
Sebenarnya, bagi Lilis, ingatan kejadian 5 bulan lalu itu adalah kejadian buruk yang ingin Lilis lupakan. Masa paling menakutkan dalam hidup Lilis setelah pertemuannya dengan Madam Susi.
Lilis tidak menyangka jika pada akhirnya, Mbak Ratih tahu bagaimana kelakuan suaminya. Tidak menutup kemungkinan jika Reza melakukan hal yang sama pada wanita lain diluar sana.
Akhirnya, Lilis memberanikan diri bertanya pada Mbak Ratih, perihal hal itu. Mbak Ratih sebenarnya mengetahui sifat asli suaminya sejak lama. Hanya saja dia tidak menyangka, jika suaminya berani menggertak Lilis. Padahal dari awal, Mbak Ratih sudah mengancam suaminya untuk tidak berani macam-macam dan mengganggu Lilis.
Mbak Ratih mulai curiga, ketika melihat Reza selalu menghindari Lilis. Bahkan terkesan menjauh. Itu bukan sifat Reza yang selalu welcome dengan semua wanita cantik dan terkesan suka menggoda.
Kalau hanya sekedar takut ancaman Ratih, pasti untuk mengantar ke pasar atau bicara saja tidak masalah. Tapi, ini lebih dari itu, seolah tidak melihat satu sama lain.
Akhirnya, Ratih memaksa Reza untuk bicara. Dan Reza terpaksa menceritakan semuanya pada Ratih tentang kejadian malam itu. Ratih sangat marah kala mendengar pengakuan Reza. Tetapi saat melihat Lilis penuh semangat berjuang untuk maju, Ratih menahan diri menambah persoalan baru bagi Lilis.
Ratih dan Lilis berpelukan untuk saling menguatkan. Karena sejak kejadian itu, Reza lebih bisa menahan diri untuk tidak terlalu dekat dengan wanita lain.
***
Warung makan milik Lilis, masih cukup sepi pada awal pembukaannya. Hanya satu dua orang yang datang untuk sarapan. Bahkan sampai siang hari, makanan Lilis tidak banyak terjual. Demi menghindari makanan basi, Lilis membungkus makanan yang masih ada, lalu dibagikan pada para pemulung dan gelandangan.
Lilis tidak putus asa, walaupun semua itu sudah berlangsung selama hampir seminggu. Lilis mulai mengevaluasi diri dan juga makanan yang dia masak. Mungkin orang sudah terbiasa dengan jenis makanan yang dia masak sama dengan yang ada di warung lain. Jadi mereka tidak tertarik untuk mencoba masakannya.
Lilis mulai berinisiatif untuk membuat masakan khas dari salah satu kota di Jawa Tengah. Nasi Gandul. Lilis juga mengubah tampilan warungnya dan ditambah sebuah angkringan untuk tempat sayurnya. Membuat sebuah poster yang menggugah selera dan dipasang di luar warung.
Awalnya hanya satu dua orang yang datang. Makin lama makin ramai karena mereka mempromosikan nasi gandul dari mulut ke mulut. Lilis mulai merasa kewalahan sampai dia harus mencari pelayan untuk membantunya.
Karena, Mbak Ratih merasa kasihan dengan Lilis, dia meminta Mbak Surti, pelayannya untuk membantu Lilis. Sedangkan dia yang akan mencari pelayan baru. Mbak Surti adalah pelayan lama Mbak Ratih yang sudah berpengalaman. Jadi, diharapkan Mbak Surti tahu apa yang harus dikerjakan tanpa harus belajar lagi. Lilis benar-benar beruntung memiliki saudara jauh seperti Mbak Ratih.
Dengan bertambahnya pelanggan, otomatis pemasukan Lilis semakin banyak. Sebagai rasa bersyukur Lilis, setiap hari Jum'at, dia akan membagikan 20 bungkus makanan kepada orang-orang yang membutuhkan, disekitar tempat tinggalnya.
Suatu hari, Lilis hendak menutup warungnya. Saat itu, datanglah seorang laki-laki menemuinya. Wajahnya tampak serius dan dia terlihat sangat rapi. Lilis tidak ingin berpikir panjang atau terlalu menebak-nebak.
"Maaf, pak. Warung kami sudah tutup. Besok bisa datang lagi," kata Lilis sopan.
"Saya tidak sedang ingin makan. Saya ingin bertemu anda," ucapnya serius.
"Ada perlu apa ya, Bapak mencari saya?" Lilis agak penasaran.
__ADS_1
"Perkenalkan, nama saya Galah."
"Lilis."
Lilis dan Galah saling berjabat tangan. Untuk pertama kalinya, dikota B ini, Lilis berkenalan dengan seorang laki-laki.
"Apa, saya tidak disuruh masuk?"
"Maaf, pak. Saya disini tinggal sendiri, jadi saya tidak bisa menyuruh Bapak masuk. Jika ingin sambil duduk, silahkan disitu ada tempat duduk. Kita bisa duduk disana." ucap Lilis sambil menunjuk kursi di depan warungnya.
"Jangan panggil, Pak. Panggil saja Mas Galah. Baiklah, mari kita duduk disana saja."
Lilis tersenyum mendengar permintaan Galah untuk memanggilnya Mas. Mereka baru saja kenal, Galah sudah memintanya memanggilnya Mas.
Mereka berjalan perlahan menuju kursi yang ada di depan warung Lilis. Mereka pun duduk dengan jarak satu meter.
"Begini, Mbak Lilis. Mungkin Mbak Lilis tidak kenal saya. Tetapi saya sudah mengenal Mbak Lilis sejak Mbak bekerja di warung Mbak Ratih."
"Begitu, ya," ucap Lilis sambil Mengangguk pelan.
"Maksudnya?!"
"Saya ingin melamar Mbak Ratih."
Lilis kaget dengan ucapan Galah. Wajahnya yang tadi serius berubah jadi geli. Ada angin apa, tiba-tiba ada yang melamar. Lilis tertawa kecil yang dikuti Galah yang ikut tersenyum.
"Mas Galah, jangan bercanda. Di kota ini, saya hanya berniat mau mengubah nasib, memiliki usaha sendiri. Saya tidak berpikir untuk yang lain."
"Mungkin saat ini Mbak Lilis belum berpikir menikah lagi. Saya bisa menunggu, sampai Mbak Lilis berubah pikiran."
"Mas Galah belum tahu tentang saya, jadi saya akan menjelaskan sedikit."
"Tidak perlu, saya sudah tahu semua, Mbak Lilis seorang janda satu anak. Sekarang anak Mbak Lilis tinggal bersama neneknya di kampung. Benarkan?"
"Bisa dianggap itu benar. Tetapi, satu hal yang sangat penting yang belum Anda tahu. Saya belum resmi bercerai, jadi saya tidak akan bisa menikah lagi."
__ADS_1
"Kalau begitu, saya akan menunggu sampai Mbak Lilis mendapatkan surat cerai. Saya bisa membantu menyewakan pengacara untuk mengurus perceraian Mbak Lilis."
"Tidak-tidak. Tidak diperlukan. Apakah anda sangat kaya sehingga anda mau menyewa pengacara untuk saya?"
"Alhamdulillah, saya seorang duda tanpa anak. Saya bekerja sebagai mandor bangunan. Bisa dibilang, saya memiliki cukup uang untuk membahagiakan Mbak Lilis."
"Kebahagiaan itu, tidak bisa diukur dengan banyaknya uang. Kebahagiaan itu datang dari hati. Tapi saya sangat berterimakasih pada Mas Galah," ucap Lilis sambil menghela nafas.
"Sifat Mbak Lilis itulah yang membuat saya jatuh hati pada Mbak. Sederhana dan apa adanya. Jadi, meskipun kali ini Mbak Lilis menolak saya, saya akan tetap berusaha untuk membuat Mbak Lilis menyukai saya."
"Sekali lagi, saya minta maaf yang sebesar-besarnya, Mas Galah."
"Saya punya satu permintaan."
"Apa?"
"Izinkan saya menjadi teman Mbak Ratih untuk saat ini."
"Boleh, saja."
"Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa minta bantuan padaku. Karena kita berteman sekarang kan?"
"Ya, mungkin suatu saat, saya butuh bantuan Mas Galah. Terimakasih."
"Sesama teman, tidak perlu sering mengucapkan terimakasih. Sudah lama aku di sini, aku permisi pulang dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam."
Setelah mengucap salam, Galah beranjak pergi sambil membawa hatinya yang kecewa telah ditolak Lilis. Meski sedikit terobati dengan bisa ada disisi Lilis sebagai teman.
Sementara, Lilis menghela nafas panjang. Lamaran Galah, benar-benar membuatnya kaget. Tapi, Galah adalah pria yang baik. Dia datang dengan sopan untuk melamarnya. Tanpa ada tersirat sedikitpun rasa melecehkan dirinya.
Dia memiliki pekerjaan yang bagus, seorang mandor bangunan yang sukses. Galah juga memiliki paras yang tampan, dewasa dan tubuh yang kekar. Kalau dilihat sekilas, usianya mungkin sekitar 30 tahunan.
Jika Lilis setuju dengan lamaran Galah, usia mereka terpaut 8 tahun karena Lilis saat ini berusia 22 tahun. Mungkin saat Lilis lelah, dia bisa bermanja padanya. Bisa ngemong Lilis juga. Tetapi, di hati Lilis saat ini belum terpikirkan untuk menikah lagi. Lilis juga belum melakukan gugatan cerai pada Desta, mantan suaminya.
__ADS_1
Bersambung