Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 40. Bertemu Wendi


__ADS_3

Acara makan-makan berlangsung dengan meriah. Meski yang datang hanya sahabat, teman dan beberapa kerabat. Nathan terus memperhatikan sikap Wendi yang sering mencuri pandang terhadap Lilis. Jika diperhatikan lebih seksama, Nathan mencoba menganalisa sendiri hubungan antara Lilis dan Wendi.


Wendi mencintai Lilis, tetapi Lilis hanya menganggapnya teman. Terlihat dari sikap Lilis yang biarpun terlihat lebih perhatian tetapi juga biasa saja.


Masak, malam pertama aku harus bertanya tentang dia pada Lilis? Nggak banget, bisa-bisa mengganggu malam pertamaku.


"Aku senang sekali, kalian datang. Kalian tidak bingung kan mencari alamatku? Aku kira kalian bohong padaku kalau mau datang. Ih...ternyata beneran," ucap Lilis sambil tertawa senang.


"Bukan aku yang pingin benar-benar datang. Biaya transportasi pulang pergi aja jutaan, belum biaya tempat tinggal dan makan. Dia nih yang pingin sekali ketemu kamu dan Naina setelah mendengar kabar kalau kamu akan menikah," jawab Sri sambil melihat ke arah Wendi.


"Aku senang kamu datang disaat aku bisa tersenyum, tidak sedih seperti yang selalu kamu lihat dulu," kata Lilis pada Wendi.


"Aku juga senang, bisa melihatmu tersenyum dan bahagia. Kali ini aku datang, karena kau tidak yakin akan bisa bertemu denganmu lagi dimasa depan. Hidup kamu sudah jauh lebih baik disini, apalagi sekarang kamu sudah memiliki suami. Aku yakin kamu pasti sudah tidak ada niat lagi untuk kembali ke Jawa," kata Wendi sedih.


"Mungkin. Tapi kenangan bersama kalian, akan selalu ada di hatiku. Kalian yang selalu ada disaat-saat paling sulit dalam hidupku. Disaat aku putus asa, kelaparan dan membutuhkan sandaran. Kalian sahabatku yang paling berjasa dalam hidupku," ucap Lilis sambil menangis.


"Lilis, sudahlah. Jangan terus mengingat masa lalu. Aku yakin kamu tidak akan pernah melupakan kami sahabatmu. Zaman modern seperti sekarang, apa yang tidak bisa bertemu. Lewat Video Call juga sudah bisa lihat lihat dan berbicara sepuasnya," kata Sri.


"Itu beda Sri. Ketemu langsung dengan Video Call tidak sama rasanya," kata Wendi.


"Apanya yang beda, rasa nanas, rasa apel atau rasa stroberi?" tanya Lilis bergurau.


"Rasa stroberi kali, Lis," jawab Sri.


Mereka tertawa bahagia seolah hanya ada mereka bertiga. Ketiga sahabat masa kecil itu tampak sangat akrab. Nathan hanya bisa menghela nafas melihat ketiganya. Rasanya dia ingin ikut bergabung, namun dia tidak begitu akrab dengan kedua sahabat Lilis tersebut.


Lilis mengajak Wendi dan Sri untuk bertemu dan ingin mengenalkannya pada suami barunya. Wendi terlihat agak malas bertemu dengan Nathan, karena baginya Nathan telah membuatnya harus menyerah dengan cintanya.


"Mas Nathan, sini Mas."


Nathan tersenyum saat Lilis memanggilnya. Sebenarnya dia juga malas bertemu Wendi, karena Nathan merasa, Wendi terlalu mencintai Lilis. Jauh-jauh datang dari Jawa ke kota B ini hanya untuk menghadiri pernikahan sahabatnya. Sahabat atau orang yang dicintainya?


Mirip dengan mantan suami Lilis yang juga mengejarnya hingga ke sini. Benar-benar membuat hati kesal.


"Mas, kenalkan ini Sri, temen aku dari kampung. Temen satu desa sekaligus temen sekolah juga. Jadi kami sangat akrab, sudah seperti saudara," kata Lilis memperkenalkan sahabatnya.


"Nathan, suami Lilis."

__ADS_1


Nathan menjabat tangan Sri sambil tersenyum.


"Sri, sahabat Lilis."


"Dan ini. Sahabat baik Lilis, sama seperti Sri tetapi dia lebih berperan sebagai penolong Lilis saat di kampung. Namanya Wendi," kata Lilis.


"Nathan, suami Lilis."


"Wendi."


Nathan menjabat tangan Wendi yang ternyata tidak mau menyebutnya sebagai sahabat Lilis seperti Sri.


Dasar laki-laki, berani mencintai istriku.


Mereka berjabat tangan dengan erat, bahkan Nathan dan Wendi sama-sama saling mengeluarkan tenaganya. Pandangan yang saling beradu dengan tatapan tajam setajam silet. Lilis melihat apa yang mereka lakukan namun dia pura-pura tidak tahu. Lilis langsung menarik tangan suaminya dan mengajaknya menemui yang lain.


"Ayo Mas, aku kenalkan dengan yang lain," ucap Lilis tenang walau dalam hatinya ingin tertawa.


Nathan menurut saja apa yang dikatakan Lilis. Namun tatap matanya tidak lepas melihat ke arah Wendi.


Lilis tahu, Nathan kali ini cemburu pada Wendi dan hal ini tidak boleh dibiarkan. Satunya suaminya, satunya lagi sahabatnya. Nanti bisa jadi memusingkan. Makanya Lilis sengaja membuat Nathan sibuk menuruti keinginannya agar lupa dengan Wendi.


Nathan tidak akan lupa begitu saja dengan Wendi. Saat Lilis sibuk mengurus Naina yang kelelahan dan minta di temani Lilis, Nathan mengajak Wendi berbicara berdua sebagai seorang laki-laki. Mereka menuju ke samping rumah yang agak sepi lalu duduk berhadapan.


"Kamu sahabatnya Lilis, atau ..."


"Kamu curiga pada istrimu? Berarti kamu belum mengenal dia dengan baik," kata Wendi sambil tersenyum sinis.


"Aku percaya pada Lilis, tapi aku tidak percaya padamu," jawab Nathan kesal.


"Percaya, tapi kamu sangat cemburuan."


"Kamu menggunakan kata itu untuk mengejekku?"


"Awalnya aku pikir, laki-laki yang dipilih Lilis adalah seorang pria yang sempurna. Ternyata tidak jauh beda denganku."


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Aku heran kenapa dia mau menikah denganmu. Kamu kaya, aku juga bisa dibilang kaya. Aku yang lebih dulu kenal dengannya, aku yang lebih dulu mencintainya. Aku yang selalu ada disaat terburuk dalam hidupnya. Tetapi tetap saja dia memilihmu untuk menjadi suaminya, bukannya aku," ucap Wendi sambil menghela nafas.


"Jadi benar, kamu sahabatnya tapi juga mencintainya?" tanya Nathan kaget. "Apa Lilis tahu kamu mencintainya?"


"Apa bedanya jika Lilis tahu atau tidak. Dia hanya menganggap aku sebagai seorang sahabat. Padahal dulu, ketika dia bercerai dengan mantan suaminya, aku pernah berharap dia akan berlari padaku. Aku kagum padamu, karena kamu bisa mendapatkan cinta dari Lilis," kata Wendi sambil tersenyum senang.


"Terimakasih, aku juga tidak menyangka bisa mendapatkan cinta dari Lilis. Aku sudah mengejarnya 5 bulan yang lalu, sebelum dia bercerai. Tetapi apakah semudah itu kamu bisa melupakan Lilis?" tanya Nathan penasaran.


"Tentu saja tidak semudah itu. Cinta ini ada sejak kami masih sama-sama remaja. Tetapi, apa gunanya, cinta ini kalah oleh cintamu yang baru beberapa bulan mengenalnya. Aku tidak ingin, Lilis salah memilih pasangan lagi. Dulu, perkenalan Lilis dengan Desta hanya 2 bulan saja. Dan mereka langsung memutuskan untuk menikah. Hasilnya tidak sesuai harapan," kata Wendi sedih. "Perlakukan Lilis dengan baik. Jika kamu sampai membuatnya menangis, aku akan merebutnya darimu."


"Tidak perlu kau ajari bagaimana aku memperlakukan Lilis. Dia istriku, bagiku dia adalah belahan jiwaku. Saat dia sedih aku pasti juga akan merasakannya."


"Baguslah kalau begitu, aku serahkan dia padamu. Kamu masih cemburu padaku?"


"Tidak lagi. Kita bisa berteman. Bolehkah aku tahu bagaimana masa remajanya Lilis?


"Tentu, aku akan bercerita tentang masa remaja kami di kampung yang sangat indah."


Wendi menceritakan masa remaja Lilis dan kisah persahabatan mereka. Nathan mendengarkan dengan penuh antusias sambil sesekali menghela nafas mendengar begitu menyedihkan masa remaja Lilis di kampung. Walau kadang Nathan tertawa saat Wendi menceritakan perihal tingkah lucu Lilis.


Hari itu, menjadi hari bahagia bagi Nathan dan Lilis. Selain itu, Nathan sangat senang bisa mengenal Wendi, sahabat Lilis yang sangat membantu Lilis ketika Lilis sedang kesusahan. Tak lupa, Nathan mengucapkan terimakasih pada Wendi, karena sudah menjaga jodohnya yaitu Lilis sebelum bertemu dengannya.


"Terimakasih sudah menjaga Lilis. Malam ini kamu akan tinggal dimana?" tanya Nathan.


"Aku akan tinggal di hotel. Beritahu aku, hotel mana yang paling murah.


"Bagaimana kau kamu tinggal disini? Nanti aku minta izin sama Lilis. Kalian bersahabat, dia pasti setuju."


"Sekalipun Lilis setuju,aku yang tidak mau," kata Wendi.


"Kenapa?"


"Apa aku gila, menginap di rumah pengantin baru? Apa aku akan tahan melihat kalian bermesraan?" kata Wendi kesal.


"Maaf, aku tidak berpikir sejauh itu."


Padahal, Nathan sengaja menawarkan menginap untuk Nathan. Padahal Nathan sudah ketar-ketir, tawarannya akan diterima oleh Wendi.

__ADS_1


__ADS_2