Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 63. Sombong dibalas sombong


__ADS_3

Ditengah kekesalan hatinya, Desta sedikit merasa lega. Sebuah pemberitahuan masuk di ponselnya, bahwa uang yang dia minta dari Guntur sudah dikirimkan ke rekeningnya. Senyumnya mengembang bak bunga mawar.


Ah, nikmatnya memiliki pohon uang yang bisa dipetik setiap saat, batin Desta.


Desta memang sangat pemalas, dan sampai sekarang dia belum berubah. Dia tidak ingin capek bekerja, tetapi dia ingin memiliki segalanya. Dipikir secara nalar juga nggak bakal ketemu. Malas tapi kaya. Kalau mau kaya, tentu harus bekerja. Bahkan terkadang sudah bekerja banting tulang, masih saja tidak bisa kaya.


Tidak berapa lama, pesanan dia telah datang. Sepiring nasi gandul dan segelas minuman segar telah menunggu dihadapannya untuk segera dilahapnya. Saat asyik menikmati makanannya, matanya tertuju pada seseorang yang sangat familiar baginya. Dia adalah Nathan.


Nathan membawa baki berisi pesanan pelanggan ditangannya. Dia sama sekali tidak menduga jika Desta ada di restoran ini. Desta tersenyum dan dia sudah tidak sabar ingin membalas sakit hatinya pada Nathan karena sudah merebut Lilis darinya.


Selesai mengantarkan pesanan, Nathan berhenti karena ada yang memanggilnya. Dia hafal suara siapa itu.


Desta berpura-pura pergi ke toilet untuk mendekati Nathan. Agar lebih bisa bicara sepuasnya. Bukan bicara, lebih pada ingin mengejeknya sepuasnya. Sudah lama mereka tidak bertemu sejak Nathan terbukti bukan anak keluarga Sugara.


"Nathan, apa kabar," sapa Desta berpura-pura baik.


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Tetapi sepertinya kamu yang tidak baik-baik saja," jawab Nathan sambil tersenyum sinis.


"Kamu salah, Nathan. Setelah kamu keluar dari keluarga Sugara, akulah yang menikmati semua hasil kerja kerasmu. Ini sebagai ganti karena kamu telah mengambil milikku. Kamu ambil Lilis, aku ambil uangmu, hahaha," tawa Desta terdengar hingga ke ruang sebelah.


"Kamu terlihat sangat senang sekali dengan apa yang sudah kamu dapatkan. Kamu tidak pernah menyadari bahwa kamu telah melakukan kesalahan," kata Nathan membuat Desta berhenti tertawa.


"Kesalahan, kesalahan apa. Aku malah merasa, aku sudah melakukan hal yang benar dan berguna untukku," kata Desta bangga.


"Kamu telah menyia-nyiakan istri sebaik Lilis. Tetapi mungkin itu sudah takdir. Dengan sikapmu itu, aku bisa bertemu Lilis dan bisa memiliki dia seutuhnya," jawab Nathan lebih bangga lagi.


"Dasar banyak bacot, kamu Nathan," ucap Desta marah.


"Kamu terlalu membanggakan uang. Kamu telah menggantikan Lilis dengan uang. Padahal, seberapa banyak uangmu tidak akan pernah mampu menggantikan posisi Lilis. Aku lebih beruntung memiliki Lilis. Uang masih bisa dicari, tetapi Lilis tidak bisa dicari diluar sana. Karena hanya ada satu Lilis dan tidak akan pernah tergantikan dengan Lilis yang lain," kata Nathan sambil tersenyum.


Ucapan Nathan semakin membuat darah Desta mendidih. Niatnya kali ini, ingin membuat Nathan down, akan tetapi kenapa malah dirinya yang down, setelah mendengar ucapan Nathan?

__ADS_1


Sedangkan Nathan tertawa dalam hatinya melihat Desta menahan amarah setelah mendengar ucapannya. Tiba-tiba, sebuah pukulan mengenai wajahnya. Cukup keras dan cukup membuat Nathan meringis menahan sakit. Menyadari Desta yang sudah memukulnya, Nathan meletakan baki di lantai lalu dengan keras membalas memukul wajah Desta. Keduanya saling memegangi wajah mereka masing-masing.


Saat tatapan mereka beradu, seperti sebuah tantangan yang terbuka. Nathan dan Desta hendak maju untuk duel. Akan tetapi, Wendi dan Sri yang mendengar ada perkelahian langsung melerai mereka. Sri menghalangi Nathan dan Wendi memegangi Desta.


"Nathan tenanglah, jangan berkelahi di sini. Akan menggangu kenyamanan para pelanggan. Ini bisnis istrimu, jangan menghancurkannya. Kamu akan menyesal nantinya," kata Sri.


"Desta, kamu tidak ada kapok-kapoknya, selalu saja mencari masalah dengan keluarga Lilis. Heh, kamu pergi sana. Dulu sering membuat Lilis sakit hati, sekarang kamu mau membuat restoran Lilis bangkrut. Kalau masih punya hati, segera tinggalkan tempat ini!" gertak Wendi.


"Kalian, bisanya main keroyokan," kata Desta menahan emosi.


Desta lalu melangkah pergi dengan hati penuh emosi. Sambil memegangi bibirnya yang sedikit berdarah karena pukulan balasan dari Nathan, dia mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Sementara Nathan mengusap sudut bibirnya yang juga berdarah karena pukulan Desta dengan tisu yang diberikan Sri padanya.


"Wendi, apa tidak sebaiknya Nathan pulang saja. Biar dia obati lukanya dirumah. Tidak mungkin dia bekerja dengan kondisi seperti itu," kata Sri sambil melihat ke arah Wendi


"Boleh. Nathan pulanglah dan obati lukamu dirumah. Ingat, jangan buat Lilis cemas," kata Wendi.


"Terima kasih, aku pulang dulu. Maaf telah membuat kalian cemas."


"Aku pulang dulu. Sri, suruh orang untuk melanjutkan tugasku. Tadi masih ada pesanan yang belum aku antar," kata Nathan menjelaskan.


"Jangan khawatir, aku yang akan urus semuanya," kata Sri.


Nathan melangkah menuju loker pegawai dan berganti pakaian. Dia bergegas pulang.


Semoga Lilis tidak kaget melihat luka di wajahku, batin Nathan.


Sampai dirumah Nathan, bergegas memarkir sepeda motornya lalu berdiri sebentar di depan pintu.


"Assalamualaikum," ucap salam Nathan sambil membuka pintu.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam," jawab Lilis yang baru selesai masak untuk makan malam nanti.


Lilis tampak kaget melihat ada luka di sudut bibir suaminya.


"Mas, itu bibir kenapa?" tanya Lilis penasaran.


"Tidak apa-apa. Nanti aku ceritakan. Aku mandi dulu ya," kata Nathan bergegas masuk ke kamar untuk mandi.


Lilis mencari kotak obat untuk mengobati luka Nathan dan menunggunya di kamar. Nathan selesai mandi dan berganti pakaian dengan cepat karena dia tahu, Lilis sudah menunggunya. Nathan duduk di tepi ranjang di samping Lilis. Lilis dengan pelan dan lembut mengolesi luka Nathan dengan obat anti infeksi. Nathan sedikit meringis menahan perih.


"Mas, tadi katanya mau cerita. Aku tungguin ya," kata Lilis sambil duduk tenang menunggu.


"Oh, gini. Tadi ada yang ngajak ribut aku, dan pamer uang. Aku nggak suka aja, tingkah sombongnya. Aku bales menyombongkan diriku, supaya dia merasa masih ada yang lebih dari dia. Tahunya dia malah marah dan memukul aku karena merasa aku menjengkelkan. Menurutmu, apakah aku salah?" tanya Nathan sambil menatap Lilis lembut.


"Gimana ya, mas. Menurutku, kekanak-kanakan sih. Tapi mungkin juga perlu digituin, supaya dia nggak sombong lagi. Diatas langit masih ada langit," kata Lilis tersenyum manis.


"Untungnya ada Wendi sama Sri yang misahin kita. Kalau nggak, mungkin kita sudah berantem," kata Nathan malu.


"Mas, sudah dewasa kok masih mau berantem sih. Nggak malu apa dilihatin orang-orang dan jadi bahan tontonan gratis. Lain kali, semarah apapun mas Nathan, coba lah untuk menahan diri. Kalau terjadi sesuatu pada mas Nathan, siapa yang sedih dan cemas, aku dan anak-anak mas," kata Lilis lagi.


"Iya, maaf ya sayang, kadang emosiku memang agak kurang stabil," kata Nathan sambil memegang jari-jari Lilis.


"Kalau mas Nathan mau berantem dan meluapkan emosi, sini sama aku aja," kata Lilis sambil duduk dipangkuan Nathan.


"Lis, ada-ada saja. Mau berantem apa mau apa nih. Jangan mancing serigala yang lagi bertapa," kata Nathan sambil memeluk Lilis pelan.


Memang harus pelan, karena Nathan takut terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.


"Lilis cuma mau buat mas Nathan tersenyum, dan tidak memendam emosi lagi. Gantilah sama emosi penuh cinta saja," kata Lilis membalas pelukan Nathan.


"Entar malem, baru bisa lupain emosi cintaku. Kalau aku luapin sekarang, kamu pasti yang lari. Bentar lagi masuk waktu Maghrib. Ajak Naina dan ibu untuk berjamaah," kata Nathan melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Iya, Mas siap-siap dulu, aku panggil Naina dan ibu," kata Lilis bergegas keluar untuk memanggil Naina dan ibu.


Maaf istriku sayang, aku tidak jujur bahwa orang yang berantem denganku adalah Desta. Aku tidak mau kamu cemas dan berpengaruh untuk calon anak kita. Semoga Allah memaafkan aku, batin Nathan.


__ADS_2