
Sebulan telah berlalu, dan kesehatan Desta sudah mulai membaik. Diapun sudah mulai bisa berjalan meski dengan kaki pincang.
Tanpa sepengetahuan Desta, Wendi memberitahukan kondisi Desta pada orangtuanya dikampung. Dan atas bantuan biaya dari Nathan, ayah dan adik Desta datang untuk membawa Desta kembali ke kampung. Demi kebaikan semua orang, Desta akhirnya memilih pulang bersama ayah dan adiknya. Sebelum membawa Desta pulang, ayah dan adik Desta datang menemui Lilis dan Nathan untuk meminta maaf.
"Lis, ayah minta maaf. Karena sejak awal, ayah sudah mengetahui sifat Desta. Mulanya, ayah berharap, dengan menikah, dia akan memiliki rasa tanggungjawab karena ada anak dan istri yang harus dia nafkahi. Jika tahu akhirnya akan jadi seperti ini, ayah tidak akan pernah setuju dia menikahimu" kata ayah Hardi.
"Ayah, ayah dan ibu sama sekali tidak bersalah. Sayalah yang salah karena tidak mengenal baik calon suami Lilis. Lilis hanya mengandalkan cinta. Karena ternyata, cinta saja tidak cukup untuk membina sebuah keluarga. Masih banyak faktor lain yang juga penting," kata Lilis sambil menghela nafas.
"Ayah tahu, Desta sangat mencintai kamu meskipun dia memiliki motif untuk memanfaatkan kamu. Kali ini, ayah akan membawanya pulang. Maafkan dia untuk terakhir kalinya," kata ayah Hardi.
"Ayah, saat di rumah sakit, saya telah mengatakan semua padanya. Meski saat itu dia masih dalam keadaan koma, Lilis yakin dia juga mendengarkan. Meski semua berakhir, Lilis akan tetap menganggap keluarga ayah sebagai keluarga Lilis."
"Syukurlah, ayah tenang sekarang. Ayah lihat, kehidupanmu sangat baik. Ayah rasa sebentar lagi kamu juga akan melahirkan," kata ayah Hardi.
"Benar, ayah. Kehamilanku sudah memasuki bulan ke 8. Sebentar lagi melahirkan."
"Semoga kamu bisa melahirkan dengan selamat dan bayimu normal," kata ayah.
"Aamiin, terimakasih atas doa ayah. Kapan ayah dan dek Danang pulang kampung?"
"Besok, ayah pamit sekarang, karena besok mungkin ayah tidak akan sempat berpamitan padamu."
"Kalau begitu, Lilis ingin menitipkan oleh-oleh untuk ibu dan adik-adik mas Desta. Nanti Lilis akan suruh seseorang untuk mengantarkan ke rumah sakit."
"Terima kasih, Lis. Terima kasih juga karena kalian tidak menuntut Desta, sehingga Desta tidak di penjara."
"Sama-sama ayah."
"Titip salam juga untuk Naina, ibumu dan suamimu. Ayah tidak bisa mengatakan langsung pada mereka."
"Iya, nanti akan Lilis sampaikan kalau mereka sudah pulang."
"Ayah dan Danang pamit dulu. Assalamualaikum," kata pak Hardi.
"Wa'alaikum salam."
"Danang juga pamit mbak Lilis. Assalamualaikum," kata Danang.
"Wa'alaikum salam."
Lilis menatap kepergian mantan ayah mertua dan mantan adik iparnya pergi.
***
__ADS_1
Setelah kepergian Desta, Guntur dan Sita bertunangan. Pertunangan yang dilakukan secara mewah di sebuah hotel ternama dikota B. Guntur dan Sita masih belum mengetahui perasaan masing-masing dan mereka masih merasa jika pasangan mereka terpaksa menerima pertunangan ini. Karena itu, masing-masing menjaga jarak sehingga membuat fotographer bertindak.
"Lebih dekat lagi, Mas Guntur. Pegang pinggang Mbak Sita. Ah, kurang mesra dikit," teriak fotografer saat acara foto-foto.
Semua mata tertuju pada satu pasangan yang baru saja bertunangan itu. Keduanya tampak malu-malu.
Setelah selesai acara pertunangan, foto-foto dilanjutkan acara makan-makan. Guntur mengajak Sita keluar dari acara pesta secara diam-diam. Mereka pergi ke rumah makan yang pernah mereka kunjungi berdua. Sita merasa bahagia, meskipun dimatanya Guntur terpaksa menerima pertunangan ini, tetapi Guntur sangat perhatian padanya lebih dari sekedar tanggungjawab.
Selesai makan mereka berjalan-jalan diseputaran alun-alun kota. Mereka berjalan berdampingan sambil berbincang. Tampak tangan Guntur bergerak hendak menggandeng tangan Sita. Akan tetapi secara mendadak, tangan Sita bergerak menunjuk ke arah kembang api. Guntur menjadi salah tingkah dan menarik tangannya kembali.
Saat Sita asyik menikmati meriahnya kembang api, Guntur memegang tangan Sita dengan ragu. Awalnya Sita kaget, tetapi dia merasa senang, Guntur memiliki inisiatif untuk memegang tangannya. Sita membalas sentuhan Guntur dengan lembut.
Kedua tangan mereka saling bertautan. Guntur melirik kearah Sita yang tersenyum manis. Sebelum kembang api berakhir, Guntur berbisik di telinga Sita dengan lembut
"Aku mencintaimu, Sita."
"Apa ... aku tidak dengar!" teriak Sita.
"Aku mencintaimu, Sita," ucapnya lagi.
Akan tetapi, Sita sama sekali tidak mendengar dengan jelas dan Sita malu kalau harus bertanya lagi. Dia hanya tersenyum melihat Guntur yang terlihat puas, sudah mengutarakan isi hatinya.
Gebyar kembang telah selesai, Sita tersenyum melihat Guntur yang masih menggenggam erat tangannya. Sita juga enggan untuk melepaskan.
"Jam 10. Kenapa, apakah kamu ingin pulang sekarang?" tanya Guntur.
"Sebenarnya, ayah dan ibu sangat ketat dan menerapkan jam malam bagi Sita. Tapi setelah Sita bertunangan, Sita tidak tahu apakah mereka masih akan menetapkan jam malam untuk Sita," kata Sita menjelaskan.
"Kalau begitu, biar aku yang meminta izin pada orangtuamu. Untuk membiarkan malam ini kamu keluar denganku lebih malam."
"Terima kasih, mas."
Guntur menghubungi nomor ponsel ayah Sita, pak Damian. Dan dalam hitungan menit sudah langsung dijawab.
"Selamat malam ayah Damian, ini Guntur."
"Hai nak Guntur, selamat malam. Ada apa?"
"Ayah, sekarang Sita bersamaku. Aku ingin minta izin untuk membawanya pulang agak malam."
"Guntur, Sita sekarang adalah tunanganmu, jadi kamu boleh ajak dia sampai jam 11 malam saja ya. Jaga Sita dengan baik."
"Baik ayah."
__ADS_1
Guntur menutup panggilannya. Dia menghela nafas dan tersenyum.
"Hanya tambah satu jam saja," kata Guntur.
"Yang penting, masih dikasih waktu sama ayah," kata Sita tersenyum malu.
"Ternyata, mereka sangat menyayangimu. Meskipun mereka memiliki peraturan ketat padamu, itu sebagai wujud mereka mencintaimu."
"Benar. Orang tuaku, memang ketat sekali padaku. Mereka terlalu khawatir, jika aku ikut pergaulan bebas. Mungkin karena aku anak gadis satu-satunya di rumah."
"Meskipun bukan anak gadis satu-satunya, aku ingin nanti, anak-anak kita juga bisa seperti kamu. Mengikuti aturan keluarga."
"Tapi aku juga pernah tidak ikut aturan."
"oh ya, kapan?"
"Saat hatiku sedih. Aku pergi ke karaoke bersama Desta. Masih ingat?" tanya Sita malu.
"Jadi saat itu kamu sedang sedih? Apa yang bisa membuat kamu sedih, aku jadi penasaran."
"Karena kamu menolak ku," jawab Sita lirih.
"Aku tidak pernah menolakmu, kamu saja yang berpikir begitu."
"Apa, tidak menolak?"
"Iya. Sejak pertama kita ketemu, aku sudah jatuh hati padamu. Namun saat itu aku masih belum percaya diri, bersanding dengan wanita cantik dan baik sepertimu. Masa laluku menjadi hal yang paling aku takutkan."
"Benarkah, kenapa kita bisa sama. Aku juga jatuh cinta pada mas Guntur, sejak pertama kali kita ketemu di pesta itu. Tapi kenapa aku tidak pernah peka? Kalau tentang masa lalu mas Guntur, tenang saja, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Yang penting pribadinya baik, dan bisa menjadi imam yang baik untukku. Bisa menjadi sandaran karena aku orangnya manja dan gampang baper."
"Aku suka gadis yang agak-agak manja, karena dengan begitu, aku merasa di butuhkan. Tapi, aku tahu saat ini kamu bekerja di tempat ayahmu dan menjadi orang penting disana. Kamu akan menjadi wanita mandiri dan aku tidak tahu apakah aku masih akan menjadi sandaran bagimu dimasa depan."
"Aku baru saja masuk ke sana. Jika memang mas Guntur menginginkan aku berhenti, maka aku akan berhenti."
"Tidak, Sita. Selama kamu bisa menjalankan tugas sebagai seorang istri, aku tidak akan memaksamu berhenti bekerja. Usia kamu masih terlalu muda untuk menikah. Jadi aku tidak mau jadi penghalang impianmu."
"Mas, kita belum menikah. Jadi masih ada kemungkinan lain untuk masa depan kita. Entah aku akan berhenti bekerja atau aku akan tetap bekerja. Tapi semoga tidak akan mempengaruhi pernikahan kita."
"Benar juga. Kita belum menikah, sudah membicarakan urusan rumah tangga. Masih terlalu dini kan," kata Guntur tersenyum malu.
"Yang penting, aku sudah tahu kalau mau Guntur mencintai aku," kata Sita membalas senyum Guntur.
"Iya, aku juga."
__ADS_1