
Menunggu adalah hal yang paling membosankan. Apalagi menunggu dengan hati cemas dan khawatir. Dokter juga belum ada tanda-tanda akan keluar untuk memberi penjelasan pada Nathan dan ibunya juga Wendi tentang kondisi Lilis saat ini.
Setelah beberapa lama, Dokter akhirnya keluar juga. Dengan hati berdebar, Nathan segera mendekati dokter yang menangani Lilis.
"Bagaimana anak dan istri saya, Dok?" tanya Nathan panik.
"Tenang pak, anak dan istri bapak keduanya selamat. Mereka sekarang dalam keadaan sehat. Selamat, anak bapak laki-laki dalam kondisi sehat dan normal. Silahkan bapak masuk untuk mengadzani anaknya," jawab Dokter Desi.
Nathan menoleh kearah Bu Siti dan Wendi seolah berkata 'aku seorang ayah sekarang'. Nathan tersenyum lalu masuk kedalam ruangan. Disana, Nathan menerima sang bayi kecil yang sangat tampan dan manis. Disisi lain, Lilis tersenyum melihat Nathan mengumandangkan adzan dan iqomah di kedua telinga bayinya secara bergantian. Adzan di sebelah kanan dan iqomah di telinga kiri.
Setelah selesai, Nathan menyerahkan kembali bayinya pada suster. Dia lalu mendekati Lilis yang tampak kelelahan. Dia mencium kening Lilis sebagai ucapan terimakasih dan penambah semangat agar Lilis bisa segera pulih kembali.
"Anak kita, laki-laki, Mas," kata Lilis pelan.
"Ya, sayang. Mas sudah pikirkan nama untuk anak kita. Wahyu Hidayat, bagaimana?"
"Lilis setuju saja, nama itu juga bagus."
"Terima kasih. Atas perjuanganmu hari ini," ucap Nathan lirih.
Lilis hanya mengangguk pelan, tubuhnya masih terasa lemah. Mengingat Lilis melahirkan secara normal dan kondisi ibu dan anak juga baik-baik saja, besoknya mereka sudah diperbolehkan pulang.
Di rumah, Naina sangat senang melihat adik kecilnya sudah lahir. Dia selalu duduk dan memperhatikan adiknya dari dekat. Bahkan ketika tidurpun, Naina tidur di samping adiknya.
Acara syukuran juga akan dilaksanakan hari ini sekaligus acara aqiqah. Tiga kambing untuk kedua anaknya. Satu untuk Naina dan dua untuk Wahyu.
Lilis tidak menyangka, kalau Kakek akan datang dengan Guntur dan Sita. Lilis merasa terharu, meski bukan lagi anggota keluarga Sugara, tetap saja mereka datang menjenguk Lilis dan bayinya.
Acara aqiqah, berlangsung cukup meriah. Walaupun hanya di hadiri tetangga sekitar, pelayan resto dan pelayan warungnya juga beberapa teman dekat Lilis. Ditambah kehadiran keluarga Kakek. Malamnya dilanjutkan acara rebana dan sholawatan.
Selesai acara, semua segera pamit pulang kecuali para pekerja di warung dan resto Lilis. Mereka membereskan semuanya terlebih dulu baru mereka pamit pulang.
Esoknya Kakek secara pribadi datang menemui Nathan. Mereka berbicara dan tampak serius sekali.
"Nathan, Kakek sangat kangen sama kamu. Sudah lama Kakek menunggu, berharap kamu kembali. Tetapi kamu malah bekerja di restoran istrimu bahkan hanya sebagai pelayan disana," kata Kakek tampak sedih.
"Kakek, untuk apa Kakek menungguku. Aku tidak akan kembali. Nathan sudah bahagia dengan kehidupan Nathan sekarang ini. Biarpun Nathan hanya bekerja sebagai pelayan disana, sebenarnya Nathan juga ikut membuat kemajuan Resto. Resto itu juga bisa disebut milik pribadi keluarga baru Nathan," jawab Nathan sambil tersenyum.
"Apa kamu begitu membenci keluarga Sugara terutama Kakek?"
__ADS_1
"Nathan tidak pernah membenci keluarga Sugara apalagi Kakek. Kakek jangan pernah beranggapan seperti itu."
"Kalau begitu, kembalilah bekerja seperti dulu. Kakek sudah semakin tua, dan Guntur masih harus banyak belajar. Dia masih belum sanggup mengurus semuanya sendiri."
"Kakek, jangan paksa Nathan," kata Nathan yang membuat Kakek bertambah sedih.
"Baiklah. Kamu terlalu keras kepala seperti ayahmu. Tapi, Kakek masih berharap kamu akan merubah keputusanmu. Kakek masih menunggu hari itu tiba. Kakek pergi dulu, Assalamualaikum," ucap Kakek.
"Wa'alaikum salam."
Nathan mengantarkan Kakek hingga pintu keluar. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca melihat Kakek Edward yang memang sudah semakin tua dan lemah.
Maafkan Nathan, Kakek, batin Nathan.
Nathan melangkah masuk ketika mobil Kakek sudah tidak terlihat lagi. Nathan melangkah menuju ke kamar dan mendapati istrinya tengah sibuk mengganti popok untuk si kecil.
"Mas, Kakek sudah pulang?" tanya Lilis.
"Sudah."
"Sebenarnya ada masalah apa, kenapa Kakek datang?" tanya Lilis sambil menidurkan Wahyu.
"Mas Nathan menolak?"
"Ya, Aku belum lupa hari itu. Hari dimana aku, hanya dengan selembar kertas, aku menjadi bukan lagi anggota keluarga Sugara," ucap Nathan agak emosi.
"Tapi, Kakek waktu itu tidak pernah setuju kamu tes DNA, kamu memaksanya. Bahkan setelah hasilnya negatif, beliau masih ingin semua kembali seperti semula. Tidak akan ada yang berubah," ucap Lilis.
"Benar. Memang aku yang memaksa Kakek melakukan tes DNA dan aku juga yang memaksa pergi lalu menyerahkan semuanya. Apakah menurutmu aku yang salah?" ucap Nathan agak keras.
"Aku tidak pernah bermaksud seperti itu. Hanya saja, sepertinya mas Nathan agak membawa emosi dalam hal ini," kata Lilis sedih.
"Sudahlah, jika di teruskan, kita bisa tambah emosi. Aku ingin sendiri. Malam ini, aku tidur di luar," kata Nathan segera melangkah pergi.
Lilis sangat sedih, suaminya kali ini penuh emosi dan dia tidak bisa mendengar pemikiran orang lain. Sepertinya, masalah ini adalah masalah dalam hatinya sendiri yang hanya dia yang bisa mengatasinya. Mungkin memang sebaiknya dia menenangkan diri dan mengoreksi diri.
Malam sudah semakin larut, Lilis sangat khawatir dengan suaminya yang memilih tidur di luar. Lilis membawa selimut untuk suaminya. Lilis sedih melihat suaminya tidur di sofa. Dia menyelimuti tubuh suaminya dengan selimut yang dibawanya.
Sedih dan sedikit kecewa melihat sikap Nathan yang terbawa emosi jika menyangkut tentang orangtuanya. Mungkin, tanpa Nathan sadari, dia merasa kecewa dengan masa lalu kedua orangtuanya. Dia menginginkan keluarga yang sempurna.
__ADS_1
Lilis melangkah pergi tapi langkahnya terhenti saat tangannya ada yang menariknya. Ternyata itu tangan suaminya yang bangun dari tidurnya.
"Lilis, maafkan aku. Aku terlalu emosi."
"Tidak apa-apa, Mas."
"Bolehkah aku kembali ke kamar? Aku ingin tidur bersama anak dan istriku," kata Nathan penuh harap.
"Tentu, ayo masuk. Diluar terasa dingin."
Nathan melangkah mengikuti Lilis sambil tetap memegangi tangan istrinya.
"Mas, tidurlah kembali. Aku periksa Wahyu dulu. Takutnya dia ngompol lagi."
Nathan naik keatas ranjang sedangkan Lilis memeriksa Wahyu yang tidur di dalam box bayi di samping tempat tidurnya. Setelah memastikan kondisi Wahyu aman dan bersih, Lilis berbaring di samping Nathan yang ternyata masih belum tidur.
"Belum tidur, mas?"
"Belum. Rasanya sulit tidur lagi. Kamu tidurlah. Kamu pasti capek mengurus Wahyu. Tidurlah dengan santai, biar aku yang jaga Wahyu kalau nanti rewel," kata Nathan.
"Aku temani mas Nathan sebentar."
"Kalau begitu biarkan aku memelukmu sebentar."
Nathan mendekat dan Lilis mengangkat kepalanya dan bersandar pada lengan suaminya yang sudah siap memeluknya sambil berbaring.
"Lilis, Orangtuaku memiliki masa lalu yang rumit. Sejak aku berusia 15 tahun, aku baru menyadari jika ayah sama sekali tidak mencintai ibuku. Hingga aku kuliah, aku tetap berusaha menutup mata dan tidak berani bertanya. Karena ibu tidak pernah mengeluh ataupun terlihat terluka karena ayah. Dia wanita yang kuat dan tegar, meski di hati suaminya ada wanita lain. Dia tetap menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu yang baik. Dan ayah juga , meski dihatinya ada wanita lain, dia tidak pernah menghianati ibu selama menjadi suami ibuku," curhat Nathan.
"Aku salut pada hubungan mereka. Mereka saling menghormati dan menghargai sebuah pernikahan meski tanpa cinta. Tetapi apakah mas Nathan yakin jika tidak ada cinta diantara mereka setelah hidup bersama selama hampir 20 tahun lamanya?" tanya Lilis penasaran.
"Entahlah, tetapi aku rasa, mungkin saja cinta itu tumbuh diantara mereka. Terkadang mereka terlihat saling mencuri pandang dan terlihat mesra."
"Mungkin mereka malu untuk saling mengakui jika ada cinta diantara mereka," kata Lilis." Kalau sesuai cerita mas Nathan, tidak mungkin, diantara mereka ada yang selingkuh kan?"
Nathan tertegun. Jika diteruskan pembicaraan ini akan membuka rahasia masa lalu Nathan.
"Tidurlah, aku juga ingin tidur," kata Nathan lembut.
Mereka akhirnya memejamkan mata dan terbuai dalam mimpi indah masing-masing.
__ADS_1