
Hari pernikahan Lilis dan Nathan telah tiba. Lilis tersenyum manis dengan menggunakan kebaya berwarna putih tulang dengan sedikit riasan khas Jawa. Lilis tidak mau berdandan terlalu mewah karena mereka hanya akan menikah di KUA saja dan tidak ada pesta seperti rencana awal.
Mbak Surti bertanya-tanya, kenapa harus ke KUA saja? Jawaban Lilis membuat Mbak Surti geleng-geleng kepala.
"Ini pernikahan keduaku, jadi aku mau yang sederhana tanpa pesta. Berharap pernikahanku kali ini akan berbeda dengan pernikahanku yang pertama," jawab Lilis.
"Untuk apa menikah dengan meriah dan pesta yang megah kalau ujung-ujungnya bercerai," tambahnya.
Pernikahan mereka memang seolah sebuah pernikahan yang di rahasiakan dari teman dan kolega Nathan. Kerena Lilis belum siap untuk masuk dan dalam lingkungan orang-orang kaya.
Pernikahan mereka hanya di hadiri oleh keluarga Lilis, Naina dan Mbah Uti. Dan dari pihak Nathan, yang datang hanya Seno. Sementara sang Kakek masih belum bisa di pastikan akan hadir karena masih ada ganjalan dalam hatinya.
Sebagai walinya, Lilis akan menggunakan wali hakim sebagai pengganti ayahnya yang sudah meninggal. Karena Lilis juga tidak memiliki saudara yang bisa dijadikan sebagai wali dalam pernikahannya.
Tepat jam 9 pagi, Nathan datang bersama Seno untuk menjemput Lilis dan keluarganya. Selama perjalanan, Nathan selalu mencuri pandang ke arah Lilis yang tampak sangat anggun dengan pakaian adat Jawa.
Tersungging senyum manisnya saat pangan mereka beradu. Lilis tampak agak malu dengan tatapan Nathan yang seolah sedang memujinya.
"Ibu, ibu cantik sekali," kata Naina ditengah suasana hening.
Semua mata melihat ke arah Naina yang sedang memuji ibunya.
"Naina juga merasa ibu cantik?" tanya Nathan sambil tersenyum.
Naina tersenyum dan mengangguk pelan. Semua orang jadi ikut tersenyum termasuk Lilis. Mobil terus melaju menuju Kantor KUA terdekat.
Sampai disana, mereka sudah disambut oleh pak Hadi, orang yang mengurus pernikahan mereka. Seperti perkataan Nathan yang tidak ingin menyulitkan Lilis. Ternyata Nathan sudah meminta Pak Hadi untuk pergi ke kampung halaman Lilis.
__ADS_1
Karena Lilis berasal dari luar daerah, persyaratan pernikahan akan lebih rumit. Membutuhkan beberapa dokumen dari kampung tempat tinggal Lilis. Pak Hadi yang diminta Nathan untuk mengurus semuanya Sampai benar-benar sesuai yang diperlukan untuk menikah. Pak Hadi juga akan bertindak sebagai saksi pernikahan bersama Seno.
"Mas, apakah Kakek tidak akan datang?" tanya Lilis sebelum acara ijab kabul.
"Aku tidak bisa memastikan Kakek akan datang. Beliau sebenarnya memberi izin, tetapi beliau juga masih belum bisa menerima sepenuhnya pernikahan ini. Maafkan aku Lis. Tidak bisa memberimu yang terbaik. Mungkin saat nanti kamu hamil, Kakek akan dengan senang hati menerima pernikahan kita."
"Lilis mengerti," kata Lilis agak sedih.
"Untuk sementara, aku akan tinggal di rumah kamu sampai Kakek menerima kita. Jangan sedih, tersenyumlah," kata Nathan sambil tersenyum.
Lilis dan Nathan kini menjalani prosesi pernikahan secara resmi. Wali Hakim sudah mulai mengucapkan ijab.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara/ananda Nathan Sugara bin Samuel Sugara dengan anak saya yang bernama Lilis Muneyaroh dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat, tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Lilis Muneyaroh binti Dadang dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.”
"Sah..." kata saksi pernikahan Pak Hadi dan Seno bersamaan diikuti yang lain.
Pak penghulu segera melantunkan doa pernikahan yang di aminkan oleh semua yang hadir di pernikahan Lilis dan Nathan. Setelah itu tandatangan dari kedua mempelai diatas surat nikah.
Diluar ruang pernikahan, terlihat Kakek Edward tengah menyaksikan pernikahan Nathan dan Lilis dengan hati sedih. Ingin rasanya beliau ikut masuk dan mendoakan pernikahan satu-satunya cucu kesayangannya. Akan tetapi, hatinya belum rela jika Nathan menikahi janda beranak satu.
Kakek merasa malu pada kolega dan teman bisnisnya. Apalagi Nathan sudah menolak Santy, gadis yang sudah dipilihnya untuk Nathan. Atau sebenarnya, Kakek hanya ingin memberi muka pada Santy dan keluarganya. Dengan bertindak seolah Kakek tidak merestui hubungan pernikahan Nathan dan Lilis.
Acara pernikahan sudah selesai dan mereka kini sudah resmi menjadi suami istri baik secara agama maupun secara hukum. Nathan mengundang, yang hadir di pernikahannya hari ini untuk menghadiri jamuan makan siang di rumah Lilis.
Setibanya di rumah, Lilis sangat terkejut melihat Sri dan Wendy ternyata ada dirumahnya. Terlihat juga, Mbak Ratih dan Mas Reza sedang membantu mempersiapkan jamuan hari ini. Lebih mengejutkan lagi, kehadiran Mas Galah dan calon istrinya.
__ADS_1
Lilis sama sekali tidak pernah memberi tahu mereka, bahwa hari ini Lilis akan menikah. Mereka tahu dari Mbak Surti yang kebetulan bertemu dengan Mbak Lilis kemarin. Mbak Lilis lalu bertemu Galah dan mereka berencana membuat kejutan. Kejutan mereka berhasil.
Lilis masih belum percaya jika pernikahannya kali ini bisa mengumpulkan orang-orang yang cukup dekat dengannya. Akan tetapi bagi Nathan, kehadiran mereka sangat tidak diharapkan. Terutama mantan-mantan saingan Nathan. Galah dan Wendy.
Kalau mantan suaminya, Nathan tidak khawatir akan datang karena saat melewati rumah kontrakan Desta, rumah itu nampak sepi seakan tidak ada orang didalamnya. Ternyata, Desta tinggal bersama Guntur untuk mengurangi biaya pengeluaran. Sekaligus menumpang hidup pada Guntur sekalian juga untuk meminta Guntur mencarikan pekerjaan untuk Desta.
Semua orang memberikan selamat saat Lilis dan Nathan masuk kedalam rumahnya. Mereka menyalami Lilis dan Nathan satu persatu. Saat tiba giliran Galah menyalami Lilis, Nathan melihat ke arah Lilis dengan wajah penuh rasa cemburu.
Awalnya Lilis tidak menyadari, jika Nathan cemburu. Baru setelah Galah menggoda Nathan, Lilis baru menyadarinya.
"Aku takut, ada yang marah. Dah ah mending aku makan hidangannya saja. Ayo sayang," ucap Galah sambil menggandeng calon istrinya.
"Silahkan saja," Lilis melihat ke arah suaminya yang tersenyum malu.
"Aku tidak melakukan apa-apa. Dia sendiri yang ingin berkata seperti itu," bela Nathan.
"Aku tidak pernah menuduh, kalau Mas Nathan melakukan itu. Merasa bersalah, berarti emang iya dong," ucap Lilis menggoda.
Nathan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Lilis, selamat. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Dimana pun, dengan siapapun, semoga Allah selalu menjaga hatimu agar selalu bahagia dan bisa tersenyum selalu. Kamu berhak bahagia," ucap Wendy membuat hati yang mendengarnya terharu.
"Terima kasih, Wendy. Semoga doamu didengarkan oleh Allah. Semoga kamu juga segera mendapatkan jodoh yang bisa membuatmu bahagia," kata Lilis menambah suasana jadi mengharu biru.
Terlihat dari sudut mata Wendy maupun Lilis mengalir butiran air bening yang segera di usap oleh masing-masing agar tidak keterusan jadi ingin menangis.
Nathan menatap Lilis dan Nathan sejak mereka bersalaman. Ada sesuatu yang tidak dia mengerti. Keduanya terlihat begitu dekat, lebih dekat daripada kepada Galah. Mereka seperti memiliki ikatan yang membuat hati Nathan bergetar dan terasa sesak.
__ADS_1
Haruskah aku bertanya tentang Wendy pada Lilis? Untuk menghilangkan rasa sesak di dadaku karena memendam tanya yang kuat dan ingin segera butuh jawaban dan asupan oksigen. Aku bisa mati lemas melihat semua ini, Lilis.