
Desta mulai sadar dari komanya. Hal itu disadari oleh salah satu perawat yang kebetulan sedang mengganti infus. Dengan segera perawat itu menghubungi dokter yang bertanggungjawab atas kondisi Desta.
Desta dinyatakan baik-baik saja, walau masih harus membutuhkan beberapa pemeriksaan lagi untuk kondisi kepalanya. Kini mereka sudah bisa melakukan upaya mengobati patah kakinya. Mungkin bisa memakan waktu yang cukup lama dan butuh kesabaran yang ekstra untuk bisa berjalan normal kembali.
Dokter segera menghubungi Guntur sebagai penanggung jawab biaya perawatan Desta. Guntur bukannya tidak masalah membantu Desta, dia mendapat tentangan dari Kakek dan dari keluarga Sita. Terutama kakak Sita, Tedy.
Mereka beranggapan jika Desta pantas mendapatkan karma dari apa yang dia lakukan. Guntur tidak seharusnya membantu Desta membayar biaya perawatan dan pengobatannya. Seharusnya dia membiarkan Desta mati tanpa tempat berlindung.
Akan tetapi prinsip Guntur yang di tanamkan ibunya bahwa sejahat-jahatnya orang pada kita, kita tidak boleh benci atau dendam atau bahkan membalas berbuat jahat padanya. Karena kita akan sama seperti dia, penjahat. Balaslah dia dengan kebaikan, tunjukkan padanya, bahwa meski kita sudah disakiti, di jahati, kita tidak berubah jahat seperti dia.
Untung saja, ada Sita yang mendukung keputusannya. Sita maju dan menengahi perdebatan ini. Dia juga yang membuat keluarga Damian akhirnya menerima keputusannya untuk membantu Desta.
Ucapan Sita yang membuat Guntur semakin jatuh cinta pada Sita.
"Aku mengormati prinsip mas Guntur. Dia bisa sangat baik dengan orang lain yang tidak ada hubungan keluarga apalagi dengan keluarga sendiri? Dia pasti bisa jadi imam yang baik untuk Sita."
Perkataan yang sederhana, tetapi menjadi tantangan bagi Guntur untuk bisa menjadi seperti yang Sita harapkan.
"Guntur," suara parau Desta mengejutkannya.
"Desta, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Guntur.
"Aku ingin bertemu Nathan. Mintalah dia untuk datang sendiri," kata Desta pelan.
"Nathan?"
"Iya," jawab Desta sambil memejamkan mata.
Guntur tidak tahu apa tujuan Desta, tetapi dia memang harus menuruti ucapan orang yang sedang sakit ini. Dia bergegas menghubungi Nathan dan memintanya untuk datang ke rumah sakit. Saat Nathan mengangkat panggilannya, Guntur hanya mengatakan beberapa kalimat saja.
"Nathan, Desta ingin bertemu denganmu. Sudah, datang saja. Kelihatannya ada hal penting yang ingin dia sampaikan padamu."
Meskipun Nathan bertanya-tanya, akan tetapi akhirnya dia datang juga ke rumah sakit.
"Guntur, sebenarnya ada apa? Kenapa mendadak sekali?" tanya Nathan.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Dia baru saja sadar, tetapi dia langsung ingin bertemu kamu," jawab Guntur.
"Aku dan Lilis baru dari sini tadi pagi. Apakah mungkin dia sadar setelah mendengar ucapan Lilis?" tanya Nathan.
"Mungkin saja, didalam alam bawah sadarnya, di merasa bersalah pada Lilis. Setelah Lilis memaafkannya, dia ingin berterimakasih padamu. Masuklah sekarang," kata Guntur.
Nathan masuk perlahan, dan mendapati Desta masih terbaring lemah. Dia mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidurnya.
"Desta, ada apa kamu mencariku?"
"Kamu sudah datang, Nathan?" tanya Desta sambil membuka mata.
"Iya, ada apa mencariku?"
"Mendekatlah, aku akan membisikan sesuatu rahasia padamu?" kata Desta.
Nathan menundukkan kepalanya dan mendekatkan telinganya tepat di depan mulut Desta. Desta membisikan sesuatu pada Nathan yang membuat matanya melebar dan ada rasa kesal disitu. Setelah selesai berbisik, Desta meminta maaf pada Nathan, setelah itu Desta kembali memejamkan mata.
Nathan berdiri dengan lemah, dia berjalan keluar setelah dia bisa mengendalikan diri dan mengontrol emosinya.
"Bagaimana, Nathan. Apa yang dia bicarakan?" tanya Guntur penasaran.
"Wa'alaikum salam," jawab Guntur.
Guntur menarik nafas panjang menatap kepergian Nathan. Sepertinya ada sesuatu yang dirahasiakan oleh Nathan.
Sementara Nathan pulang dengan perasaan kacau. Apa yang dikatakan Desta sangat mengganggunya. Akan tetapi semua sudah terjadi, Mungkin lebih baik membiarkan semua berjalan seperti saat ini saja. Toh semua sudah baik-baik saja.
"Assalamualaikum," ucap Nathan setelah sampai di rumah.
"Wa'alaikum salam," balas Lilis dan Naina hampir bersamaan.
Mereka bergantian mencium tangan Nathan. Keduanya mirip kakak dan adik, sikapnya hampir mirip. Nathan tersenyum lalu duduk diantara keduanya.
"Ayah, Naina besok ada lomba baca puisi. Ayah bisa datang?" tanya Naina.
__ADS_1
"Bisa. Anak ayah ikut lomba baca puisi?" tanya Nathan sambil tersenyum.
"Iya. Ibu, besok datang sama ayah, ya?" kata Naina.
"Tapi ibu sedang hamil tua, biar ayah saja yang datang," kata Nathan.
"Apakah ibu bener-bener nggak bisa datang?" tanya Naina sedih.
"Mas, aku tidak apa-apa. Besok kita datang ke sekolah Naina bersama. Ini pertama kalinya Naina ikut lomba, biar dia memiliki semangat juang," kata Lilis pada Nathan.
"Tapi kamu harus hati-hati. Aku kasihan padamu, istriku. Kamu pasti kecapekan dengan kehamilan kamu ini. Udah besar banget dan sebentar lagi melahirkan," kata Nathan.
"Nggak capek, mas. Mungkin yang melihat pasti merasa begitu. Tapi kita sebagai perempuan, justru ini saat yang paling membahagiakan. Bisa mengandung dan hamil dari suami tercinta. Ini anugerah dari Allah. Ini tanda cinta kita lho mas, yang tidak tergantikan. Berapa banyak pasangan yang menginginkannya, tetapi terkadang Allah belum mengabulkan keinginan mereka," kata Lilis tersenyum pada suaminya.
"Benar juga. aku masih ingat. Aku memiliki pegawai yang sudah menikah selama 7 tahun. Dan selama 7 tahun itu mereka belum di karuniai seorang anak. Mereka sering bertengkar karena hal sepele. Bahkan mereka sudah mendaftarkan perceraian mereka di pengadilan agama. Tiba-tiba sang istri diketahui sedang hamil. Akhirnya mereka memutuskan untuk rujuk kembali dan mereka bahagia sekarang. Sekarang aku baru merasakan sendiri arti kehadiran seorang anak. Kita harus mensyukurinya karena itu, adalah anugerah yang paling indah untuk kita," kata Nathan sambil mengelus perut sang istri.
"Makanya, perlakukan anak kita dengan baik, karena anak adalah aset berharga dimasa depan. Anak adalah titipan Allah yang harus kita jaga dengan baik. Semoga anak kita nanti bisa memenuhi harapan kita," ucap Lilis.
"Aamiin. Besok, kita datang ke sekolah Naina. Agar Naina merasakan lengkapnya sebuah keluarga. Aku ingin, dia tidak merasa kekurangan kasih sayang seorang ayah. Aku ingin menjadi ayah kandung baginya sehingga dia tidak perlu mencari lagi kasih sayang dari ayah kandungnya," kata Nathan.
"Terima kasih mas Nathan. Kamu sudah menjalankan tugas seorang ayah yang baik bagi Naina. Aku yakin, Naina tidak akan pernah menyadari bahwa kamu hanyalah ayah tirinya. Kamu lebih baik daripada ayah kandungnya."
"Aku tahu, aku janji, meskipun nanti kita memiliki anak-anak yang lain, Naina tetap anak sulung kita. Tidak akan ada perbedaan diantara mereka. Baik dari segi kasih sayang, pendidikan dan yang lainnya. Bahkan harta warisan, akan tetap terbagi rata."
"Mas, kenapa sampai bicara harta warisan segala. Apa yang bisa kita berikan pada mereka? Harta apa? Harta yang paling berharga adalah pendidikan. Kita beri saja mereka pendidikan untuk bekal hidup mereka. Nanti kalau sudah dewasa, mereka bakalan kerja dan cari nafkah sendiri-sendiri."
"Istriku sayang, saat ini kita memang tidak ada harta warisan yang bisa dibagi-bagi. Tetapi siapa tahu, suatu saat aku bisa kaya lagi, memiliki banyak uang dan banyak memiliki aset berharga. Yang bisa kita berikan untuk mereka?"
"Jangan berkhayal mas, takut aku jika berkhayal terlalu tinggi, nanti jatuhnya bisa sakit banget. Yuk, turun aku bantu turun lewat tangga sebelum jatuh," kata Lilis sambil menepuk bahu sang suami.
Nathan tertawa melihat sikap Lilis. Manisnya wajah istrinya kalau sedang tersenyum.
"Jangan tertawa keras-keras, Mas. Naina sedang tidur tuh," kata Lilis menunjuk Naina yang sudah tertidur di samping Nathan.
"Kita bicara sampai lupa kalau ada Naina. Mungkin dia mendengar pembicaraan kita seperti mendengar sebuah dongeng," kata Nathan tersenyum.
__ADS_1
"Mungkin saja, mungkin suara kita merdu seperti suara penyanyi," kata Lilis.
Nathan memeluk tubuh istrinya dengan penuh kasih sayang. Berasa sempurna hidupnya meski tanpa harta yang melimpah.