Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 45. Menemui Kakek


__ADS_3

Kakek Edward mengusap air bening yang menetes di pipinya agar Nathan tidak melihatnya. Kakek tersenyum melihat Nathan untuk menutupi perasaannya.


"Kakek, ada apa? Jika Kakek melihat foto-foto ini, pasti hati Kakek sedang sedih. Katakan pada Nathan, jika Nathan bisa bantu, pasti Nathan bantu," kata Nathan sambil duduk didekat Kakeknya.


"Kakek tidak sedang sedih, tetapi justru Kakek sedang bahagia karena kamu sekarang sudah menikah dengan wanita pilihanmu. Apa kamu bahagia?" tanya Kakek.


"Bahagia sekali, Kek. Terimakasih sudah mengizinkan Nathan menikah dengan wanita pilihan Nathan. Tapi kenapa saat pernikahan Nathan Kakek tidak datang?" tanya Nathan.


"Kakek datang, tapi Kakek tidak masuk. Kakek hanya bisa mendoakan kalian dari jauh. Kakek harus menjaga perasaan orangtua Santy. Oh ya, apa kamu datang sendirian?"


"Bertiga, Lilis dan Naina. Mereka ada di bawah. Apa kakek mau menemui mereka?"


"Tentu saja, Kakek mau menemui mereka. Ayo kita segera turun, jangan biarkan mereka lama menunggu," kata Kakek sambil berdiri.


Nathan dan kakek bergegas turun ke bawah untuk menemui Lilis dan Naina.


Lilis dan Naina berdiri setelah melihat kedatangan kakek Edward. Di dalam hati, Lilis masih menyimpan rasa takut dan rasa tidak percaya diri karena peristiwa yang dulu. Kakek Edward tersenyum melihat Lilis dan Naina. Di dalam hati, Kakek Edward juga merasa bersalah pada Lilis. Semoga Lilis bukan wanita yang menyimpan dendam.


"Assalamualaikum, kakek," sapa salam dari Lilis kemudian.


"Wa'alaikum salam. Lilis, Naina, duduklah. Kakek ingin bicara sesuatu pada kalian," ucap Kakek sambil duduk.


Nathan membantu Naina duduk di samping Kakek. Kakek tersenyum melihat Naina sangat manis dan cantik. Meskipun dia bukan anak Nathan, tetapi Naina bisa membuat orang menyukainya, termasuk Nathan dan Kakek.


"Naina, mau makanan ringan apa? Nathan, bawa Naina ambil makanan di dalam. Kelihatannya, dia pingin sesuatu," kata Kakek saat melihat Naina gelisah.


Nathan sebenarnya enggan meninggalkan Lilis bersama kakek. Nathan takut jika kakek mengatakan sesuatu kepada Lilis yang akan membuat Lilis pergi meninggalkannya.


"Kakek, aku...."


"Apa yang kamu takutkan? Kakek tidak akan membuat Lilis sedih," kata Kakek mengerti kekhawatiran Nathan.


Nathan tersenyum malu mendengar perkataan sang Kakek. Dia melihat ke arah Lilis yang di balas senyum oleh Lilis. Nathan menggendong Naina masuk kedalam untuk mencari makanan ringan di dalam kulkas.

__ADS_1


Sementara Kakek Edward menghela nafas panjang, lalu tersenyum tipis.


"Lilis, apa kabar?"


"Baik, Kek. Kakek sendiri, bagaimana?"


"Baik juga. Kakek merasa senang, melihat kalian hidup berbahagia setelah menikah. Nathan, cucu Kakek itu, dari dulu tidak pernah mau dekat dengan wanita. Bahkan dia terkesan dingin dan tidak romantis. Aku harap, kamu bisa memahami dia kalau dia tidak bisa sesuai harapanmu."


"Kakek, bagi Lilis, Mas Nathan sangat hangat terhadap kami. Bahkan dia lebih romantis dari yang Lilis harapkan," kata Lilis sambil tersenyum.


"Mungkin saja, itu karena dia sudah menemukan wanita yang dia cari. Lilis, Kakek minta dua hal saja sama kamu. Tolong, dampingi Nathan disaat dia senang maupun susah. Karena kamu adalah kekuatan Nathan. Jika kamu menyerah, Nathan tidak akan bisa hidup," kata Kakek serius.


"Lilis janji, Lilis akan selalu menemani Mas Nathan. Baik dalam keadaan susah ataupun senang. Kakek tidak perlu khawatir, Mas Nathan pria yang baik. Lilis tidak akan menyia-nyiakan kesempatan memiliki suami seperti mas Nathan. Lalu apa yang kedua, Kek?" tanya Lilis.


"Kedua, Nathan adalah satu-satunya pewaris keluarga Sugara. Jika kamu tidak keberatan, berilah dia keturunan dan anak-anak yang banyak, yang bisa meramaikan rumah ini."


"Kalau itu, Lilis tidak bisa berjanji. Karena anak itu pemberian Allah. Tapi Lilis akan berusaha untuk memenuhi harapan Kakek," ucap Lilis sambil menghela nafas.


"Kakek puas dengan jawaban kamu. Kakek juga minta maaf, dulu pernah membuat kamu sedih saat pertama kali datang ke rumah ini."


"Ibu, lihat. Naina punya banyak makanan. Tuh, sama ayah juga ada," teriak Naina kegirangan.


"Iya, sini boleh bagi sama ibu?" tanya Lilis pura-pura meminta.


"Boleh, tapi satu saja. Ayah, jangan kasih orang lain," kata Naina sambil memberi ibunya satu bungkus snack.


"Kakek sengaja membeli itu semua, jika sewaktu-waktu kalian datang, bisa dikasih ke Naina," kata Kakek sambil tertawa pelan.


"Terimakasih, Kakek," ucap Nathan terharu.


"Bilang apa sama Kakek?" tanya Lilis pada Naina.


"Makasih, Kakek Uyut," ucap Naina dengan gaya lucunya.

__ADS_1


"Mana hadiah untuk Kakek Uyut. Sini, mau main sama Kakek Uyut?" kata Kakek penuh harap.


Naina melihat kearah ibu dan ayahnya bergantian. Lilis mengangguk pelan dominan juga Nathan. Naina pun tersenyum lalu mendekati Kakek.


"Ayo, kita main. Main apa?" tanya Naina.


"Ayo ikut Kakek, kita ambil mainan ayah waktu masih kecil. Masih ada beberapa yang tersimpan."


Kakek Edward mengajak Naina mengambil mainan Nathan waktu kecil yang masih tersimpan di kamar Nathan dulu. Lilis dan Nathan tersenyum melihat kedekatan Naina dan Kakek. Nathan menggenggam erat tangan Lilis.


Lilis sangat bahagia, masalah dengan Kakek sudah selesai dan berakhir bahagia. Meski Lilis harus menerima beberapa keinginan dari Kakek Edward. Lilis menganggapnya sebagai hadiah untuk seorang Kakek yang ingin segera menimang buyut. Lilis juga yakin, jika Nathan menginginkan hal yang sama seperti Kakek. Memiliki anak dan hidup bahagia.


Untuk Naina, entah sampai kapan, Lilis akan bisa memberitahu Naina jika ayah Nathan bukanlah ayah kandungnya melainkan hanya ayah sambung. Atau mungkin, Naina tidak perlu tahu jika Nathan hanyalah ayah tiri.


Lilis masih harus mendiskusikan dengan Nathan dan ibu, untuk memutuskan semua ini.


Atas permintaan Kakek, malam ini mereka menginap di rumah Kakek yang juga merupakan rumah Nathan. Untuk masalah pakaian ganti, Nathan meminta Seno untuk membelikan pakaian ganti untuk Naina. Sedangkan Lilis, memakai pakaian santai Nathan. Kaos oblong dengan bawahan celana pendek.


Nathan menatap Lilis yang tampak manis dengan memakai pakaian miliknya. Senyumnya mengembang dan jiwa menggodanya muncul. Nathan berjalan mendekati Lilis dan langsung memeluknya dari belakang. Lilis kaget, namun juga senang dengan perlakuan Nathan. Perlakuan yang sederhana, tetapi membuat hati Lilis merasa di perhatikan dan disayangi suaminya.


Lilis hanya tersenyum dan membiarkan Nathan membelai rambutnya dengan wajahnya. Meski Lilis merasa agak geli, tetapi dia berusaha menikmati saat-saat romantis yang diberikan suaminya.


Demikian juga Nathan, karena tidak ada penolakan dari Lilis, Nathan mulai mencium telinga dan wajah Lilis. Lilis mengangkat bahunya karena merasa geli, namun malah menambah keinginan Nathan untuk kembali menciumnya lagi dan lagi.


"Ayah, ibu..."


Nathan melepaskan pelukannya ketika mendengar teriakan Naina. Mereka bersama-sama membalikkan badan dan tersenyum pada Naina.


"Naina sudah mengantuk?" tanya Lilis.


"Iya, Bu. Naina mau tidur."


"Baiklah, ayo kita tidur," kata Nathan.

__ADS_1


Nathan mengangkat tubuh Naina dan mereka tidur bersama di satu ranjang. Naina memilih tidur di pelukan ibunya, sehingga Nathan bisa tidur di samping Lilis sambil memeluk Lilis. Mereka terlelap hingga pagi menjelang.


__ADS_2