederhana. Tetapi karena dia sudah berjanji akan mengantar ketempat yang Sita sukai. Ternyata tempat ini?
Mereka mengambil tempat duduk yang nyaman. Sita tersenyum melihat wajah Guntur yang tampak kebingungan.
"Mas Guntur, tidak suka tempat ini?"
"Bukan tidak suka, melainkan sudah terbiasa makan ditempat seperti ini. Kamu pasti sudah tahu cerita tentang masa laluku, bukan?" tanya Guntur.
"Iya, Sita pernah mendengarnya dari ayah. Tetapi sudahlah, kenapa kita harus membicarakan semua ini. Kita kesini mau makan dan bebas dari pesta yang membosankan," kata Sita tersenyum ceria.
Guntur membalas senyum Sita. Dia lalu memesan dua buah mie bakso, makanan andalan warung makan ini.
Setelah menunggu beberapa saat, datanglah makanan kesukaan Sita. Sita segera menikmati makanan yang tidak bisa setiap hari dia makan. Karena sang ayah, tidak pernah mengizinkan Sita makan ditempat seperti ini.
__ADS_1
Guntur makan sambil sesekali melihat ke arah Sita yang terlihat lebih cantik saat makan. Hatinya berdebar kencang saat pandangan mereka beradu.
Apakah aku sedang jatuh cinta dengan Sita?