Dicerai Karena Miskin

Dicerai Karena Miskin
Bab 108. Bertemu Kakek


__ADS_3

Suasana pagi tampak indah, seindah wajah Lilis yang mulai menikmati aktifitasnya memasak di rumah lamanya. Ditemani sang suami yang yang membantunya membuat makanan kesukaan anak-anak mereka. Sesekali, ciuman kecil, menambah indahnya suasana pagi ini.


Ketika sarapan pagi sudah siap, Nathan dan Lilis bergegas menuju ruang ke ruang makan untuk meletakannya di atas meja makan. Dan ternyata anak-anak mereka sudah selesai mandi dan menunggu di meja makan. Mereka tampak senang, karena hari ini, mereka akan pergi ke makam Mbah Uthi dan menemui Kakek buyut mereka.


Dengan hati gembira, mereka menikmati sarapan kesukaan mereka. Setelah selesai sarapan dan membersihkan peralatan makan, mereka segera berangkat menuju ke makam nenek sebagai tujuan pertama mereka.


Di makam nenek, Naina tampak sangat sedih tetapi juga bahagia. Sedih karena kini Naina kehilangan Mbah Uthi-nya untuk selamanya. Dan bahagia karena saat ini Naina bisa mengunjungi makam nenek setelah lama pergi.


Lilis memberi kesempatan pada anak-anaknya untuk mengenal nenek mereka meski hanya dengan melihat makamnya. Mereka diberi kesempatan untuk berbicara pada nenek, meskipun nenek mereka tidak akan pernah bisa mendengarkan apa yang mereka katakan.


Lilis juga mencurahkan kerinduannya pada sang ibu yang telah tiada. Sebelum akhirnya sang suami mengimami mereka membaca surah Yassin dan mengakhirinya dengan doa bersama. Semua tampak lega setelah melepas kerinduan pada wanita yang telah berjasa besar dalam hidup Lilis dan keluarga kecilnya ini.


Setelah dari makam nenek, mereka meneruskan perjalanan untuk menemui Kakek di rumah sakit. Sebelum masuk rumah sakit, Nathan sempat berdiri cukup lama sebelum keluar dari mobil. Dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya untuk bisa lembut saat bertemu Kakek.


Melihat Nathan cemas, Lilis meminta anak-anaknya untuk tetap didalam mobil.


"Mas, tenang saja aku akan menemanimu. Aku akan memegang tanganmu saat kamu kehilangan arah. Aku bersedia menjadi penunjuk jalanmu jika kamu merasa tak tahu kemana akan melangkah. Lupakan apa yang pernah terjadi diantara kalian. Sebagai orang yang lebih muda, meminta maaf duluan adalah hal yang lebih baik untuk memperbaiki apa yang sudah terjadi diantara kalian," kata Lilis sambil menggenggam tangan suaminya dan berusaha menguatkan hatinya.


"Iya, kamu benar. Aku akan meminta maaf duluan karena waktu itu aku terlalu terbawa emosi," jawab Nathan sambil tersenyum.


"Sudah bisa turun, ibu?" tanya Naina.


"Bentar ya, sayang. Ibu bukakan pintu untuk kalian," kata Lilis.


Nathan dan Lilis perlahan-lahan turun dari mobil. Lalu Lilis membukakan pintu mobil untuk ketiga anak-anaknya yang segera keluar untuk melihat suasana rumah sakit.


Di depan rumah sakit, Guntur sudah menunggunya bersama anak dan istrinya. Untuk sesaat, mereka saling menyapa, berpelukan dan memperkenalkan anak-anak mereka. Setelah itu, mereka bersama-sama menuju ruang perawatan Kakek Edward. Guntur masuk untuk memberitahukan kedatangan Nathan dan keluarganya kepada Kakek.


Tidak berapa lama, Guntur keluar dan meminta Nathan untuk masuk sendirian menemui Kakek.

__ADS_1


"Nathan, Kakek ingin menemui kamu sendirian. Mungkin ada sesuatu yang ingin Kakek katakan padamu," kata Guntur.


"Aku datang kemari dengan istri dan anak-anakku. Aku ingin masuk dan menemui Kakek bersama," ucap Nathan kecewa.


"Tapi, Kakek hanya ingin bertemu denganmu saja," kata Guntur lagi.


"Mas, sudahlah. Masuk saja, aku tidak apa-apa. Aku dan anak-anak tinggu di luar bersama Sita dan Guntur," ucap Lilis sambil tersenyum.


"Tidak bisa, Lis. Aku mau kesini karena kamu. Jika Kakek tidak ingin menemui kamu dan anak-anak, percuma aku masuk untuk meminta maaf jika hasilnya akan sama saja seperti dulu," kata Nathan emosi.


"Tidak, Mas. Semua perjuangan akan ada hasilnya. Mungkin, dulu perjuangan cinta kita kurang dan kita gagal meraih hati Kakek. Ada peribahasa 'usaha tidak akan menghianati hasil'. Semoga kali ini, Allah memberikan apa yang inginkan sejak dulu, restu yang ikhlas dari Kakek. Aku sudah beruntung dicintai oleh Mas Nathan. Tidak pernah mempermasalahkan kemiskinanku. Jika tidak, mungkin aku akan dicerai karena miskin seperti dulu. Masuklah, dan berikan hasil yang kami inginkan," kata Lilis menyemangati suaminya.


"Baiklah. Semoga apa yang kita perjuangkan, akan kita dapatkan hari ini," kata Nathan.


Lilis melepaskan tangan suaminya dan membiarkan Nathan masuk keruang perawatan Kakek Edward. Nathan mendekati Kakek Edward yang tersenyum melihat kedatangan cucu kesayangannya.


"Kakek, jangan banyak bergerak," kata Nathan sambil bergerak cepat membantu Kakek sedikit menegakkan tubuhnya.


"Nathan, Kakek senang sekali kamu datang dan menemui Kakek," ucap Kakek pelan.


"Kakek, Nathan minta maaf, karena dulu Nathan begitu emosi dan tidak mau mendengarkan pembelaan Kakek. Padahal Kakek belum tentu bersalah," ucap Nathan merasa bersalah


"Kamu semakin dewasa, Nathan. Sampai saat inipun, Kakek tetap akan bilang, jika itu bukan perbuatan Kakek. Terima kasih karena kamu sudah mau kembali."


"Kakek, semua karena Lilis. Dialah membawaku kembali pada Kakek, seperti 3 tahun yang lalu."


"Kakek ingin berterimakasih pada istrimu. Tapi aku ingin bicara empat dengannya," kata Kakek mengejutkan Nathan.


"Tapi, Kek ...."

__ADS_1


"Kamu tidak perlu cemas dan khawatir. Kakek tidak akan melakukan hal yang buruk pada istrimu. Dua kali, dia mampu membuatmu kembali pada Kakek, jika Kakek masih tidak merestui kalian, bukankah kamu akan menganggap Kakek kejam?" kata Kakek terbata-bata.


"Kakek, Nathan akan memanggil Lilis. Dia pasti akan sangat senang sekali," ucap Nathan penuh kebahagiaan.


Kakek Edward tersenyum melihat Nathan begitu bahagia. Mudah sekali membuat cucunya tersenyum bahagia, hanya dengan menerima istrinya menjadi bagian dari keluarga Sugara.


Nathan bergegas keluar dan menemui Lilis yang masih harap-harap cemas menunggunya.


"Sayang, Kakek ingin bicara empat mata denganmu. Tapi jika kamu takut, kamu tidak usah menemuinya," kata Nathan sambil memegang tangan Lilis.


"Tidak, Mas. Lilis tidak takut. Lilis harus berani, jika ingin keinginan kita tercapai. Ada Mas Nathan, apa yang Lilis takutkan?" kata Lilis memegang erat tangan suaminya.


"Semoga berhasil," ucap Nathan mencium kening Lilis.


Lilis melangkah perlahan membuka pintu ruang perawatan Kakek. Dia berhenti sejenak sambil menghela nafas panjang lalu kembali melangkah mendekati Kakek Edward yang terlihat memejamkan mata. Entah apa yang di pikirkan Kakek. Pura-pura tidur atau memang sengaja hendak mempermainkannya. Pikiran buruk itu tiba-tiba muncul, tetapi Lilis sudah siap dengan semua kemungkinan terburuk sekalipun.


Perlahan, Kakek membuat matanya dan menatap Lilis dengan tatapan sendu.


"Lilis, kemarilah," panggil Kakek pelan.


Lilis duduk didekat Kakek dengan perasaan campur aduk.


"Lilis, Kakek minta maaf, atas semua yang pernah Kakek lakukan padamu. Tetapi, tentang kecelakaan ibumu, Kakek sama sekali tidak melakukan itu," kata Kakek sedih.


"Kakek, Lilis tidak pernah menyalahkan Kakek. Apa yang terjadi sudah menjadi garis hidup Lilis yang harus Lilis terima," kata Lilis sambil menghela nafas.


"Kamu wanita yang sangat baik dan tulus. Kakek juga berterimakasih, sudah membawa kembali Nathan untuk yang kedua kalinya. Mulai saat ini, kamu adalah cucu menantu Kakek. Maaf Kakek terlambat menyadari jika kamu lebih berharga dari harta yang Kakek miliki. Harta ini tidak bisa membuat Kakek tersenyum, tetapi kehadiranmu yang bisa membuat Kakek tersenyum. Bawalah kemari cucu buyutku. Aku ingin melihat senyum mereka," kata Kakek panjang lebar.


Lilis meneteskan airmata mendengar bahwa kehadirannya bisa membuat Kakek tersenyum. Lilis keluar dan memanggil anak-anaknya masuk. Sementara, Nathan menerima panggilan telepon dari kantor polisi yang tiba-tiba membuat Nathan berteriak kaget.

__ADS_1


__ADS_2